
Jejaknya ya, like dan rate bintang lima.
***
Sacha yang merasa di ikuti dari belakang merasa tenang-tenang saja, senjata api yang dulu pernah ia pelajari kini sepertinya akan berguna.
"Apa kamu pernah membawa senjata api itu, baru kali ini aku melihatnya?" Ksatria juga membawa senjata tetapi bukan senjata apa tapi jarum yang bisa langsung melumpuhkan mangsanya.
"Dulu aku pernah belajar menggunakan senjata api ini, semoga ilmu nya masih melekat dalam memori. Ini pun aku juga terpaksa, apalagi kita cuma punya 4 body guard saja!" Sacha tetap melajukan mobilnya dengan seperti biasanya.
"Cih, sombong. Kamu kira aku tidak pernah memegangnya." Ksatria berdecak kesal.
"Memang pernah memegang?" memberikan senjata api tersebut.
"Pernah, ini. Baru saja aku pegang!" jawab Ksatria diiringi tawa yang menggelegar sebelum kaca mobil di lempar batu batu.
"SSHHIITT...." Umpat Ksatria yang terkejut bukan main.
Baru saja bercanda kini suasana menegang kembali, tidak ada siapa-siapa di sekitar perjalanan. Kemungkinan benda tersebut di lempar di atas jembatan kecil yang baru saja di lewati tadi.
Benar-benar perjalanan yang panjang kali ini untuk sampai ke Royal Malik. Banyak jalan yang sengaja di tutup dan ternyata ini rencana awalnya saja.
"Sacha kita harus hati-hati, sepertinya ada seseorang yang tidak menyukai kesuksesan Royal Malik. Apa di kota ini ada seseorang yang baru membuka resort atau hotel berbintang atau penginapan yang sejenis Royal Malik?" emosi Ksatria semakin memuncak saja.
Ilmu bela diri yang ia miliki tidak ada apa-apanya, ia perlu melatih tangan dan penglihatan untuk membidik tepat sasaran.
"Ajari aku menembak." Secara spontan Ksatria langsung mengarahkan pistolnya ke seseorang yang mengikuti diam-diam, selain body guard nya.
"Kamu tekan pelatuknya, tapi sebelum itu pastikan bidikanmu tepat pada sasaran, tembak tepat di dada kirinya sedikit tengah itu mempercepat masalah," jawab Sacha yang sudah kesal lantaran seseorang terus saja mengejar mobilnya.
"Tidak, aku tidak mau masuk jeruji besi. Aku lumpuhkan saja kendaraan mereka, jika mereka kecelakaan tidak terlalu parah."
DDOORR.
Ksatria menembak tepat di ban mobil sebelah kiri. Hari yang benar-benar ekstrim untuk pria-pria tua tersebut.
"Kalau mau jadi penjahat jangan setengah-setengah, harus totalitas." Ledek Sacha saat melihat mobil yang mengikutinya dari spion, menabrak tiang listrik yang terbuat dari beton.
"Dasar bodoh, aku tidak mau beritaku besok menyebar dan jadi konsumsi publik apalagi seorang Ksatria Malik, pemilik hotel dan apartemen terbaik di kota ini," Ksatria mengembalikan senjata api tersebut pada Sacha.
__ADS_1
"Terserah, aku tidak mengajarimu untuk membunuhnya." Sacha melajukan mobilnya.
"Tidak mengajari terapi bermaksud ke situ kan tadi," mengomel.
"Tidak, padahal jelas-jelas di dalam mobil. Apa mata kamu tembus pandang sekarang, sudah terlihat jelas kaca mobil hitam dan tidak terlihat dari luar." Sacha tertawa geli melihat Ksatria yang semakin tidak paham dengan perkataan dirinya.
Sore hari.
Daysi menyambut kepulangan sang suami, ia bertanya kemana mobilnya yang pagi tadi.
"Pa, mana mobil Papa yang tadi pagi Papa gunakan?"
"Sudah di jual Ma, mobilnya rusak terkena batu bata!" jawab Ksatria kesal.
"Di jual, bukannya baru beli dua bulan yang lalu." Gumam lirih Daysi. "Papa, tidak kenapa-kenapa kan. Kenapa terlihat seperti ada masalah besar." Daysi membantu melepaskan jas dan dasi.
