
Daylon yang terpesona langsung membalas pelukan Nisa dan meyakinkan wanita itu supaya tidak menggangunya lagi.
"Ya sudah jika suami istri, bye ... bye yang penting sudah aku peluk." Benar-benar kurang urat malunya, seperti bibit pelakor yang sesungguhnya di dunia nyata.
Setelah kepergian wanita itu Nisa hendak melepas pelukannya tapi tidak bisa.
"Kak Day, lepas dulu banyak yang lihat." Menengadahkan wajahnya menatap Daylon. Ia malu dengan posisi seperti ini di tambah lagi ia di peluk orang tampan dan manis seperti dia, jantung rasanya mau bergeser dag Dig Dug gak karuan.
"Iya," meski lepas pelukannya tapi tidak dengan genggaman tangannya.
Hati Nisa rasanya bergemuruh tak karuan.
Dag Dig Dug.
Daylon mengajak masuk ke dalam bioskop dan mengajak Nisa menonton film romantis.
"Ayo masuk." Daylon menawari dan Nisa menganggukkan kepalanya.
Acara nonton di bioskop berjalan lancar, baru kali ini Nisa merasakan kehangatan dan keteduhan dari seorang laki-laki dan percaya jika ia mampu melindungi dirinya yang rapuh seperti sekarang, tapi Nisa kembali sadar di dunianya ia sadar betul jika sosok Daylon yang sempurna tidak mungkin bisa ia miliki di tambah lagi Daylon seorang kapten kapal yang tampan dan kaya tentunya.
Mungkin suasana juga mendukung dan tempatnya redup bahkan banyak yang berciuman di depannya tidak banyak tapi beberapa. Pantas saja yang boleh masuk hanya umur tertentu dan tentunya harus memperlihatkan KTP lebih dulu untuk memastikan tidak ada yang di bawah umur yang menonton film ini.
Cup
Daylon tiba-tiba mencium bibir Nisa dan sedikit memberi tekanan.
Mereka berdua jadi ikut-ikutan seperti yang ada di depannya untung mereka duduk di bangku paling belakang setidaknya gak malu-malu benget berbuat yang seperti ini.
Nisa mengerjab-ngerjab kan matanya, setengah tidak percaya dengan sikap laki-laki yang baru ia temui.
"Sorry Nisa, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama." Menggenggam erat tangan Nisa. Spontan sekali Daylon dalam bertindak semoga kedepannya saat bertemu lagi dan kencan harus hati-hati dan membawa benda sebagai pegangan keselamatannya.
Lidah Nisa terasa berat dan tidak dapat berkata apa-apa, apa seperti ini rasanya di cintai dadakan. Bingung senang atau sedih yang harus di tampilkan tapi satu yang jelas semoga tidak php.
"Kak Day, ini terlalu cepat. Tapi ...,"
"Kita jalani dulu Nisa, bukannya kita dalam masa perjodohan sekarang." Ucapan Daylon ada benarnya.
Daylon terkesan kebelet nikah ini, jika Cheval dan Lay tau bakalan jadi tertawaan mereka habis-habisan sedangkan Daylon ingin lihat seperti apa ekspresi mereka saat tau berita ajaib seperti sekarang.
"Iya kak Day," tersipu malu.
Daylon jika sudah nyaman dengan satu orang ia akan tetap bertahan dan pilih berjuang semampunya.
Cafe pinggir jalan.
"Kemana sih nih orang, tadi pagi ngomel-ngomel gara-gara gue gak datang, eh ... sekarang dia jilat ludahnya sendiri gak datang. Malu-maluin jelek-jelekin orang tapi melakukannya sendiri." Omel Lay yang sedang menikmati sebungkus nasi kucing atau nasi bantingan dan di temani segelas teh hangat.
"Iya tuh, kalian berdua sebenarnya sama saja saling melengkapi satu sama lain saat seperti ini gak kompak, jadi jangan saling menghina satu sama lain gak baik," bijak sekali perkataan Cheval bak malaikat yang baru turun dari langit.
