
Setelah membeli 2 bunga anggrek bulan, Daysi begitu gembira baru kali ini bisa memiliki anggrek bulan tanpa menguras kantongnya.
"Apa segembira itu mendapatkan anggrek bulan tanpa mengeluarkan biaya?"
"Tentu saja gembira, baru kali ini membeli bunga mahal tanpa menguras kantongku!" Daysi menciumi anggrek tersebut.
"Dapat imbalan apa ini aku, setelah ini. Aku kan sudah berhasil membuatmu bahagia hari ini?" dengan senyum liciknya.
"Apa ya...." Daysi berpikir keras. "Eemmm bagaimana kalau aku buatkan makanan sepecial buat kamu, mau tidak?" Daysi memilih aman saja dari pada nanti ia salah berucap.
Ksatria berpikir keras. "Oke, boleh juga!"
Kediaman Malik.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih kini Ksatria dan Daysi meluruskan kakinya, rasa pegal di tubuh terasa karena sedari pagi sesampainya di villa langsung berlanjut jalan-jalan.
Mala datang membawa nampan yang berisi teh hangat dan beberapa camilan. Setelah meletakkannya di depan Ksatria dan Daysi, Mala berpamitan ke belakang.
"Minumlah Daysi, itu minuman baik untuk kesehatan." Ucap Ksatria dengan tersenyum.
Daysi menelan salivanya dengan kasar ada rasa curiga dengan sikap yang di tunjukkan oleh Ksatria, apa jangan-jangan mengandung obat bius atau perangsang. Pertanyaan jelek menari-nari di kepala Daysi.
"Ayo cepat habiskan minuman itu, aku tidak memberikan apa-apa di minuman itu. Percayalah." Ucap Ksatria meyakinkan Daysi.
"Beneran tidak ada apa-apanya minuman ini? kalau sampai ada apa-apanya kamu orang pertama yang jadi tersangka," Daysi menujuk tubuh Ksatria Malik.
"Baiklah aku akan bertanggung jawab, jika ada apa-apanya dengan tubuhmu, bahkan aku siap jadi penawarnya, AA... HAA... HAA...," Ksatria masih saja tertawa sambil memakan cemilan.
"Aku mengantuk sekali aku mau tidur, jangan ganggu aku. Awas kalau menggangu." Daysi menyipitkan matannya dan mengarahkan dua jarinya ke matanya kemudian ke Ksatria.
Ksatria mengangguk paham dan tidak akan menggangu Daysi saat tidur tetapi di dalam hatinya ia tidak berjanji. Ksatria sudah menyusun rencana untuk menjahili Daysi, rasanya sangat puas saat melihat Daysi marah-marah dan mengeluarkan kata-kata pedasnya.
__ADS_1
15 menit kemudian.
Daysi yang tertidur sambil meringkuk memeluk gulingnya sesekali tersenyum entah mimpi apa yang ia dapat siang ini sampai-sampai tertidur dengan tersenyum.
"Kamu memimpikan siapa sih, jangan bilang memimpikan mantan kamu. Jika ia aku hancurkan mimpimu saat ini." Ksatria gemas dan mencubit hidung Daysi sampai memerah.
Daysi yang terkejut langsung memuka matanya karena ke habisan nafas dan tidurnya terusik saat ini.
"Kenapa sih menggangu saja, aku lagi memimpikan liburan ke luar negri dan jalan-jalan di Maroko tau." Protesnya pada Ksatria.
"Bagaimana kalau kita honey moon bulan depan, sambil mengurus semua keperluan keberangkatan kita. Mau tidak?" Ksatria mengeluarkan jurus andalannya sambil tersenyum.
"Honey moon kemana?" Daysi sudah tidak sabar dengan tujuan honey moon.
"Yang seperti di mimpimu juga boleh, naik unta juga boleh ko. Asalkan kamu mau mengandung anak kita dulu baru kita honey moon, bagaimana penawaran yang jarang sekali terjadi ini." Ksatria tersenyum licik.
"Itu namanya bukan honey moon kalau aku sudah melahirkan perginya, dasar tidak peka kalau tau begini aku tadi tidak bangun dari mimpi menyenangkan tadi, apalagi tadi aku sudah sempat naik unta," Daysi memunggungi Ksatria.
Ksatria tidak tinggal diam ia segera membalikkan tubuh Daysi untuk mengadap padanya.
