
Jangan lupa like dan bintang 5.
Terimakasih.
***
Momo yang sudah selesai menikmati satu cangkir kopi espresso nya ia kembali ke kampus lantaran masih ada satu materi pelajaran lagi ia tidak tau jika sedari tadi Lais menunggunya tidak jauh dari kafe tersebut.
"Momo." Lais menggenggam erat tangan Momo.
"Apa?" ketus Momo tiba-tiba.
"Kenapa tadi malam kamu tiba-tiba menolak ajakan ku makan malam." Tergores rasa luka di wajah Lais dan juga hatinya, rasa kecewa tidak dapat di pungkiri lagi.
"Tidak kenapa-kenapa, aku tidak mau menabur harapan yang akan menyakitkan nantinya," Momo berusaha melepas genggamannya, ia tidak mau terlibat cinta yang mendalam pada Lais Erdana Khan.
"Jangan memberontak Momo, ikut aku sebentar." Lais langsung berjalan lebih dahulu dan dengan terpaksa Momo ikut melangkahkan kakinya.
Lais menagkupkan kedua tangannya di wajah Momo dan memastikan jika wanita yang ia cintai itu baik-baik saja perasaannya.
"Dengar jika malam ini kamu menolak lagi jangan harap, bibir ini tidak akan aku ampuni dan akan bertemu dengan bibirku." Ancam Lais menyentuh bibir cantik Momo, ancaman ini terdengar sangat menakutkan sekaligus konyol.
"Bukan pacar atau suami ko ngatur-ngatur hidup aku, gak ada hak tau gak," Momo menepis tangan Lais dengan keras.
Ia berlari menuju kelasnya. Momo sangat kesal dengan sikap yang Lais tunjukkan tadi, kenapa dia mengancam seperti itu.
Lais yang bertindak ceroboh kali ini hanya berharap saja, semoga Momo mau nanti malam makan malam dengannya. Jika tidak, mungkin takdirnya tidak bisa bersama dengannya lagi.
Makan malam.
Momo tidak menolak di jemput oleh Lais di depan rumah, karena sang ayah tidak ada di rumah ia tidak berani menyuruh Lais untuk masuk.
"Ayo berangkat, katanya mau mentraktir aku. Terserah mau di mana saja, asalkan makanannya boleh di konsumsi." Momo mengenakan helm yang selalu Lais bawa kemana-mana untuk membonceng istri masa depannya.
"Makannya di warung langanan kita saja ya," Lais berbicara sangat manis bak madu yang baru saja di panen tanpa lebah dan masih di sarang lebah.
"Kita, sejak kapan ada kata-kata kita diantara aku dan kamu." Protes Momo yang tidak terima di mulut iya di dalam hati.
"Ya mulai sekarang, lagian apa salahnya dengan kata kita," Lais memacu motornya dengan normal, ia ingin menikmati hari yang luar biasa bahagia dengan sedikit tambahan waktu saja.
__ADS_1
"Terserah, yang penting gak merugikan aku." Momo tidak memeluk perut Lais, bukan kekasih juga jadi tidak enak dan tidak sopan melakukan hal seperti itu.
"Momo ulurkan tangan kamu yang kanan." Lais menunggu uluran tangan Momo. Momo langsung saja mengulurkan tangannya di samping kanan perut Lais. "Peluk, jangan lupa yang kiri juga." Perintah Lais dengan tegas.
Momo mengikuti saja, lagian ini jalan ramai juga dan tidak mungkin Lais berbuat macam-macam padanya. Pelukan hangat menjalar di tubuh Lais, rasa rindu kini terasa langsung terobati seketika.
Di kamar Cheval dan Sindy.
Cheval masih asik rebahan di paha Sindy.
"Sayang, kita besok ke sel tahanan yuk." Ajaknya pada Sindy.
"Buat apa sih Aa kesana?" Sindy menutup majalah yang ia baca.
"Untuk memenjarakan hati kita berdua, biar tidak ada yang berani masuk ke dalam penjara cinta kita!" sambil menciumi rambut Sindy yang panjang.
Sindy mencolek pipi Cheval. "Mulai pintar menggombal ya."
"Siapa yang menggombal sih sayang ini kenyataan dan tidak sedang berhalusinasi, besok kita ke sana ya. Aa penasaran seperti apa wajah penjahat itu," Cheval mulai memejamkan matanya.
