
Pagi hari kediaman Malik.
Ksatria sedang mencari dasi dan mencocokan dengan setelan kemeja dan jas yang ia kenakan. Setelah menemukan yang cocok Ksatria melangkah keluar dari ruangan ganti pakaian.
"Perfect," sambil menujukkan jari berbentuk love pada dirinya sendiri.
Daysi yang baru saja selesai mandi langsung menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya, Daysi tertawa saat melihat Ksatria dengan pedenya memutar-mutarkan badannya.
"Lucunya," menyalakan hair dryer. Suara hair dryer terdengar membuat Ksatria menghentikan kesenangannya saat ini.
"Sini aku bantu." Meraih hair dryer dan mulai menyentuh rambut Daysi.
"Terimakasih suamiku," mengusap lembut pipi Ksatria.
Setelah mengeringkan rambut Daysi, Ksatria menciumi ujung dahi berkali-kali kemudian memutar kursi yang di gunakan Daysi dan mendaratkan ciuman di seluruh wajah.
"Aku menyukai wajahmu yang seperti ini, tetap cantik meski pun tanpa make up." Mendaratkan ciuman terakhir di bibir polos Daysi.
Daysi hanya mengikuti permainan Ksatria saat ini, tapi semakin lama menuntut lebih Daysi yang sedang kurang nyaman dengan tempatnya memukul dada Ksatria untuk menyadarkannya. Setelah lepas dari sentuhan luar biasa Ksatria, Daysi segera menghirup nafas sebanyak-banyaknya.
"Kenapa Daysi, aku menginginkannya pagi ini," Ksatria melajutkan lagi keinginannya dan langsung menarik lembut pinggang Daysi sambil menuju ranjang tidur.
"Tapi...," belum selesai berbicara bibir Daysi sudah di sambar Ksatria dengan lembut.
"Aku pasrah deh, kalau sudah begini." Keluh Daysi dalam hati namun senagnya bukan main.
Ksatria melepas semua pakaian yang ia kenakan juga milik Daysi yang hanya menggunakan jubah handuk, begitu jubah handuk terbuka Ksatria tanpa basa basi lagi langsung mengabsen semua yang ia lihat tanpa ada yang tertinggal bahkan bekas gigitan Ksatria nampak dimana-mana. Ksatria tersenyum dengan ulahnya barusan yang membuat karya di tubuh istrinya.
Daysi yang tidak tahan lagi menyuruh Ksatria segera menuntaskan permainannya.
"Sat, jangan seperti itu." Daysi menatap Ksatria penuh permohonan agar Ksatria segera menyatukan tubuhnya.
"Aku mulai oke," suara nafsu Ksatria terdengar sangat berat.
Dan terjadilah permainan panas pagi hari.
__ADS_1
Meja makan.
Sacha yang menunggu makan bersama dengan Ksatria dan Daysi hanya berdecak kesal. Kemudian Sacha menuju kamar Ksatria niatnya pengen ngajak sarapan pagi malah mendengar orang di dalam sedang sarapan satu sama lain.
"Rajin banget pagi-pagi, sudahlah semoga segera di beri keturunan." Sacha menuruni anak tangga.
Aurellia menyiapkan makanan untuk Sacha. Sempat ingun bertanya kelakuan Aurellia yang aneh pagi hari ini. Tidak seperti biasanya yang cuek tanpa melayani suami sedikit pun.
"Kakak sama Daysi mana, bukannya kamu memanggilnya untuk sarapan pagi." Menatap wajah Sacha dan meletakkan makanan di piring Sacha.
"Lagi sibuk buat bayi," jawab sepontan Sacha yang membuat Aurellia mendadak tersedak.
"Uuhhukk... uuhhuukk...," Aurel segera meminum air untuk meredakan makannan yang membuat pengar hidung dan sakit tenggorokan barusan.
"Kenapa kamu tersedak, ingin ya seperti mereka?" tanya Sacha di selingi senyum menggoda.
"Enggak, enggak pengen!" melajutkan makannya.
Sacha tersenyum melihat rona di wajah Aurel yang kemerah-merahan sambil mengunyah makanan.
Pasangan suami istri yang baru saja menghangatkan ranjang kini sama-sama masuk ke dalam kamar mandi lagi untuk mandi yang kedua kalinya.
