ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
235. Ternyata


__ADS_3

Pagi hari.


"Selamat pagi putri cantik." Sapa Putra yang sudah berada di depan rumah Dhela.


"Basi, lebai banget tau gak," Dhela memanaskan motor kesayangannya itu tanpa memperdulikan Putra yang sedari tadi mencari perhatian Dhela.


"Aku bawakan bekal sarapan pagi nih." Sambil menunjukkan rantang yang sedari tadi ia bawa.


"Gak mau sudah makan dan kenyang," Dhela mengenakan helm dan berlalu pergi meninggalkan Putra sendirian.


Dhela yang sudah melajukan motornya lebih dulu segera mengusap air matanya, rasanya pesan singkat tadi malam membuat hatinya teriris dan menjadi berkeping-keping.


"Apa kamu mau menikah dengan Rini, Putra. Tadi malam Rini memberi tau jika kalian sudah bertunangan. Tapi kenapa kamu seolah memberiku harapan besar selama ini." Dhela segera melajukan motornya ke restoran.


Hari ini Dhela tidak bersemangat seperti biasanya, tapi untung saja ia tidak salah mencatat pesanan makanan dan minuman para pembeli, jika tidak pasti hari ini akan ada surat peringatan dari atasan.


Putra yang satu pekerjaan dengan Dhela kebingungan dengan sikap dinginnya ini, ada apa dengan Dhela hari ini sikapnya aneh dan asing.


"Kenapa Dhela sikapnya dingin dan asing sekali hari ini." Batin Putra juga ikutan sedih.


***


Momo sudah rapi dengan pakaiannya ia ingin pergi ke restoran tempat Dhela berkerja selama ini, seperti apa tempatnya. Sepertinya bagus dan menarik, dengan rayuan maut Momo memohon dengan sikap yang paling imut agar Dhela mau memberi tau di mana tempatnya berkerja.


"Hati-hati di jalan dan di sana sayang, maaf mas tidak bisa menghantar ada klien yang mendadak memajukan pertemuan." Lais masih memeluk sang istri dengan posesif.


"Tidak apa-apa mas, cepat berangkat dan juga hati-hati sayang," mencium punggung tangan Lais.


"Baiklah sayangku." Suara kecupan sangat membekas di telinga Momo. Momo ada rasa tidak rela di tinggal sang suami seperti ada yang akan hilang, firasatnya buruk.


"Ya Allah lindungilah suami hamba ini ya Allah, semoga ia dalam keadaan baik-baik saja di bulan yang suci ini yang penuh berkah ini." Berdoa untuk keselamatan sang suami.


Momo yang sedang di jalan merasa gelisah sekali, untung saja ia menggunakan sopir yang ada di rumah untuk sampai tujuan di tempat Dhela berkerja.


Tut...


Tut....

__ADS_1


Momo mulai panik saat sambungan telpon Lais tidak berdering dan hanya memanggil saja.


"Pasti sinyal lagi buruk ini, coba aku telpon lagi deh." Tapi tetap saja hanya suara memanggil.


"Coba aku telpon Arman." Momo mencoba telpon Arman tapi sama tidak bisa di hubungi.


Momo menangis di dalam mobil. Sang sopir kebingungan harus bagaimana, tidak ada cara lain. Ia dengan terpaksa menghubungi bos besar Ksatria dan oleh Ksatria di suruh datang langsung ke rumah.


Kediaman Malik.


Ksatria dan Daysi menenagkan Momo agar tidak terlalu hawatir pada sang suami.


"Momo, sabar mungkin sinyal sedang tidak mendukung. Ayo berdoa bersama." Daysi mengingatkan sang putri.


Momo mengangguk kan kepalanya.


Rasanya memang seperti orang kehilangan saja, bahkan sudah lebih dari 2 jam berlalu masih tidak ada kabar sama sekali dari Lais maupun Arman, di mana mereka berada.


Ksatria diam-diam menyuruh seseorang untuk menyelidiki menantunya itu, dimana saat ini. Namun sudah satu jam belum ada informasi apa-apa.


"Ma... bagaimana ini, sudah 3 jam mas Lais tidak ada kabar ma." Momo mulai panik lagi dan untung saja ia tidak pingsan.


