ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
54 Rumah Sakit


__ADS_3

Keesokan harinya.


Daysi yang sudah di pindahkan ke ruang rawat kini hanya menatap jarum infus yang berada di tangannya. Dari semalam Daysi sudah terbangun karena operasi kecil di dahinya. Mungkin akan ada bekas jahitan di dahinya untung Daysi memiliki rambut yang berponi jadi ia tidak terlalu hawatir untuk menutupi lukanya ini.


Ksatria sangat bahagia bahkan ia berkali-kali menghujani ciuman lembut pada wajah Daysi saat ia mulai sadar tadi malam. Karena bahagia sampai pagi Ksatria tidak bisa tidur. Ksatria memberikan bubur untuk Daysi makan pagi ini walaupun ada rasa sedikit hambar Daysi tetap menelannya karena perutnya berdemo sangat kencang tadi sewaktu Ksatria di kamar mandi.


"Cepat sebuh oke dan aku minta maaf Daysi, andai aku tidak berpura-pura marah padamu mungkin kamu tidak akan mengalami hal ini. Sampai-sampai ada luka ini." Sambil menyentuh Dahi Daysi yang di perban.


"Sudah..., bukannya dari semalam sudah mengucapkannya. Kenapa kamu ulangi lagi kan aku lelah menjawabnya jika mengulang lagi tanpa henti, ini sudah kali 10 kamu meminta maaf Ksatria," Daysi minum air putih.


"Iya..., terimakasih Daysi." Ksatria tetap berusaha tersenyum di atas penyesalannya saat ini. Andai waktu bisa di putar ia tidak akan membiarkan ini terjadi pada Daysi.


3 hari berlalu begitu cepat.


Daysi sudah kembali ke rumah setelah benar-benar sembuh dari cideranya. Kini lukannya sudah mengering dan Daysi sudah melepas penutup luka saat mandi namun ia membalut lukannya lagi dengan kapas khusus luka jahitan tersebut agar tidak terkena debu sambil menunggu Dokter mengijinkan jika lukannya tidak akan terbuka.


Hari ini Dokter Ano berkunjung ke kediaman keluarga Malik untuk memeriksa keadaan Daysi saat ini. Saat akan memeriksa luka Daysi dengan cepat Ksatria memegang lengan Ano untuk berhenti saat ini juga.


"Kenapa, aku mau memeriksa pasienku saat ini. Apa ada masalah?" Ano menatap Ksatria.


"Hati-hati aku tidak mau Daysi terluka lagi gara-gara kamu tidak hati-hati memeriksa Daysi istriku!" duduk di dekat Daysi. Daysi tersenyum saat melihat Ksatria yang begitu amat hawatir pada dirinya.


Setelah di periksa Ano memberikan obat agar luka Daysi cepat mengering dengan baik.


"Lusa aku akan kembali dan memeriksa dahi istrimu. Jaga dia baik-baik jangan sampai terulang lagi kasihan wanita secantik Daysi terluka." Ano melirik wajah Daysi. Ksatria tidak tinggal diam ia langsung melemparkan sendal yang ia kenakan dan berhasil mengenai wajah Ano.


Ano mengusap wajahnya yang terkena lemparan sendal dari Ksatria. "Kau kasar sekali, Daysi jangan mau sama dia." Ano segera berlari saat Ksatria mengangkat sendal satunya lagi.


Daysi tertawa saat melihat sepasang sahabat yang sering melemparkan canda satu sama lain. Aurellia beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaannya. Karena coffe shop yang ia bangun sedang ramai-ramainya yang membuatnya harus turun tangan sendiri karena karyawannya semua kualahan dengan melejitnya pembeli di coffe shop nya.

__ADS_1


Daysi segera berdiri dari sofa yang ia duduki barusan, namun saat akan pergi pergelangan tangannya di pegang erat oleh Ksatria.


"Ada apa Sat, aku haus mau minum." Berusaha melepas cengkraman tangan Ksatria. Ksatria memelas agar Daysi mengajaknya, dengan mengeluarkan nafas beratnya Daysi mengajak Ksatria yang menatap tubuhnya.


"Ayo... kalau begitu jika ingin ikut aku kira kamu akan mengambilkan air minum untukku," berjalan dengan bergandengan tangan.


CCUUPP..., Ksatria mencium pipi Daysi saat dia mengambil air putih. Daysi tersipu malu dengan kelakuan Ksatria barusan, dalam ingatan Daysi ia ingat betul permintaan Ksatria padanya, namun karena ini masih pagi Daysi pura-pura tidak mengingat permintasn Ksatria waktu itu.


"Daysi, apa kamu melupakan sesuatu?" Ksatria duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.


"Melupakan sesuatu, maksudnya apa?" Daysi menghabiskan air minum yang ia pegang, "perasaan aku tidak membuat janji apa-apa!"


