ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
90 Ibu hamil marah


__ADS_3

Daysi yang terus-terusan di tanyai oleh Dhita hanya mengalih kan topik ini itu, terlalu bawel menurut Daysi.


"Stop, apa kamu tidak bisa diam. Ini kediaman ku bukan rumah kamu. Hugo bawa istrimu pulang aku capek." Ucap tegas dan dingin Daysi pada Hugo.


"Daysi saya mohon, kita besanan ya." Dhita terus memelas pada Daysi.


"Tidak, aku tidak mau jadi ibu mertua di usia muda ku ini," Daysi berlalu pergi.


Hugo dan Dhita yang sudah berada di dalam mobil, Dhita hanya mendengus kesal dalam hati, bagaimana bisa anak nya secantik ini di tolak mentah-mentah oleh Daysi.


"Apa anak kita kurang cantik Hugo sehingga dia tidak pantas bersanding dengan Cheval si anak tampan?" sambil memberikan susu formula pada Dhela.


"Cantik ko putri kita, Dhela begitu menggemaskan dan mempesona saya yakin dia akan menjadi primadona nanti seperti mama nya," di selingi memuji Dhita.


Dhita yang mendapat pujian sang suami langsung memberi kan ciuman di pipi kiri Hugo.


"Jangan menggodaku Dhita, kasihan Dhela masih kecil," dengan bercanda.


"Kamu ini Hugo, itu cuma cium bukan menggoda nama nya." Dhita tersipu malu.


"Sama saja." Tersenyum dengan lebar.


Sore hari.

__ADS_1


Aurellia dan Sacha yang baru saja pulang setelah mengunjungi pembangunan hotel kedua Royal Malik merebah kan kaki nya sambil memijat tungkak kaki di ruang keluarga sambil menikmati teh yang baru saja di hantar kan oleh Mala.


"Seperti nya sepatu mu minta baru Aurel." Menatap sepatu kets milik Aurellia.


"Iya nih, lihat tuh sudah tipis alas nya," Aurellia memperlihat kan sepatu nya pada Sacha.


"Di rak sepatu seperti nya juga sama semua sudah waktu nya minta ganti, bagaimana setelah makan malam kita beli sepatu kets?" Shaca menawar kan pada Aurellia.


Daysi yang mendengar sepatu kets tiba-tiba langsung menyahut pembicaraan Sacha dan Aurellia.


"Aku ikut ya Relli, please......," menangkup kan kedua tangan nya dengan wajah memelas.


Aurellia dan Sacha hanya menghela nafas panjang.


Ksatria yang baru selesai mandi dan turun tertawa melihat ketidak berdayaan Aurellia dan Sacha atas kemauan ibu hamil.


Setelah makan malam Daysi dengan cantik nya menggunakan pakaian casual dan tidak lupa sepatu kets yang memang kesukaan nya dari dulu. Sama seperti Aurellia yang juga sama-sama menyukai tampilan seperti ini.


Sacha yang sudah memilih kan sepatu untuk Aurellia langsung di serobot oleh Daysi, "buat aku ya, aku ingin yang ini." Sambil tersenyum lebar.


Aurellia mendengus kesal. Daysi yang melihat Aurellia marah langsung mengembali kan sepatu tersebut.


"Nih aku tidak jadi, tiba-tiba aku ingin membeli sesuatu yang lain." Daysi berlalu pergi keluar dari toko sepatu tersebut.

__ADS_1


Aurellia yang melihat sahabat sekaligus kakak ipar nya ini keluar dengan marah langsung menyusul nya namun Aurellia kehilangan jejak Daysi.


"Haduh... mati nih aku, bisa-bisa di gantung kakak ini pulang-pulang." Aurellia memijat pelipis nya yang mulai berdenyut pusing.


Sacha langsung menyusul Aurellia karena ia tidak kembali-kembali.


"Apa ada masalah?" tanya Sacha sambil melihat kesana kemari.


"Daysi marah dan saya tidak tau dia dimana, haduh... saya lupa jika Daysi sedang hamil muda," Aurellia begitu cemas dan ketakutan.


"Tenang oke, coba kita cari dulu di sekitar sini ya." Sacha mengalih kan kehawatiran Aurellia.


"Ayo," berusaha tersenyum tapi hati nya takut bukan main.


Setelah mencari di seluruh area mall tetapi hasil nya nihil, Daysi tidak di ketemu kan sudah satu jam berkeliling namun tidak ada keberadaan Daysi, bahkan orang-orang sudah di tanyai apa pernah melihat wanita yang ada di layar ponsel dan mereka menjawab tidak pernah melihat nya.


Aurellia pasrah jika sampai rumah bakalan diusir sang kakak lantaran membuat masalah separah ini. Apalagi Daysi dalam keadaan hamil muda calon anak kakak nya.


"Coba kamu telpon kakak ipar siapa tau sudah berada di rumah," Sacha menyaran kan Aurellia menelpon Daysi.


"Coba saya telpon Daysi sebentar," sambungan telpon terdengar namun Daysi sengaja tidak mengangkat nya.


"Bagaimana?"

__ADS_1


Aurellia menggeleng kan kepala nya. Sacha yang dari tadi berusaha tenang kini mulai panik juga, apalagi saat ini proyek pembangunan sangat penting untuk mengisi kantong rekening nya jika tiba-tiba Ksatria memecat nya bukan sama saja bunuh diri dan jadi pengangguran lagi.


__ADS_2