
Saat berada di mobil Ksatria hanya melamun untung Slamet hari ini yang mengemudikan mobil kalau tidak bisa-bisa banyak ke kacauan di jala raya.
Slamet melirik ke arah spion. "Pak boss maaf sebelumnya, saya lihat dari tadi pak bos sepertinya sedang kepikiran sesuatu?" Slamet mengarahkan laju mobilnya ke arah rumah.
"Iya, entah mengapa aku ingin pulang saat ini rasa rindu menusuk hatiku!" jawab Ksatria dengan galau.
Slamet tersenyum bahagia, dulu ia sering diam-diam memperhatikan istrinya namun tidak berani mengkespresika ke cemburuannya namu saat ini dengan terang-terangan sudah menujukkan rasa cintanya. Tiba-tiba Slamet mempunyai ide.
"Eemm boss bagaimana jika bos membelikan sesuatu yang bisa membuat mbak Daysi bahagia seperti membelikan sebuah perhiasan atau sejenisnya." Slamet melirik sepion sebentar dan melanjutkan mengemudinya.
Setelah berpikir panjang Ksatria memutuskan padahal mobil sudah hampir sampai ke kediamannya.
"Slamet putar arah, kita pergi ke toko perhiasan terbaik di kota ini." Ksatria tersenyum bahagia.
Mall Terbaik.
Ksatria memasuki mall dengan berjalan gagah banyak yang mengambil foto Ksatria Malik, mayoritas anak remaja ada juga yang beberapa meminta foto dengan Ksatria Malik. Karena suasana hati Ksatria baik ia mau di ajak berfoto. Slamet yang mengikuti si bos hanya tersenyum melihat si bos tidak sedingin dulu.
"Memang benar mbak Daysi merubah 180 derajat sifat si bos yang dingin ini." Gumam Slamet bahagia.
Setelah berfoto Ksatria masuk kesebuah tempat perhiasan, tempatnya bagus dan memiliki perhisan kualitas terbaik di kota ini.
"Permisi pak mau cari perhiasan seperti apa?" tanya penjual dengan ramah.
"Saya mau membeli beberapa perhiasan untuk istri saya, apa disini ada yang paling terbaik perhiasannya!" sambil mengamati satu persatu perhiasan yang terpajang di seluruh ruangan tersebut.
"Ini pak ada model terbaru dan terbaik tahun ini." Menujukkan model kalung gelang dan cincin dalam satu set.
Ksatria tersenyum melihat perhiasan yang terlihat sangat rapi penyusunannya. Bahkan anting yang di tampilkan sangat bagus namun ia teringat jika sang istri tidak terlalu menyukai sesuatu hal yang mencolok.
"Permisi, apa tidak ada yang lebih sederhana tapi elegant perhiasannya?" Ksatria terus menatap satu persatu berharap bisa menemukannya.
__ADS_1
"Sebentar ya pak saya akan carikan!" sambil mencari setelah menemukannya langsung menujukkan pada Ksatria. "Ini pak, terlihat sederhana tapi elegant di pakai pasti ini sangat cocok untuk istri bapak."
Ksatria yang melihat satu set perhiasan tersebut langsung setuju. Motif perhiasan sangat sederhana namun elegant di pandang mata.
Kediaman Malik.
Ksatria membawa paper bag di tangannya sambil mencari-cari Daysi namun tidak menemukan Daysi. Ria yang baru saja masuk kedalam rumah di tanyai banyak pertanyaan sampai-sampai Ria binggung harus menjawab apa.
"Pak boss anda mencari mbak Daysi, itu dia pak lagi meminum teh di kebun bunga." Sambil menujuk arah kebun bunga.
Ksatria segera menemui sang pujaan hati, dengan hati-hati Daysi berjalan sangat pelan agar Daysi tidak tau kedatangannya yang membawa sebuah kado. Ksatria menujukkan paper bag tepat di depan wajah Daysi sementara Ksatria di belakang Daysi.
Daysi mengrenyit keheranan siapa yang siang-siang membawa sebuah bingkisan dan langsung menatap ke arah belakangnya. "Buat aku?" diiringi senyum termanisnya.
"Iya, bukalah Daysi!" Ksatria segera duduk di samping Daysi.
