
Dalam hati Ksatria menggerutu, niatnya ingin menggoda Daysi malah berakhir ingin mencicipinya tapi gagal juga. Untung Okta datang tepat waktu jika tidak pasti hal yang belum di setujui pemiliknya akan berakhir duka.
Ksatria merasa canggung saat ini. Begitu juga dengan Daysi tak kalah canggung bahkan wajahnya masih bersemburat merah.
"Eemmm... aku pergi dulu ya. Pekerjaanku masih belum selesai Ksatria, apa boleh aku pergi sekarang?" Daysi berusaha tenang saat berucap.
"Pergilah, hati-hati saat berkerja jangan ceroboh lagi!" Ksatria menatap tubuh Daysi yang sudah beranjak dari ruangannya.
Daysi yang berada di luar ruangan pribadi Ksatria segera menggenakan masker untuk menutupi hidung dan mulutnya.
Okta yang melihat Daysi baru turun dari ruangan Ksatria langsung saja menghampirinya dan bertanya pelan-pelan pada Daysi supaya tidak banyak yang tau.
"Daysi...," ucap lirih Okta.
Daysi langsung menoleh. "Pak Okta ada apa?" Daysi masih melanjutkan pekerjaannya menyemprot kaca untuk di bersihkan.
"Apa hubunganmu dengan pak Ksatria, jadi benar kamu seperti yang beredar di media sosial itu?" tanya Okta pada inti permasalahan.
Daysi menatap malas wajah Okta. "Terserah pendapat pak Okta seperti apa, tetapi aku bukan wanita seperti itu. Apalagi merebut milik orang lain yang ada mereka merebut milikku!" Daysi segera pergi dari hadapan Okta ia tidak mau di tanyai lebih pribadi tentang kehidupannya.
Okta masih mencerna apa perkataan Daysi barusan. Milikku itu menjadi pertanyaan yang menghantui pikiran Okta barusan. Setelah berpikir namun masih saja tidak mengerti maksud Daysi.
Tak terasa hari pun menjelang sore bahkan bisa di bilang mau malam. Daysi segera bersiap-siap untuk mengenakan jaket kesayangannya serta tas punggung yang melengkapi atributnya.
"Kenapa aku tidak melihat Abang ya, bukannya hari libur Abang sudah lewat?" Daysi segera keluar dari area tersebut dan menuju tempat parkir. Helm dan kuci motor telah siap tinggal menghidupkannya.
Saat berada di jalan Daysi masih saja kepikiran tentang Abang. Daysi segaja lewat pasar pecah siapa tau bisa menemukan keberadaan Abang dan benar saja Abang ada di mobil coffe keliling. Daysi segera membelokkan motor kesayangannya ke tepi jalan dan memarkirkannya.
"Abang." Sapa Daysi saat Abang meminum cappucino panas. Daysi segera duduk di depan Abang.
__ADS_1
"Eehh... Daysi ada apa, mau pesan minum?" tanya Abang, Daysi hanya menggelengkan kepalanya bertanda ia tidak ingin memesan apa-apa. Abang melambaikan tangannya ke salah satu karyawannya.
"Permisi boss, ada yang bisa saya bantu bos apa bos butuh sesuatu lagi?" tanya karyawan tersebut sambil menatap wanita cantik di hadapan bossnya ini.
Daysi langsung shock dengan panggilan baru untuk Abang, boss.... Daysi binggung harus berucap apa kepada Abang. Abang hanya menggarukkan kepalanya.
"Buatkan sama sepertiku minumannya." Ucap Abang kepada karyawannya tersebut. Karyawan tersebut langsung mengangguk dan pergi.
Abang menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Begini Daysi, ini usaha milikku sendiri, sudah ada 2 sebenarnya. Dan aku juga sudah mengundurkan diri dari hotel dan aku fokus menata usahaku ini saja."
"Jadi, waktu kamu mengajakku kesini waktu itu. Hanya ingin mengenalkan usahamu yang baru buka?" Daysi meminum sedikit cappucino yang baru selesai di buat. Abang menggangukkan kepalanya.
"Terus bagaimana kabarmu dengan pak Ksatria. Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" Abang balik menanyai Daysi.
Daysi melototkan matannya seakan tidak percaya dengan pertanyaan Abang barusan. "Maksudnya apa Abang."