Daylon yang baru selesai berkencan kini menemui sahabat-sahabatnya tentunya dengan senyum yang selalu terbit di sudut bibirnya.
"Gila ya Lo." Sambutan macam apa ini.
Daylon yang tadinya mau pamer kesuksesannya mendapatkan cinta kini ia urungkan lagi niatnya.
"Telat sepuluh menit aja seperti telat satu bulan," Daylon duduk di samping Cheval sedangkan Lay di biarkan duduk sendirian, lagian salah sendiri bicara yang bukan-bukan.
"Lagian Lo sih kenapa biasanya otw gak otw otw untung gak jamuran nunggunya. Tadi, gimana kencannya? sukses atau zonk." Gelak tawa dari mulut Lay yang pedasnya melebihi cabai 20 biji yang langsung dimakan tanpa apa-apa.
"Ya sukses sih!" jawabnya malu-malu bahkan wajahnya sedikit memerah.
"A ... ciye ngeblush tuh wajahnya ciye ... ciye ...." Cheval menyoraki Daylon.
Akhirnya teman jomblo tuanya ini mendapatkan pasangan juga, lega sudah para sahabatnya ini yang takut akan menjadi perjaka tua kasian calon istrinya jika dia ketuaan.
"Gini nih punya temen yang sudah pada nikah, yang satu langgeng yang satu hancur. Jadi somplak," Daylon mengambil makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Hancur juga ada alasannya kali." Lay tidak terima jika rumah tangga nya yang hancur di jelek-jelekkan baginya masalah ini sangat sensitif.
"Iya gue tau, gara-gara kurang waktu. Lo sibuk dia juga sibuk di dunia modelingnya," malah di perjelas oleh Daylon.
Cheval yang mendengar perdebatan sang sahabat hanya menatap sambil asik main ponselnya dan lihat-lihat Vidio lucu-lucu dari YouTube.
Lay dan Daylon mendengus kesal ini bukannya tongkrongan tapi saling benci satu sama lain, ngajak nongkrong tapi yang ngajak malah asik main ponsel sendiri.
"Ehem, selesai-selesai acara nongkrongnya kalau begini." Ledek Lay sambil tangannya mengambil sebatang rokok milik Cheval.
"Asikkan lihat ini, lagian kalian berdua sih di depan umum kenapa debat masalah kejantanan sih seperti mau ada ayam saja," menutup layar ponselnya.
"Oh ya, gimana keadaan Sindy istri Lo Val?" Lay belum tau keadaan Sindy begitu juga Daylon, meski pagi tadi ke rumah tapi ia belum berani tanya-tanya takut Sindy tersinggung dan terluka jika ia mengingat baru kehilangan sang bayi.
"Baik, berangsur-angsur baik meski terkadang ia menangis saat sendirian di dalam kamar maupun di taman!" Cheval tertunduk sedih, ia masih saja menyalahkan dirinya sendiri mungkin jika ia tidak bersih kukuh untuk mendapatkan anak lagi mungkin sekarang Sindy tetap ceria dan bahagia.
"Perbanyak sabar bro, gue yakin suatu hari nanti Lo bakalan dapat gantinya." Daylon menepuk pundak Cheval.
Lay juga ikut menyemangati Cheval, Cheval terharu dengan para sahabatnya yang sudah sangat bijak sekali sekarang tidak seperti dulu yang taunya main dan bersenang-senang saja.
Kediaman Malik.
Lais menimang bayi laki-laki dengan penuh tawa, baru kali ini ia mendapatkan seorang anak laki-laki bangga tentunya tapi ia juga merasa beban sebagai Papa bertambah selain untuk istri dan juga ke tiga anak-anaknya.
"Tampannya Papa, eh ... tapi cantik seperti Mama." Terus-terusan menciuminya.
"Mas." Panggil Momo yang sedang menyusui Zaire.
"Apa sayang," mendekati sang istri.
"Mau ke toilet gak tahan sakit perut, tapi jika di lepas ia nangis gimana ini." Memegang perutnya.
Lais jadi panik sendiri, bagaimana ini aduh kepala pusing tapi Momo juga dalam keadaan mendesak lagi.
