
Jangan lupa like, rate nya ya.
***
Semua sedang menikmati sate buatan pak Hasan dengan penuh suka cita, jarang-jarang makan sate pakai lontong.
Mala tertawa riang dan menyantap sate tesebut dengan temannya yang lain. Suara klakson mobil mengejutkan penghuni kediaman Malik yang sedang makan sate. Satpam segera membukakan gerbang tersebut.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam masuk dan Mala hafal betul jika mobil tersebut milik Dokter tampan, siapa lagi jika bukan Ano. Dokter yang betah dengan kesendiriannya tanpa pendamping hidup.
"Pak ini tadi sudah di bayar semua oleh Bu bos atau belum pak?" Mala hawatir sudah makan dengan puas namun belum di bayar.
"Sudah ko neng Mala!" jawab pak Hasan tersenyum sambil membolak-balikkan sate ayam.
Ano yang sudah masuk bahkan menghentikan langkahnya dan membuat Mala yang baru masuk menabrak punggungnya.
"Aduh, jidat aku tambah lebar ini." Mala menggosok jidatnya yang berdenyut ngilu.
"Kalau jalan pakai mata jangan kaki saja yang melangkah," Ano melanjutkan jalannya dan tersenyum.
Mala yang terkena semprot pestisida langsung tewas di tempat.
"Tewas di tempat sudah, baru saja kena semprot ternyata langsung mati." Mala masuk ke dapur dan menyiapkan minuman untuk semua orang yang berada di ruang makan.
Ano langsung saja ikut bergabung di ruang makan, Ksatria menatap tajam dengan tamu yang tak di undang dan makan seenak jidatnya sendiri.
"Hey main comot saja, beli sana sendiri bukannya tadi pas masuk masih ada pak Hasan nya." Ksatria mengambil piring yang berada di depan Ano.
"Nyesel aku ke sini, tau begini tadi permintaan Daysi tidak aku iya in saja," Ano beranjak dari duduknya.
Mala yang bersimpangan dengan Ano hanya menunduk takut di semprot lagi oleh Ano.
__ADS_1
"Pak bos dan Bu bos ini minumannya." Mala meletakkan nampan yang berisi minuman di meja.
Mala segera kembali usai menghantar minuman tersebut. Sedangkan Ano sedang menikmati sebatang rokok di gazebo. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu di kediaman Malik terutama di gazebo tersebut. Suara tawa seorang perempuan dan laki-laki mengusik ketenangan Ano, ia segera menatap ke sumber suara dan ternyata Mala sedang tertawa dengan Sacha.
"What, apa aku tidak salah pendengaran. Sejak kapan Sacha dengan Mala seakrab itu." Ano merasa tidak nyaman dan akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan mendengarkan musik dengan keras melalui headset.
Sacha yang baru datang di sambut dengan baik, karena berkat desain Sacha yang selalu mengikuti zaman membuat hotel dan apartemen laku keras.
"Tumben di sambut baik, biasanya tidak di hiraukan seperti sisa bungkus makanan." Ucap Sacha menyindir Ksatria yang baru saja selesai makan sate.
"Hari ini mood ku baik, di tambah lagi habis makan sate ini," Ksatria menunjuk sisa sate.
"Iya... iya...." Sacha duduk dan menikmati makanannya sebelum ia membahas pekerjaan untuk besok.
Sindy sedang memotong buah rasanya enak sekali usai makan berminyak, camilannya buah segar seperti ini.
"Sayang." Cheval memeluk erat tubuh Sindy dan meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Berat Aa, kenapa meletakkan dagumu di situ," Sindy merasa sangat tidak nyaman.
"Baiklah," mengusap lembut pipi Cheval.
Kehidupan rumah tangga keluarga Malik baik-baik saja meski pernikahan lewat perjodohan. Terkadang perjodohan jika itu rezekinya pasti bisa bersama tetapi jika belum itu berarti bukan jodoh yang Allah berikan.
Sacha yang selesai makan tidak jadi membicarakan pekerjaan gara-gara makanan lezat tersebut.
"Hah... kenyangnya perutku, jadi gagal deh membicarakan pekerjaan." Sacha mulai memejamkan matanya.
