
Aldy menepikan mobilnya.
"Kita bicara di taman ini ya, tapi kamu harus janji jika aku jujur kamu tidak boleh meninggalkan aku." Aldy menggenggam erat tangan Gauri.
Gauri ragu dan sedikit mengangguk saja, dirinya harus siap akan kenyataan yang ada. Pasti kecurigaannya selama ini benar jika Aldy ada sangkut pautnya dengan pernikahan yang dulu dan uang 10 M itu.
Aldy mulai cerita semuanya ia ceritakan tidak ada yang ditutup-tutupi dari Gauri bahkan rasa cinta luar biasanya pada Risma Mawar kekasihnya yang sudah tiada, Gauri sedikit tidak nyaman dengan kejujuran Aldy laki-laki yang akan menjadi suaminya jika jadi.
"Gauri.. aku mohon maafkan aku Gauri, sungguh aku sebenarnya tidak ada niatan untuk melukai kamu sedikitpun, tapi lagi-lagi aku salah sasaran dan mengakibatkan kamu yang tidak tau apa-apa malah terkena masalah. Maafkan aku Gauri." Terus saja menciumi punggung tangan Gauri.
Gauri menariknya.
"Beri aku waktu Aldy, rasanya aku tidak siap jadi istri kamu," Gauri lebih memilih mundur terang-terangan dari pada setelah menikah malah terluka.
"Gauri, bukannya kamu sudah aku suruh berjanji untuk tidak meninggalkan aku Gauri sayang dan kamu tadi sudah mengangguk bukan?" Aldy ingin tenggelam saja jika Gauri benar-benar tidak mau menerimanya lagi.
"Iya memang aku tidak akan meninggalkan kamu itu tadi sebelum kamu jujur, tapi setelah jujur aku berubah pikiran. Begitu tega sekali kamu Aldy tanpa pikir panjang akibatnya jika kamu melukai orang lain, jika orang lain pasti akan sama dengan apa yang aku lakukan ini. Di tambah lagi kamu dengan tega dan kejam merebut mahkotaku dan menyiksa aku setiap hari, aku bisa lapor ke polisi tapi itu tidak aku lakukan sebab aku masih berbaik hati dan tidak ingin membuat kamu mendapatkan nama buruk. Tapi.. setelah kejujuran kamu yang satu ini," Gauri tidak melanjutkan lagi ucapannya.
Sudah cukup ia bicara panjang lebar, pasti Aldy paham dengan bicaranya.
Aldy tertunduk bahkan kini tubuhnya sudah bersimpuh di kaki Gauri agar Gauri mau memaafkan dirinya tapi Gauri seolah-olah bungkam dan tidak mau memaafkan lagi.
Memang penyesalan selalu datang di akhir kisah, jujur saja itu menyakitkan sekali meski tanpa detail isi semua cerita intinya saja sudah sangat menyakitkan apalagi jika semuanya cerita secara utuh dan gamblang.
"Berdiri Aldy.. jangan seperti ini. Kenapa kamu bersimpuh aku tidak mau dikatakan wanita kejam oleh orang-orang."
Gauri berusaha membuat Aldy bangkit dari bersimpuhnya agar orang-orang tidak membicarakan tentang dirinya.
Aldy menatap ke atas lalu ke segala arah benar saja dirinya dan Gauri jadi tontonan orang-orang. Aldy bangkit bahkan tubuhnya memeluk erat badan Gauri.
Gauri membiarkan saja seperti itu.
'Semoga kedepannya kamu menjadi orang yang lebih baik lagi Aldy, aku mau kamu berubah dan tidak selalu berprasangka buruk pada orang lain. Cukup aku yang jadi korban tidak untuk orang lain.'
Gauri merespon pelukan Aldy, Aldy merasakan hangat sambutan dari Gauri. Kesalahan yang ia perbuat memang sangatlah fatal, jika wanita lain yang berada di posisi ini Aldy yakin tidak ada satu pun yang mampu dan kuat seperti Gauri, banyak di luaran sana menjadi gila atau depresi akibat pelecehan dan penyiksaan yang ia alami saat dirinya tidak salah namun di salahkan.
