
Setelah makan bersama Daysi. Hugo ingin mengantar Daysi pulang kerumahnya namun di tolak mentah-mentah oleh Daysi. Kunci sepeda motor yang di bawa oleh sopir Hugo di minta oleh Daysi, karena sopir Hugo juga berada di rumah makan tersebut lebih tepatnya berada di parkiran motor.
"Pak terimakasih sudah membawakan motor saya dan Hugo makasih ya traktirannya. Oh ya aku harap ini pertemuan terakhir kita. Aku juga tidak mau di sebut merebut milik orang lagi. Permisi," Daysi segera mengenakan helmnya dan berlalu pergi.
Hugo mematung dengan ucapan Daysi barusan. Apa segitu bencinya dia atas kejadian 3 tahun yang lalu, padahal tadi sudah tidak membahsnya lagi bahkan sudah meminta maaf dan di terima oleh Daysi tapi kenapa sekarang Daysi menjadi dingin sekali.
"Pak besok antarkan saya ke hotel Royal Malik." Ucap Hugo ke supir pribadinya dan mendapat anggukan dari supir yang bernama Darto.
"Siap pak boss," jawab Darto langsung menjalankan mesin mobil Hugo.
Sesampainya di rumah Hugo segera membuka kalung berliontin ada potret dirinya dengan Daysi. Hugo menyentuh foto kecil itu penuh dengan cinta.
"Kamu terlihat sangat cantik Daysi." Gumam lirih Hugo kemudian menutup kalung berliontin tersebut dan menyimpannya ke kotak kecil.
Daysi yang masih berada di jalan masih menikmati perjalanannya saat ini. Setiap gerak-gerik Daysi kemana pun ia pergi sebenarnya di ikuti oleh salah satu body guard Ksatria Malik. Entah rasa apa kasihan atau tanggung jawab Ksatria Malik dengan diam-diam menyuruh salah satu bawahannya mengikuti Daysi.
CCLINNG..., suara notifikasi ponsel Ksatria Malik berbunyi. Orang suruhan Ksatria memberikan potret Daysi dengan seorang laki-laki. Ksatria memperbesar foto yang baru saja ia peroleh.
"Bukannya ini Hugo pemilik PT OK IKAN, di kota ini?" gumam Ksatria Malik.
Daysi yang baru saja sampai di kediaman Ksatria Malik dengan buru-buru memarkirkan motor kesayangannya. Saat akan masuk ke dalam rumah Daysi terkejut dengan Ksatria yang melipat tangannya di sofa ruang tamu.
"Aduhhh... kenapa ekspresi wajah pak Ksatria seperti itu. Kelihatannya marah banget aduhh... kayak ibu-ibu pemilik kontrakan yang marah karena belum bayar tunggakan kontrakan saja atau jangan-jangan benar Ksatria mencatat total bulanan aku selama aku disini. Ya Tuhan selamatkan hambamu dari hutang piutang ini Ya Tuhan." Doa Daysi dalam hati.
Daysi berjalan langsung melewati Ksatria Malik, Daysi mendapat sorotan mata yang tajam dan membunuh saat ini.
__ADS_1
"Berhenti Daysi, apa kamu sudah mengembalikan kalung berliontin milik Hugo si pemilik OK IKAN?" tanya Ksatria dengan tiba-tiba.
"Iya sudah aku kembalikan hari ini, memang ada apa pak Ksatria?" Daysi balik menanyai Ksatria Malik.
"Ohh... jadi Hugo pemilik kalung yang kamu temui itu. Sepertinya cinta lama baru kelar hari ini, apa kalian saling mengungkapkan perasaan hari ini. Makan dan jalan bersama. Dasar wanita tidak tau posisi." Sindir keras Ksatria pada Daysi.
"Terserah kamu bilang apa, aku bukan wanita seperti itu apalagi mengambil milik orang itu bukan aku dan satu lagi suruh adikmu Relli untuk kembali dan melepaskan aku dari ikatan ini. Aku tidak ingin berlama-lama hidup dalam belenggu palsu ini." Daysi segera pergi setelah berucap begitu arogan di dengar telinga.
"Tunggu," Ksatria berlari dan menarik tangan Daysi. Daysi menatap sekilas dan berusah melepas genggaman tangan Ksatria Malik namun naas cengkraman tangannya begitu kuat dan membuat pergelangan tangan Daysi memerah bahkan terasa sakit.
"Ada apa lagi sih Pak?" Daysi menatap tangannya yang masih di cengkram kuat oleh Ksatria.
