
Setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda, kalau aku suka cerita yang seperti ini saling setia satu sama lain. Terimakasih banyak, berkat teman-teman aku semangat menulis lagi.
Selamat membaca.
***
Cheval hanya tersenyum, ia lebih baik diam saja. Tapi kemudian sebuah pukulan keras mendarat di pundaknya.
"Sakit Pa." Mengusap berkali-kali pundaknya.
"Kamu mau membunuh istrimu apa, mau menghabisi nyawa putriku ha. Sebelum ia kenapa-kenapa lebih baik kamu aku pecat jadi menantu," Ksatria tersungut emosi.
"Tidak Pa, tolong maafkan Aa pa. Tadi malam Aa khilaf Pa, ini juga gara-gara tubuh Sindy yang menggoda imanku." Meyakinkan sang papa mertua.
"Oke Papa maafkan dengan satu syarat yaitu kamu dan Sindy tidur sendiri-sendiri selama dua hari, hukuman yang sangat ringan kan," Ksatria membuka layar ponselnya kemudian ia memberi kode pada Daysi untuk membantu mengeksekusi putranya.
"TI... DAK...." Cheval mengeratkan pelukannya pada Sindy. Pelukan Cheval di buka paksa oleh mama dan papanya.
Namun sekuat tenaga Ksatria dan Daysi menyeret putranya itu, terdengar kejam namun demi keselamatan putrinya ini harus di lakukan upaya pencegahan yang lebih parah lagi.
"HUA... TOLONG BANTU AA SAYANG." Cheval menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Justru Sindy tersenyum dan melambaikan tangannya, suaminya ini benar-benar pandai memainkan drama, cocok jadi aktor tampan.
Cheval sengaja melakukan supaya Ksatria dan Daysi tidak kuat mendengar tangisan dan keluhannya. Ksatria yang tau akan siasat putranya langsung membekap mulutnya dengan sapu tangan yang ia bawa kemana-mana.
"Hap... em...," Cheval mendengus kesal.
Papanya hari ini sangat kejam, baru kali ini ia di perlakukan seperti ini. Seperti maling saja.
__ADS_1
"Makanya jangan berisik, kalau tidak mau Papa bekap tuh mulutnya dengan sapu tangan, enakkan Aa rasanya." Terus menyeret putranya.
Daysi sebenarnya tidak tega seperti ini, walaupun bagaimana pun Cheval tetap putranya yang ia rawat dengan tangannya sendiri. Tapi jika di biarkan putri cantiknya akan menderita musuh dengan putra bulenya ini yang nafsunya lebih besar dari dirinya sendiri.
"Pa yakin Aa di masukkan ke dalam sini dan tidak di izinkan keluar sama sekali?" tanya Daysi di luar ruangan yang terisolasi.
"Biarkan, sesekali ia di hukum karena kesalahannya jangan seperti dulu. Jika dia salah kemudian ia lemparkan ke Sindy dan berakibat Sindy yang menerima hukuman, Papa tau hukuman yang Papa berikan akan menyakitinya, tapi papa juga tidak mau Sindy terluka lagi dan lagi, biar dia juga merasakannya. Walau pun resikonya dia akan demam satu minggu!" Ksatria berlalu pergi usai mengunci tempat tersebut.
Cheval yang sudah di lepas bekapan mulutnya dengan sapu tangan mendengus kesal, hari ini ia di hukum. Tau begini semalam ia tidak menuruti nafsunya yang sangat luar biasa yang menyebabkan sang istri demam.
"Tau begini aku tidak melanjutkan nafsuku, hah... kena hukuman di ruangan seperti ini pula." Cheval merebahkan dirinya.
Ia sudah mulai tidak nyaman dengan keadaannya sekarang, rasa pusing dan mual mendadak merasukinya. Ia berjalan mencari kota obat dan ternyata ada di laci tidak jauh dari ranjangnya. Segera ia mengambil minyak oles tersebut, tapi sebelum ia gunakan Cheval selalu memastikan jika minyak tersebut tidak kadaluarsa saat digunakan.
"Aman tidak kadaluarsa." Segera ia oleskan di bagian perut rata, kemudian punggung, tangan, kaki dan leher tak lupa kedua telapak tangan dan kakinya.
