
Lais yang baru saja kembali dari hari melelahkan kini menikmati nasi bungkusnya. Dengan lahap Lais menyantapnya, uang dari sang kakek sengaja tidak ia gunakan untuk sekarang takut tiba-tiba beasiswanya di cabut atau terkena masalah lain kedepannya. Hanya untuk berjaga-jaga saja.
Usai menyantap nasi bungkus Lais menatap layar ponselnya yang sunyi tanpa satu pun pesan singkat dari Momo yang ada hanya pesan dari operator.
"Apa dia benar-benar menghindariku lagi, aku salah apalagi sih Momo." Lais tidak sadar, jika selama ini Momo tidak pernah terikat dengannya kecuali sebagai teman atau sahabat.
Sampai detik ini Lais tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya.
Tidak jauh berbeda dengan Momo yang di landa rindu dan galau memikirkan pujaan hatinya. Sekeras apapun Momo berusaha melupakannya tetapi tidak berhasil, justru rasa cintanya semakin dalam dan tajam.
Libur semester.
Sindy mulai bosan berdiam diri di rumah, Cheval sudah mulai pergi ke Royal Malik sejak 5 hari yang lalu.
"Huft..., membosankan sekali aa tidak ada di rumah mau menyusul ke hotel, pasti di sana juga berdiam diri seperti sekarang. Kapan libur semester berakhir." Sindy bermain game juga sudah mulai bosan.
Kemudian ia pergi ke taman depan dan memotong tangkai bunga yang sudah layu dan mati.
Ano yang pagi ini tidak ada pekerjaan di Rumah Sakit berkunjung dan menemui keponakan kecilnya. Suara pintu gerbang terbuka, Sindy langsung menatap mobil yang dulu sering berkunjung ke mari.
"Hai cantik, kasihan sekali bunga-bunga itu jika di diamkan dan tidak di perhatikan oleh pemiliknya yang cantik ini." Ano mencubit gemas pipi Sindy.
"Sakit om, tumben om ada waktu kesini. Beberapa bulan ini om Ano kemana, kenapa tidak pernah bermain kesini. Lihat papa jadi tidak bersemangat bermain golf." Menunjuk lapangan golf.
Ano langsung menatap Ksatria yang gagal memasukkan bola.
"Bermain itu harus dengan konsentrasi dan hati bahagia, bagaimana bisa gol jika permainanmu tidak ikhlas seperti itu." Ano memukul bola dengan stik golf dan langsung masuk.
"Berisik sekali, tadi hampir masuk ke lubang tapi angin kuat dan kencang jadinya bola malu masuk ke lubang," Ksatria memukul bola kembali dan kali ini langsung gol.
"Cih alasan saja, kalau yang barusan itu baru benar." Ano meletakkan stik golfnya.
__ADS_1
"Tumben kemari ada perlu apa, sudah bosan menangani orang sakit atau malas memegang tubuh pasien kecelakaan?" Ksatria duduk di bangku sambil meminum air mineral.
"Ya itu salah satunya, salah keduanya lagi sepi hatiku!" Ano memutar-mutarkan ponselnya.
Ksatria ingin sekali menenggelamkan dirinya ke laut yang dangkal, kenapa kehidupannya di kelilingi orang-orang yang bermasalah dengan percintaan lagi dan lagi.
"Makanya menikah, kenapa betah menyendiri sampai sekarang." Ksatria berlalu pergi meninggalkan Ano yang gelisah.
Sindy yang sudah rapi dengan pakaiannya kini beranjak pergi dari kediaman tersebut dan berpamitan pada Ksatria dan Ano, ia langsung berpacu dengan kuda besinya untuk membelah jalan raya. Ano yang melihat betapa tomboinya Sindy teringat Daysi yang juga sama seperti Sindy sekarang.
"Mama dan anak sama saja, untung Sindy tipikal setia tidak seperti papanya." Ano menyindir Ksatria yang sedang makan sampai Ksatria tersedak makanannya.
Ksatria langsung minum air putih dengan banyak.
"Sialan lo Ano," melempar sendok yang ternyata tidak tepat sasaran.
