
Gauri menatap tanggal yang tertera di hari pernikahan Aldy dan Bella, tanggalnya saja cantik dan bagus pasti sudah di rencanakan dengan matang sekali beberapa minggu yang lalu. Sedih.. iri.. tapi tiada guna lagi buat apa iri dengan milik orang sesama muslim jika itu menambah dosanya saja. Lebih baik perbaik diri saja dan jauhi berprasangka yang tidak-tidak.
Shandy baru saja kembali ke pulau X untuk menghadiri acara pernikahan Aldy dan Bella, sebenarnya Gauri mendapatkan undangan tapi ia tidak akan datang dan tidak akan pernah datang. Tapi.. entah apa keputusannya nanti, semoga Gauri mau datang dan merubah pikirannya, meski hanya mantan kenapa tidak datang sebagai bukti dirinya baik-baik tidak terlihat terluka bukan.
"Yakin.. kamu tidak mau datang, jika kamu tidak datang bukannya kamu artinya belum bisa move on?" tanya Shandy menatap Gauri yang masih membersihkan batu kerikil yang berada di beras yang baru saja ia beli di toko kelontong.
Gauri hanya menggeleng saja.
Shandy menghela nafas panjang kemudian dia berpamitan pada Gauri sebab besok acara ijab Qabul dan sekaligus resepsinya.
Aldy meremas kuat rambutnya, kenapa besok harus pernikahannya kenapa secepat ini tanggalnya apa tidak bisa di tunda lagi tahun depan.
"Pak bos, ini makanannya." Mimi mendorong meja dorong di samping Aldy berkerja di kamarnya.
"Iya, oh.. ya Mimi. Apa ada kabar tentang Gauri? apa dia sudah kembali ke kota ini?" pertanyaan yang sama.
Mimi menggeleng saja.
"Tidak ada pak bos!" menjawab dengan berbohong.
Tadi Mimi mendapatkan kabar jika Gauri dan Shandy sama-sama pulang ke kota ini tapi tanpa ada yang tau sebab Gauri bersembunyi dan hanya memberitahukan jika dirinya kembali lagi ke sini tapi tidak mau mengacaukan acara pernikahannya,agar mereka semua bahagia.
"Gauri.. aku kira tadi kamu tidak mau kembali lagi ke kota ini." Sumringah sekali Shandy.
Gauri hanya menatap datar saja.
Ocehan Shandy ia anggap angin lalu saja dari pada pusing, lama-lama cerewet juga ya Shandy pasti di sekitar mulutnya sudah tumbuh tahi lalat banyak sebab bicaranya tanpa henti.
"Ya.. kalik aku gak balik di kota ini, meski banyak sakit hatinya tinggal di kota ini tapi aku tetap bersyukur masih di beri kesempatannya untuk kembali ke kota ini, aku pikir kamu tidak akan jadi baik hati setelah membawaku ke pulau Y itu," sindiran Gauri tepat mengenai hatinya.
Jleb
"Ucapan kamu sedang menyindir aku ya." Shandy membantu Gauri masuk ke dalam rumah atas nama Gauri tentunya.
Entahlah apa maksud dari Shandy bersikap berbeda 180 drajat dari sebelumnya.
"Enggak nyindir ko, bukankah kenyataannya memang begitu?" Gauri membuka salah satu pintu yang ia yakini adalah kamar sebab yang lain langsung jadi satu kecuali kamar yang berada di pojokan.
Rumah ini menjadi satu antara ruang tamu, keluarga, makan, dapur kecuali kamar mandi ada di dalam kamar dan satu lagi kamar mandi di dekat dapur.
"Kamu menyukainya tidak?" Shandy meletakkan koper di depan pintu kamar.
"Suka,lagian gratis bukan!" jawabnya dengan kegirangan sendiri.
"Iya .. untuk kamu gratis, sebagai ganti rugi masa lalu." Shandy mengungkitnya lagi padahal sudah tau Gauri tidak suka mengungkit masa lalu.
"Bisa gak sih gak usah bahas masa lalu Shandy, biarlah kenangan lalu yang pahit akan menjadi manis nantinya, tapi.. gak harus dengan orang yang lalu," lirih ucapannya.