"Jangan tinggalkan aku Gauri." Bersembunyi di leher Gauri sedikit mengendusnya.
Dengan mencium aroma harum Gauri membuat Aldy nyaman bahkan sangat nyaman sekali, ia ingin berada di pelukan wanita yang membuatnya selalu nyaman dan candu ini dan tidak mau lepas dan kehilangan. Cukup masa lalunya ia kehilangan orang-orang yang paling sering ia sayangi dan cintai.
"Beri aku waktu Aldy," mengusap surai milik Aldy dengan lembut
Aldy sangat nyaman rambutnya di usap lembut oleh tangan lentik Gauri.
"Kamu minta berapa lama?" menengadahkan wajahnya menghadap ke arah Gauri.
"Kalau satu bulan bisa, aku ingin waktu selama itu." Permintaan yang sulit untuk Aldy kabulkan
Satu hari saja tidak sanggup apalagi ini 1 bulan lamanya, bagaimana bisa? ia tidak sanggup jauh dari Gauri gadisnya. Ingin memberontak dan meminta di ringankan tapi Gauri jika sudah punya keinginan bukannya harus di laksanakan.
Kenapa dirinya lemah pasti gara-gara rasa bersalah itu menjadikan dirinya yang dulu semena-mena dan menakutkan kini takluk di hadapan seorang wanita yang bernama Gauri. Ajaib bukan, tentu saja ajaib dari pria kasar menjadi lembut.
"Apakah bisa aku minta diskon 3 Minggu saja Gauri, aku tidak sanggup berjauhan darimu aku selalu merindukan kamu Gauri sayang." Matanya berkaca-kaca.
"Hah.. berjauhan bagaimana maksud kamu Aldy. Bukankah kita satu villa bahkan kamar bersebelahan, kenapa tidak sanggup," Gauri menjelaskan.
__ADS_1
"Kamu tidak pergi dariku sayang, syukurlah jika kamu masih mau tinggal denganku di villa." Aldy tidak henti-hentinya mencium pipi Gauri kanan kiri dan juga dahinya.
"Lepaskan.. jangan bersikap peduli dan romantis mulai hari ini, aku ingin merenung Aldy." Gauri kembali ke mobil lebih dahulu.
Aldy tentu saja bahagia, meski tidak bisa bersama-sama dalam waktu dekat tapi setidaknya Gauri tidak meminta keluar dari Villa miliknya, yang artinya Gauri masih ada rasa bukan.
"Baik.. baik.. aku akan menjauh sedikit mulai hari ini." Menampilkan senyum menawannya.
Siapa saja tidak dapat menolak pesona Aldy Samporna.
•
Beberapa hari saja rasanya sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Gauri, Gauri terlalu membatasi dirinya dan seolah-olah enggan berbicara lagi, Mimi yang biasanya mengantar makanan atau mengantarkan ke taman pun juga di tolak oleh Gauri.
'Gauri.. sampai kapan kamu menyiksaku seperti ini, belum puaskan kamu menyendiri. Aku ingin sekali melihat wajahmu yang cantik itu, apakah salah jika diriku merindukan kamu. Tolong.. sekilas saja tunjukkan wajahmu padaku Gauri, aku mohon.'
Aldy berdoa dalam hati, semoga doanya di Dengar Oleh Yang Maha Kuasa agar sekilas saja bisa melihat wajah cantik yang sudah ia rindu-rindukan selama 3 hari berturut-turut.
Gauri sebenarnya juga tidak sanggup berjauhan dari Aldy, mungkin ini jawabannya dan dirinya harus menerima Aldy apa adanya dan tidak mengeluh apa-apa tentang masa lalu dan kejadian yang menimpa dirinya,cukup bersabar dan menerimanya dengan ikhlas.
Ceklek.
Aldy menatap pintu kamar Gauri dan muncullah bidadari cantik yang bernama Gauri.
"Gauri." Langsung berhamburan memeluk erat tubuh Gauri dan memberikan banyak kecupan di ubun-ubun kepala Gauri.
Cup.. cup.. cup...