"Ada ASI di lemari pendingin tidak?" meletakkan Zamil di box bayi.
"Sini mas gendong." Meraih bayinya dan belum juga satu meter Momo pergi Zaire sudah menangis kencang sekali.
Lais panik bukan main sampai-sampai Daysi dan Ksatria datang, Sindy juga.
"Ada apa ini?" Ksatria melihat Lais sedang kerepotan menyusui anaknya entah yang laki-laki atau perempuan. Sebab mereka berdua mengenakan pakaian bayi yang sama dari segi warna juga.
"Gak ada apa-apa Pa, Momo sedang di toilet. Zaire gak mau lepas susunya!" Lais menimang-nimang sang putri kecil.
Momo menutup matanya, ternyata bayi-bayinya tidak bisa diam jika jauh darinya padahal Lais juga Papanya. Entahlah, biar Lais berusaha mendekati anak-anaknya biar semakin baik ikatan batin antara anak dan Papa.
"Lanjut dulu, lagian nanggung juga perut sakit dari pada bolak balik ke toilet." Menikmati kehidupannya yang longgar saat di toilet saja.
Daysi pada akhirnya yang menenagkan cucu perempuannya, naluri seorang ibu memang melekat di tubuhnya dari semenjak ia di panti asuhan. Pengalaman juga membuatnya tau cara menenagkan bayi menangis selain di bacakan surat-surat pendek.
Momo bersyukur dapat memiliki Mama Daysi, baik dan selalu lembut memperlakukan orang lain tapi terkadang orang lain menganggapnya tidak adil dan pilih kasih.
"Ma, terimakasih sudah membantu kami." Momo baru saja menyelesaikan ritualnya.
"Momo sana makan dulu dengan Lais, pasti kamu lapar baru menyusui kedua bayimu ini." Daysi meletakkan Zaire ke ayunan tidurnya atau box bayi.
"Iya ma," jawab kompak Momo dan Lais.
Sindy melihat kamar anak-anak yang kamarnya tidak jauh dari kamar Momo.
Cheval yang baru pulang dari tongkrongan bersama teman-temannya masuk ke dalam rumah, baginya yang penting sudah keluar sebentar dan bertemu teman-temannya bisa melonggarkan pikirannya selain anak dan istri.
"Sayang." Cheval memeluk Sindy.
"Aa, baru pulang Aa?" melepaskan dekapan Cheval.
"Iya!" Cheval berjalan meninggalkan Sindy dan langsung masuk ke dalam kamar sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.
__ADS_1
2 hari kemudian.
"Apa aku telat?" tanya seorang laki-laki yang sedang melepas jaket kulitnya.
"Tidak, cuma tiga puluh menit saja! apa ada masalah dengan pekerjaan kamu?" Nisa menyedot minumannya.
"Sedikit, tapi bisa di atasi. Tapi sepertinya aku akan sibuk, apakah kamu sanggup menantikan aku datang." Bukan ini yang di harapkan Nisa, baru juga bertemu tapi seperti ini lagi kenapa harus pergi.
"Kapan hari itu terjadi Kak Day?"
"Minggu depan, tapi sebelum itu aku ingin melamarmu!" jawabnya memberikan sebuah cincin bertahtakan berlian.
Daylon memang jantan dan tidak akan main-main dalam urusan percintaan, Nisa di buat terharu dengan sikap Daylon meski pertemuan pertama di sambut dengan ciuman tapi sampai beberapa hari ini Daylon bersikap baik dan tidak lancang pada dirinya.
"Maukah kamu menjadi istriku?" lamaran yang tidak sesuai ekspektasi, biasanya si pria akan berlutut ini tidak memberikan cincin hanya di depannya saja bahkan ada meja di antara dirinya.
Banyak orang yang menyaksikan hal ini dan mereka penasaran dengan jawaban si perempuan apakah akan di tolak meski sang pelamar tampan dan sempurna.
Menganggukkan dan tidak bisa berbicara apa-apa, Daylon langsung meraih jari manis Nisa dan memasangkan cincinnya ia berharap seperti yang ada di angan-angan jika cincin itu pas di jarinya dan masuk sedikit longgar saja.