"AA... HA... HA..., tidak kena." Ano segera pergi secepat kilat dari pada terkena pukulan melayang lagi.
Mala yang sedari tadi mendengar suara canda bosnya dan Dokter Ano sangat bahagia, meski tidak bisa menggapai setidaknya bisa mendengar suaranya dari jauh.
Semua orang tertuju pada Sindy yang datang dengan pakaian santainya bahkan terlihat seperti bukan putri pewaris Royal Malik.
"Selamat siang mbak Sindy." Sapa beberapa karyawan.
"Siang," jawab Sindy ramah dan tersenyum.
Karyawan disini sangat bahagia bahkan jauh dari kata-kata tertekan bila bekerja, karena di sini tidak ada yang berbeda antara satu dan lain jika menemui karyawan yang berperilaku buruk dengan karyawan lainnya langsung di pecat dengan cara tidak terhormat alias sulit cari pekerjaan lain setelah keluar dari Royal Malik secara cuma-cuma. Terdengar sangat kejam, namun itu sudah menjadi ketentuan Royal Malik dari dulu. Jadi tidak heran jika karyawan di Royal Malik dapat pesangon dan pensiun bagi karyawan yang setia.
Cheval yang tidak tau kedatangan sang istri membiarkan ketukan pintu terdengar beberapa kali.
"Aa, jika tidak kamu izinkan masuk makan aku lengserkan tempat dudukmu jadi lesehan di lantai." Mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Cheval yang merasakan bulu kuduk merinding langsung menatap kesana kemari, sepertinya ada yang mengumpatnya diam-diam.
DDRREETT
DDRREETT.
"Iya halo sayang." Cheval masih saja fokus pada laptopnya.
"Aa, tidak sadar jika ada tamu di luar pintu Aa?" Sindy mengetuk pintu kembali.
Cheval bergegas lari dari kursinya dan membuka pintu yang sedari tadi ia kunci dari dalam.
"Ee... he... he..., sayang baru sampai ya." Cheval cengengesan sambil berusaha memeluk Sindy namun dengan cepat Sindy menghindar dan masuk ke ruangan Cheval tanpa permisi.
Rentangan tangan Cheval tidak di hiraukan sama sekali, sungguh malang nasibmu Cheval.
Sindy duduk di sofa dan menyilangkan kakinya, ia mulai makan camilan yang berada di atas meja dan menghabiskannya sendirian tanpa menyuapi Cheval yang menanti suapan sepesial dari sang istri.
"Aa tidak di suapi nih." Sambil membuka mulutnya dengan lebar.
Sindy langsung menyuapi mulutnya dengan camilan yang paling kecil yaitu sisa dari camilan di toples.
"Ko rasanya Aa tidak makan apa-apa cuma remahan itupun sedikit sekali?"
"Aku sengaja melakukannya, lagian Aa sih kenapa tidak cepat-cepat membuka pintu!" omelnya yang tidak mau kalah juga.
"Haahh... Aa sengaja mengunci pintu biar tidak ada orang yang masuk sembarangan di ruangan Aa, apa kamu tidak suka aku seperti ini." Menarik lembut pinggang Sindy agar duduk lebih dekat dengannya.
"Iya aku mengerti barusan, terima kasih Aa atas pencerahan dan pengertiannya. Istrimu yang cantik ini minta maaf dan tidak akan marah lagi saat ini," Sindy mencium pipi Cheval dengan gemasnya.
"Jangan seperti itu menciumnya sayang, yang benar itu seperti ini." Cheval langsung memberikan ciuman sampai habis bibir Sindy yang merah merekah.
__ADS_1
Tetapi Cheval sadar ia berada di mana dan sekarang sedang berkerja, meski dia atasan di hotel ini namun ia tidak ingin orang-orang berpikiran negatif tentang Sindy.
"Aa, jika suatu hari nanti hubungan kita di ketahui banyak orang. Apa Aa akan malu?" pertanyaan konyol keluar dari mulut Sindy dengan ringannya sampai Cheval terkejut bukan main.