Daysi terperanga dengan apa yang ia lihat barusan sebuah kotak berukuran lumayan besar. "Ohh... cantiknya," Daysi sangat menyukai hadia ini. "Terimakasih Ksatria, cup." Mencium bibir Ksatria sekilas.
Daysi saat ini tidak bisa berkata apa-apa rasa bahagia karena baru kali ini Ksatria membelikan sesuatu yang sangat berarti untuk Daysi. Setelah selesai memakaian semua perhiasan pada Daysi kini Daysi merasa tidak nyaman mengenakannya.
"Sat..., kenapa aku seperti toko perhiasan saja sih. Aku tidak nyaman mengenakan perhiasan seperti ini, apalagi yang ini nih." Sambil menujukkan gelang yang ia kenakan meskipun gelang berbentuk rantai-rantai kecil namun Daysi tidak nyaman.
"Tapi perhiasan ini sangat cocok kamu kenakan Daysi, aku ingin melihat istriku mengenakan perhiasan. Jadi gunakanlah yah jika perlu satu toko kamu beli aku tidak apa-apa," mencium pipi Daysi beberapa kali.
"Tapi tidak begini juga Sat, masa kakiku di pakaikan gelang kaki. Ini rasanya tidak nyaman, kamu kan tau sendiri jika aku tidak suka mengenakan perhiasan supaya tidak mendatangkan mala petaka untukku, jadi yang di kaki dan pergelangan tangan aku lepas saja." Daysi melepasnya.
Sebenarnya Ksatria kecewa perhiasan yang ia beli tidak di gunakan oleh Daysi tapi mau bagaimana lagi yang di belikan tidak nyaman mengenakannya.
"Ya sudah, asalkan kamu nyaman mengenakannya Daysi itu saja aku sudah cukup dan sangat bahagia sekali. Daysi mana Aak?" Ksatria mencari keberadaan Cheval.
"Main sama Relli di halaman samping tempat yang akan menjadi taman bermain Aak nanti!" melanjutkan minum teh.
__ADS_1
Mala yang sudah tau kepulangan Ksatria langsung menyiapkan teh untuk Ksatria. Namun saat di hantarkan Ksatria menyuruh membuat jus.
"Mala, buatkan saya jus semangka dua gelas ya." Ksatria melonggarkan dasinya.
"Siap pak bos, saya permisi dulu," Mala kembali ke dapur.
"Dua gelas kamu ke hausan apa nyidam sih Sat, tuumben-tumbennya minta dua gelas jus?" Daysi heran sendiri.
"Cuaca sangat panas jika satu gelas saja pasti kurang untuk aku nikmati siang ini!" melepas jas yang ia kenakan dan melipat kengan kemeja yang ia gunakan.
Daysi segera menerima jas yang di berikan oleh Ksatria dan sedikit melipatnya.
Sekitar lima menit jus buah sudah selesai di buat, tidak perlu waktu lama membuatnya karena semua bahan sudah tersedia. Ksatria langsung meminum satu gelas jus sekali minum.
"Hati-hati saat minum," Daysi mengelap bekas jus yang ada di sudut bibir Ksatria.
Sore hari.
Ksatria sore ini sedang berenang, sudah lama sekali ia tidak menyentuh air kolam ini. Terakhir waktu Sacha berkunjung ke kediaman Malik 3 bulan lalu.
Aurellia yang membawa Cheval dalam kereta bayi langsung menujukkan jika sang Papa sedang berenang. Daysi yang menyiapkan makan malam hanya tersenyum melihat Ksatria yang sedang berenang sambil bermain air dengan Cheval.
"Lucunya papa dan anak ini." Daysi menata makanan di ruang makan yang langsung tembus ke arah kolam renang.
Kediaman Malik beberapa terbuat dari kaca, jadi wajar saja jika Daysi bisa mengawasi pergerakan siapa pun di kediaman ini. Setelah selesai menata makanan Daysi menghampiri kakak beradik ini.
"Ayo makan dulu," Daysi memberikan handuk kering pada Ksatria.
Aurellia segera mendorong kereta Cheval dan masuk kedalam rumah.
Ksatria sangat bersyukur memiliki istri seperti Daysi yang serba bisa melakukan pekerjaan rumah.
__ADS_1