Cup
"Cantik seperti pemiliknya." Ciuman di punggung tangan Nisa terasa hangat, ia bahkan merasakan kebakaran di dadanya sebab sikap Daylon yang romantis dan gagah sekali.
Seperti pangeran berkuda yang menyelamatkan tuan putrinya.
Nisa tersenyum-senyum saat pulang ke rumah, Filan yang baru pulang di buat ke heran dengan sikap adik angkatnya ini sekarang ia sudah berubah 180 Drajat dari sebelumnya, dulu Nisa akan mengusiknya tapi sekarang tidak ada kekosongan dalam batinnya.
"Seneng banget kelihatannya." Ledek Filan.
Nisa mengerutkan dahinya, tumben si beku beton ini bertanya kesambet setan dari mana atau dari tempatnya berkerja sepertinya ia dia dimasuki roh pasien-pasiennya atau mungkin dahinya terbentur alat medis.
"Iya dong, baru juga di lamar," jawaban Nisa membuat Filan sedikit terkejut tidak menyangka jika Daylon bergerak secepat ini untuk mendapatkan hak penuh atas diri Nisa.
"Selamat, jangan lupa Papa di beritahukan hal ini supaya Papa tambah sehat mendengarnya." Filan beranjak pergi.
"Iya tau, ini juga mau ketemu Papa," Nisa menuju kamar papa angkat.
Nisa menceritakan semua tanpa ada yang di tutupi kecuali ciuman pertamanya itu ia rahasiakan dan tidak perlu ada yang tau kecuali dirinya dan juga Daylon serta orang-orang yang mungkin melihat waktu itu.
Filan hanya mendengar dari balik pintu, ia merasa sangat tenang dan lega jika adik angkatnya ini ada yang mau menerima sikap kekanak-kanakan Nisa, yah semoga saja si lakinya betah dan kuat menghadapi kecerobohan Nisa.
Filan menerima satu pesan ia segera membukanya ada pasien kecelakaan dan harus di tangani segera, sedangkan Dokter yang berjaga malam ini sakit dan tidak dapat menangani pasien dan Dokter yang paling dekat rumahnya dengan Rumah Sakit adalah Filan.
Keesokan harinya.
Suara gaduh dari sumber terpercaya kini membuat para orang tua di buat kelabakan menghadapi ulah para prajurit kecil keluarga Malik.
"Stop ... stop ... stop ..., Grandma pusing anak-anak." Sambil melambaikan tangannya.
Tapi bukannya mereda mereka malah semakin menjadi, ternyata banyak anak tambah pusing.
"Hem, anak satu cucu banyak pusing juga." Daysi memilih duduk sambil meminum teh hangatnya dan membiarkan anak-anak bermain sesuka hatinya lagian belum berangkat sekolah juga.
Suster yang merawat mereka di buat capek dengan mengejar mereka sambil menyuapi makanan, di suruh duduk juga sulit tapi untungnya mereka tidak pernah membuat orang lain terluka dan mau berteman baik.
"Awas ...." Inre berteriak saat mainannya membentur kaki meja.
Jantung Daysi hampir copot saat mendengar Inre berteriak, kenapa ia aktif sekali seperti Cheval saat kecil sedangkan Princess hampir sama benar-benar ingin menciumi mereka sampai teriak-teriak minta di lepaskan dari dekapan.
"Ya ampun, sepertinya pensiun dulu minum tehnya jika begini terus dia dingin dan jadi gak enak di nikmati pagi-pagi." Tatapan matanya terlihat tidak rela melepas teh hangatnya.
Ksatria mendekati Daysi.
"Ayo ma keluar dan jalan-jalan sekitar rumah." Ajakan Ksatria bagaikan angin segar.
"Ayo Pa," menyambut uluran tangan Ksatria.
__ADS_1
Kedua cucu perempuannya melihat lalu membiarkan saja lagian ada mbak-mbak yang mengawasi dirinya saat bermain. Sindy sudah selesai menyiapkan bekal untuk Cheval dan juga untuk anak-anak.