"Dasar orang suka sekali menumpang makan apa di rumah tidak ada pembantu lagi sekarang, sampai-sampai setiap hari makan di sini. Makanya tambah dong pembantu jangan pelit-pelit mengeluarkan uang untuk sewa jasa pembantu," Ksatria mulai kesal dengan adik iparnya ini.
Sebenarnya kesalnya bukan lantaran menumpang makan, namun sikap manjanya pada Sindy dan Daysi mendadak keluar bahkan wanita-wanita yang ia cinta begitu perhatian lebih.
__ADS_1
Cheval yang sedang melihat sang papa marah dan cemburu. Lucu sekali sudah tua masih saja takut tambatan hati jatuh ke pelukan orang lain, ternyata sang papa begitu besar mencintai mamanya. Padahal dulu bunda Aurellia pernah bercerita jika sang papa mantan playboy tersegel.
"Ma, papa sedang cemburu berat pada Mama loh." Bisik Cheval tidak terdengar oleh siapapun.
"Sepertinya ia, sebenarnya Mama mulai tidak nyaman dengan sikap posesif papamu ini. Dulu papa tidak seperti ini loh sikapnya meski dia suka sekali buat Mama cemburu, sedangkan Mama biasa saja," Daysi membuka rahasia yang selama ini di jaga ketat olehnya.
"Benarkah Ma, AA... HA... HA.... Sebegitu posesifnya papa Ma." Ucap keras Cheval dan langsung menutup mulutnya seketika.
Ksatria menatap tajam putra dan istrinya yang sedari tadi berbisik. Mereka sedang membicarakan apa, Ksatria penasaran dan mendekati sang istri dan memeluk lengan Daysi dengan manja sambil mengusap rambutnya ke lengan Daysi.
"Dasar manja lebay, sudah tua plus punya menantu." Ucap Sacha berlari sebelum sendal melayang ke wajah atau anggota tubuhnya yang lain.
"Lihatlah adik iparmu yang mengesalkan itu, dia sedang mengejekku habis-habisan lagi." Manja pada sang istri.
"Tetapi memang benar loh Pa ucapan Sacha, jangan seperti ini Pa jika tidak mau di ejek lagi oleh Sacha, apa tidak malu Papa di lihat asisten rumah ini plus Ano Dokter resek seumur hidupnya," menunjuk Ano yang baru saja datang dan tidak tau ada masalah apa tiba-tiba di sangkut pautkan masalah rumah tangga orang-orang lebay dan gesrek ini.
"Ada apa sih Aa?" Ano keheranan.
"Gak tau tuh Mama Papa sedang mendebatkan apa!" Cheval segera pergi untuk menemui istri tercintanya.
Ppllaakk..., Sacha memukul lengan Ano.
"Makanya menikah biar tau rasanya asin, pahit, manis, masam pernikahan." Sacha memberikan pencerahan untuk Ano.
Ano yang di ajak membahas pernikahan hanya ia membayangkan yang bukan-bukan, di usia tuanya memiliki istri cantik dan muda kemudian dia sudah menjadi kakek-kakek yang akan membawa tongkat, sedangkan anaknya beranjak dewasa dan istrinya masih cantik dan masih bisa menggoda lelaki muda, dan dia jadi sakit parah dan tidak ada yang memperdulikannya. Sungguh malang pikiran buruk Ano tentang masa depan.
"Eh.. Mala sini." Panggil Sacha.
Mala segera mendekati Sacha, adik si bos meminta apa kira-kira. Apa di suruh membeli sesuatu seperti kemarin ke mini market.
"Ada apa ya Pak Sacha?" Mala bertanya dengan sopan.
__ADS_1
"Tolong buatkan minuman yang segar ya! jangan lupa sedikit gula dan es plus di banyakin ikhlas nya saat membuat jus biar terasa nikmat!" jawab Sacha tersenyum lebar sambil menatap Ano yang merasa terabaikan.
"Rencana berhasil hore, buat dia terus terbakar cemburu. Aku yakin ada Signal untuk mereka berdua." Sacha melanjutkan pekerjaannya.