
Seseorang yang melihat kejadian ini mengepal kan tangan nya, kenapa ada seorang lelaki yang bisa membuat nya tertawa bahkan lepas. Cheval segera pergi dari kantin tersebut dan memilih untuk bermain basket dengan teman-teman nya untuk menghilang kan emosi nya yang tinggi saat ini. Daylon dan Lay sudah bisa menebak siapa yang membuat mood nya hancur lagi kalau bukan si Sindy adik kesayangan nya lebih dari sayang.
Berkali-kali Cheval memasuk kan bola basket ke ring tanpa gagal namun terkesan di paksa dan kasar sekali permainan nya.
"Bisa-bisa tuh bola meletus di tangan nya," Lay tertawa kencang begitu juga dengan Daylon.
Cheval yang masih kesal terus bermain tanpa henti sampai-sampai ia lelah dan pingsan di tempat, semua orang yang melihat langsung hawatir dengan keadaan Cheval. Sindy yang baru di panggil oleh Lay langsung menuju ruang kesehatan milik kampus kebangsaan.
"Merepotkan." Sindy berjalan sambil membawa buku.
Sesampai nya di ruang kesehatan, Sindy masuk sendirian karena murid di sekolah ini di bubar kan dengan suara bell masuk jam pelajaran dan untuk yang mahasiwa juga masuk.
Sindy menyentuh dahi Cheval yang sudah dingin.
"Masih pura-pura aku pukul wajah kamu Aa." Menepuk pipi Cheval dengan keras.
"Kamu ini, aku sedang seperti ini kenapa tidak perhatian sedikit pun. Ingat kemarin aku menolongmu loh bahkan mengobati dahi mu itu," menujuk dahi yang masih memerah.
"Kalau gak ikhlas gak usah nolong." Sindy bangkit dari duduk nya namun secepat kilat pergelangan tangan Sindy di cekal Cheval sampai terjatuh di pelukan nya.
DAG..
DIG..
DUG..
Jantung Cheval berdetak tidak karuan saat berdekatan dengan Sindy. Ia berusaha menetral kan perasaan nya saat ini.
"Eehemm pengap, harap jaga jarak." Sindy segera bangkit dari pelukan Cheval. "Jika sudah sembuh aku pergi dulu, gara-gara Aa aku ketinggalan pelajaran hari ini." Sindy berlalu pergi.
__ADS_1
Lay dan Daylon yang sedari tadi menunggu di luar penuh tanda tanya, kenapa cepat sekali apa Cheval masih pingsan atau apa. Lay segera masuk ke ruangan kesehatan begitu juga dengan Daylon sambil menatap brankar tempat Cheval duduk sekarang.
"Dia marah sama lo?" Lay memberikan air mineral pada Cheval.
"Ya... seperti yang lo lo pada lihat!" menenggak air mineral tersebut.
Daylon hanya geleng-geleng kepala saja, di hati nya terheran-heran dengan Cheval yang mencintai dalam diam. Kenapa tidak di ungkap kan saja supaya mempererat tali persaudaraan menjadi tali keluarga. Tidak seperti sekarang ini, sembunyi mulu entar si cewek di deketin ia frustasi marah lagi. Cuma begitu-begitu saja yang menjadi saksi sudah mulai bosan.
"Ada jam kuliah nih, lo balik ngampus apa enggak Val?" Daylon melihat arloji di tangan kanan nya.
Cheval segera turun dari brankar menuju kelas sambil sesekali tersenyum saat ada yang menyapa nya.
Sore hari.
Sindy sedang menyirami tanaman dengan Ria, sesekali ia menatap jendela kamar Cheval. Biasa nya sang kakak akan menatap seluruh kegiatan nya di rumah ini tetapi hari ini tidak, mungkin jadwal kuliah nya mulai padat.
"Mbak Ria, aku ke dalam dulu ya. Capek," Sindy yang sudah banyak mengeluar kan peluh kini mengambil minum yang ada di dapur.
"Nona mau kemana?" Mala tersenyum.
"Mau pergi mbak Mala, oh ya mbak nanti kalau mama sama papa tanya bilang aja aku beli buku ya mbak!" Sindy berlalu pergi.
Cheval yang baru saja turun dari mobil jeep wrangler nya langsung menemui Sindy yang akan mengenakan sepeda motor matic nya dan menghentikan sebelum Sindy mengegas motor.
"Ada apa sih Aa?" Sindy kesal karena kendaraan nya di hentikan mendadak.
"Mau kemana."
"Beli buku, minggir aku mau lewat," dengan menatap malas.
__ADS_1
"Aku hantar. Turunlah dari motormu." Memegang tangan Sindy.
"Enggak, aku pilih dengan motor ku saja dari pada naik itu," Sindy tetap bersih keras.
Saat di perjalanan.
Sindy masih saja memonyong kan bibir nya, bagaimana tidak sang kakak mengantar nya dengan menggunakan motor ini. Bahkan sesekali Cheval senganja melewat kan di area yang berlubang dan secara otomatis tubuh Sindy akan maju dan menempel di punggung Cheval.
Cheval tersenyum di balik helm nya. Rasanya ada kemenangan tersendiri dihati nya. Sesampai nya di toko buku ternyata ada beberapa mahasiswa dan siswi Kebangsaan yang juga sama membeli buku. Dalam sekejab Cheval jadi kerumunan orang banyak.
Sindy yang sedang asik memilih buku terkejut saat ia melihat seseorang yang tak lain adalah Lais yang juga sama memegang buku.
"Kamu...," ucap bebarengan kemudian tertawa.
Cheval yang baru selesai mengatasi orang-orang yang meminta foto langsung menghampiri sang adik yang sedang asik ngobrol bahkan tertawa dengan teman nya. Cheval panas dingin saat melihat seseorang yang membuat nya galau seharian dan kini bertemu lagi secara tidak sengaja.
"Apa-apaan ini kenapa ada dia." Langsung menarik pergelangan tangan Sindy.
"Lepas Aa," berusaha melepas cengkraman Cheval. "Sakit...."
"Jangan kasar dong sama cewek," Lais menggegam jemari Sindy dengan penuh kelembutan.
"Kamu pilih aku apa dia?" menatap tajam Sindy. Sindy hanya terbengong dengan sikap possessiv sang kakak.
"Aku..., mau pulang." Menuju kasir dan segera membayar. Usai membayar Sindy berjalan keluar lebih dulu bahkan ia sudah menghentikan taxi dadakan.
Cheval yang melihat Sindy semarah itu hanya mengikuti taxi yang di tumpangi Sindy. Sang sopir yang merasa di buntuti bertanya pada nya namun yang di dapat hanya lanjutkan perjalanan saja dari mulut Sindy.
"Kekanak-kanakan sekali, apa coba maksud nya. Bukan nya ia berjanji tidak akan menggangu privasi ku lagi, ternyata bualan nya saja bahkan sampai detik ini ia tetap sama tidak berubah."
__ADS_1
Di dalam rumah ada suara banyak orang, entah siapa tamu yang datang. Saat masuk Sindy segera memberi salam pada orang-orang yang berkumpul di ruang tamu.
"Haduh dia lagi, mau apa sih kesini." Sindy membatin dan segera masuk ke dalam kamar nya.