
Lais hanya tersenyum saat mengingat ayah palsunya itu, dulu sang ayah baik pada dirinya saat dirinya dan almarhum sang ibu masih hidup dan sehat. Dia begitu baik setelah jatuh miskin sang ayah palsu baru mengeluarkan sifat aslinya.
"Kalau kamu bisa cari orang yang sudah membunuh ayahmu, terakhir yang kakek tau dia bertemu seseorang di Indonesia. Tetapi kakek tidak yakin jika pelakunya Marc William karena kakek tidak memiliki bukti apapun." Erdana Khan mengisyaratkan tangannya untuk menyiapkan makanan, untuk kedatangan sang cucu tersayangnya yang sudah 18 tahun lebih baru bertemu.
"???" Siapa itu menjadi pertanyaan yang menyelimuti pikiran Lais.
Memang ia sedikit menaruh curiga kepada Marc William bahkan sampai detik ini. Jika di ingat dulu sewaktu masih bersama memang gerak gerik sang ayah memang aneh jika sang mama punya uang lebih selalu baik dan perhatian jika tidak, pasti sang mama akan di tinggalkan. Pernah sekali Lais mendengar jika aset rumah dan mobil jika tidak di atas namakan dengan nama dirinya maka kehidupan putranya tidak akan pernah damai.
"Hhah... kenapa mama bisa mengenal laki-laki seperti dia, yang bisanya hanya menyusahkan mama saja bahkan sampai mama jatuh sakit dan meninggal. Yang lebih parahnya lagi dia selalu mengancam mama." Lais menghela nafas panjang.
Sepertinya kisah ini akan panjang dan semakin rumit kedepannya. Apakah sanggup di usia mudanya harus menyusut tuntas misteri orang yang membunuh ayah kandungnya, sementara sang mama sudah tiada lama sekali.
"Nak, sedang memikirkan apa?" tanya sang kakek.
"Eehh... tidak kek, hanya saja sedikit kepikiran dengan sang mama. Lais rindu padanya!" elak Lais dengan senyum cerianya.
Seandainya itu benar tebakannya, ia sungguh menyesal seumur hidupnya pernah menyebut Marc sebagai ayah meski bukan ayah kandungnya.
"Kakek juga merindukannya nak, kakek juga ingin sekali ke Indonesia untuk mengunjungi makamnya. Ayo... makan terlebih dahulu sepertinya makanan sudah siap." Erdana berjalan di bantu oleh Lais.
Walaupun namanya ada nama orang India akan tetapi Erdana Khan lebih dominan ke wajah Chinese dari pada India. Tetapi mengapa sang kakek tinggal di negara ini.
"Kakek, apa Lais boleh menanyakan sesuatu?" menarik kursi untuk duduk sang kakek.
"Terimakasih ya, bertanyalah. Mungkin saja kakek bisa menjawabnya!" Erdana meletakkan tongkatnya di samping ia duduk.
"Kenapa kakek bisa tinggal di sini apa nenek berasal dari New Delhi." Lais penasaran seperti ibu-ibu yang membicarakan orang lain.
__ADS_1
Erdana tersenyum lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kakek ke sini karena kakek mencari seseorang yang telah mencuri hati kakek," jawab Erdana dengan penuh semangat.
"??!!" Lais menatap dengan hawatir.
"Memang tidak beres kakek ku ini, masa iya tua-tua seperti ini masih doyan dengan wanita. Apa jangan-jangan kakek suka dengan daun muda pantas saja putrinya di lukai pria, jika dirinya saja seperti ini. Haduh... semoga kakek tidak mendengar umpatan ku dalam hati ini."
Lais segera mengambil makanan namun belum sempat ia mengambil sang kakek mencegahnya.
"Jangan mengambil sendiri, biar kakek ambilkan. Kakek benar-benar merindukan mama kamu, tetapi sekarang terobati karena ada kamu di sini apalagi wajah kamu ini mirip sekali dengan almarhum mama kamu." Erdana mengambilkan makanan Indonesia.
Lucu sekali tinggal di Negara ini tapi makanannya makanan lokal khas Indonesia. Lais tambah penasaran asal usul dirinya ini, apa dari Chinese atau Indonesia asli tetapi jika dari Indonesia terlalu mustahil tetapi jika dari negara asing juga tidak pasti.
