
Di sekolah.
Tidak banyak kegiatan untuk hari ini hanya beberapa siswa yang sedang berlalu lalang mungkin ke kantin atau ke perpustakaan. Sindy yang sedang mengerjakan tugas tidak memperdulikan celoteh beberapa siswa atau siswi satu kelas nya. Karena pendiam dan sering menyendiri menyebab kan Sindy tidak punya teman.
"Hay... Sindy, aku titip ini ya buat Cheval. Jangan lupa kasih ke dia kan dia Aa kamu, please." Sambil memelas.
Sindy hanya menatap perempuan tersebut dan tidak membaca siapa nama nya. Sindy hanya mengangguk kan kepala dan memasuk kan bungkusan tersebut ke dalam tas.
"Padahal orang nya tidak ada masih aja penggemar nya banyak." Menutup buku nya dan segera pergi ke kantin.
Hari ini Momo sudah masuk sekolah lagi, sesampai nya di kantin Sindy masih bersikap biasa-biasa saja sampai pandangan nya jatuh pada dua orang yang teramat ia kenal dalam hidup nya siapa lagi kalau buka Cheval dan Momo yang berjalan bersama bahkan Momo tidak sungkan-sungkan merangkul lengan Cheval.
Sindy meremas sendok yang ia pegang dan segera meletak kan nya, senetral mungkin Sindy menahan amarah nya dan langsung membayar makanan nya.
"Bu ini uang nya, makanan nya enak bu seperti biasa." Sindy berlalu pergi dan menatap sang suami.
Cheval yang di tatap tajam Sindy menelan saliva nya dengan kasar dan langsung melepas pelukan Momo di lengan nya. Cheval mencari keberadaan Sindy namun sial ia tidak menemukan nya.
"Sindy kemana sih kamu." Melihat sekeliling ruangan yang ia lalui namun hasil nya nihil, Sindy pergi dengan cepat.
Perpustakaan SMAN 1 KEBANGSAAN.
Sindy diam di salah satu kursi perpustakaan ini dan membaca novel beromansa cinta dan berniat meminjamnya. Setelah meminjam Sindy berjalan namun belum sempat ia keluar dari perpustakaan tangan besar mencekal pergelangan nya.
"Aa... lepas," menatap tajam wajah Cheval.
"Enggak, ayo ikut aku," tanpa menunggu persetujuan dari Sindy langsung menarik nya.
Sampailah di balkon paling atas di sekolah ini. Sindy ketakutan dengan raut wajah Cheval yang tegas.
"Aa... minta maaf," seketika wajah Cheval lembut dan manis sekali.
__ADS_1
Sindy kebinggungan dengan ekpresi yang di tunjuk kan oleh Cheval. Genggaman erat tangan Cheval membuat jantung nya berdegup kencang sekali.
"Bagaimana, apa Aa di maafkan permohonan ini?"
"Aku sedih Aa, kamu bilang maaf kemudian dengan nya lagi. Wanita mana yang tidak cemburu jika suami nya dengan adik sepupu istri nya, semua di dunia ini pasti tidak rela dan terluka hati nya. Aa apa kamu tau kelemahan wanita." Sindy menatap wajah Cheval.
"Cinta, apa benar,"
"Ya... itu dia, seorang wanita jika terus-terusan di lukai oleh orang yang di cintai ia bisa berhenti di situ dan tidak mau maju lagi untuk berjuang. Jadi Aa pahamkan yang aku maksud barusan." Berucap degan tegas kemudian ia menatap pemandangan dari atas balon sekolah ini.
Cheval yang mendengar penjelasan Sindy langsung memeluk nya, ia tidak peduli jika ada orang yang melihat nya saat ini. Sindy berusaha memberontak supaya dia mau melepas pelukan nya saat ini.
"Aku sangat... sangat mencintaimu dengan tulus sayang." Mengecup singkat pipi Sindy.
Sindy yang lemah akan cinta mudah memaafkan nya selagi itu tidak terlewat batas perbuatan nya.
Mall Terbaik.
"Sindy...," sapa seseorang yang tak lain adalah Lais teman SD nya dulu.
"Lais, kesini juga dengan siapa?" tanya Sindy.
"Sendirian aja, kalau kamu." Lais menatap semua ruangan restoran ini.
"Tuh sama Aa," menujuk Cheval yang sedang memesan makanan.
"Ohh... ya sudah aku pergi dulu ya dari pada di terkam singa jantan." Melambaikan tangan nya.
Cheval yang sedari tadi melihat sudah berkobar-kobar hati nya melihat sang istri berbicara dengan laki-laki lain. Ternyata Cheval saat ini kena karma secara instan gara-gara membuat hati Sindy istri nya tersakiti.
Memang setelah kematian bunda Aurellia karena bermasalah dengan ginjal nya, membuat Cheval sering menghabiskan waktu dengan Momo untuk menenagkan perasaan nya tetapi Cheval juga tidak membuka peluang untuk orang lain masuk ke dalam hati nya, hanya Sindy seorang yang boleh masuk.
__ADS_1
"Sabar Cheval sabar oke, yang penting tidak ada kontak fisik antara istrimu dan dia bocah curut. Ganteng sih tapi masih kalah jauh denganku." Otak kesombongan mulai muncul.
Setelah duduk di depan Sindy, Cheval menatap wajah Sindy yang sudah kembali ceria seperti kemarin-kemarin saat ia tidak sedang cemburu.
"Sayang." Panggil dengan lirih.
"Ada apa Aa, aku lapar jika ada pertanyaan nanti ya setelah makan aku jawab. Untuk saat ini di jeda dulu ya perutku tidak bisa di ajak iklan dulu," sambil mengunyah.
"Ppufftt...."
"Kenapa ia terlihat sangat menggemas kan saat makan, bahkan pipi nya tambah cubby saja ingin sekali aku terkam di kamar tidur. Haduh sabar-sabar jangan gegabah karena nafsu sesaat." Gumam dalam hati dan menenagkan sesuatu yang mulai terbangun.
Sindy yang melihat kelakuan aneh Cheval membiarkan nya pasti saat ini otak mesum nya sedang menari-nari.
"Aa tidak makan?" Sindy bertanya dengan tiba-tiba.
"Eehh... apa, maaf tidak konsen Sindy. Kamu bilang apa barusan." Cheval cengegesan.
Sindy hanya geleng-geleng kepala ia yakin jika suami nya memang sedang memikirkan hal-hal yang selayak nya suami istri lakukan. Sindy tidak berani bertanya lebih jika nanti sudah waktu nya pasti akan terjadi juga. Sindy yang baru sadar ia memikirkan hal-hal mesum juga.
"Aa aku sudah selesai jika Aa masih belum selesai aku tinggal ke toilet dulu." Sindy berlalu pergi.
Cheval bernafas lega setelah kepergian Sindy setidak nya adik yang meronta-ronta sedikit tenang jika Sindy pergi dari hadapan nya.
"Untung selamat, tarik nafas... buang... tarik lagi... buang, oke sekarang sudah tenang jadi bisa lanjut makan."
Cheval segera menikmati makanan tersebut.
***
Mohon dukungan nya ya teman-teman, terimakasih sudah berkenan mampir.
__ADS_1
Dukungan kalian penyemangatku, jangan lupa jaga kesehatan.