ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 6


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Apa kamu yakin sayang?" Cheval menggenggam erat tangan Sindy sambil menciumi punggung tangan berkali-kali tanpa henti seraya mengusap-usap perut istrinya.


Sindy menganggukkan kepalanya tapi ia menahan rasa gemuruh di dadanya yang sesak sekali rasanya begitu berat ujian ini di tambah lagi bayi yang ada di dalam perut sangat di nanti-nantikan oleh suami, tapi ini pilihan yang terbaik dan sangat terbaik yang harus di ambil resikonya.


"Iya Aa, maafkan Mama dan Papa sayang semoga kamu mau memaafkan Mama kamu ini, dan kamu baik-baik di Surga ya nak." Mengusap dan berderai air mata begitu juga dengan Cheval.


Mungkin ini terdengar sangat egois tidak memikirkan anaknya yang ingin hidup di dunia, tapi jika ini dilanjutkan keselamatan Sindy jadi taruhan bisa-bisa semua orang akan merasakan kehilangan sosok Sindy selain istri dan juga seorang ibu untuk Inre, sedangkan Inre masih membutuhkannya sosok kehadirannya.


1 Minggu kemudian.


Sindy menatap foto hasil USG bayinya, betapa lucu dia masih sekecil itu tapi harus .... Bahkan Sindy tak kuasa menahan air matanya saat Dokter memberi tahukan jika sang janin tidak berkembang di dalam perut bahkan tanda-tanda kehidupan tidak ada sama sekali jadi dengan segera tim Dokter mengambil tindakan untuk menyelamatkan sang ibu. Saat itu Cheval yang berada di luar ruangan hanya berdoa dan berdoa Kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikan keselamatan pada sang istri yang sedang berjuang di dalam.


"Sayang ... makan dulu yuk." Daysi membawakan sarapan untuk Sindy.


"Iya Ma," tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Inre sang putri juga langsung mendekat.


"Inre suapin ya Ma." Menawarkan dirinya.


Daysi sangat-sangat tersentuh dengan sikap Inre yang begitu perhatian pada ibunya, jadi teringat saat Sindy kecil saat ia hendak menyuapi namun selalu di rebut dahulu oleh Cheval suaminya.


"Grandma kenapa menangis?" Inre yang tanpa sengaja melihat Daysi meneteskan air matanya.


Daysi menggelengkan kepala seraya mengusap cepat air matanya.


"Tidak apa-apa cucu Grandma yang cantik, hanya bulu mata Grandma jatuh dan pedih di mata!" jawabnya tak pandai berbohong.


"Grandma berbohong, Inre bisa melihat itu." Menunjuk mimik wajah yang memang tidak dapat di pungkiri lagi.


"Grandma pergi dulu ya, jaga Mama ya cucu kesayangan Grandma. Sindy, Mama keluar dulu ya ada sedikit pekerjaan tadi." Pamitnya pada putri semata wayangnya.


Sindy menganggukkan kepalanya.


"Iya Ma," senyum mulai menghiasi wajah Sindy.


Inre menatap sang Mama, ia tidak tau cara menghibur Mamanya tapi dengan tersenyum saja pasti sang Mama akan bahagia Inre memberikan senyuman yang sangat manis untuk Sindy.


"Sayang terimakasih sudah menghibur Mama." Sindy terharu sekali.


Nadia hari ini mampir di rumah Sindy dan menanyakan keadaannya Sindy tapi ia beluk masuk ke dalam kamar Sindy sebab Sindy masih sarapan dan di suapi sang putri kecil takut menggangunya.


Tok


Tok


Tok


"Boleh aku masuk Sindy, Inre?" dengan senyum termanisnya ia membawa buah tangan yaitu berupa buah segar dan bagus untuk Sindy.

__ADS_1


"Masuk mbak Nadia, wah mbak semakin sehat dan segar ya auranya!" Sindy memuji Nadia yang menang semakin tambah cantik dan juga berisi.


