ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Berusaha membuka lembaran baru


__ADS_3

Pagi hari.


Gauri mengenakan sarung tangan dan hendak membersihkan pot bunga yang berisi banyak sekali pecahan kaca, gelas dan lain sebagainya, sebenarnya dia ini menanam bunga atau pecahan kaca sih Raden ini.


"Laki-laki ko di suruh menanam bunga, yang ada tuh jadi begini nih isinya. Masa pot bunga isinya bukan bunga yang masih hidup tapi malah mau mencuri kehidupan pihak lain, kalau terkena tangan atau kaki kan sakit untung saja Zidan tidak bermain di tempat ini."


Gauri bernafas lega, setidaknya putra kecilnya tidak suka bermain dengan benda-benda asing yang membahayakan untuk dirinya sendiri.


"Ma.. ma..." Zidan mencari ibunya tapi tidak kunjung bertemu lalu ia membuka kamar Raden tapi Raden masih tertidur lelap.


"Om.. apa gak kelja?" Zidan merangkak naik ke atas tempat tidur Raden dan membaringkan badannya di samping Raden.


Raden yang merasakan ada gerakan kecil di sampingnya ia sedikit membuka matanya yang silau sebab lampu kamarnya masih terang terlupa ia matikan tadi malam. Raden menggeser badannya agar lebih dekat dengan Zidan dan memeluk erat tubuh Zidan dan memberikan ia kehangatan.


Zidan juga tak kalah dari Raden ia membalas pelukan Raden dengan penuh suka cita, rasanya hangat dan kuat sosok Raden di hati Zidan, apa seperti ini rasanya memiliki seorang ayah atau papa.


"Pa.. pa..." Mengeratkan pelukannya.


Mata Raden membelalak tidak percaya dengan apa yang ia dengar, berusaha mencari kebenaran di wajah tampan Zidan.


"Zidan.. tolong ulangi lagi ucapanmu barusan."


"Pa.. pa..." Sambil tersenyum.


Rasanya bahagia sekali dirinya disebut papa oleh Zidan, calon anaknya. Rasa bahagia ini tidak dapat di nilai dengan angka bahkan menyebutkan angkanya saja tidak cukup. Raden langsung bangun begitu saja sambil menciumi lagi kedua pipi Zidan yang gembul dan menggemaskan untuk di habiskan, rasanya ingin cepat-cepat menghalalkan Gauri untuk menjadi istri seutuhnya.

__ADS_1


"Terimakasih Zidan," terus menerus menciumi pipi Zidan sangking gemasnya.


Dia rela melakukan apa saja demi Gauri dan Zidan, bagi Raden mereka berdua adalah orang yang harus ia pertahankan dan di cintai tulus setulus-tulusnya, tidak pantas di lukai lagi.


Gauri masih bernyanyi-nyanyi kecil saat menanam bunga di beberapa pot bunga yang tadi ia bersihkan dari kaca dan beberapa gelas yang pecah. Tangannya sama sekali tidak terkena pecahan kaca sebab ia memegang kaca dengan benar serta hati-hati ia tidak ingin orang-orang menghawatirkan.


Tapi justru bayangan Gauri membayangkan jika dirinya terkena kaca dan jarinya mengeluarkan darah, apa orang yang ia cintai akan hawatir bukan main seperti tokoh pria yang ada di novel-novel, rasanya tidak deh.


"Sadar Gauri, mana mungkin kamu di pedulikan sampai titik darah penghabisan." Menyadarkan dirinya sebelum hayalannya mencapai langit ke tujuh.


"Lagian siapa yang mau jadiin wanita janda seperti aku ini sebagai seorang istri, hayalan mu ini terlalu tingkat tinggi Gauri." Sedih sambil bermonolog sendiri.


"Kata siapa, aku tidak mau," langsung memeluk erat pinggang Gauri.


Gauri mengerjab-ngerjabkan matanya, berarti sedari tadi Raden mendengar keluh kesahnya yang jangan terlalu banyak bermimpi, haduh malu.


"Iya Pa.. pa..!" Zidan tersenyum lebar.


Gauri bertambah terkejut, kedua orang ini sejak kapan saling panggil nak dan papa.


