
Mbok Yati mendekat Daysi dan langsung meledek Daysi.
"Nak Daysi sudah pantas menimang bayi. Apa nak Daysi dan aden Ksatria sudah berencana memiliki momongan sendiri?" tanya mbok Yati yang berhasil membuat semburat merah di wajah Daysi.
"Apaan sih mbok, belum. Lagian pak Ksatria mana mau denganku. Apalagi aku yang berpenampilan seperti ini, sangat mustahil mbok!" elak Daysi saat di tanyai mbok Yati.
"Yang mbok lihat sepertinya tidak seperti itu nak Daysi, dari sorot mata aden sepertinya aden ada rasa dengan nak Daysi." Mbok Yati menimpali Daysi dengan perkataan sedemikian rupa agar Daysi sadar jika ia mulai mencintai Ksatria namun malu mengugkapkannya.
"Sudahlah mbok Daysi, mau fokus menata masa depan yang baik tanpa paksaan sedikit pun," Daysi segera menatap ke arah lain. Ia terkejut dengan Ksatria yang berdiri mematung tidak jauh dari dia berdiri.
"Jadi sedari tadi Ksatria disitu?" tanya Daysi dalam hati.
Ksatria tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kemudian berjalan mendekati Daysi, semua orang segera pergi saat Ksatria mendekati Daysi, membiarkan mereka menghabiskan waktunya berdua harap-harap biar cinta di antara keduanya tumbuh bermekaran yang tak akan pernah layu meski terkena badai.
"Memang benar kata mbok Yati, aku ada sedikit rasa sama kamu." Ksatria membisikkan ucapannya di telinga Daysi. Daysi begidik geli dengan ucapan Ksatria barusan. Karena hembusan nafas Ksatria mengenai lehernya.
Ksatria duduk bersantai setelah membisikkan kalimat tersebut, rasanya saat ini hatinya berbunga-bunga setidaknya ada perasaan lega dalam hatinya, meski hanya dengan mengungkapkan kata-kata yang belum romatis sedikit untuk di dengar.
"Apa kamu seperti itu ketika merayu para kekasihmu?" Daysi memulai perdebatan lagi.
"Tidak, bahkan aku tidak pernah merayu mereka sedikitpun!" Ksatria menatap langit yang cerah.
"Benarkah, rasanya mustahil jika seorang Ksatria Malik yang di kagumi kalangan wanita tidak pernah mengeluarkan rayuan mautnya untuk menjerat wanita." Ledek Daysi dengan terang-terangan.
"Aku bicara sejujurnya bahkan dengan ibunya Cheval aku tidak pernah merayunya, sampai-sampai dia meninggalkanku dulu," Ksatria menatap kerata dorong milik Cheval.
"Jadi Cheval bayinya mantan kamu. Orang yang membuatmu jadi play boy selama ini?" Daysi sedikit cemberut dengan sikap Ksatria yang tidak pernah jujur selama ini. Ksatria menggagukkan kepalanya.
Jika bukan Aurel yang bercerita panjang lebar mungkin sampa saat ini ia tidak tau seperti apa sosok Ksatria yang satu ini.
__ADS_1
"Tapi aku sudah tidak seplay boy dulu. Meskipun aku berganti-ganti pasangan aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali." Ksatria mengungkapkan dirinya yang sesungguhnya.
Daysi menatap tajam sosok Ksatria Malik yang ada di hadapannya mencari jawaban apakah benar pria setampan dan semapan Ksatria Malik tidak pernah menyentuh wanita selama ini. Ksatria yang ditatap Daysi seperti seekor singa betina yang lapar langsung menjitak dahi Daysi.
TTAAKKK...
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku suamimu tidak pernah bahkan belum pernah berkelakuan buruk dalam sejarah hidup selama 30 tahun ini. Jadi kamu harus bangga memiliki suami yang murni seperti aku ini." Ksatria memancarkan aura kepedeannya yang besar.
"Hhaahh..., benarkah? rasanya sangat mustahil jika kamu belum bersentuhan dengan wanita, apa tidak ada debaran dalam dada seperti dag dig dug begitu?" Daysi memakan camilan yang di sediakan oleh Mala.
"Siapa bilang tidak ada, bahkan saat ini jantungku mau copot dari tempatnya, apalagi melihatnya tersenyum dan banyak tanya rasanya gemas sekali melihatnya. Andai dia juga memiliki perasaan sepertiku pasti bahagia sekali rasannya!" Ksatria terdiam sejenak setelah berucap.