"Iya nih, kata orang-orang tua jaman dulu anaknya bakalan laki nanti lahirnya." Nadia balik tersenyum seraya mengusap perut buncitnya.


Sindy terharu melihat ibu hamil satu ini yang selalu saja bahagia, ia juga mendoakan semoga Nadia bisa memeluk anaknya sampai lahir dan dewasa.


Emillia sedang berkerja di salah satu perusahaan yang ada di Indonesia, meski mudah baginya tapi di tempat baru ia harus beradaptasi dengan lingkungan di tambah lagi cuaca yang tidak menentu ia harus waspada akan kesehatan sang istri dan juga bayinya, apalagi saat mendengar berita duka dari Cheval dan Sindy satu Minggu yang lalu membuat ia juga merasakan resah di dalam hati bagaimana jika itu terjadi pada sang istri dan juga bayinya, dengan buru-buru serta hati-hati Emillia membawa sang istri ke rumah sakit untuk periksa keadaan sang ibu dan bayi.


"Bagaimana keadaan kamu Sindy?" Nadia memberikan jeruk pada Sindy.


"Alhamdulillah sehat Mbak, oh ya mbak sudah sarapan belum. Sarapan dulu mbak, tadi Mama sudah masak banyak katanya di bantu mbak Ria di dapur," Sindy menelpon bagian dapur untuk menyiapkan makanan pada Nadia dan meminta makanan sehat khusus ibu hamil.


"Ya sudah aku keluar dulu ya, aku ajak Inre sekalian ya pasti putri kecil ini belum sarapan." Nadia gemas dengan pipi gembul Inre.


"Ayo Tante, Ma Inre sarapan dulu ya. Mama jangan lupa minum obatnya ya," Memberikan obat dan air putih yang berada di meja samping tempat tidur.


"Terimakasih sayang, hati-hati ya nak saat berjalan. Dan jangan lupa jangan bersikap aneh-aneh saat bersama Tante Nadia ya." Mengusap surai rambut Inre.


Senyuman selalu mengembang di wajah Sindy namun itu hanya di luar saja sedangkan dalam hatinya ia memendam luka yang luar biasa pasca operasi dan kehilangan calon buah hatinya yang ternyata tidak berkembang padahal baru beberapa waktu saja ia periksa dan ingin mempertahankan sang calon buah hati, tapi apa boleh buah Allah lebih sayang padanya dan mengambilnya lebih cepat.


"Ya Allah nak, kenapa kamu ninggalin Mama Papa dan Kakak kamu nak?" Sindy mengusap foto hasil USG nya lagi.


"Aku gak boleh terpuruk terus-menerus aku harus bangkit demi diri sendiri dan juga keluarga kecilku ini, jika kita tidak bisa bersama sekarang pasti suatu hari nanti kita akan sama-sama, semangati Mama Papa dan kakak kamu di Surga ya nak." Mencium foto tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam tas kecil kesayangannya itu.


Sindy menuju wastafel dan mencuci wajah dan menggosok gigi sebelum ia keluar kamar, ia memang sudah mandi saat Subuh tadi bergantian dengan Cheval suaminya sebelum sholat berjamaah di dalam kamar.


Di meja makan.


"Nadia, ayo sarapan dulu. Nih ada makanan khusus ibu hamil, makan yang sehat dan banyak ya biar tambah kuat kandungan kamu Nadia." Daysi memberikan sayur labu Siam, sayur ini dapat menguatkan kandungan untuk ibu hamil.


Inre dan Princess juga ada dan ikut sarapan pagi, sedangkan yang lainnya sibuk terutama Ksatria dan Lais yang kerepotan dengan bayi mereka.


"Pa, sarapan dulu yuk main-main nya di tunda dulu." Daysi menegur sang suami untuk segera sarapan.


"Iya sebentar Ma," masih saja mengayun-ayunkan bayi laki-laki bernama Dilan.


Ksatria memberi nama itu sebab ia beberapa hari yang lalu sedang menonton film Dilan 1990 dan 1991 yang menyebabkan ia tertarik dengan nama itu.


