
Tinggalkan jejak ya dan terima kasih banyak.
***
Suara deringan ponsel berbunyi terus menerus di ponsel Momo, Momo yang sudah pulang dari satu jam yang lalu kini mulai merasa pusing dengan pesan-pesan yang masuk di ponselnya, kemudian ia memblokir nomor pengganggu itu.
"Nah... begini kan aman tanpa gangguan." Momo memejamkan matanya.
Sacha yang baru saja pulang, melihat kamar Momo yang terbuka dengan lampu yang menyala.
"Apa Momo belum tidur, tumben-tumbenan jam segini masih terjaga. Biasanya sudah tidur dulu." Ternyata sang putri telah berada di alam mimpi dengan senyum yang merekah saat tertidur.
Sacha menyelimuti putrinya dan memberikan kecupan di dahi Momo. Wajah yang benar-benar mirip sekali dengan almarhumah istrinya Aurellia.
"Lihat bunda, dia semakin cantik sepertimu." Mengusap lembut pipi Momo.
Momo yang merasakan ada sentuhan di wajahnya ia berpindah posisi agar tidurnya lebih nyaman lagi. Sacha segera keluar dari kamar putrinya itu.
Di tempat lain. Yaitu tempat kos Lais.
Lais pusing memikirkan Momo yang malah memblokir nomornya, niatnya ingin lebih dekat dengan Momo melalui nomor baru yang ia dapat malah blokiran.
"Nasib-nasib pejuang cinta." Lais melempar ponselnya di kasur. "Istirahat saja, lebih baik," mulai memejamkan matanya.
Semarah-marahnya dia, Lais tidak akan menghancurkan barang apapun yang akan ia sesali setelahnya. Lebih baik ia merebahkan dirinya untuk mengumpulkan tenaga untuk kuliah dan berkerja setelah kuliah.
Keesokan harinya.
Lais sudah ada di depan rumah Momo menatap seperti biasanya dari kejauhan dan tidak berani masuk. Momo yang melihat Lais melambaikan tangannya saat tidak sengaja Momo keluar dari kamarnya dan melihat dari balkon, apa ada seseorang yang ia rindukan ternyata ada dan sedang menyapanya.
__ADS_1
Momo segera turun usai mengenakan pakaiannya dan sedikit berdandan supaya untuk menyesuaikan tempatnya. Kemudian ia menuju dapur untuk mengambil makanan dan ia masukkan ke dalam kotak makanan. Sacha yang melihat sang putri seperti sedang kasmaran, membiarkannya selagi dalam tahap aman dan tidak membahayakan putrinya.
"Lais." Sapa Momo terdengar lembut dan sejuk di telinga Lais.
"Iya, ada apa Momo cantik," ucap Lais tersenyum sangat tampan.
"Nih untuk kamu, jangan lupa di makan." Memberikan kotak makan yang bergambar putri salju.
"Terima kasih Momo, Momo apa aku boleh tanya sesuatu padamu?" Lais menunjukkan nomor ponselnya yang baru.
"Kenapa dengan nomor itu, sepertinya tidak asing dengan nomornya!" mengerutkan alisnya seraya berfikir. Sepertinya pernah melihat dan. "Itu nomor ponsel kamu Lais, maaf semalam aku tidak bermaksud memblokirnya." Menangkupkan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa aku sedikit kesal saja, kenapa tidak kamu balas satu kali pun bahkan aku telpon kamu biarkan saja." Lais memasukkan kotak makanan tersebut ke dalam tas.
Tampilan Lais kini semakin menawan dan sempurna, tatanan rambut dengan potongan undercut sangat serasi dengan wajahnya yang kebule-bulean. Sangat tampan dan membuat siapa pun menyukai tampilan ini.
"Kenapa wajahmu memerah, saat melihatku. Terpesona denganku." Goda Lais diselingi senyum.
"Ya menurutmu, aku masuk ke dalam dulu mau pergi ke kampus." Momo segera berlari dan meninggalkan Lais.
"Terpesona... aku terpesona, memandang wajahmu," Lais memberikan tanda love dengan jarinya.
