
Jejaknya jangan lupa.
***
Cheval menuruni anak tangga, rumah ini terlihat sunyi lantaran ini pukul setengah dua dini hari.
"Siapa sih dia, buat orang was-was dan dag dig dug saja." Ia berusaha setenang mungkin meski jantung rasanya mau lepas.
Seseorang yang berada di taman menunggu dan mengawasi. Ia berhati-hati dalam menjalankan misi tersebut.
"Hey... siapa kamu, sini keluar kalau berani." Cheval sudah siap siaga, ilmu taekwondo yang ia miliki sebagai bekal perlindungan untuk dirinya.
"Jangan terburu-buru Cheval itu tidak seru, ayo bermain-main sedikit," ucap seseorang suara serak dan aneh.
"Aku harus waspada dengan orang ini, kenapa orang ini tau namaku. Jangan-jangan salah satu mahasiswaku, tidak aku tidak boleh kalah. Aku harus menang demi keselamatan keluarga yang sudah membesarkan ku."
Cheval dan seseorang yang menerobos kediaman Malik menyerang tubuh Cheval berkali-kali tanpa ampun. Cheval sekuat tenaga menahan itu semua, hampir saja dirinya di kalahkan oleh orang yang tidak di kenal tersebut. Lantaran Ksatria datang dan membantu.
"Aa, kamu tidak apa-apa?" Ksatria menyentuh pundak Cheval.
"Tidak apa-apa Pa, tapi orang itu berhasil lolos Pa. Bagaimana jika ada orang yang melukai Sindy atau mama, sementara aku sendiri tidak bisa melindungi diriku sendiri!" jawab Cheval sebelum ia pingsan di tempat.
"Haduh nih anak, kenapa pingsan di tempat lagi. Di mana sih pak Budi, sampai-sampai orang asing dan brutal masuk dia tidak tau." Kesal Ksatria, "BBUUDDII... BBUUDDII." Teriak Ksatria.
Karena Budi di panggil tidak ada jawaban dengan kesusahan ia membopong Cheval.
Sindy yang mendengar keributan langsung datang, ia terkejut melihat Cheval yang pingsan dan sedang di bopong papanya.
"Pa, Aa kenapa Pa." Rasa hawatir Sindy menjadi-jadi.
__ADS_1
Ia segera mengambil kompres dan kotak obat untuk menyadarkan sang suami. Daysi yang mendengar keributan ia bangun begitu juga dengan asisten rumah. Mereka hawatir dengan keselamatan majikannya ini, apalagi melihat Cheval yang babak belur.
"Pa, kenapa bisa terjadi. Apa pak Budi tidak ada Pa." Daysi membantu Sindy mengobati luka di wajah dan lengan Cheval.
Mala yang baru datang langsung memberi tau jika Budi di racunni seseorang, terlihat ada sedikit busa di mulut Budi. Mala sudah menelpon ambulan dan sebentar lagi ambulan akan datang. Suara sirine ambulan terdengar dari dalam rumah, Ksatria segera menyuruh orang-orang dari rumah sakit untuk membawa Budi ke sana.
"Semoga nyawa pak Budi selamat." Ksatria sangat hawatir.
"Sial siapa di balik musibah ini, awas saja jika aku menemukan orangnya."
Ksatria segera menghubungi orang-orang penting rahasianya, untuk menyelidiki semua ini. Tidak mungkin jika Rudi pelakunya, pasti bukan dia karena dia sudah tewas sepuluh tahun silam karena penyakit stroke yang tidak dapat di sembuhkan lagi.
Semua orang tidak ada yang berani keluar dari kediaman Malik. Beberapa body guard suruhan Ksatria sudah datang dan langsung berjaga sesuai formasinya, di segala penjuru kediaman Malik.
Sacha yang mendapatkan kabar langsung membangunkan Momo yang sedang tertidur, Momo bingung kenapa pagi-pagi buta seperti ini harus ke rumah Sindy. Dalam perjalanan Momo masih sempat tidur dengan pulas.
"Ksatria bagaimana keadaan rumah." Sacha yang baru saja datang.
