
Jejaknya jangan lupa.
***
Selesai membersihkan diri, Sindy dan Cheval merebahkan diri dan menikmati suasana sore di perkebunan bunga.
"Suasananya menenagkan ya sayang." Menatap Sindy yang sedang memegang satu tangkai bunga tanpa duri.
"Iya Aa, tidak terasa ya Aa waktu berjalan begitu cepat. Dulu kita bermain-main di situ dan selalu memotong bunga sesuai yang di ajarkan mama, tapi...," Sindy enggan melanjutkan lagi bicaranya.
"Tapi kenapa sayang." Cheval penasaran keluh kesah apalagi yang Sindy pendam.
"Tapi bohong, aku tidak sedang memikirkan apa-apa lagian untuk apa mengenang masa lalu yang itu, Aa apa aku boleh meminta sesuatu dari Aa?" Sindy mulai bergelayut manja di pangkuan suaminya.
Cheval yang mendapatkan sambutan seperti ini merasa tertantang, apalagi ia laki-laki normal yang setia pada pasangannya.
"Kamu mau apa, mau melakukannya di sini sayang!" jawab Cheval dengan tangan yang sudah menyusup di balik kaos Sindy.
PPLLAAKK.
"Tangan nakal, siapa sih Aa yang mau itu di tempat ini yang ada itu aku mau Aa masak sosis panggang yang banyak saosnya untuk aku, please ya." Memelas seperti kucing yang lucu dan imut dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.
"Tidak mau, tangan Aa yang barusan kamu pukul masih sakit. Jadi Aa tidak mau, huh," memalingkan wajahnya sebelum terhipnotis oleh pesona seribu kecantikan Sindy.
"Ya sudah jika tidak mau, aku pergi saja cari yang lain yang lebih baik lagi dari Aa." Sindy bangkit dari pangkuan suaminya dan benar-benar pergi meninggalkan Cheval yang menyesali ucapannya barusan.
Sindy mencari Mala untuk membuatkan sosis panggang berlumur saos yang banyak dan nikmat.
"Mbak Mala, buatkan sosis panggang ya. Tadi ingin sekali makan tapi Aa tidak mau membuatkannya." Sindy mengeluh pada Mala.
__ADS_1
Mala tersenyum mengiyakan dan segera membuatkan. Alat untuk memanggang sudah di siapkan dengan menyalakan kompor listrik terlebih dahulu, kemudian ia mengambil beberapa sosis untuk di panggang dan di lumuri bumbu rahasia yang hanya Mala saja yang bisa membuatnya.
Sindy melihat Mala yang sedang menyiapkan menu yang ia idam-idamkan dari tadi. Aroma sosis menusuk hidung, ingin sekali langsung di terkam dalam keadaan panas.
"Eemm baunya enak sekali." Cheval yang baru datang membaui istrinya yang sedang asik menikmati sosis yang baru saja keluar dari panggangan.
Sindy mengerutkan kedua alisnya dan menatap malas suami menyebalkan nya tadi. Ia mengacuhkan Cheval dan membiarkan suami hanya menikmati baunya saja, lagian salah sendiri tidak mau membuatkannya.
"Aku mau sayang, hhaakk...." Dengan membuka mulutnya dengan lebar.
"Ini," menyuapi sang suami. Meski ada amarah tetapi hanya sementara saja, lagian bukannya lebih baik amarah di redam dengan keikhlasan dari dalam hati sabar dan sabar itu adalah kunci kekuatan istri untuk menghadapi kenyataan.
Selain menenagkan pikiran dan hati yang terluka, dengan ikhlas pasti semua akan baik-baik saja seperti sebelumnya. Terkadang memang sulit untuk menerima kenyataan yang ada, tapi apalah daya manusia yang hanya menjalankan kehidupan sementara di dunia.
"Sedang memikirkan apa?" tanya Cheval memeluk erat istrinya.
"Jika nanti kita punya anak, terus aku tidak berkerja bagaimana. Apa kamu setuju?" mencari pendapat.