Lais sangat bahagia dengan sikap Momo ini, ia akan menunggu Momo sampai ia siap. Entah itu satu tahun, dua tahun bahkan sampai sepuluh tahun lamanya. Ia akan tetap menunggu jika waktunya tepat ia akan langsung menikahi pujaan hati, selagi pujaan hati masih singel dan tidak terikat dengan laki-laki lain.
Kediaman Malik.
Cheval yang masih sedikit demam pagi ini hanya bermanja-manja di dekat sang istri, ia tidak rela jika dirinya di tinggal pergi ke kampus.
"Aku masih sakit sayang, tega nih ninggalin aku di rumah. Nanti kalau aku demam lagi bagaimana." Ia menggenggam tangan Sindy.
__ADS_1
"Lebay banget, lagian aku ke kampus cuma sebentar saja. Ada tiga mata kuliah hari ini dan jadwalnya tidak sampai makan siang, jadi Aa tenang saja aku istrimu yang cantik ini akan segera pulang dan menemui suamiku yang manja ini," Sindy mencubit kuat pipi Cheval.
Cheval malu sendiri mendengar ucapan istrinya, apalagi sikap manjanya yang barusan ia tunjukkan ternyata jadi tontonan, baik itu mama dan papa serta beberapa asisten rumah. Lantaran kejadian ini berada di ruang makan.
"Jangan pakai motor sendiri, di hantar saja ya oleh sopir. Syarat yang tidak dapat di tolak sedikit pun." Melepaskan dekapannya dan memberikan ciuman di dahi Sindy.
"Baiklah," Sindy segera berangkat setelah berpamitan dengan suami dan orang tuanya.
Berada di kampus pagi ini serasa lama sekali, biasanya jika sang suami yang mengajar sangat cepat, meski ia harus menahan amarah karena beberapa temannya selalu memberikan hadiah untuk suaminya, baik melalui dirinya ataupun langsung di berikan pada suaminya.
"Ih... kenapa bisa semembosa kan ini, biasanya jika Aa yang mengajar tidak tuh." Sindy segera memasukkan bukunya dan menyimpannya dengan baik.
Usai pulang kuliah Sindy mampir membeli batagor kesukaannya, ia pesan beberapa porsi untuk dirinya dan pak sopir.
Cheval yang berada di rumah menunggu sang istri dengan cemas, tadi pagi bilangnya tidak sampai makan siang sudah pulang. Tapi pada kenyataannya ini sudah masuk jam makan siang kenapa belum kembali juga, atau jangan-jangan terjadi sesuatu yang tidak di harapkan.
"Kemana sih Sindy, apa ban mobil bocor atau pergi ke suatu tempat untuk membeli batagor. Awas jika pulang aku tidak di belikan, aku akan ngambek dan tidak mau bicara dengannya." Cheval mengetuk-ngetuk meja dan menyandarkan kepalanya di atas meja tersebut.
Sindy yang sudah membeli batagor langsung pulang dan tidak lupa iya memberikan satu bungkus untuk pak sopir, sesampainya di kediaman Malik. Sindy dengan ceria memasuki rumahnya tersebut sambil membawa bungkusan berisi batagor.
"Aa sayang." Meletakkan bungkusan tersebut dan memeluk suaminya dengan penuh cinta.
"Baru pulang, beli batagor?" mendongakkan kepalanya.
"Iya, kita makan berdua ya!" jawabnya melepas pelukan dan langsung menuju dapur untuk mengambil mangkok berukuran cukup besar.
Sindy menuangkan batagor tersebut dan tidak lupa dua garpu dan dua air putih untuk menikmati makanan gurih, pedas manis.
"Em... enak sekali batagornya, meski agak dingin sih." Cheval menikmati kerenyahan gorengan berbumbu kecap dan saus kacang.
__ADS_1
Begitu juga dengan Sindy yang juga menikmati makanan tersebut, hampir dua minggu ia tidak membeli makanan tersebut. Rasanya lidah kurang lengkap tanpa camilan gurih berbumbu ini.
Mala yang sudah selesai menyiapkan makanan, langsung menatanya di meja makan. Sesuai permintaan Cheval masak tumis sayur dan lauknya ayam goreng plus sambal tomat. Bau masakan Mala menusuk-nusuk hidung keduanya yaitu Cheval dan Sindy yang masih asik menghabiskan batagornya.