"Jadi.. pupus sudah harapanku Gauri."
Mulai lagi dramanya Shandy, lebay dan berdandan sok tertindas di depan Gauri padahal itu semua tidak berarti bagi Gauri. Didepan mata Gauri itu hanya bualan saja semata-mata mematangkan egoisnya untuk kepentingan saja.
"Biarkan saja, lagi pula siapa yang salah di sini. Di berikan istri baik .. cantik.. peduli pada suami.. eh.. tau-taunya di hianati dengan mengatakan secara jujur jika aku hanya di jadikan perempuan tersakiti gara-gara cinta, di tambah lagi.. siapa itu.. wanita yang kamu bawa bahkan tangan kamu gak dapat di kondisikan waktu itu dan juga wanita yang mendesah bersama kamu, lupa .. aku jadinya. Nah.. pokoknya wanita itu dengan kamu intinya, jadi.. Shandy aku peringatkan ya ke kamu jangan pernah menyia-nyiakan sebelum benar-benar kehilangan dia. Lagian.. aku sudah terbiasa kehilangan orang-orang yang aku sayangi dan aku cintai dengan kejamnya, aku sudah biasa dengan itu," panjang lebar Gauri berkeluh kesah ke Shandy.
Shandy langsung memeluk tubuh Gauri, biarkan saja begini sebentar hanya.. sebentar saja untuk memenangkan hati yang terluka dalam bahkan sangat-sangat dalam luka itu dan sulit untuk sembuh seperti sedia kala.
"Maafkan aku Gauri.. maaf pernah melukai kamu sebelumnya, aku minta maaf sekali lagi Gauri. Tolong.. maafkan aku." Shandy benar-benar meminta maaf.
__ADS_1
"Iya.. tapi lepaskan dulu. Sesak buat nafas," memberontak sedikit
Shandy langsung melepaskan dekapannya.
"Aku hari ini mau beli baju untuk kondangan besok, mau ikut sekalian aku belikan." Menawari Gauri.
"Tidak usah.. merepotkan dan aku tidak mau punya hutang budi, sudah kamu tolong saja aku sudah berterima sekali," Gauri menolak sebab tidak ingin merepotkan Shandy meski kenyataannya ia merepotkan Shandy lagi.
Lucu ya hubungan ini, dulu saat sama-sama menjadi sepasang suami istri di sia-siakan tapi setelah itu malah saling bergantung satu sama lain. Hem.. apa maksudnya ini atau tanda-tanda cinta bersemi kembali atau malah cinta lama belum kelar, semoga enggak terjadi.
"Tapi.. aku justru suka loh kerepotan begini, apalagi itu kamu yang membuat aku kerepotan setiap hari bahkan setiap waktu aku sanggup Gauri. Sangat.. sangat.. menyenangkan jika kamu merepotkan aku." Senyum sumringah.
Gauri memencingkan matanya, lalu ia menggelengkan kepalanya. Lagian sejak kapan manusia satu ini pandai bicara pada wanita atau jangan-jangan setiap wanita yang bersama dia adalah akibat dari rayuan gak jelasnya, pasti iya jawabnya.
"Kamu.. ada-ada saja, lagian kita ini hanya mantan jadi.. tidak usah ya pakai acara begitu. Kamu mau nyindir aku gitu gagal dalam pernikahan dan rencana-rencana pernikahan begitu, sudahlah.. aku sudah iklas ko gak jadi nikah dan pernikahan aku yang dulu gagal dan kandas. Lagian.. aku gak perlu baju kondangan dan menghadiri acaranya itu, apalagi konsep yang dipakai di pernikahan mereka adalah konsep yang sudah aku pilih sebelumnya dengan Aldy."
Perkataan Gauri membuat Shandy terkejut dan tercengang, jadi.. benar adanya jika Gauri dan Aldy memang ada apa-apanya bahkan mereka sudah berencana menikah juga sudah persiapan juga untuk acaranya tapi.. gara-gara wanita hamil itu jadi gagal.
Ingin.. rasanya Shandy memeluknya dengan erat dan memenangkan hati Gauri yang terluka agar sembuh secara perlahan dan sendiri dengan cara mencurahkan perhatian serta cinta yang banyak.