"Maaf permisi, apa benar ini menantu keluarga Malik." Seorang polisi muda menunjukkan selembar foto pada Ksatria.


Ksatria menutup mulutnya, ini pasti mimpi dan candaan. Tidak mungkin jika suami putrinya kecelakaan dan lokasi kejadian masih di selidiki pihak kepolisian.


Momo penasaran dan langsung melihat foto korban, betapa terkejutnya ia melihat sang suami bersimbah darah di bagian kepala dan tangannya.


"TIDAK... MAS LAIS...." Teriak Momo kemudian ia pingsan di tempat.


1 minggu kemudian.


Momo masih melamun di taman rumahnya, rasanya seperti mimpi yang berlarut-larut dalam benaknya. Ingin rasanya bangun dan melihat senyum merekah dari wajah suaminya.


"Momo." Seseorang memberikan bunga mawar tanpa duri pada Momo. Momo tau betul siapa yang memberikan bunga itu, siapa lagi jika bukan Lais suaminya.


Flash back 1 minggu yang lalu.

__ADS_1


Momo yang pingsan langsung di bawa ke rumah sakit. Hampir saja ia tadi jatuh ke lantai untung saja Ksatria sigap menangkap tubuh putrinya itu, jika tidak pasti terjadi hal yang tidak di inginkan.


Saat berada di rumah sakit, Momo terus saja memanggil nama suaminya itu tanpa henti. Sedangkan Lais yang di rawat lantaran luka ringan hanya tersenyum saat mengingat kejadian ini yang mengakibatkan orang satu rumah panik dan heboh bahkan istrinya sampai histeris sekali.


"Lais kamu tega sekali ya ngeprank pada kami semua." Tegas Ksatria menatap tajam menantunya Lais.


Lais bingung sendiri, "ngeprank apanya sih pa, aku saja tidak tau jika polisi itu sampai heboh. Padahal aku tidak apa-apa dan kebetulan orang yang celaka itu hampir mirip aku," Lais tidak mau jadi tersangka kehebohan ini.


"Dasar muka pasaran. Intinya sama saja, jelaskan sendiri sana pada istrimu nanti." Ketus Ksatria sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


Lais senantiasa menanti sang istri bangun yang terus saja mengigau nama suaminya untuk kembali pulang ke pelukannya, Lais senang sekali.


"Sayang bangun." Lais mencoba menyadarkan sang istri. Momo pelan-pelan membuka matanya, ia terkejut bukan main sang suami masih hidup dan baik-baik saja.


Tapi kemudian ia histeris sejadi-jadinya.


"Aku mohon mas kembali, jangan meninggalkan kami mas. Hu... hu... hu...." Momo mencengkram kuat kerah baju Lais.


"Ini aku sayang, sadarlah suamimu masih hidup dan sehat," Lais menyentuh pipi Momo.


Momo yang sadar dan tidak menghayal kini terharu. Terus kemudian ia menatap sang suami.


"Kamu berbohong padaku mas?" Mood nya berubah seketika jadi dingin.


"Eh... aku tidak berbohong sayang, polisi itu yang tiba-tiba salah sasaran. Jelas-jelas aku di belakang mobil orang yang kecelakaan itu!" Lais menciumi punggung tangan Momo.


Flash back selesai.


"Apa kamu tidak suka dengan bunganya sayang?" Lais menatap heran sang istri.


"Suka, tapi kenapa layu. Seperti bunga dari beberapa hari yang lalu saja!" Jawab Momo mengomel.


"Em... itu, sebenarnya mau aku berikan saat kamu pingsan di rumah sakit itu, tapi aku lupa. Maaf ya." Lais beralasan.


"Alasan," Momo tetap mengambil dan menciumi bunga tersebut.


Lais yang sudah terpojok kini memeluk sang istri tapi tentu saja dengan hati-hati, bulan ini harus mencegah hawa nafsu yang akan membatalkan puasa wajib.

__ADS_1


***


Up setiap hari, selamat berpuasa bagi yang menjalankan. Terimakasih sudah berkenan membaca karyaku.


__ADS_2