"Kamu yang membuat Aurel pergi dari sini dan kamu juga yang harus bertanggung jawab, sebelum Aurel kembali ke Indonesia lebih tepatnya di rumah ini jangan harap kamu bisa pergi dari sini satu jengkal pun. Ingat itu, kalau bukan karena kamu hubunganku dengan adikku tidak mungkin terpisah seperti ini." Ucap tajam Ksatria yang berhasil membuat Daysi membeku di tempat. Ksatria Malik menghempaskan tangan Daysi dengan kuat dan membuat Daysi terjatuh ke lantai.
Mbok Yati yang melihat adegan barusan meneteskan air mata. Tidak pernah terfikir di hati Mbok Yati jika Daysi di perlakukan seperti ini ketika di rumah tidak ada orang yang berjaga hanya bagian luar rumah dan pintu keluar masuk halaman rumah. Mbok Yati segera menolong Daysi. Daysi terkejut ada tangan yang membantunya berdiri.
"Nak Daysi tidak apa-apa. Mana yang sakit biar Mbok yang obati?" Mbok Yati menghawatirkan kondisi Daysi menatap seluruh tubuh Daysi.
"Aku tidak apa-apa Mbok. Daysi haus mbok mau ambil minum!" Daysi tersenyum dan segera menuju dapur. Daysi menghabiskan 2 gelas air putih. "Haahh... leganya. Aku harus hati-hati dengan orang itu." Dalam batin Daysi.
Mbok Yati yang mengikuti Daysi segera mengambilkan makanan berharap di makan oleh Daysi, Daysi yang di sodorkan mbok Yati satu piring makanan berukuran sedikit langsung menatapnya, ingin sekali menolak namun ia sadar itu akan membuat mbok Yati bersedih. Daysi tersenyum dan langsung memakannya. Sebenarnya perut sudah kenyang Daysi memakan sedikit hanya 3 sendok saja.
"Kenapa tidak di habiskan nak Daysi apa tidak enak masakannya?" mbok Yati menyodorkan air putih di samping piring makan Daysi.
Daysi tersenyum. "Enak ko mbok tapi selera makan Daysi hilang!" jawab Daysi berbohong.
__ADS_1
"Pasti gara-gara den Ksatria ya nak Daysi, sabar ya nak sebenarnya den Ksatria orang nya baik ko nak." Mbok Yati berusaha membuat keretakan ini tidak memperparah hubungan suami istri ini. Daysi mengganguk padahal bukan karena itu.
Setelah dari Dapur Daysi kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. 15 menit telah berlalu kini Daysi mengenakan pakaian santai. Hanya sedikit polesan yang ia kenakan bahkan terlihat seperti tidak mengenakan saja tidak lupa Daysi menggunakan lip balm di bibirnya. Setelah bersih-bersih Daysi tidak keluar dari kamarnya.
TTOOKK... TTOOKK... TTOOKK...
"Mbak Daysi apa aku boleh masuk?" tanya Ria yang mengetuk pintu.
"Masuk mbak tidak di kunci!" Daysi masih asik bermain game virtual peliharaannya.
Ria yang melihat Daysi asik bermain game di ponselnya tersenyum karena terdengar jelas suara permainan untuk anak-anak itu.
"Kata mbok Yati tadi kamu..." Ria memulai pembicaraan yang tadi menimpa Daysi.
"Aku tidak apa-apa mbak Ria," ucap Daysi menyambar pertanyaan Ria.
"Boss Ksatria tidak bermaksud seperti itu mungkin hatinya sedang kebinggungan mbak Daysi. Jadi saranku mbak Daysi jangan membuat si boss marah, oke." Ria menangkupkan kedua tangannya memohon agar Daysi mau menuruti ucapannya barusan.
"Mbak Ria aku berusaha tidak membuat masalah atau pun mengusiknya mbak justru dirinya sendiri yang terus menerus menggangguku mbak. Dan satu lagi mbak aku melakukan tugasku dan kesepakatan yang di berikan pak Ksatria, jika tidak ada Relli dirumah ini tidak boleh berperilaku sebagai suami istri, bukannya mbak Ria sudah tau itu kan waktu itu mbak Ria satu ruangan denganku dan pak Ksatria." Ucap panjang lebar Daysi.
"Baiklah mbak jika mbak tau itu tapi saat ini aku merasa si boss ada sesuatu di hatinya, seperti ketidak sukaan saat mbak dengan orang lain yang berlawanan jenis." Ria mengucapkan apa adanya, tentunya Ria mendengar dari salah satu body guard suruhan Ksatria Malik.
"Cemburu maksudnya???" Daysi menatap Ria. Ria mengangguk.
"Mungkin..." jawab Ria cengegesan. Daysi kemudian tertawa.
__ADS_1