ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
77 Belum positif sampai sekarang


__ADS_3

Daysi masih dalam hati yang murung di dalam kamar, sementara Aurellia segera menuju kamarnya sendiri setelah ia tidak melihat keberadaan Sacha di kamarnya. Aurellia berganti dengan pakaian santai untuk beraktivitas di dalam rumah. Suara deringan ponsel terdengar di meja dekat Aurellia membaca majalah, kemudian ia melihat siapa yang menelponnya saat ini. DDEGGHH..., jantung Aurellia berdenyut ngilu saat menatap siapa penelpon tersebut. Aurellia mengeser ikon warna hijau dan menerima panggilan tersebut.


"Iya, hallo Bang ada apa?" tanya Aurellia besikap biasa-biasa saja saat ini.


"Lagi dimana, apa kamu lupa hari ini hari peresmian tempat usaha kita yang baru." Ucap Abang mengingatkan pada Aurellia.


"Eemm iya Bang saya baru ingat, apa acarannya sudah selesai." Aurellia mulai gelisah.


"Belum di mulai, saya menggu di tempat ini Aurel segeralah datang ya," Abang mematikan ponselnya.


Aurellia berpikir keras setelah menerima panggilan tersebut, seketika ia lupa jika sudah bersuami bahkan tidak berpamitan pada Sacha, Sacha yang melihat mobil Aurellia melaju keluar rumah hanya menatapnya.


"Mungkin ada urusan dia, biarkan saja. Aku akan mencoba beradaptasi dengan dunia baru pernikahan ini." Sacha mengambil laptopnya yang ada di dalam kamar kemudian ia kembali ke gazebo untuk membicarakan pekerjaan dengan Ksatria saat ini.


Kedai baru Aurellia dan Abang.


Aurellia menggela nafas panjang saat sampai tempatnya yang akan resmi sebentar lagi. Aurellia menyungingkan senyum termanisnya yang membuat siapa pun yang melihat pasti terpesona kecuali Abang, ia sama sekali tidak terpesona dengan kecantika yang di miliki Aurellia.


"Untung kamu datang, saya dan karyawan yang lain sudah menunggu kedatanganmu untuk potong pita hari ini." Mempersilahkan Aurellia berbicara di depan semua orang karena 70 persen kedai ini milik Aurellia sementara Abang hanya 30 persen saja.


Setelah memberi sambutan Aurellia memotong pita pertanda jika kedai ini sah untuk di buka dan di nikmati sajian makanan dan minumannya. Aurellia sangat bahagi dengan hasil kerja kerasnya selama ini namun ia masih memikirkan bagaimana jika Abang nanti tau pernikahannya saat ini. Apakah Abang tetap mau berkerja sama.


"Sudahlah, jika dia tau. Bukannya selama ini dia tetap punya perasaan dengan Daysi." Aurellia meminum kopi baru yang ia racik sendiri barusan dan rencanannya akan masuk ke dalam menu andalan kedai ini.


2 minggu kemudian.


Daysi sedang menggendong Cheval dan merasakan perutnya yang tidak nyaman sekali seperti ada sesuatu yang minta di keluarkan segera.


"Mbak Ria, tolong jaga Aak dulu." Daysi langsung berlari dan menuju wastafel untuk mengeluarkan isi dalam perutnya.

__ADS_1


Ria yang mendengar Daysi muntah-muntah ia berpikir jika istri si bosnya ini sedang hamil muda. Daysi yang baru saja keluar dari kamar mandi di sambut hangat oleh semua orang. Mbok Yati, Mala dan juga Ria.


"Istirahat dulu nak, mbok siapkan teh hangat ya," dengan tersenyum.


Daysi heran dengan kelakuan orang-orang barusan, "apa semua orang baik-baik saja kepalannya kenapa mendadak mereka seperti menang lotre saja," dalam hati Daysi bertanya-tanya.


Mala yang baru saja kembali langsung memberikan test pack pada Daysi, Daysi tambah heran dengan kelakuan Mala barusan. Mbok Yati yang selesai membuatkan teh langsung tersenyum bahagia.


"Nak Daysi, cobalah alat itu siapa tau nak Daysi tengah mengandung anak Aden." Menangkupkan kedua tangannya.


"Stop... stop... apa maksud kalian semua, saya gak hamil saya muntah tadi karena mag saya kambuh saja." Sambil menyengir kuda.


