
Jangan lupa like, komen, favorite dan rate bintang lima ya.
Selamat membaca.
***
Sindy sudah menunggu kedatangan sang suami di taman belakang sambil mengabsen bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Cantik sekali, tetapi kenapa penuh duri di tubuhmu." Menyentuh bunga mawar yang bermekaran sangat cantik. Tanpa sengaja jari telunjuk Sindy terkena duri.
Rasa di jarinya memang berdenyut perih namun tidak seperih hatinya.
Cheval yang baru saja datang berjalan mendekati sang istri yang membiarkan jari telunjuknya mengeluarkan darah tanpa ia hentikan.
"Kenapa tidak segera kamu obati jarimu ini." memegang tangan Sindy dan langsung menghentikan tetesan darah yang keluar dari jari dengan cara mengisapnya dengan penuh cinta.
"Jariku tidak merasakan sakit buat apa aku obati dan balut lukanya," jawab datar Sindy.
"Sindy jangan salah faham padaku sayang, aku mohon percaya padaku. Coba Aa ingin tau apa kesalahan Aa sampai-sampai kamu berbicara seperti itu di pemakaman tadi?" Cheval menatap mata Sindy yang masih sedikit sembab.
"Siapa dia yang semalam mengirimkan pesan singkat padamu!" Sindy segera menarik tangannya dari genggaman Cheval.
Sindy membelakangi Cheval sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Sayangku jika ingin tau, sini duduk dekat denganku." Ucap Cheval menepuk pahanya sendiri.
Meski hati sangat sakit saat seseorang yang ia cintai menawari duduk di dekatnya pasti secara otomatis akan datang dengan sendirinya, ya contohnya Sindy. Dirinya langsung berjalan mendekati sang suami dan duduk di pangkuannya.
"Jelaskan dengan detail?" Sindy tidak berani menatap Cheval.
"Hheemm... istriku sedang cemburu dengan temanku ternyata," dengan mudahnya Cheval berucap bahkan diiringi dengan senyum yang sangat lebar.
Apa Cheval tidak sadar sang istri perasaan hatinya sudah mendidih dan berkobar-kobar.
"J... EE... LAS... KAN." Mencubit kuat-kuat perut Cheval.
"Aduh... aduh... sayang sakit... aduh... lepaskan, akan aku jelaskan... tetapi... ini... lepas, sakit sayang," Cheval kesakitan di bagian perut sebelah kanannya.
"Hhuhhh..., enakkan rasanya gurih sekali, mau di ulangi lagi." Sindy sudah siap dengan tangannya untuk mencabik-cabik suaminya yang menyebalkan ini.
__ADS_1
"Ampun sayang... ampun, janji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi sayang semua yang terjadi ini aku bisa menjelaskan, belum apa-apa kamu sudah mencubitku terlebih dahulu bisa di jadikan kdrt loh ini sayang," Cheval menutupi perutnya dengan bantal kecil yang ada di kursi tersebut.
"Terus kalau aku tidak mencubit Aa dengan keras, apa Aa akan menjawab dengan jujur atau berbohong, ayo jawab Aa."
"Begini sayang, aku waktu di New York punya teman dan dia mau ke Indonesia, beberapa waktu ini dia sedang belajar bahasa Indonesia agar lancar saat berada di sini, begitu ceritanya sayang," jawab Cheval terlihat bodoh, padahal sekarang jaman canggih kan bisa les lewat ponsel kenapa harus suaminya yang mengajari, alasan di buat-buat.
"Cowok atau cewek?" Sindy penasaran.
"Eemm kalau itu sedikit sulit di jelaskan sayang, dia laki-laki tetapi perilakunya seperti..." belum selesai berbicara Sindy sudah memotong.
"Seperti perempuan."
"Bukan, eemm seperti orang suka dengan sesama jenis. Aa sedikit takut dengannya yang suka curi pandang ke Aa dulu sewaktu di sana," Cheval begidik ngeri saat membayangkan.
Sindy yang tadinya marah langsung padam, ternyata laki-laki di luaran sana melirik suami tampannya.
"Wah... ada pelakor ini, aku harus waspada ini." Sindy mengepalkan tangannya.
"Terus sejak kapan Aa mengajarinya bahas Indonesia?"