"Ayo kita kencan dan mulai hubungan ini dengan serius?" sambung ucapan Ksatria.
Daysi terkejut dengan ucapan Ksatria, barusan ia mengajaknya berkencan, apa tidak salah pendengarannya saat ini.
"Iya aku sadar bahkan sangat sadar, bagaimana dengan penawaranku barusan apa kamu mau berkencan denganku mulai hari ini. Jika kamu tidak menjawab berarti kamu setuju dengan ucapanku tadi." Ksatria menarik tangan Daysi.
"Cheval gimana?" Daysi menatap kereta dorong Cheval.
"RIA... tolong jaga Cheval." Teriak Ksatria sambil memegang erat tangan Daysi.
Semua orang menatap Ksatria dan Daysi dengan bahagia, akhirnya ada tanda terang-terangan jika Ksatria dan Daysi saling ada perasaan satu sama lain.
Didalam mobil.
Ksatria Malik meminta Slamet untuk tidak menyopirinya hari ini. Karena ia hari ini ingin menghabiskan waktu berduanya dengan Daysi seorang. Daysi hanya tersipu malu bagaimana tidak baru kali ini ia diajak pergi oleh Ksatria.
Meskipun dulu ia sering pergi dengan Hugo, namun kejadian itu bukan dalam ada ikatan. Melainkan hanya teman biasa jadi tidak ada rasa debaran di dada seperti saat ini.
__ADS_1
"Jantungku berdegup kencang sekali, semoga Ksatria tidak mendengarnya." Gumam Daysi dalam hati dengan menutupi ke gugubannya.
Ksatria yang melihat ketidak nyamanan Daysi menatapnya sekilas. "Kenapa, apa kamu tidak nyaman satu mobil denganku atau ada masalah lain Daysi?" Ksatria membelokkan arah mobilnya ke tempat wisata.
"Tidak... ttii... dak... apa-apa!" elak Daysi berusaha tenang meskipun mengucapkannya dengan gerogi.
Ksatria tersenyum melihat Daysi yang gelisah sedari tadi dan ada sedikit ke guguban di raut wajah Daysi.
"Kita sudah sampai ayo turun." Ksatria mengajak Daysi turun bahkan membukakan pintu mobil untuk Daysi.
Daysi yang di perlakukan istimewa seperti ini hanya tersipu malu. Pengalaman pertama dalam hidupnya di perlakukan seperti ini apalagi oleh seorang Ksatria Malik yang di kagumi banyak wanita di luaran sana.
Ksatria sengaja mengajak Daysi di pinggir pantai untuk sambil menikmati deburan ombak, cukup sederhana dan pas untuk orang yang memulai berkencan seperti Ksatria dan Daysi saat ini. Daysi sangat menikmati udara yang sejuk masuk kedalam pori-pori tubuhnya ini.
"Apa kita hanya sebentar berada disini Ksatria?" Daysi menatap Ksatria yang masih melihat ombak yang menggulung.
"Terserah kamu mau sampai jam berapa, ini kencan pertama kita. Lagian aku ingin membuka lembaran baru denganmu saat ini dan memperbaiki pernikahan kita, agar lebih baik kedepannya!" Ksatria berdiri dan memesan sesuatu.
Daysi menudukkan kepala dan tersenyum. "Kencan..." ucap lirih Daysi. "Ternyata tidak buruk berkencan dengannya," sambung ucapan Daysi.
Ksatria menyentuh dagu Daysi untuk melihat ekspresi Daysi saat ini.
"Apa kamu tidak bahagia pergi denganku?" Ksatria duduk di depan Daysi. Daysi menganggukan kepalanya, dengan segera Ksatria melepas tangan yang ada di dagu Daysi.
"Jadi benar kamu tidak bahagia, maafkan aku yang memaksamu kesini Daysi. Setidaknya untuk hari ini tolong berpura-puralah bahagia untukku Daysi." Ksatria pasrah jika Daysi menolak untuk di ajak berhubungan yang lebih baik.
"Aku bahagia Ksatria, aku juga tidak akan berpura-pura jika itu menyangkut kehidupan tentang cinta. Aku akan mencobannya Ksatria, ini kencan pertama dalam hidupku. Aku juga binggung harus mengekspresikan seperti apa, aku beterus terang jika aku tidak memiliki pengalaman berkencan," Daysi tersenyum.
Semburat kebahagiaan terpancar di wajah Ksatria Malik.
__ADS_1