"Kalian..." Dengan menatap Raden dan Zidan bergantian.


"Sejak kapan jadi ada kata-kata begitu?" rasanya Gauri benar-benar tidak percaya dengan suara anaknya sendiri yang dengan mudah mengucapkan kata-kata papa dan itu terjadi untuk Raden.


"Barusan!" Raden cengengesan tapi dari raut wajah menggambarkan kebahagiaan yang tiada taranya.

__ADS_1


Gauri bahagia sekali, jika mereka bisa kompak kenapa diri ini tidak percaya diri, seharusnya percaya diri bukan. Bukan malah minder dan negatif thinking.


Pelukan hangat dari Raden langsung di sambut juga oleh Gauri, sekarang dirinya harus membuka hati dengan lebar untuk Raden dan tidak akan lagi berpikiran yang tidak-tidak kedepannya, lagian buat apa sih jika jelas-jelas kenyataan sudah ada di depan mata.


Bukankah setiap orang berbeda dan tidak sama, apa mungkin sama seperti yang dulu menorehkan luka dan mengukir kenangan yang pahit.


Gauri tidak akan mundur lagi, sudah terlanjur setengah basah kenapa tidak di lanjutkan, lagian masa lalu biarkan jadi pelajaran berharga saja sekarang lihat yang baru dan membuka lembaran baru lagi.


Di kediaman Guritno.


Aldy masih menatap neneknya tidak percaya, bagaimana mau percaya begitu saja jika nenek Asmara berbicara begitu bukannya berarti Istrinya sedang berbohong.


"Rasanya tidak benar nek, apa mungkin dia tidak mengandung anakku?" Mustahil sekali jika Mariska Setega itu berhianat dengan laki-laki yang lebih muda darinya.


Mariska sedikit mengintip pembicaraan antara Asmara dan Aldy tentang busuknya diri ini dengan bermain curang pada Dion. Lagian salah sendiri kenapa mengecewakan, seandainya bilang dari awal tentang pernikahannya dengan wanita lain bahkan sudah tidak bersegel sejak dulu.


'Sial.. wanita tua itu sering ikut campur dengan urusan aku, lagian siapa yang mau lagi dengan laki-laki begitu, egois dan mementingkan naf$u saja gak pernah memikirkan perasaan yang lain. Semua wanita saja ia lukai dan sudah banyak korban yang terkena jeratannya tidak hanya satu atau dua wanita tapi banyak bahkan di hitung dengan jari saja tidak dapat di hitung. Sialan dapat sampah busuk, mendingan Dion yang masih bersegel saat denganku.'


Mariska baru menyesal beberapa hari setelah menikah dengan Aldy, tau begini ia tidak akan mau menikah dengan laki-laki yang tidak bisa menghargai sedikit saja seorang wanita dalam hidupnya. Dan yang lebih sialnya kenapa menyerahkan mahkota nya dengan cuma-cuma pada orang berakal busuk seperti Aldy, bahkan sekarang apa yang ia dengar mau menyelidiki dulu.


"Akan aku putar keadaannya, enak saja merenggut milikku dan menyembunyikan banyak hal. Cuih... gak sudi aku punya suami yang modelan nya begini gak kaya raya pula, cuma pas-pasan." Gumam lirih Mariska sebelum ia pergi meninggalkan ruangan pengap itu.


Aldy masih saja tidak percaya padahal bukti sudah ada di depan matanya apa masih kurang cukup, bukan Asmara namanya jika tidak berhasil meyakinkan cucunya ini. Apalagi dirinya berhak atas cucunya yang langsung dapat amanah dari kakaknya dan keponakan tersayangnya, jadi karena amanah ini ia harus menjaga cucunya dengan baik sebaik-baiknya termasuk menentukan hidup Aldy Sampoerna Guritno.


"Aku akan pikiran lagi nek, aku permisi," pamitnya pada Asmara.

__ADS_1


Asmara mengangguk saja, ia akan berpikiran lebih matang lagi jangan sampai gegabah dan membuat Aldy tidak percaya, ia harus sering-sering memancing Aldy agar ia tau kebusukan cucu mantunya itu. Di tambah lagi latar belakang Mariska tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan keluarga Guritno.


__ADS_2