"Oke... oke... aku memang tidak pandai membujuk dan merayu aku hanya bisa mengalah saja, nanti semua keberangkatan aku urus ya tapi aku tidak janji, kamu kan tau sendiri kesibukan di hotel," Ksatria mencoba menenagkan Daysi.
"Ya sudah tidak usah honey moon, di mana tempatnya bukannya sama dengan honey moon, ke villa aja seperti pagi tadi itu sudah cukup untukku, sederhana namun berkesan." Daysi tersenyum sangat manis.
Ksatria mengacak-acak rambut Daysi. "Istriku memang luar biasa, aku sangat mencintaimu Daysi," Ksatria mencium ubun-ubun Daysi dan mengeratkan pelukannya.
Cheval yang di rawat oleh Ria sama sekali tidak ada suara tangisan, Ria terheran-heran dengan Cheval yang seperti ini. Apa karena orang tua angkatnya rukun tidak ada pertengkaran menjadikannya lebih tenang.
Mala yang membuatkan susu formula untuk Cheval langsung saja memberikannya karena sudah waktunya meminum susu.
"Ria, apa Aak Cheval tidak menangis sama sekali hari ini?" Mala duduk di dekat kereta bayi.
__ADS_1
"Sama sekali tidak menangis mbak, bahkan aku heran. Padahal si boss sama mbak Daysi tidak punya ikatan darah sama sekali, apa karena kontak batin." Ria kebinggungan sendiri.
"Mungkin iya, ya sudah aku kembali ke dapur hari semakin sore," pamit Mala ke pada Ria.
Ria segera mendorong kereta bayi Cheval, karena sudah sore Ria memandikan Cheval di dalam kamarnya tetapi di luar kamar mandi. Cheval teelihat sangat tampan dengan pakaian berbentuk gajah.
"Aduh lucunya baby Cheval, tambah chubby saja pipinya. Cium dulu sini-sini." Daysi yang baru datang langsung mengendong dan menciumi seluruh wajah Cheval. Cheval mengeliat sambil tersenyum.
Ksatria langsung menghampiri Daysi dan memeluknya dari belakang. Daysi terkejut dengan tingkah Ksatria saat ini.
Ria segera pergi, nanti akan datang merawat Cheval saat si bossnya memanggil.
"Sat... hentikan aku sedang mengendong Cheval, rasanya tidak nyaman jika kamu seperti ini Sat." Daysi mengeluh.
"Sebentar saja, lagian aku juga tidak mengoyang-goyangkan tubuhku ini," Ksatria masih saja memeluk Daysi dengan erat, Daysi yang di peluk sepeti ini hanya pasrah saja.
Setelah puas memeluk Daysi, Ksatria berjalan keluar menuju gasebo, di gasebo Ksatria seperti biasa menuggu senja untuk menikmati matahari terbenam.
"Kalau aku buat lapangan golf, pasti sangat menyenagkan. Apalagi nanti jika Cheval tubuh besar, saat masa tua nanti aku bisa bermain golf dengannya, dari pada sewa di tempat orang lain kenapa tidak buat sendiri, lagian masih banyak lahan yang kosong di rumah ini, sayang sekali jika tidak di manfaatkan untuk menjaga kesehatan selain tempat gym." Ksatria mengetik beberapa pesan kepada seseorang untuk mendesain lahan rumahnya yang kosong.
Daysi menyerahkan Cheval kepada Ria karena saat ini ia berusaha memenuhi tugasnya sebagai seorang istri yang melayani suaminya dengan baik.
"Minum dulu cappucinonya selagi panas," Daysi menyodorkan cappucino pada Ksatria. Ksatria menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih ya, kamu memang bidadari yang Tuhan kirimkan untukku," Ksatria menyeruput cappucino buatan Daysi. "Sangat enak, siapa yang mengajarimu buat ini?" Ksatria merasa curiga meskipun di rumah ada bahan-bahan untuk membuat cappucino namun tidak seenak ini.
"Eemmm... maaf ya, aku belajar dari Abang." Daysi menarik telinganya sendiri berharap Ksatria tidak marah.
"Aku tidak marah...," melanjutkan meminum cappucino.
***
__ADS_1
Beri like dan rate 5 ya teman-teman dan kakak-kakak jika suka karya author, dukungan kalian semua menjadikan penyemangat untuk author.
Love you semua...