"Dilan, Papa angkat sarapan dulu ya. Nanti bermain-main lagi ya, dengar ... Mama angkat kamu sudah memanggil." Sambil mendorong kereta dorong.


Sedangkan baby sitter yang di pekerjakan sampai bingung harus mengerjakan apa, bahkan biasanya ia memilih mencuci baju atau bantu-bantu di dapur, terus jika ia tidak ada fungsinya kenapa jasanya di sewa jika hanya jadi pengangguran di rumah ini, memang ya orang kaya banyak duit itu berbeda saat mengahambur-hamburkan uangnya.


Padahal di luaran sana banyak yang ingin memiliki uang tapi harus kerja sangat keras baru mendapatkan uang. Ia hendak mengundurkan diri tapi tidak di izinkan oleh Daysi dengan alasan untuk berjaga-jaga.


"Kenapa sedih Nona?" Tanya Ria yang sedang membuat milk shake untuk putri-putri kecil kediaman Malik.


"Sedih banget mbak Ria, masa kerja di rumah ini cuma ungkang-ungkang kaki doang dapat gaji lagi setiap Minggu, kenapa tidak satu bulan sekali saja gajiannya. Tau begini waktu itu aku gak daftar deh, sejak Inre kecil aku kerja mbak sampai ada cucu baru tapi tetap gini-gini saja, dan satu lagi ya mbak kenapa memperkerjakan dua baby sitter untuk Inre tapi aku menganggur mbak!" Nona curhat dari hati yang dalam.


Padahal ia juga berkerja menyuapi Inre memandikan tapi menurutnya ia tidak berkerja lantaran ada rekannya yang satu lagi.


Siang hari.

__ADS_1


Salah satu baby sitter yang menjaga Inre tiba-tiba mengundurkan diri dan berarti Nona sekarang sendirian dan tidak akan menganggur lagi, ia tersenyum bahagia namun juga sedih satu angkatan dengannya namun ia harus pulang lantaran desakan orang tuanya untuk segera menikah dan mengakhiri masa lajangnya yang sudah hampir kepala 3 umurnya.


"Sekarang tugas kamu rawat Inre dengan baik ya, jangan lupa menyiapkan keperluannya sebelum ia belajar nanti ya, Nona." Daysi masih saja mengingatkan semua orang untuk berkerja dan tidak lupa akan pekerjaan utamanya.


Senang sekali memiliki majikan seperti Daysi dan Ksatria yang baik tanpa pilih-pilih yang ini atau itu asalkan kerjanya beneran dan bagus tidak sembarangan atau membuat ulah yang memalukan.


"Siap Bu Daysi," Nona tersenyum.


Semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Sindy menuju ke kamar Momo dan melihat bayi-bayi kembarnya, seperti apa hari ini wajahnya meski satu atap tapi baru hari ini Sindy keluar dan menemui bayi kembar untuk yang kedua kalinya dalam sehari.


"Unyuk ... Unyuk wajahnya imut dan ih ... ingin terus-terusan mencium wajah mereka satu persatu rasanya pasti lembut selembut mars melow." Sindy mencium kedua bayi kembar secara bergantian.


Wajahnya campuran Momo dan Lais, cantik tapi tampan yang perempuan sedangkan yang laki-laki justru terlihat cantik seperti Momo.


"Kenapa kamu cantik sekali Zamil, padahal kamu laki-laki jika orang lain lihat pasti mengiranya kamu perempuan loh." Sambil menciumi pipi kanan kiri sampai Zamil menggeliat dan ingin menangis sebab ia terusik saat tidur nyenyak.


Sindy segera berdiri dan menimang-nimang nya, Sindy memang lebih ahli untuk menenagkan bayi sebab ia sudah membesarkan putrinya Inre yang tembem dan tentunya pintar.