Semua orang yang ada di dekat Daysi yang tadinya bahagia mendadak sedih karena angan-angan tidak sesuai harapan. Dan kemudian mereka berpamitan pada Daysi satu persatu, Daysi hanya menatap dengan sedih.


"Apa aku tidak di izinkan bahagia oleh Tuhan, kenapa Tuhan menghukumku seperti ini." Daysi meneteskan air mata dan pergi menuju kamarnya dan mengunci diri di dalam kamar.


Air mata yang sedari keluar kini mengering secara perlahan bahkan tidak mau keluar lagi, Daysi pasrah jika dirinya tidak dapat memiliki anak biologis sendiri.


Tookk... tookk....


"Daysi sayang buka pintunya, saya pulang ini." Terus mengetuk pintu. Selang beberapa detik Daysi membukakan pintu.


Daysi yang masih murung kini duduk di sofa sambil menundukkan wajahnya, Ksatria mendekat dan langsung memeluk Daysi dengan erat.


"Sat... aku membuat semua orang kecewa, mereka pikir aku tengah mengandung padahal mag ku hari ini kumat lagi." Keluhnya pada Ksatria. Ksatria terus menghujani ciuman di ubun-ubun Daysi.


"Sabar Daysi, kita perbanyak doa ya." Memeluk erat tubuh Daysi kembali.


"Aku seorang wanita yang gagal Sat, aku malu pada diriku sendiri. Banyak orang yang membicarakan ku juga selama ini saat aku keluar rumah bahkan aku tidak pede saat berbelanja lagi saat ini, aku malu." Daysi tidak meneteskan air mata meskipun wajahnya bersedih.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf Daysi, membuatmu bersedih sampai saat ini."


Sacha yang sedari tadi mendengar percakapan ini jadi ikut sedih mendengarnya, apalagi keturunan yang di damba-dambakan belum hadir menghiasi rumah ini. Sacha yang mau memberikan laporan yang kurang sewaktu di hotel tadi ia urungkan.


Sacha berjalan menuruni anak tangga dan menuju dapur untuk mengambil minum. Saat selesai minum ia di kejutkan dengan ke datangan Aurellia yang baru saja pulang dari kedai kopi dengan wajah gembirannya.


"Ciye... yang sedang bergembira, habis kencan ya sama Abang?" tanya Sacha basa basi.


"Sok tau kamu," berlalu pergi meninggalkan Sacha sendirian.


"Haduh istriku kenapa seperti itu." Sacha murung melihat Aurellia pulang dengan wajah gembirannya. Sementara dirinnya tidak bisa membuat Aurellia bahagia bahkan sedetik pun.


Sacha langsung menuju kamarnya sampai detik ini Aurellia enggan tidur satu kamar dengan Sacha padahal sang kakak Ksatria sudah menyuruhnya tidur satu kamat satu ruangan juga tapi Aurellia tetap bersih kukuh tidak mau.


"Punya istri tetapi kenapa rasa single." Sacha segera menuju bath tub untuk berendam sambil memikirkan pernikahan kedepannya.


Aurellia yang baru saja selesai mandi mencari sosok Sacha yang menghantui pikirannya beberapa hari ini, rasannya ada yang kurang saat ia tidak melihat Sacha si bocah tengik. Aurellia memberanikan diri masuk kedalam kamar Sacha, Aurellia mendengar suara gemercik air ia yakin Sacha sedang mandi, tidak lama kemudian Sacha yang keluar tanpa mengenakan apa-apa membuat Aurellia beteriak sangat keras.


"AAA...," menutup kedua matannya dan membalikkan badan.


Sacha yang menatap dirinya polosan hanya diam dan mengambil handuk serta pakaian santai.


"Kenapa wajahmu kamu tutupi, sudah boleh lihat. Saya sudah mengenakan pakaian lengkap." Ucap Sacha mendekati Aurellia.


"Aku tidak percaya," masih menutup mata.


"Coba nih sentuh tubuh aku." Menarik tangan Aurellia dan meletakannya di pundaknya, "sudah pakai baju kan," Sacha tersenyum manis.


Aurellia yang melihat senyum manis Sacha tertegun, baru kali ini menatap Sacha begitu dekat.

__ADS_1


***


__ADS_2