"Tidak ada apa-apa Ma, tenang saja oke," Ksatria tersenyum riang dan menciumi puncak rambut Daysi.
"Baiklah, apa Papa lapar. Makan dulu saja Pa jika lapar." Menawari suaminya dengan makan, hati istri memang sangat peka jika menyangkut hal-hal sensitive.
"Tidak apa-apa jika papa belum mau bercerita, pasti ada masalah dengan orang yang meneror tadi pagi."
"Pelan-pelan Pa makannya, tidak ada yang merebut makanan papa." Daysi menyodorkan air putih.
"Ada, kata siapa tidak ada lihat Ma itu di depan Mama perebut nya," Ksatria langsung mengambil ayam kecap lagi.
"???!!!" Cheval dan Sindy membiarkan papanya untuk menghabiskan lauk, padahal dalam hati ia ingin sekali makan ayam tersebut.
Daysi yang melihat suaminya lahap menghabiskan makanan tersebut, keluar dari ruang makan dan menuju dapur untuk mengambil masakan yang masih ada untuk anak-anaknya.
"Ini untuk Sindy dan Aa." Memberikan satu mangkuk pada Sindy.
Ksatria melotot saat Daysi memberikan secara khusus untuk putra putrinya.
"Ma... ma..., aku mau lagi?" memelas.
Daysi garuk-garuk kepala, bingung juga menghadapi suaminya ini. Tau begini besok-besok tidak memasak ayam bumbu kecap lagi.
"Ini untuk Papa." Sindy memberikan pada Ksatria usai meletakkan satu potong ayam pada Cheval.
__ADS_1
"Tidak usah Sindy, buat Sindy saja anak kesayangan Papa," Ksatria mengusap rambut Sindy dengan tangan kirinya dan mencubit pipi Sindy.
"Benarkah? kalau begitu Sindy makan." Sindy segera berdoa sebelum makan.
Suasana rumah terdengar damai sekali malam ini, suara gelak tawa terdengar nyaring. Banyak masa depan yang di rancang, mulai dari membesarkan anak kecil.
"Aa."
"Kenapa sayang," mengelus perut rata Sindy.
"Geli Aa, coba lepaskan tangan Aa dari perutku." Menyingkirkan dengan paksa.
Cheval mengira sang istri mau meminta sesuatu, ternyata meminta untuk menyingkirkan tangannya dari perut.
"Padahal nyaman loh sayang berada di perut hangatmu," Cheval meremas rambut Sindy dengan gemasnya.
Sindy memelototkan matanya saat sang suami bertingkah konyol dengan mengusap-usapkan rambut cantiknya di hidung dan matanya sendiri.
"Geli juga ternyata, tapi enak." Di iringi dengan tawa kecil.
"Dasar Aa, apa tidak ada mainan selain rambutku itu?" Sindy membiarkan sang suami memainkan rambut panjangnya.
"Tidak ada, mau memainkan kamu. Kamunya palang merah ada tulisannya di larang masuk dan parkir!" jawab aneh Cheval.
"Memangnya ini depan pintu sampai-sampai di larang parkir." Sindy ikut-ikutan membual.
"Ya, buktinya ada tuh. Tertutup rapat bahkan ada kunci tebalnya warna putih," menunjuk area pribadi Sindy.
"Jangan aneh-aneh deh Aa, masih kecil membicarakan hal seperti ini. Tidak baik Aa." Menyadarkan sang suami dari pikiran buruknya.
"Baiklah, aku tau masih kecil," Cheval menyalakan televisi dan mulai menonton acara yang ada di channel tersebut.
Acara menonton sinetron striping sangat bagus di lihat, seperti kisah percintaan di dunia pernovelan. Sepertinya kisah cintanya dan kedua orang tuanya sangat bagus jika di bukukan dan di nikmati semua kalangan. Penuh perjuangan untuk mendapatkan cinta yang sejati, meski di awal kisah dengan adanya perjodohan.
"Sedang memikirkan apa sih Aa?"
"Kisah cinta, jika di bukukan apa mungkin jadi sejarah baru!" jawab Cheval memakan camilan.
"Bisa jadi."
__ADS_1