ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
237. Mencium bau makanan


__ADS_3

Momo langsung mencubit perut Lais.


"Ampun sayang, jangan marah dulu kenapa sih." Sedikit mencari pembelaan untuk melindungi dirinya.


"Terus itu ngapain?" Menatap tajam suaminya yang masih berkelit.


"Em... eh..., anu sayang itu. Maaf ya... bukannya mas gak bersyukur kamu masakan, tapi.... Mas pesan makanan online dari aplikasi ini!" Jawabnya sambil menunjukkan salah satu aplikasi di ponsel canggih nya.


"Ya sudah, gak apa-apa mas." Momo tersenyum kemudian ia kembali melanjutkan kegiatannya.


Mungkin saja suaminya bosan dengan masakannya, maka dari itu ia memesan makanan dari luar. Sesekali tidak usah marah, lagian suami yang cari nafkah dan banting tulang.


"Mungkin aku harus, siap-siap berkerja setelah aku melahirkan nanti." Momo melanjutkan dengan mengocok dua telur, tak lupa ia tambahkan cabai sedikit kemudian daun bawang yang sudah di rajang sekitar setengah centimeter, lanjut di beri penyedap rasa secukupnya lalu kocok bersama agar tercampur rata.


"Sayang, maaf. Apa kamu marah aku membeli makanan dari luar?" Lais mendekati sang istri yang sedang menuangkan telur di teflon.


"Tidak mas!" Jawab Momo mengusap lembut pipi suaminya itu.


"Bohong, dosa loh sayang. Apalagi ini bulan puasa." Lais terus saja mendesak sang istri.


"Aku gak bohong mas, lagian buat apa berbohong. Lain kali mas, jika di tanya mau makan apapun jangan jawab apapun juga. Nyesel kan pada akhirnya," Momo mulai lagi mengomel nya.


"Iya sayang, maaf ya bukannya mas gak bersyukur kamu masakan sayur dan lauk itu, tapi mas tiba-tiba saja ingin membeli makanan online. Sepertinya aku ngidam deh." Mulai bercanda ucapannya di dengar Momo.


"Jangan bercanda mas, lagian yang aku tau kamu ingin makan ini itu saat puasa, bukannya lagi ngidam. Kalau ngidam pasti mas mau makan ini kan," Momo tidak kehabisan ide ia memotong satu buah mangga yang masih muda.


"Sayang itu...." Sambil menunjuk buah mangga yang baru saja ia kupas. "Untuk... siapa?" Bertanya-tanya dan sedikit gerogi.


"Untuk kamu lah mas, bukannya tadi katanya ngidam. Pasti mau kan dengan buah yang ini, rasanya enak loh mas. Manis kayak yang mengupas dan memotong buah ini!" Jawab Momo yang ingin sekali tertawa sekarang.

__ADS_1


"Eh... itu... anu, sepertinya aku gak ngidam deh sayang." Lais menggaruk rambutnya.


"Yakin gak ngidam, ya sudah nanti saat pesanan makanan kamu datang aku yang makan ya mas, lihat nih perut aku sudah meronta-ronta. Adik bayi ingin Mamanya yang makan," Momo menampilkan senyum termanisnya, padahal dalam hati ia mengerjai suaminya lagi.


"Makanya mas, jangan beralasan aneh-aneh deh. Menyesal kan, aa ... ha... ha.... Wajahnya lucu sekali saat ini, melas dan sedih nya gak ketulungan itu." Momo berlalu pergi usai memotong buah mangga yang ia masukkan ke dalam lemari pendingin.


"Tapi sayang... aku tidak mau, aku menyesal pura-pura bilang ngidam. Jadi mas mohon, jangan kamu suruh makan mangga muda itu ya, please." Sambil memperlihatkan senyum yang sangat manis. "Tadi mas juga beliin kami terang bulan yang keju dan susu melimpah sayang, jadi mas mohon ya jangan marah atau nangis lagi ya... ya... ya...." Menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Benarkah ada terang bulan, tapi tunggu sebentar. Nanti kalau pesanannya sudah sampai di rumah baru aku putuskan oke, aku mau ke kamar mandi dulu ya Mas, bye... bye...," melambaikan tangannya meninggalkan Lais yang meratapi nasib berbukanya nanti.