Cheval bersembunyi di balik selimut, dirinya sudah menggigil di atas tempat tidur.
"Tuhkan demam juga, gara-gara papa ini." Daysi menyentuh dahi putranya.
"Benar-benar hukuman yang berat untukku bukan untuk Aa." Daysi menuju dapur dan mengambil kompres, namun tidak jadi ia mencari plester penurun panas khusus dewasa dan langsung di tempelkan pada dahi Cheval.
"Dasar anak manja kamu ini Aa, masa kena hukuman seperti ini saja langsung demam. Apa tidak bisa tidak demam Aa?" Daysi mulai ikut-ikutan mengomel seperti Ksatria.
"Bukan salah Aa Ma, kan Papa dan Mama tadi yang memasukkan Aa ke dalam sini!" Cheval berucap lirih.
"Tapi kamu tetap salah Aa, jangan di ulangi lagi kenapa perbuatannya. Apa kamu mau jadi suami yang super tega untuk istrinya sampai Sindy demam." Pertanyaan tajam Daysi membuat Cheval merasa sangat bersalah kali ini.
__ADS_1
Cheval menggeleng. "Tidak Ma, Aa tau Aa salah tapi Aa tidak tau jika akan seperti ini dan membuat Sindy menderita sekali," jawabnya tertunduk sedih.
Wajahnya sangat pilu, Daysi melihat putranya yang sakit seperti ini langsung membantunya memapah sang putra dengan pelan-pelan untuk menemui istrinya. Siapa tau dengan berdekatan istrinya bisa sembuh sakitnya.
"Kita ke kamar Sindy, masih kuat jalan kan. Awas kalau memanfaatkan keadaan." Daysi membatu putranya berjalan.
Cheval langsung semangat meski badan rasanya meriang sekali, tapi ia tahan dan tidak apa-apa asalkan bertemu istri tercintanya.
Sindy yang masih berbaring membelakangi pintu tidak tau jika suami dan mamanya datang, dia hanya mendengar pintu terbuka dan suara langkah kaki menuju ranjangnya. Daysi hanya menghantar sampai depan pintu dan meninggalkan kedua putra putrinya.
"Sayang." Sapa lirih Cheval yang segera membaringkan tubuhnya di dekat Sindy.
"Aa, Aa pucat sekali. Apa Aa sakit juga?" menempelkan tangannya di dahi suaminya yang rasanya seperti terbakar di telapak tangannya.
"Iya Aa sakit, tadi sama Mama di beri plester penurun panas tapi baru saja Aa lepas, Aa tidak nyaman dengan benda kenyal dan dingin itu!" jawabnya menunjuk tong sampah kecil.
"Ya sudah kalau tidak mau di tempel itu, sini aku kompres kan." Sindy turun dari ranjang.
Rasa pusing dan lelah di tubuhnya ia abaikan demi suaminya. Sindy berusaha kuat meski dalam dirinya sangat rapuh. Inilah kehebatan wanita, saat ia di butuhkan sesakit apapun dirinya ia akan kuat meski ia mengeluh dalam hati dan pikirannya, namun ia simpan cukup dirinya dan Allah yang tau.
Cheval dengan senang hati menerima kompresan dari sang istri tercinta meski pada akhirnya ia memakai plester penurun panas lagi, tapi rasanya berbeda jika yang memasang dan menempelkan istri tercinta.
"Sekarang istirahat dulu ya Aa, badanku masih belum enakan. Sambil nunggu mbak Mala membuatkan bubur." Sindy berusaha tersenyum manis di depan suaminya.
"Jangan memaksakan senyum sayang," Cheval tidak dekat-dekat dengan istrinya.
Ia sedikit menggeser tubuhnya menjauh, agar rasa panas dari dalam diri masing-masing cepat turun. Terkadang ia kecewa sendiri kenapa daya imun dalam tubuhnya selemah ini, hukuman kecil saja langsung membuatnya sakit, untung sewaktu sekolah ia rajin dan pintar jadi ia terhindar dari berbagai macam hukuman.
__ADS_1
***
Terinspirasi dari anak tetangga, ketika di marahi orangtuanya langsung demam.