"Terimakasih banyak Gauri sudah mau keluar dari kamar kamu, apa kamu tau.. aku begitu sangat-sangat merindukan kamu. Sungguh Gauri aku tidak berbohong kepadamu." Menatap lekat-lekat wajah Gauri yang terlihat lebih ceria daripada 3 hari yang lalu.
Rasanya sedikit canggung ketika bertemu kembali dengan Aldy, tapi Aldy tidak ia justru sangat senang dapat melihat sang calon istri.
Bella datang tiba-tiba.
"Wah... wah... wah... bahagianya setelah merebut kebahagiaan wanita lain." Di iringi tepuk tangan dan suara high heels milik Bella.
"..." Gauri diam membeku, apa maksudnya coba merebut kebahagiaan wanita lain.
Aldy menatap tajam Bella.
"Ngapain kamu kesini?" hardiknya tidak suka dengan kedatangan wanita pengganggu itu.
"Aku kesini, hanya ingin memberi tau dirimu jika aku sedang mengandung buah hatimu!" jawabnya memang jujur tapi entah di pikiran Aldy.
"Bohong." Tidak percaya.
"Tapi itu kenyataannya Aldy, usianya masih sembilan minggu," mengusap perutnya yang sedikit berisi di bagian bawah.
Pakaian yang dikenakan Bella memang pas di badannya, dulu seingatnya tidak berisi berarti Bella benar-benar mengandung. Aldy tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bella.
"Ikut aku." Langsung menarik paksa tangan Bella.
Bella tersenyum melihat ke belakang, Gauri nampak terkejut dan shock dengan berita ini bahkan matanya saja sudah berkaca-kaca hendak menangis.
Aldy menyuruh Mimi dan Gauri ikut serta sebagai saksi jika Bella hamil atau tidak. Di dalam perjalanan Mimi terus-terusan menguatkan hati Gauri agar ia tidak terbeban dengan berita yang belum tentu benar adanya.
__ADS_1
Setelah di bawa ke salah satu rumah sakit terbesar di kota ini, Aldy terkejut memang benar-benar hamil bahkan usianya 9 Minggu. Dan kejadian ini sebelum datangnya Gauri di villa, berati benar jika Bella mengandung buah cintanya sebab saat pertama kali Bella menyerahkan tubuhnya pada Aldy Bella masih gadis yang polos bahkan belum tersentuh miliknya.
"Kamu beneran mengandung anakku?" tanya Aldy pada Bella.
Bella terharu mengangguk dan ia sangat bahagia Aldy mengusap perutnya yang sedikit berisi meski masih rata jika rebahan di ranjang rumah sakit.
Sedangkan Gauri dengan terpaksa keluar dari ruangan pemeriksaan itu, rasanya tidak sanggup melihat laki-laki yang ia idam-idamkan dan cintai tengah berbahagia dengan kehadiran calon bayi mereka. Iri.. cemburu.. dan marah, kenapa saat hatinya ia buka namun sekejam itu luka menancap tajam di hatinya.
Mimi mengejar Gauri tapi Gauri sudah hilang entah pergi kemana, ia bertanya-tanya pada orang-orang apa pernah melihat wanita di foto. Mimi menunjukkan foto Gauri yang berada di layar ponselnya, tapi semua orang tidak melihatnya sebab saat keluar tadi Gauri mengenakan masker penutup mulut dan hidungnya agar kepergiannya tidak di kenali orang, pasti Mimi atau orang-orang suruhan Aldy sudah bergerak bukan.
Gauri mematikan ponselnya dan membuang sim card miliknya, lalu ia merogoh kantong baju dan celananya berharap ada uang sedikit entah untuk beli air minum atau apa sejenisnya.
"Apakah tidak ada uang sama sekali?" ia pasrah namun saat kantong terakhir yang ia cek menemukan lipatan banyak entah isinya kertas atau benar-benar uang.
Gauri bersyukur saat lipatan tebal itu ternyata isinya uang, beruntung saat mencuci pakaian ia sendiri yang mencuci dan menjemurnya di balkon.
Gauri mampir ke salah satu warung makanan untuk mengisi tenaganya meski keselamatan dan kebebasannya akan terenggut sebentar lagi tapi setidaknya biarkan sebentar saja perutnya merasakan namanya kenyang tidak kelaparan seperti biasanya.
