
Taman bermain.
Aurellia terkejut dengan hadiah yang di berikan oleh Daysi sang sahabat. Daysi langsung menarik pergelangan tangan Aurellia dan mengajaknya ke salah satu wahana yang pernah mereka kunjungi sekitar 8 tahunan yang lalu.
"Kamu ingat Relli waktu kamu menangis gara-gara kakakmu melarangmu berpacaran dulu?" Daysi mengigatkan Aurellia pada orang pertama yang ia cintai, bisa di bilang cinta monyet Aurellia sewaktu SMA dulu.
"Iya, saya ingat betul Daysi. Kakak marah-marah waktu itu, tapi sayang kamu tidak mengenal kakakku karena ia mengenakan masker penutup mulut dan hidung." Jawab Aurellia menunduk sedih.
"Apa kamu masih ingat dengan Paul?" Daysi menujukkan foto Paul melalui akun Instagramnya.
"Kamu mengikutinya Daysi, apa kakak tau." Aurellia melihat status Paul yang menjadi pemilik salah Mall di kota ini.
"Sukses ya dia, padahal dia dulu terkenal sering bolos sekolah bahkan sering masuk ruang BK," Aurellia megingat Paul yang sering terkena masalah saat sekolah dulu.
"Iya betul Relli, tapi aku juga sempat terkejut saat ia masuk salah satu Universitas terbaik di Indonesia bahkan ia mendapat perdikat terbaik nomor dua di kampus, benar-benar jungkir balik dari waktu SMA dulu." Daysi tertawa mengingat semua itu, begitu juga dengan Aurellia.
"Ayo kita bermain bianglala, aku rindu." Aurellia menarik Daysi untuk masuk ke dalam wahana kincir raksasa ini.
Saat masuk ke dalam wahana dan duduk Daysi mengirim pesan pada Ksatria bahwa dirinya dengan Relli akan pulang terlambat, Daysi mengajak Aurellia untuk bernostalgia semasa SMA dulu. Saat bianglala berada di puncak baik Daysi mau pun Aurellia saling berdoa untuk kebaikan rumah tangganya. Sebenarnya lebih bagus jika berdoa di masjid yang apalagi di Makkah, namun karena belum bisa kesana berdoannya sewaktu di rumah atau tempat seperti ini.
"Kamu berdoa apa?" Daysi menatap wajah Aurellia.
"Berdoa agar di bukakan hati untuk mencintai suami," jawab polos Aurellia.
"Semoga doamu terkabul Relli," merangkul pundak Aurellia.
2 jam bermain di area wahana merasa lelah Daysi memesan salah satu kedai kecil yang berjejer rapi, Daysi memesan makanan untuk mengganjal perut dan beberapa lagi untuk Aurellia.
Nostalgia masa SMA dulu berhenti sampai disini karena Daysi sudah mengeluhkan sakit di kaki dan badannya.
"Aku capek, pulang yuk." Daysi memesan taxi online.
Kediaman Malik.
__ADS_1
Ksatria sedang galau menanti sang istri pulang dari taman bermain, menunggu sambil meletakkan dagunya di meja makan.
"Seperti anak terbuang saja saya ini." Ksatria mengetuk-ngeruk jarinya di meja.
Sacha yang baru saja pulang dari lokasi proyek heran dengan kakak iparnya yang seperti ke hilangan induknya.
"Kak, nungguin kakak ipar." Tanya Sacha dengan bodo*, sudah tau bertanya pula.
"Ya seperti yang kamu lihat, hidupku sepi dan hampa tanpa Daysi," memonyongkan bibir seperti ikan ke hausan.
"Sabar ya kak." Menepuk pundak Ksatria dan berlalu pergi untuk membersihkan diri karena badan terasa lengket sekali.
Ksatria yang setia menunggu sang istri pulang sambil mengecek ponselnya beberapa kali, namun nihil hasilnya tidak ada panggilan atau chat yang masuk.
"Jam berapa kamu pulang Daysi sayang." Dengan wajah sedih menderita.
Suara langkah kaki terdengar mendekati ruang makan. Ksatria yang di landa galau berat tersenyum saat Daysi duduk di dekatnya sambil memegang pipi mulusnya.
"WWOYY..., ngalmun saja. Saya Sacha bukan kakak ipar." Sacha tertawa geli saat Ksatria menempelkan telapak tangannya ke wajah Ksatria karena Ksatria yang telah menarik tangannya.