Gauri sedikit lega saat bercerita rahasia lama yang ia pendam sendiri, meski terdengar memalukan dan di kira halu saja setidaknya di dadanya tidak ada rasa mengganjal bukan.
•
Aldy sudah menggunakan pakaian kebesaran dan bersiap-siap untuk acara ijab Qabul pagi ini bersama Bella, pengantin wanita yang tidak pernah ia harapkan jadi pendamping hidupnya. Dalam hati selalu banyak berdoa dalam berumah tangga semoga pasangan hidup tidak egois dan meninggalkan pasangannya begitu saja tanpa kejelasan lebih dahulu.
"Apa aku bisa mundur jika pengantin wanitaku bukan Gauri?" bertanya pada diri sendiri melalu pantulan cermin.
Dengan pakaian berwarna putih senada dengan pakaian wanitanya, ia memperbaiki kopyah yang ia gunakan sebagai penutup kepalanya.
Di tempat lain Gauri termenung sendiri, Shandy sudah mengajaknya berkali-kali untuk datang sebab mendapatkan undangan pernikahan juga. Kejam gak sih? kejam sekali pikiran Gauri di tambah lagi mempelai pria menikahi wanita lain.
Mungkin ini keputusan yang sangat gegabah, kenapa masih mau sih datang ke acara pernikahan mantan. Bukankah menambah daftar sakit hati melihat mantan menikahi wanita lain, ya gak apa-apa jika gak ada rasa cinta tapi.. beda cerita lagi jika masih adanya cinta.
Pakaian kebaya Gauri sangatlah cantik dengan polesan make up dari salon terbaik di dekat rumah kecilnya, uang dari mana tentu saja dari Shandy sekarang Shandy sangat royal pada Gauri. Ibarat kata Shandy itu seperti menjilat salivanya sendiri lalu di telan kembali.
"Ayo.. cantik." Gauri tersipu malu di puji cantik.
'Iya.. cantik sebab dempulan dengan bedak tebalkan maksudnya.' Gauri membatin.
Beberapa orang yang melihat Gauri tercengang, wanita cantik ini apakah pengantinnya tapi dimana pendamping yang lain apakah ia datang sendirian? semua orang bertanya-tanya tapi kenapa tidak langsung menuju ke atas panggung jika ia pengantin wanitanya.
Bella hendak datang tapi dirinya terpeleset dan menyebabkan ia harus masuk ke rumah sakit sebab pendarahan dari jalan lahir terus menerus tanpa henti padahal usianya sudah 3 bulan tadi pagi sekitar pukul 3 pagi, tapi.. anehnya Bella tidak memberitahu keberadaannya pada Aldy.
Dret
Dret
Dret
Ponsel Gauri tertinggal di dalam kamar di rumahnya dengan nomor tidak di kenali bahkan teleponnya berkali-kali berdering di atas tempat tidurnya.
"Gimana sih dia? apa gak cinta? harusnya jika cinta kejar dia." Bella frustasi melihat ponselnya sendiri.
Apa perlu menelpon Aldy, nanti takutnya Aldy bertambah marah di tambah lagi ternyata setelah di cek dan tes DNA bukannya anak Aldy dengan dirinya melainkan anak pria yang pernah memperko$a dirinya pada malam itu. Bella memang sengaja mencuri rambut Aldy saat Aldy terpuruk waktu itu, ia curiga dengan bayinya yang tidak pernah ada respon saat berdekatan dengan Aldy.
Aldy sudah siap-siap untuk berijabqabul dengan Bella, namun waktu yang di tentukan hampir lewat dan Bella tidak kunjung datang dan menunjukkan batang hidungnya.
__ADS_1
"Maaf mas, mana ya mempelai wanitanya?" tanya penghulu dengan tersenyum.
Aldy juga bingung saat di tanya oleh penghulu, kenapa Bella tidak datang di acara pernikahannya sendiri, bukannya ini harapannya agar mendapatkan apa yang ia impi-impikan untuk jadi istri dan orang kaya. Aldy muak dengan wanita-wanita yang sok-sokan polos tapi punya maksud terselubung dan jahat.