Momo segera membuatkan susu untuk anak-anaknya, saudara kakak beradik ini sedang bergantian merawat si kembar Sindy was-was saat memberikannya pada Momo untuk di susui sebelum di berikan formula sebagai tambahannya sebab mereka berdua gemar minum dan membuat Momo kualahan jika tidak di tambah dengan susu formula.


Sedangkan Princess dan Inre sedang belajar di taman bermain serta mendatangkan guru privat masing-masing untuk belajar menghitung dan juga belajar membaca serta mewarna. Karena mereka tidak mau belajar yang lain padahal mau naik ke TK besar.


"Inre ... Princess, jika mau seperti Mama Momo atau Sindy harus mau belajar selain ini ya sayang, biar bisa membuat Mama dan Papa bangga. Grandma tidak memaksa kalian berdua belajar ini itu tapi Grandma ingin cucu-cucu Grandma tambah cantik dan pintar." Lemah lembut Daysi berbicara, ia tidak ingin membuat cucu-cucunya tertekan.


Daysi tidak bermaksud demikian ia hanya ingin keturunan dari keluarga ini rajin dan telaten dalam menempuh pendidikan sebab waktu tidak dapat kembali lagi ke masa-masa saat masih kecil.


"Siap Grandma." Inre dan Princess kompak berbicara sambil hormat.


Lucu-lucu sekali anak-anak ini dan juga penurut dan mudah di ajak bicara baik-baik tidak seperti Cheval waktu kecil yang bandelnya gak ketulungan.


Daysi mengacungkan kedua jempol nya dan tersenyum lebar untuk mereka, rasanya begitu sejuk sekali melihat Daysi masih bisa tersenyum.


"Ma." Ksatria memeluk tubuh sang istri.


"Ih malu, ada anak-anak ini Pa," memukul pelan lengan Ksatria tapi tetap pakai cinta pukulannya.


Inre dan Princess membalikkan badan, urusan orang dewasa mereka tidak mau melihat kata Mama dan Papa jika Grandma dan Grandpa pelukan kita harus membalikkan badan dan pergi menjauh, benar-benar polos dan imut sekali.


Daysi menatap kedua cucunya yang secepat kilat membalikkan tubuhnya bertanya-tanya, kenapa mereka kompakan seperti itu. Ksatria juga apa cucu-cucu mereka beranggapan akan terjadi sesuatu dan mereka buru-buru membalikkan tubuh, tidak apa jika mereka di ajarkan seperti itu setidaknya mereka tidak akan melihat sesuatu yang seharusnya mereka tidak lihat sebelum mereka dewasa nanti, bagus-bagus harus di tanamkan sedari kecil dan itu harus tetap di pupuk bila perlu.


"Grandma dan Grandpa masuk ke dalam dulu ya, Inre Princess." Ucapan Daysi di anggukki bersamaan.


"Hati-hayi Grandma dan Grandpa," mereka melambaikan tangannya.


Ksatria yang membawa Dilan langsung memberikan pada Nona untuk di rawatnya ternyata pekerjaannya sekarang akan dobel tapi tidak apa-apa dari pada menganggur tidak ada kerjaan, ia menyemangati diri sendiri sebelum nanti dirinya di buat pusing mendadak. Sedangkan Inre juga sudah besar bahkan melakukan ini itu dengan sendiri tanpa bantuannya tapi tetap di awasi seluruh kegiatannya.


Di kamar Momo.


"Cup ... cup ... cup ... sebentar ya adik kamu masih menyusui ini, apa mau yang sebelah sini." Momo menanyai putranya.

__ADS_1


Sindy segera membantu Momo untuk menyusui Zaire dan Zamil kanan kiri dengan hati-hati agar si adik Zamil tidak menangis sebab tempatnya terusik oleh Kakaknya yang tangisannya lumayan kencang.


Sore hari Cheval membawakan makanan yang di minta oleh Sindy, tidak berat hanya antriannya membuat capek tapi demi istri apapun ia lakukan di tambah lagi Sindy baru saja kehilangan sang buah hati.


__ADS_2