"Jangan minta lagi kalau mandi sama-sama," Daysi langsung masuk ke dalam bath tub.
Ksatria tersenyum, "enggak minta, cuma mau melakukan disini juga." Goda Ksatria tepat di telinga Daysi.
"Aku lelah, jangan aneh-aneh deh." Memukul pelan lengan Ksatria.
Setelah mandi Ksatria dan Daysi mengenakan pakaian sesuai aktivitasnya masing-masing. Ksatria memakai kemeja rapi sementara Daysi mengenakan pakaian casual karena hari ini ia ingin pergi ke mall bersama Aurellia untuk berbelanja sesuatu.
Setelah sarapan Ksatria berangkat ke hotel. Sacha yang berada di hotel kedua Royal Malik kini tengah mengawasi para pekerja proyek dengan mandor proyek. Sacha mengarahkan para pekerja untuk membuat sesuai dengan target hotel.
Sacha berkerja dengan sangat profesional dan rapi bahkan sesekali Sacha membatu para pekerja. Mereka semua sangat senang karena Sacha yang memegang proyek hotel ini, selain baik Sacha juga ramah plus pekerja keras juga.
"Baik banget ya mas Sacha, peduli juga ya dengan bawahannya adai bukan dia yang menagani proyek tidak tau kita akan berkerja seperti apa, bisa-bisa kita tercekik seperti dulu sewaktu membangun Mall." Bisik-bisik para pekerja.
__ADS_1
Sacha yang mendengar pujian orang-orang hanya tersenyum saja, "ehh... sudah siang waktunya istirahat, ayo... istirahat dulu. Hari ini jadwal siapa yang membeli makan?" Sacha sedikit mengeraskan suarannya.
Ksatria yang berada di hotel tersenyum dengan sistem kerja Sacha saat ini, baru kali ini ia mendapat orang yang bisa di percaya menangani proyek.
"Lihat ini Aurel, suamimu berkualitas luar dalam. Selain pintar dan cerdas dalam menagani pekerjaan ia perduli dengan bawahannya tanpa membedakan satu sama lain." Ksatria menujukkan cctv pada Aurellia.
Aurellia yang melihat sang suami seperti itu terbesit rasa kagum pada bocah tengik tersebut, Ksatria yang melihat senyum di mimik wajah Aurellia ingin sekali meledeknya namun tidak jadi.
"Nanti kalau sudah bucin, saya ledek kamu habis-habisan Aurel," seringai licik dalam hati Ksatria.
Aurellia segera kembali duduk di sofa, "kak aku mau pergi ada janji dengan Daysi mau belanja." Aurellia pergi dari ruangan Ksatria.
Mall Terbaik.
Daysi yang tengah menyantam es cream di mangkuk kecil terheran dengan Aurellia yang hanya melamun sedari tadi.
TRRINGG....
Daysi memeriksa pesan dari siapa, saat melihat si singa memberi pesan ia tersenyum.
"Ohh... ternyata ini yang membuat ia galau sedari tadi, ternyata ia baru saja di beritau jika suaminya pekerja keras dan berkualitas saat berkerja. Apa Relli mulai ada rasa, ah... syukurlah jika Relli dapat melupakan Abang yang tidak ada rasa sama sekali dengannya. Biar Relli tidak merasakan sakit hati lagi." Dalam batin Daysi tersenyum.
"Relli," Daysi tidak di hiraukan panggilannya. Daysi mengulang memanggil Aurellia namun nihil hasilnya Aurellia masih di lautan dalam melamunkan sesuatu entahlah apa yang di pikirkan saat ini.
"Sudahlah percuma aku panggil jika orangnya saja melamun sampai lautan terdalam." Daysi melajutkan memakan es cream kesukaanya.
Setelah menghabiskan pesanannya dengan Aurellia ia membayar, selesai membayar ia menepuk pundak Aurellia untuk menyadarkannya. Aurellia yang terkejut langsung menatap Daysi.
"Maaf tadi saya banyak melamun," Aurellia mengambil tas yang ia kenakan.
"Oke tidak apa-apa, ayo pergi dari sini." Menarik pergelangan tangan Aurellia.
"Kita mau kemana?" melihat Daysi menghentikan sebuah taxi.
"Rahasia," sambil membuka pintu mobil. Mau tidak mau Aurellia ikut masuk ke dalam.
__ADS_1
***