"Isshhh... apa kamu akan menyembunyikannya semur hidup Daysi," sambil mencubit hidung Daysi. "Aku tau jika kamu dengan pak Ksatria sudah menikah setengah tahun yang lalu kan, ayo jawab dan jelaskan Daysi."
"Iya dia yang memberi tau, makannya setelah itu aku menghindarimu Daysi. Aku tidak mau di sebut perebut milik orang. Dan satu lagi tadi pagi ada berita heboh, apa kamu baik-baik saja?" Abang mengeser ikon ponselnya dan menujukkan artikel kepada Daysi.
"Hhaahhh... iya aku tau, tetapi aku tidak menanggapinnya biarlah mereka berbicara sampai mulutnya berbusa, aku tidak perduli lagian aku juga bukan perebut laki orang apalagi menggodannya dengan tubuhku!" Daysi menghabiskan cappucino dinginnya.
Abang menepuk pundak Daysi dan berusaha menguatkannya. Tanpa mereka bedua sadari sedari tadi Ksatria mengawasi keduannya dari dalam mobil. Ksatria mengepalkan tangannya saat abang menyentuh hidung Daysi bahkan memegang pundak Daysi. Slamet yang sedang menyopiri Ksatria tersenyum ketika melihat si boss marah namun hanya diam di tempat tanpa berani langsung menemuinya.
"Pak jalan." Ksatria menatap tajam dua insan yang masih berbincang-bincang tersebut.
Kediaman Malik.
Saat berada di rumah Ksatria berjalan seperti setrikaan kesana kemari sambil menunggu Daysi kebali ke rumah. Ria dan mbok Yati yang melihat Ksatria gelisah seperti itu ingin rasanya tertawa bersama pasalnya baru kali ini melihat Ksatria Malik segelisah itu, apa pujaan hatinya membuat dia gelisah.
__ADS_1
"Mbok.... Daysi pulang jam berapa sih, sampai jam segini belum juga kembali?" tanyanya Ksatria pada mbok Yati.
"Sebentar lagi pulang den, mbok permisi dulu!" mbok Yati segera menuju dapur begitu juga dengan Ria yang berpamitan pergi.
Daysi yang baru saja masuk kedalam rumah terkejut dengan wajah Ksatria yang marah bercampur cemas.
"Haduhhh... kenapa suasannya mencekal seperti ini, apa aku membuat permasalahan lagi, semoga tidak fatal." Gumam Daysi dalam hati dan terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.
"Daysi duduk, apa kamu baru saja berkencan dengan Abang. Kamu mencintainya?" Ksatria langsung saja to the point.
"Tidak, aku tidak mencintainya. Kamu mengawasiku Ksatria, sampai tau jika aku pergi dengan Abang." Daysi tidak mau kalah dengan ucapan Ksatria.
"Iya aku mengikutimu dan mengawasimu Daysi, sudah puas. Jadi selama ini kamu diam-diam pulang terlambat untuk menemui Abang?" Ksatria sedikit meninggikan ucapannya.
"Aku tidak menemui Abang, baru kali ini aku menemuinya!" Daysi masih dengan sikapnya yang tak mau kalah juga.
"Terus kamu kemana, apa menemui mas-mas yang pernah menghantarmu kesini Daysi?" Ksatria saat ini kesal sekali dengan Daysi.
"Astaga Ksatria, aku pulang telat juga ke panti. Apa kamu lupa jika aku selalu rindu dengan panti tempat aku dulu singgah, kamu tidak lupakan dengan panti yang kamu bangun dengan sistem barter waktu itu?" Daysi balik menanyai Ksatria Malik.
"Oke... oke... aku ingat," Ksatria langsung menarik Daysi kedalam pelukannya. Rasa nyaman merasuki keduannya. "Maaf Daysi, aku begitu takut jika kamu jatuh ketangan orang lain, aku tidak sanggup jika kehilanganmu Daysi." Ksatria menciumi ubun-ubun Daysi.
Daysi pun membalas pelukan hangat Ksatria Malik, saat ini hanya Ksatria yang bisa di andalkan untuk melindunginya.
***
Terimakasih pembaca setia IBAM, dukung author terus ya kakak-kakak dan teman-teman, tanpa kalian karya author tidak ada apa-apanya.
Jika suka berikan dukungan dan penyemangat author biar author rajin up setiap hari.
__ADS_1
Terimakasih banyak ya, author sangat menyayangi kalian semua. Love you all.