Daysi yang baru saja sampai di teras mendengar suara Sacha yang tertawa renyah terkejut saat Sacha berguling-guling di sofa ruang tamu. Bahkan Aurellia hanya geleng-geleng kepala saat melihat sang suami tertawa sampai jungkir balik.
"Ada apa sih Sacha?" tanya Daysi mendekat.
"Itu... aa... haa... ha..., suami kakak!" jawab Sacha masih tertawa terpingkal-pingkal sambil menujuk ruang makan.
Daysi langsung melihat ke arah ruang makan begitu juga dengan Aurellia. Aneh, pertanyaan ini membuat dua sahabat langsung mengangkat bahunya.
"Aku kesana dulu kalau begitu," pamit Daysi pada Aurellia. Daysi berjalan menuju ruang makan yang temboknya terbuat dari kaca tembus pandang.
Ksatria cemberut sambil mengetuk-ngetuk meja dengan kuku-kukunya. Sentuhan lembut terasa di pundak Ksatria, kali ini Ksatria tidak mau tertipu lagi ia tidak bereaksi sama sekali kemudian melihat siapa yang menyentuh bahunya kemudian Ksatria mengerjab-ngerjabkan matannya untuk memastikan jika ini benar-benar Daysi istrinya bukan yang kw.
"Kamu beneran Daysi istriku kan." Menatap intens wajah yang dilihat saat ini.
__ADS_1
PPUUKK
Satu pukulan mendarat di punggung tangan Ksatria, Ksatria yang merancau ucapannya terkejut ia hafal betul untuk menyadarkan Ksatria Daysi selalu memukul punggung tangannya.
"Aaaishhh... ternyata kamu benar istriku. Syukurlah jika kamu sudah pulang Daysi, kamu tau Daysi sewaktu kamu pergi aku rindu sekali denganmu meski pun kamu pergi dengan adikku sendiri," menghujani ciumab di dahi Daysi.
"Lebay amat sih, lagian aku tadi perginya cuma tiga jam gak sampai satu hari juga." Daysi melepas pelukan erat Ksatria dan duduk memakan roti tawar yang ada di meja makan.
"Sama saja, kalau sudah rindu ngak bisa di tahan," Ksatria memelas menderita. "Tiga jam apannya aku hitung hampir tujuh jam lamannya kamu bilang cuma tiga jam saja," gerutu Ksatria.
"Haduh..., bagaimana menjelaskan. Tadikan aku sama Relli belanja Sat, tuh bahkan barang-barang kami belum di antar gara-gara banyak barang dari supermarket yang belum dihantar, setelah itu aku pergi ke taman sambil bernostalgia dengan Relli." Daysi mencoba menjelaskan pada bayi besarnya ini.
"Sama saja, hiks." Ksatria meneteskan air mata.
"Cih... cengeng banget jadi laki," sindir Sacha yang mengambil minum.
"Lihat tuh aku diledek cengeng," sambil menujuk Sacha yang sedang minum. Daysi hanya menggelengkan kepala dengan sikap aneh Ksatria saat ini, seperti bayi yang merengek saja.
Daysi yang sedari tadi menahan tawa pecah sudah tawannya, Daysi sampai meneteskan air mata saat tertawa saking lucunya. Ksatria yang di tertawai Daysi dan Sacha bersama langsung pergi.
"Eh... dia marah," Daysi langsung pergi menyusul sang suami yang berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya.
Daysi berlari sambil menahan tawa melihat tingkah Ksatria yang kekanak-kanakan, saat berada di dalam kamar Ksatria masih melajutkan ngambeknya, sampai Daysi selesai mandi bahkan masih marah Ksatria.
"Sayang Ksatria, masih marah denganku?" tanya Daysi sambil tangannya bermain di dada bidang Ksatria.
Ksatria memalingkan wajahnya seketika, ia tidak mau Daysi melihat ada semburat merah di pipi kanan kiri.
"Benarkah masih marah," pancing Daysi dengan senyum termanisnya. "aku harus apa biar kamu ngak ngambek lagi?" sambil tersenyum.
"Puaskan aku malam ini!" ucap datar Ksatria.
"Tuhkan gara-gara pertanyaan bodohku barusan membuat aku kesusahan lagi nanti malam," gerutu Daysi dalam hati. Sambil memonyongkan bibirnya kemudian berubah senyum dalam seketika.
__ADS_1
***