"Kenapa aku merasa ragu dengan ucapan mu itu Aa, sekarang kamu bilang seperti itu tidak apa-apa tapi aku yakin nanti setelah kita memiliki seorang anak pasti lain di mulut. Maaf bukan aku meragukan mu Aa tapi aku hanya takut, kamu berhenti mencintaiku lantaran aku tidak berpenghasilan sendiri dan tidak mandiri."
Menjadi seorang istri itu tidak mudah apalagi sebagai ibu, yang harus di tuntut serba bisa. Selain keadaan, faktor lingkungan juga berpengaruh. Banyak yang mengira menjadi ibu atau istri itu pekerjaan muda lantaran hanya di rumah saja, tetapi dia tidak tau betapa sulitnya menjalani semua peran dan yang lebih parahnya lagi menghadapi sendirian.
"Baiklah Aa, em... oh ya Aa, nanti setelah aku selesai menempuh pendidikan. Apa Aa berencana pindah dari kota ini, bukannya Aa pernah bilang ingin pergi ke Surabaya." Sindy menatap suaminya yang sedari tadi diam dan melamun.
"Eh maaf sayang, kamu bertanya apa barusan. Maaf Aa tidak mendengarnya," sedikit kebingungan.
"Tidak apa-apa Aa, jadi keputusan Aa bagaimana jadi ke sana ke Surabaya nya." Sindy mengulangi pertanyaannya seraya tersenyum.
"Kita pikirkan nanti saja sayang, lagian masih lama juga dan belum tentu jadi kesananya," Cheval melepas pelukannya. "Apa sudah selesai kamu makannya, sepertinya dari tadi aku melihat kamu tidak berhenti makan itu sosis, berapa banyak sih mbak Mala membuatkannya?"
__ADS_1
"Tidak banyak Aa, cuma 6 buah besar sosisnya!" memakan suapan terakhir.
"Baiklah istriku yang cantik yang suka makan, Aa ke kamar dulu ya mau mengerjakan pekerjaan Aa yang ada di hotel." Pamitnya dengan mencium kening istrinya.
"Iya Aa, semangat suami tampanku," memberikan ciuman jauh.
Sindy menatap punggung suaminya itu dari jauh, sampai detik ini benar-benar tidak ada tanda-tanda kehamilannya. Padahal ia sudah tidak mengkonsumsi obat tersebut.
"Berdoa saja dulu, jika rejekinya pasti bisa memiliki momongan sendiri. Terkadang sewaktu belanja di tukang sayur dekat rumah susun itu, iri pasti iya. Mereka merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh bahagia." Sindy bergegas pergi dari tempat tersebut dan menuju kamarnya.
Di dapur.
Daysi yang baru saja selesai beryoga mengambil air putih yang di dalamnya terdapat potongan lemon dan beberapa daun mint untuk menyegarkan minuman tersebut.
"Segarnya." Seperti iklan di tv saja ekspresinya.
Ksatria yang baru saja selesai berolah raga dengan peralatan gym barunya sangat terlihat puas, tidak seperti biasanya wajah lusuh seperti pakaian yang terlipat-lipat, yang lipatannya melebihi kertas yang di buat pesawat terbang.
"Minum apa Ma?" merebut minuman sang istri, sampai-sampai Daysi tersedak saat minum.
"Uhuk... uhuk..., Papa. Buat aku terkejut saja!" memukul perut Ksatria.
Ksatria mengusap-usap perutnya yang terasa keram lantaran tadi sit-up. Tenaga yang ia keluarkan sangat besar karena ingin mengencangkan otot-otot perut, biar terlihat six pack tapi pada kenyataanya one pack.
"Bagaimana perutnya sudah ada enam bungkus atau satu bungkus besar." Daysi bertanya di selingi tawa membahana.
"Meledek ya Ma, walaupun perutku jauh dari kata six pack setidaknya masih ada one pack, ini dia," menunjukkan perut ratanya.
"Kenapa tidak melakukan latihan semua otot sih Pa, biar otot perut terbentuk six pack?" Daysi menyarankan hal tersebut.
__ADS_1
"Buat apa, Papa sudah tua dan tidak menjual wajah lagi seperti dulu. Buat apa membentuk otot perut jadi enam bagian, lagian satu saja sudah memuaskan pandagan mu!" Ksatria masih saja membuka kaos singlet nya.