"Nasib nasib, tau begini saat bicara dengannya di saring dulu biar halus hasilnya. Ini akibatnya jika bicara langsung lepas landas tanpa mengerem, kalau orang Jawa bilang kebablasen. Menyesal-menyesal, nasi jadi bubur." Lais bergumam dan menghela nafas panjang.


Ujian orang puasa yang harus sabar dan tahan banting, di tambah lagi istri yang berbadan dua. Moodnya yang seperti adrenalin menghadapi dia.


Momo yang sudah rapi setelah mandi, ia berjalan menemui sang putri. Ternyata Princess sudah cantik dengan baju lengan panjangnya.


"Mama," Princess langsung berlari dan memeluk Momo.


"Anak Mama cantik dan wangi, mau kemana sayang?" Momo melepas pelukan sang putri.


"Mau jalan-jalan Mama, tadi Papa bilang mau mengajak Princess, Mama dan adik bayi jalan-jalan!" Jawabnya yang sudah menciumi perut Momo.


"Jalan-jalan, terus Papa sekarang di mana sayang?" Momo menatap seluruh ruangan tidak menemui sosok suaminya itu.


Lais yang baru saja menerima pesanan makanannya, ia menciumi aroma dari pesanannya itu.


"Mas, jangan menciumi masakan seperti itu. Jika bau uap dari masakan itu masuk ke kerongkongan dan ke perut, bisa membatalkan puasa kamu mas." Ucapan Momo mengejutkan suaminya yang sedang menghayal rasa dari makanan itu.


Saat berpuasa seperti ini, memang godaan makanan seperti ini membuat perut terasa perih dan tidak sabar untuk segera menyantapnya.

__ADS_1


Lais langsung perbanyak istighfar untuk mengingatkan dirinya jika saat ini ia berpuasa, jangan sampai gara-gara aroma yang nikmat ini membuatnya membatalkan puasa.


"Hampir saja aroma masuk ke dalam kerongkongan sayang, terimakasih sudah menegur mas," Lais mengusap pipi lembut istrinya.


"Iya mas, sebagai suami istri sudah seharusnya kita mengingatkan satu sama lain. Biar makin langgeng dan harmonis rumah tangga kita." Momo menerima bungkusan yang di berikan sang suami dan segera menyimpannya dari pada sang suami nanti khilaf pikirannya.


"Ya sudah kalau begitu, mas bersih-bersih dulu kalau begitu," pamitnya berlalu pergi.


Momo yang mencium aroma terang bulan perutnya kembali meronta-ronta, sepertinya hormon ibu hamil seperti ini. Suka makan tanpa bisa di kendalikan nafsunya.


"Aku makan dulu deh, dari pada nanti ileran si bayi. Kata orang-orang jaman dulu, tapi semoga tidak terjadi pada anakku yang akan lahir beberapa bulan lagi." Momo segera membuka plastik tersebut.


Dari aroma saja sudah bisa di tebak pasti rasanya sungguh luar biasa, usai menyantap sekitar 6 potong terang bulan ia langsung mengecek pesanan suaminya. Seperti ayam saus kemudian cumi dan kepiting.


"Apaan ini, ko aneh warnanya. Jangan-jangan basi lagi." Tanpa pikir panjang Momo langsung membuka minuman itu dan langsung meminumnya sampai habis.


Sekarang tinggal satu cup yang tersisa.


Lais yang sudah rapi dan wangi mencari istrinya, ia langsung menuju dapur.


"Sayang kamu menghabiskan ini semua?" Tanyanya menunjuk bekas makanan dan minuman.


"Iya mas!" Momo membereskan kekacauan yang baru saja ia buat.


Lais menghela nafas panjang, ternyata makanan sebanyak ini bisa habis di makan istrinya.


"Apa kamu masih kurang sayang, jika kurang ayo beli lagi. Sepertinya tidak cukup untuk kamu saja." Menawari sang istri untuk pergi.


"Ayo mas," dengan semangat Momo langsung merangkul lengan suaminya. "Princess tadi bilang kita akan jalan-jalan, ayo berangkat mumpung belum berbuka. Nanti saat di jalan mas berbuka ya," Momo mengambil beberapa makanan untuk suami dan putrinya.

__ADS_1


__ADS_2