ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
134 S2 Mak comblang


__ADS_3

Semua orang menatap ke datangan seseorang yang sangat akrab dengan keluarga ini.


"Dokter Ano." Ucap Sindy langsung memberi salam pada Ano.


Semua orang hanya heran menatap Sindy yang sangat akrab dan nampak manja pada Ano, Bahkan Sindy tidak sadar jika sang suami dan papa sedang menatap kesal atas kedatangan Ano.


"Om baru pulang dari rumah sakit, Om bagaimana kabar tante Risma kok nggak om ajak?" tanya Sindy ceplas-ceplos.


"Sudah putus!" jawab datar Ano sambil mengambil buah yang ada di meja makan.


"Putus... kenapa." Ksatria tersenyum lebar, ia sangat bahagia Ano putus dengan kekasih jandanya itu.


Ksatria memang tidak rela Ano berdekatan dengan janda keganjenan itu, apa dia tidak trauma dengan pernikahannya dulu. Sewaktu dekat dengan Ano saja masih ada selingan di luar sana dan yang paling mengesalkan Ano di beritahu kenyataannya tidak percaya.


Hampir 2 bulan Ano dan Ksatria saling mendiami, berbicara jika ada perlunya saja selain itu tidak ada.


"Dapat duda tua plus tajir ya dia mau lah, apalagi 2 minggu lagi dia menikah," Ano menatap sendu nasibnya yang tidak mujur ini.


"Kasihan." Ucap Sacha dengan prihatin sekali.

__ADS_1


Ano hanya mengangguk-angguk saja, mungkin ini jalan takdirnya harus seperti ini. Nasib-nasib seharusnya dulu setelah kematian sang istri segera menikah lagi namun karena duka selalu menyelimuti membuat Ano tidak pede untuk menata hidup lagi untuk pernikahan.


"Apa kalian ada kenalan?" Ano menatap semua orang.


"Tidak," jawab serempak semua orang, bahkan Cheval yang baru saja datang ikut bergabung di dalam pembicaraan ini.


"Aku kira ada." Ucap Ano lesu.


Mala yang baru saja mengantar susu hangat di ruang makan menjadi sasaran empuk.


"Bagaimana dengan Mala," ucap Ksatria menatap Ano.


Ano jadi salah tingkah dengan candaan Ksatria, Mala juga masih terlihat cantik meski umurnya sudah 40 tahun lebih.


Wajah Ano dan Mala sama-sama memerah padam sekali, terkesan sangat lucu dan imut sudah tua tapi rona di wajahnya masih terpancar jelas.


"Segera menikah saja kalau begitu, nikah tanpa pacaran itu adalah pengalaman yang luar biasa loh seperti kita-kita ini." Ucap Ksatria dengan pedenya, padahal yang lain tidak terlalu setuju dengan ucapannya.


"Papa aja kali kita enggak," jawab serempak Cheval, Sindy, Daysi dan juga Sacha.

__ADS_1


Ano dan Mala tertawa melihat Ksatria tidak di anggap ke beradaan nya, bahkan semua orang tidak satu sepemikiran dengannya.


"Kalian mengucilkan ku, jahat." Ksatria sangat bersedih dengan dirinya sendiri.


"Cup... cup... cup... suamiku," ucap Daysi memeluk tubuh Ksatria dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Ayo bantu aku kembali ke kamar, karena mama sudah berkerja sama dengan mereka kali ini mama harus berkerja sama denganku di kamar. Untuk kalian puasin tertawa kalian sebelum aku menyuruh kalian bubar dengan tidak baik." Ancam Ksatria sambil menunjuk satu persatu orang yang menertawainya.


Cheval dan Sindy hanya menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V saja. Sementara yang lain acuh tak acuh saja.


"Maaf permisi, saya pamit ke belakang kalau begitu." Mala berpamitan dengan sopan.


Dokter Ano menatap kepergian Mala. Sacha menyenggol bahu Ano.


"Kalau cinta ya di kejar dong kenapa hanya di biarkan pergi begitu saja kan sayang di lewatkan, kesempatan langka loh." Sacha berucap untuk meyakinkan Ano.


"Biarlah, lagian aku tidak ingin menjalin hubungan saat ini," jawab Ano berlalu pergi dari kediaman Malik ini.


"Jangan menyesal jika nanti kamu jatuh cinta padannya terus dia nya tidak." Sacha segera menuju garasi.

__ADS_1


Mala yang tadi nya mau mengambil gelas yang tertinggal mendengar ucapan Ano yang teramat tajam di dengar.


"Sadar Mala, dia seorang Dokter yang sukses jangan berharap oke, ucapan si bos Ksatria tadi jangan kamu dengar dan masukkan ke dalam hati, lebih baik kamu berkerja dan kerja jika uang sudah cukup kamu bisa pulang ke kampung dan membangun usaha di sana." Mala segera menuju dapur dan melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2