
Momo menatap dua insan yang menggendong anak-anaknya dengan pelan-pelan serta penuh cinta di antara suami istri tersebut, bahkan mata mereka berkaca-kaca menahan haru.
"Lucu ya sayang bayinya." Nadia yang duduk di kursi sangat bahagia dia juga tidak sabar untuk menunggu sang bayi yang akan datang beberapa bulan lagi.
Tapi hati dan pikiran resah dengan kondisi sang bayi, mengingat kandungan yang ia miliki lemah. Bisa mengandung sampai umur 2 bulan saja Nadia dan Emillia selalu bersyukur berharap Yang Maha Kuasa selalu menyertainya dan menjawab semua doa-doa yang ia panjatkan untuk keselamatan diri dan juga sang bayi yang belum lahir.
"Iya, tapi kamu harus semangat juga dan memperhatikan kesehatan anak kita," sambil mencium kening Nadia penuh cinta.
"Terimakasih sayang." Betapa romantisnya dua insan ini.
Momo juga ikut terharu melihat kejadian ini, orang-orang di sekitarnya memang sukses dalam masalah hubungan percintaan namun masih ada sedikit kegagalan tentunya.
Di dalam mobil.
Sindy terus saja memegang perutnya yang terasa kram di bagian rahimnya, sepertinya ia akan datang bulan tapi kenapa rasanya berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Ada apa ini pada tubuhnya sekarang?
"Sayang, kamu kenapa? sedari tadi Aa lihat kamu sepertinya tidak merasa nyaman saat bergerak." Cheval menggenggam tangan Sindy yang terasa sangat dingin.
"Em, tidak apa-apa Aa cuma sedikit sakit di bagian perut aku Aa, sebelah sini," menunjuk bagian perut yang sakit.
__ADS_1
"Kita ke Rumah Sakit ya. Aa tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang." Langsung membelokkan laju mobilnya ke arah Rumah Sakit Umum yang kebetulan paling dekat dengan perjalanannya sekarang.
"Terserah Aa aja," sudah lemas dan tidak mampu bicara panjang lebar lagi.
Sindy langsung di bawa masuk dan di periksa kondisi tubuhnya, ada apa dengan tubuh Sindy yang bagian rahimnya apa ada masalah serius dan harus di tangani dan di perhatikan khusus oleh tim Dokter.
"Bagaimana Dok dengan kondisi istri saya?" Cheval sangat berantusias semoga hasilnya baik dan tidak buruk.
"Mari Bapak ke ruangan saya sebentar!" jawab sang Dokter membuat Cheval gugup dan mengeluarkan keringat dingin, ada apa ini kenapa ia di panggil secara pribadi seperti ada masalah besar yang menimpa istri kesayangannya.
'Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa pada Sindy istri hamba Ya Allah.' Doa yang di panjatkan saat berjalan menuju ruang Dokter.
Memilih? yang benar saja sudah lama bertahun-tahun menantikan kehadiran anak kedua namun berita pahit harus di telan juga. Apakah sanggup jika harus memilih salah satu dari istri atau anak, tidak bisa jika mungkin ia lebih memilih dirinya yang menggantikan posisi itu.
'Kenapa harus begini, aku harap ini hanya mimpi belaka. Aku tidak sanggup menatap Sindy yang terluka lagi dan lagi semua gara-gara aku yang tidak mengontrol nafsu yang mengakibatkan nyawa Sindy jadi taruhannya, aku yang memaksa memiliki anak lagi. Seharusnya aku yang menerima ini semua bukan Sindy.'
Cheval dalam hati teramat sangat menyesali perbuatannya, inilah hasil dari kurang bersyukur sudah di berikan keturunan namun ingin lagi dan lagi padahal sang istri sudah mengingatkannya sebelum-sebelumnya.
Cheval berjalan keluar dari ruang Dokter dan menemui sang istri, antara tega dan tidak tapi ini demi keselamatan sang istri Cheval mengambil keputusan ini dan semoga Sindy mengiyakan keputusannya.
__ADS_1
"Sindy." Cheval mendekati brangkar tempat Sindy di membaringkan tubuhnya.
"Ada apa Aa, kenapa Aa gelisah?" benar-benar mudah di tebak ekspresi Cheval.
"Begini Sindy sayang, barusan itu ... em ... itu. Aa bingung harus di mulai dari mana, sebenarnya kamu punya dua berita baik dan buruk jadi satu sayang!" mulai berteka-teki sang suami.
"Jangan berteka-teki Aa, ayo bicara terus terang. Sindy siap mendengar kenyataan sekaligus itu sangat pahit." Berusaha tersenyum padahal ia sudah tau dan mendengar apa yang di sampaikan oleh Dokter sebab ia tadi membuntuti suaminya.
"Kamu hamil sayang, tapi kata Dokter ...," Sindy meletakkan jari telunjuknya di bibir Cheval.
"Aku sudah tau Aa, aku tetap mempertahankan bayi kita meski harus bertaruhan akan keselamatanku Aa." Ucapnya penuh keyakinan.
Cheval mengusap air mata yang berada di pelupuk matanya, begitu juga Sindy ia terluka lagi dan harus menahan resiko sendirian.
"Kenapa Aa menangis, tambah jelek tau gak." Sindy menyentuh wajah suaminya yang mulai di tumbuhi bulu di sekitar wajah, tapi itu tidak mengurangi pesona ketampanannya yang mendarah daging.
"Biarin tambah jelek, biar kamu gak cinta sama Aa dan Aa biar gak buat masalah lagi di hidup kamu sayang," mencium berkali-kali perut dan tangan Sindy yang masih berbalut infus.
"Hus ..., Aa ngomong apa sih. Lagian Aa bukannya sebagai suami yang baik dan penuh tanggung jawab harus lebih kuat dari istrinya. Kenapa ini malah sebaliknya?" Sindy heran.
__ADS_1
"Gak tau!" malah jawaban yang mematikan pertanyaan yang terlontar.