"Makanan lokal ini kenapa ada di sini kek?"
"Kakek berasal dari Chinese tetapi tinggal lama di Indonesia dan kemudian kakek kenal dengan nenek kamu kemudian kami menikah tetapi sayangnya nenekmu tiada setelah melahirkan mama kamu, tetapi sebelum ia meninggal ia berpesan pada kakek untuk mencari saudari kembar mama kamu yang berada di New Delhi, tetapi sampai sekarang tidak menemukan keberadaannya," Erdana ingat betul kenangan demi kenangan yang di lalui nya dengan mendiang istrinya.
Kediaman Malik.
Momo yang hari ini pergi bersama Sindy jalan-jalan untuk persiapan acaranya besok dengan Cheval, karena besok Cheval dan Sindy akan pergi menonton konser di Stadion Gelora Bung Karno. Sindy dan Cheval akan menonton pertandingan sepak bola di lapangan tersebut.
Jam 1 siang.
"Sindy semua atribut yang kamu perlukan sudah siap semua kan, tidak ada yang tertinggal satu pun." Momo memasukkan semua keperluan Sindy dan Cheval di dalam koper, benar-benar seperti ibunya saja yang mempersiapkan bekal untuk anak-anaknya.
"Aku jamin tidak ada yang terlupa, oh ya Momo jangan lupa itu di masukkan juga," Sindy masih asik dengan ponselnya.
__ADS_1
"Dasar saudari jahat, yang mau pergi kamu dan Aa tetapi kenapa aku yang kesusahan dan mengecek semua ini." Gerutu Momo sambil memasukkan keperluan Sindy.
"Kalau tidak ikhlas nggak usah bantu aku, nanti saat pulang jangan minta oleh-oleh dariku ya," ancam Sindy pada Momo.
"Dasar selain jahat suka sekali mengancam ku, untung kamu saudariku jika tidak, hiihh... aku remas-remas kamu jadi rempeyek gurih itu kemudian jadi camilan siang hari." Ucap ketus Momo.
"Terserah jika mau buah tangan ya harus sedikit rela berkorban ya contohnya seperti yang sedang kamu kerjakan ini," menunjuk beberapa pakaian yang masih berada di luar koper.
Momo yang tertindas hanya pasrah demi buah tangan harus berkorban telinga dan hati dulu, mendengar ucapan Sindy yang seenak jidatnya menyuruh mengemasi koper dan kemudian sabar dari dalam diri menghadapi sikap ke kanak-kanakan yang di tampilkan Sindy sekarang.
"Tapi janji ya, awas kalau ingkar aku cubit keras perut dan pipi kamu yang chubby itu." Menunjuk wajah dan perut rata Sindy.
"Iya... iya... aku bukan pembohong dan pengingkaran janji jadi kamu tenang saja," Sindy bangkit dari rebahan nya dan mengambil satu kota yang berisi pakaian dalam miliknya dan sang suami.
Usai berkemas Sindy dan Momo turun dan ikut bergabung ke ruang keluarga yang sudah membahas pertandingan Indonesia melawan negara lain yang ada di Asia Tenggara.
"Bagaimana sayang mau dan jadi pergi." Cheval memeluk erat pinggang Sindy.
"Jadi Aa lagian aku sudah lama tidak menonton pertandingan bola, berangkat sekarang atau nanti?" bertanya sambil menatap Cheval.
"Ayo!" Cheval dan Sindy berpamitan untuk pergi, entah berapa lama mereka pergi yang pastinya hanya mereka yang menentukan nya.
Daysi, Ksatria, Sacha dan Momo menghantar sampai pintu keluar kepergian Sindy dan Cheval.
"Ayah ada perlu, kamu ikut ayah pulang atau di sini." Sacha berbicara pada Momo.
"Aku di sini saja dulu ayah mau menginap aku rindu mama dan papa," jawab Momo berbohong.
__ADS_1
Ia sekarang sungguh merasakan kesepian yang teramat dalam, sahabat yang berhasil menerobos hatinya pergi entah kemana sekarang Sindy dan juga Cheval pergi ke luar kota.