Dia pikir setelah orang yang membunuh kedua orang tuanya tiada, ia mengira tidak akan ada yang mengancam keluarganya. Namun perkiraannya salah besar, ia seharusnya tetap mempekerjakan body guard di rumahnya tersebut.
"Sial... sial..., bagaimana dengan putri-putriku yang tidak punya ilmu bela diri. Lebih baik besok atau usai pulang kuliah mereka aku ajari sediri saja, jika kurang puas aku sewa banyak body guard saja untuk berjaga-jaga." Ksatria merancang semua dengan matang, untuk menjaga Sindy dan Momo.
Cheval yang baru sadar, ia mengerjab-gerjabkan matanya lantaran silau terkena sorotan lampu ruang tamu.
"Aa." Sindy membantu sang suami untuk duduk dan meminum air putih.
"Berapa lama Aa pingsan sayang?" sambil memegang wajahnya yang lebam akibat pukulan orang tidak di kenal.
"Sebentar Aa, cuma satu jam!" Sindy memberikan cermin pada Cheval untuk melihat kondisi wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Separah ini bekas pukulannya, pantas eess... sakit bagian sini." Menyentuh pipi kirinya yang lebih parah dari yang kanan.
Untung saja hidung tidak mengeluarkan darah dan yang lebih beruntung giginya tidak ada yang lepas.
"Aa, apa Sindy boleh tau. Apa Aa pernah menyingung seseorang?" dengan hati-hati Sindy bertanya.
"Tidak, Aa tidak pernah menyingung siapa pun. Bahkan di hotel juga Aa tidak menyingung investor yang mau berkerja sama!" Cheval meletakkan kaca tersebut di atas meja.
Semua orang berpikir dengan jernih untuk menebak-nebak siapa dalang di balik semua ini, apa motiv yang tertuju sampai-sampai ia berbuat senekat ini.
Adzan Subuh berkumandang nyaring, semua orang yang beragama Muslim melaksanakan jamaah Subuh terlebih dahulu. Usai Sholat semua orang berkerja sesuai dengan bidangnya masing-masing, Mala yang biasanya masak sendiri kini di bantu dua orang juru masak yang di ambil dari hotel dan tentunya orang kepercayaan untuk hari ini saja, sambil menunggu pembantu yang katanya datang dari luar kota.
Sindy hari ini izin cuti begitu juga Momo, untuk mengantisipasi orang-orang yang berniat buruk.
"Karena kalian semua sudah berada di rumah, kita berkerja nya jadi tenang, ayo Sacha kita berangkat dan untuk kamu Aa jangan pergi kemana-mana. Ma... Papa berangkat dulu ya, hati-hati di rumah." Mengecup singkat dahi Daysi.
Meski suasana rumah masih tegang namun tetap saja ada keromantisan di rumah ini masih terjadi.
"Ayo kita lanjutkan sarapan paginya." Ucap Daysi mencairkan ketegangan.
Suara sendok dan garpu saling bersahutan, yang paling romantis pasangan suami istri yang ada di hadapan Momo dan Daysi, mereka saling suap menyuapi. Begitu romantis dan buat orang terbawa perasaan.
"Cheval... Sindy..., romantisnya di kondisikan ya kasihan yang lagi sendiri seperti kita berdua.
Mereka langsung kembali seperti sediakala, makan sendiri-sendiri tanpa ada acara suap-suapan.
Ksatria dan Sacha begitu was-was saat berada di perjalanan. Ksatria teringat dulu sebelum lahirnya Sindy, ia hampir kehilangan nyawanya. Tetapi Allah begitu baik dan menyelamatkan nyawanya untuk memperbaiki diri dan rumah tangganya.
"Kita harus waspada Sacha." Ksatria menatap kesana kemari.
__ADS_1
Sedangkan Sacha yang mengemudi memastikan tidak ada orang yang mengikutinya sampai hotel. Walau bagaimana pun Sacha dan Ksatria nyawanya pernah dalam bahaya bahkan almarhum Aurellia juga pernah dalam posisi yang sama.