Bugh
Ada seseorang yang menepuk pundaknya,Gauri langsung terperanjat dan takut jika itu orang-orang suruhan Aldy untuk menangkap dirinya sebab berani kabur dari sisinya.
Gauri tidak berani menatapnya pasti orang-orang itu bukan.
"Gauri.. kenapa kamu disini?"
Suara ini.
Gauri memberanikan menatap orang itu, siapa lagi jika bukan Shandy mantan suaminya yang sekarang berstatus entah sudah menikah lagi atau sudah duda.
"Shandy.. tolong saya.. Shandy. Tolong.. bawa saya pergi jauh dari sini.. saya mohon." Bersembunyi di balik lengan Shandy.
"Ada apa sih?" bingung dan bertanya-tanya.
"Saya mohon, jangan bertanya sekarang. Bawa kabur saya sekarang sebelum saya di tangkap oleh orang-orang suruhan Aldy Shandy!" jawabnya ketakutan.
Shandy langsung menolong Gauri ia tau maksudnya Gauri, pasti selama ini kepergian Gauri ada sangkut pautnya dengan Aldy ternyata benar. Ia akan membawa jauh Gauri tentunya dengan identitas lain yaitu sebagai saudaranya dengan menggunakan identitas saudara jauhnya untuk pergi dari kota ini, kota penuh kepahitan untuk Gauri sendiri.
"Saya akan membawa kamu pergi, tapi.. kamu jangan panggil aku saya dong panggilan biasa saja seperti teman dan kamu bisa panggil aku untuk diri kamu sendiri."
Entah ide dari mana tiba-tiba secara spontan saja Shandy membawa kabur Gauri dari Aldy, sedari dulu sebenarnya Shandy sangat sadar jika Aldy ada obsesi untuk menghancurkan Gauri entah apa kesalahannya, yang jelas suntikan dana sebesar 10 M itu harus ia pergunakan dengan baik dan tanpa jejak sebisanya, agar suatu hari nanti bisnis yang berdiri sendiri itu tidak bermasalah kedepannya, maka dari itu uang sebanyak itu ia bangun untuk restoran baru bukan restoran lamanya.
"Baik Shandy, kamu mau membawa aku kemana?" bingung sebab ini sudah keluar kota bahkan sudah jauh dari kota.
"Pakai pakaian ini, ini milik aku masih bersih kamu pakai saja untuk penyamaran Gauri dan pakaian kamu yang lama itu buang saja di tempat sampah di sekitar jalan jangan di area pelabuhan atau bandara nanti, sebagai pengecoh jika orang-orang Aldy mencari kamu Gauri." Saran dari Shandy di angguki oleh Gauri
Dulu memang dirinya benar-benar mencintai bahkan menyerahkan jiwa raganya untuk Shandy seorang sebelum kenyataan pahit itu datang, tapi perlakuan Shandy tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kelakuan buruk Aldy bahkan ia senang menyebar benih dimana-mana sampai salah satu wanitanya kini tengah berbadan dua dan mengandung buah hatinya.
Satu setengah jam berlalu dan kini Gauri berada di dalam pesawat dan sudah memenuhi syarat-syarat, entah sejak kapan dirinya punya paspor dan kenapa Shandy membawanya.
"Hem .. dasar orang kaya, mau buat ini itu saja langsung membalikkan tangan saja cepat jadi. Aneh.. masa kebetulan sekali sih, dasar dua laki-laki gak ada yang benar sama sekali gak Shandy gak Aldy sama-sama bajing*."
Gauri memang geram dengan 2 laki-laki yang melukai hatinya, perlakuan Shandy dapat di maafkan tapi untuk Aldy ia tidak tau sebab dirinya saja belum jadi istrinya kenapa harus marah, tapi rasa kecewa ini tidak dapat hilang apalagi Aldy begitu bahagia mendapatkan buah cintanya dengan Bella.
"Aku harus rela dan ikhlas melepasnya, Allah begitu baik menunjukkan aku siapa Aldy sebenarnya sebelum aku menjadi istrinya. Terimakasih Ya Allah." Doanya ia panjatkan berkali-kali bahkan bersyukur sekali.
__ADS_1