Daysi berjalan cepat namun Ksatria dengan kuat menahan lengan Daysi dan segera menariknya dan terjatuh dalam pelukannya dan Ksatria langsung meraih dagu Daysi dan menatap secara intens wajah cantik Daysi yang bersemu kemerahan.


"Kamu sangat menggoda sayang," bisiknya di telinga Daysi. Wajah Daysi tambah memerah karena bisikan Ksatria barusan.


"Aku tidak menggodamu, jadi lepaskan aku. Aku mau menengok Aak apa dia sudah minum susu atau belum." Berusaha lepas dari pelukan Ksatria.


DDRREETT... DDRREETT..., suara deringan telpon menggangu Ksatria yang sedang membayangkan susuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


"Iisshhh... menggangu orang yang sedang menghayal untuk nanti malam." Ksatria menatap siapa yang menelponnya ternyata Okta sang manager. "Hallo ada apa?" Ksatria berucap dengan dingin.


"Begini pak...." Okta menjelaskan jika ada orang yang mau mengakhiri hidupnya di dalam hotelnya tersebut.


Ksatria segera menyambar kunci mobilnya dan langsung menuju garasi mobil dan masuk ke dalam. Daysi yang melihat kecemasan dari wajah Ksatria berpikir jika ada masalah mungkin di hotel tetapi kenapa tidak meminta izin saat akan berangkat.


Mbok Yati yang melihat guratan kekecewaan pada wajah Daysi langsung saja menenangkan perasaan Daysi dan menepuk pundak Daysi beberapa kali.


Hotel Royal Malik.

__ADS_1


Ksatria yang baru sampai langsung saja melihat ke arah lantai 4 hotelnya ada seorang laki-laki yang ingin mengakhiri hidupnya, sebenarnya orang-orang berusaha menenagkannya dengan iming-iming ini itu. Namun laki-laki itu tetap saja bersih kukuh ingin mengakhiri hidupnya.


Ksatria menyuruh bawahannya untuk menyiapkan balon besar untuk berjaga-jaga di bawah, Ksatria berlari secepat kilat untuk menolong laki-laki tersebut.


"Heyy... tolong hentikan kenapa kamu ingin mengakhiri hidupmu, aku lihat kamu masih muda. Kenapa kamu ingin berbuat seperti ini, apa kamu tidak takut dengan dosa yang akan kamu terima nanti. Jadi saya mohon urungkan niatan kamu untuk itu." Ksatria berusaha mendekati laki-laki tersebut.


"Stop... berhenti disitu biarkan aku mati buat apa aku hidup jika wanita yang aku cintai memilih laki-laki lain, buat apa. Padahal aku sangat tulus mencintainnya," laki-laki muda tersebut mengagkat satu kakinya untuk berdiri di atas pembatas balkon.


"Apa kamu bodoh, kamu itu sangat mempesona dan juga tampan. Dengan kamu seperti itu memiliki potensi gunakan potensimu itu dan buat dia menyesal seumur hidupnya." Ksatria menyelidiki laki-laki tersebut ia adalah seorang arsitek muda baru lulus beberapa bulan lalu dan mendapat predikat terbaik di kampusnya.


"Buat apa mempesona dan tampan jika tidak benar-benar di cintai wanita?" berdiri di pinggiran pembatas.


"Haduh... kamu ini. Sini aku kasih tau ya, buat dia menyesal bodoh, buat apa kamu dapat predikat baik di kampus sama pekerjaan bagus di perusahaan jika hanya gara-gara wanita yang tidak menghargaimu pergi meninggalkanmu demi laki-laki lain. Coba pikirkan jika kamu mengakhiri hidup apa dia sedih, justru dia bahagia dengan kekasih barunya." Sambil menarik tangan laki-laki muda itu agar ia mengurungkan niatnya, setelah turun tiba-tiba Ksatria menampar wajah laki-laki muda itu.


PPLLAAKK


"Aww... kenapa anda menamparku, sakit tau." Memegang pipinya yang di tampar oleh Ksatria Malik.


"Hitung-hitung menyadarkanmu, ayo turun dan aku mau bicara sama kamu di ruangan pribadiku, Okta hantarkan dia ke ruanganku aku mau ke toilet sebentar."


Okta menganggukan kepalanya dan segera mengantar pemuda tersebut ke ruangan Ksatria yang berada di lantai paling atas.


Ksatria yang berada di toilet ia menatap wajahnya di pantulan kaca, dulu ia sempat hampir putus asa saat Arabelle menolak dan meninggalkannya. Untungnya ia ingat jika dirinya punya seorang adik yang membutuhkannya karena waktu itu Aurellia mulai mengeluhkan sakitnya.


***


Terimakasih teman-teman dan kakak-kakak yang senantiasa mampir ke karyaku. Author sangat senang atas apresiasi teman-teman dan kakak-kakak juga. Author hanya bisa mengucapkan banyak-banyak terimakasih.


Love you semua.

__ADS_1


Jangan lupa jaga kesehatan ya.


__ADS_2