Matanya tertuju pada salah satu wanita yang teramat ia rindukan kehadirannya, berkali-kali ia mengerjab-ngerjabkan matanya tapi berkali-kali itu juga bayangan yang sama tetap hadir di matanya.
"Gauri." Aldy beranjak begitu juga Gauri langsung berjalan keluar dari area gedung tersebut agar Aldy tidak mengetahui keberadaannya.
Gauri yang mengenakan kebaya dan sepatu sedikit tinggi ia tidak dapat berjalan bebas sebab kebayanya lumayan seret untuk jalan.
Aldy berlari secepat kilat demi mengejar Gauri kembali dalam pelukannya, tidak ia sia-siakan kesempatan emas ini.
"Gauri.. aku mohon.. jangan pergi Gauri. Jadilah pengantinku dan istriku satu-satunya Gauri." Pelukan erat di tubuh wanita yang ia rindu-rindukan selama ini.
Gauri memberontak tapi percuma saja memberontak tidak ada gunanya jika yang memeluk tubuhnya adalah laki-laki yang juga sama ia rindukan.
Gauri menyambut pelukan hangat Aldy, Aldy yang merasakan balasan dari Gauri langsung menatap wanitanya dengan tarapan terharu. Matanya berkaca-kaca, sekarang ini momen yang tidak dapat di ganggu gugat.
Mimi hendak memberikan kabar entah buruk atau bahagia dari Bella calon pengantin yang tidak datang.
"Aku mencintaimu." Aldy melayangkan ciumannya di dahi Gauri.
Gauri terdiam di tambah lagi telapak tangan Aldy berada di pipinya dan mengusapnya dengan pelan, Gauri tersadar jika Aldy begini biasanya naf$unya sedang naik.
'Gawat jika aku membangunkannya.' Gauri mundur tapi ternyata tubuhnya berhimpitan dengan tembok. Gauri hanya bisa sabar-sabar semoga ia cepat sadar dari semuanya.
"Aldy." Panggil Gauri padanya.
"Iya," matanya begitu cantik dan besar dengan bulu mata yang panjang dan tebal.
Gauri terkadang iri saat dulu masih sama-sama di dalam selimut yang sama saat melihat kedua netra Aldy yang begitu sempurna di wajah tampannya.
Mimi terpaksa datang.
"Maaf pak bos.. mbak Gauri, saya harus bicara jujur ini." Tertunduk takut tapi menunjukkan beberapa pesan singkat dari nek Lampir.
Aldy melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia baca begitu juga dengan Gauri.
"Ayo kita menikah." Langsung membopong Gauri.
Gauri menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, malu sebab di gendong begini menuju atas panggung sana untuk ijab Qabul bukan. Kenapa tidak di bawah saja sih acaranya pakai di atas panggung megah dan juga ada beberapa kursi untuk penghulu dan juga saksinya.
"Aldy.. tapi." Ingin protes tapi jari telunjuk Aldy sudah menutup bibir Gauri agar wanita ini tidak protes lagi.
Gauri pasrah sudah jika jadi istrinya ia juga senang, beberapa tamu undangan cukup terkejut saat acara ijab qobul antara Aldy dengan pengantin wanitanya lain, bukannya di undangan namanya Bella Tania bukan Gauri.
"Aldy.. tapi bukannya ini acara kamu dengan Bella, pasti nanti terjadi masalah."
Gauri berbisik pada Aldy.
"Tenang, surat-surat yang pernah kita daftarkan dulu belum aku cabut jadi jangan hawatir oke," Aldy sudah membuat keputusan.
'Memangnya bolehkan begitu, terserah.. kamu asalkan nanti gak ribet ngurusnya lagi. Kalau di ajak ijab Qabul lagi gak apa-apa ko.' Gauri tersenyum manis sekali.
Acara pernikahan berjalan dengan lancar sampai acara selesai, meski banyak tamu undangan yang kebingungan dan bertanya-tanya untung saja di depan gedung tidak ada foto prewedding antara Aldy dan juga Bella, meski sedikit kacau dengan orang-orang yang mendapatkan kartu undangan pernikahan.
*
__ADS_1
Aku tau banyak kata-kata yang kurang enak untuk di baca, terimakasih atas saran dan kritiknya.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat selalu.