"Sebenarnya sudah lama, sekitar 3 bulanan ini dan maaf sayang aku tidak jujur padamu tentang ini!" sambil menjewer kedua telinganya.
Sudah salah menebak menangis pula plus marah. Tetapi amarahnya sedikit pudar lantaran sudah mencubit keras sang suami.
"Salah sendiri marah-marah di duluin dari pada bertanya, istilahnya malu bertanya sesat di jalan. Bagaimana rasanya perut ini, lapar atau kenyang." Goda Cheval tersenyum devil.
Ppllakk
Dengan keras Sindy memukul lengan kokoh Cheval. Tidak peduli beberapa asisten rumah ini sedang menikmati pemandangan ini. Pasangan lucu terromantis di abad ini, meski bertengkar dengan cepat di selesaikan bahkan dengan iringan pertengkaran kecil yang menggemaskan.
Meja makan.
Cheval benar-benar seperti istri untuk Sindy, dengan telaten Cheval mengambilkan dan melayani Sindy.
"Sayang, kamu seperti suamiku saja yang perlu aku layani setiap kegiatanmu." Sambil menyuapi Sindy.
"Siapa yang mau sendiri melayaniku, aku tidak memintanya," Sindy merebut piring dan sendok yang berada di tangan Cheval.
"Haduh salah bicara lagi, Cheval Cheval kenapa mulutmu ini seperti petasan saja tidak bisa di hentikan saat api sudah di nyalakan. Bisa gawat jika Sindy marah, gagal si tongkat pedang sakti bertempur di medan perang."
__ADS_1
Sindy makan dengan cepat padahal tidak ada yang merebut makanan yang ada di piringnya tersebut.
"Aku sudah selesai makan Aa." Sindy segera mencuci piring yang baru ia kenakan.
Sindy menatap langit yang sangat cerah berwarna biru dan ada awan putih, bahkan bentuk awan putih sedikit bersisik sangat cantik.
"Cantik sekali." Cheval mengikuti arah Sindy melihat.
"Iya, cantik ya Aa," tanpa Sadar sedari tadi yang di lihat Cheval adalah dirinya sendiri.
"Kamu yang cantik, sama persisnya seperti yang kamu lihat." Goda Cheval sambil merebahkan dirinya di kursi.
"Basi Aa bercandanya, bukannya dari dulu cantik," Sindy ikut merebahkan diri di samping Cheval.
Suara deringan ponsel Cheval berdering nyaring. Cheval menatap siapa yang menelpon dan ternyata Emillia.
"Sayang." Menunjukkan layar ponsel pada Sindy.
Seketika mata Sindy melotot, pelakor datang dengan terang-terangan.
"Dasar pelakor, menelpon suami orang terus." Gumam Sindy memanyunkan bibirnya dan menatap ke arah lain.
"Bagaimana, boleh di angkat tidak?" sementara itu deringan ponsel terus berbunyi nyaring.
"Angkat saja, siapa tau penting!" Sindy memfokuskan pendengarannya ke arah ponsel Cheval.
"Hallo." Cheval dengan ketus bertanya. "Oh... sudah sampai di bandara, what... sampai di jam sekarang dan kamu menyuruh aku menjemputmu, tidak akan." Cheval mematikan telponnya secara sepihak.
Cheval yang menolak permintaan Emillia membuat Sindy tersenyum kegirangan. Setidaknya posisi dirinya sebagai istri di utamakan dan yang paling penting saat ini.
"Aku tidak akan menjemputnya, meski aku kenal dia. Biarkan saja dia mencari tempat berteduh sendiri, lagian dia sudah besar dan dewasa." Cheval meraih pergelangan tangan Sindy.
Sindy tersipu dengan perilaku Cheval yang selalu memberinya kejutan yang luar biasa contohnya seperti ini, meski bunganya memetik dari kebun belakang namun Cheval tetap romantis saat memberikan bunga tersebut.
"Harum ya Aa bunga gratis dari taman belakang." Sindy menciumi bau khas bunga mawar tersebut. Cheval hanya mengangguk saja.
Cheval berpikir keras, baru saja masalah selesai kini datang lagi masalah baru.
***
__ADS_1
Penasaran gak sih siapa Emillia, kenapa bisa datang tiba-tiba.