"Baiklah Aa, sekarang Aa tidur ya. Sepertinya mata Aa sudah tidak kuat lagi untuk melihat kecantikkan ku ini." Dengan percaya diri memuji diri sendiri cantik.
Sindy mengusap dengan lembut rambut Cheval, agar sang suami tidur. Malam ini Sindy merasa sedikit tidak nyaman seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
***
Ksatria yang sedang berolah raga kini beristirahat, tulangnya mulai merasakan sering sakit, mungkin efek makanan yang ia makan yang tidak dapat di kendalikan. Apalagi jika masakan istrinya yang luar biasa ini, ia tidak dapat menahan godaan tersebut bahkan sering menambah lagi dan lagi.
"Pa, ini air putihnya di minum dulu dan ini vitaminnya." Daysi memberikan nampan kecil tersebut.
"Terimakasih ya Ma," Daysi duduk di samping suaminya dan menatap satu persatu alat olah raga yang digunakannya.
"Ma besok ada orang yang datang mau mengambil semua alat-alat olah raga Papa, mau Papa ganti yang baru peralatannya." Ksatria berdiri dan mengambil beberapa yang ia sayangi dari awal ia miliki seperti barbel.
"Iya Pa," Daysi menerima barbel yang lumayan berat satu barbel. "Mama simpan di kamar kita ya Pa," pamit Daysi berjalan menuju kamar pribadinya.
Ksatria masih saja berada di ruangan tersebut untuk menatap peralatan yang ia gunakan, memang sudah waktunya untuk berganti dengan yang baru sebab ada beberapa yang sudah mulai rusak saat di gunakan.
"Punya Aa seharusnya juga di ganti, besok pagi saja deh lagian ini juga sudah sangat larut pasti dia sudah tidur lebih dulu di bandingkan Sindy." Ksatria membersihkan diri, ia mengelap keringat dan menunggu untuk kering barulah ia akan mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Pagi yang cerah.
Cheval keheranan kenapa kediamannya ramai orang membawa barang-barang besar ke ruang gym milik papanya.
"Ada apa sih sayang, pagi-pagi sekali sudah ramai orang masuk rumah kita?" Cheval duduk di ruang keluarga yang tidak jauh dari ruang gym.
"Itu, papa lagi berganti suasana saja. Katanya semua alat yang ada di ruangan gym papa sudah minta adik atau baru!" Sindy memasukkan buku yang ia perlukan untuk ke kampus pagi ini.
"Ayo berangkat, sudah sarapan atau belum." Cheval memberikan satu kotak makanan.
"Sudah Aa, bukannya tadi kita sarapan bersama, apa Aa lupa," Sindy segera memasukkan bekalnya di dalam tas.
"Tidak lupa sih, takutnya perut ratamu itu masih meronta-ronta untuk minta di isi kembali." Dengan tertawa renyah.
"Aa, tadi papa berpesan peralatan gym Aa sudah waktunya ganti tidak Aa jika iya sekalian saja Aa," menyampaikan amanah.
"Tidak, ayo kita temui orang suruhan papa sebentar sebelum kita ke kampus." Ajak Cheval yang membawakan tas milik Sindy.
Hari ini pelajaran di kampus serasa sangat lama tidak seperti biasanya, mungkin karena Dosen yang mengajar mempengaruhi mata kuliah pagi ini.
"Kapan sih jamnya selesai, biasanya jika Aa yang mengajar cepat sekali."
Baru kali ini seorang Sindy mengeluh dalam hati tentang mata pelajaran kuliah. Benar-benar keluhan yang langka dan bisa jadi sejarah dalam kehidupan Sindy.
Akhirnya selesai juga jam kuliah Sindy dan bisa bernafas lega, tumben tidak ada tugas berlebih sampai berkerja kelompok atau mungkin pertemuan yang akan datang.
***
Seperti ini lah aku, meski sudah ada tulisan end di cover kenapa up terus, jawabannya ada 3 yaitu:
Teman-teman masih setia mendukung karyaku ini meski cuma diam tanpa komen dan juga ada beberapa yang komen, tetapi aku bahagia sekali masih ada yang kasih (like, rate dan juga hadiah).
2 . Aku terlanjur mencintai tokoh yang aku ciptakan makanya lanjut up terus.
3 . Terlanjur pencet END.
__ADS_1
Curhatan dari dalam hati.