ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Noda


__ADS_3

Dilan dan Princess berpamitan undur diri saat bertemu dengan bapak Alam.


Dirumah kediaman Mahendra.


Dilan Malik dan Princess berpamitan pulang terlebih dahulu tapi Princess masih di cegah pulang oleh Lais dan Momo, masalah yang terjadi kemarin benar-benar membuat mood untuk ke kantor hancur berantakan.


Sedangkan Zaire Zamil juga tidak ada mereka semua kuliah di jurusan kesukaannya masing-masing, yang satunya di Jogja yang laki-laki di Surabaya, kenapa tidak memilih ke luar negeri alasannya satu kasihan mama di tinggal kuliah jauh.


"Kenapa?" Dilan heran kenapa Princess melamun lagi.


"Sepertinya aku pernah melihat Bapak Alam sebelum kita ada kerja sama dengannya beberapa minggu ini, tapi dimana ya ...!" jawaban Princess membuat Dilan juga keheranan sendiri.


Saat di dalam restoran Dilan merasa curiga dengan Pak Alam yang terus saja memandangi Princess, Dilan sadar jika Princess sangatlah cantik dan pintar jadi dengan sendirinya memiliki daya tarik yang luar biasa, tau begini Tudou saja yang di ajak bertemu dengan Bapak Alam di restoran.


"Sudah, jangan di pikirkan. Sekarang bagaimana jika kita berdua berpacaran lagi kak Princess." Mengulurkan tangannya dan berharap Princess menerimanya dengan senang hati dan sepenuh jiwa dan raganya.


"Nanti saja, aku masih butuh waktu Ilan. Aku ... takut Ilan jika nanti terluka lebih dalam lagi, aku mohon, sebagai saudara oke" Princess berlalu pergi dan lebih dahulu masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi depan dekat kemudi.


"Sepertinya tetap beri dia waktu yang banyak, pikiran dia kacau aku tidak mau di stres dan berakibat pada gangguan mentalnya." Gumam lirih Dilan saat berjalan menuju mobilnya.


Berada satu tempat dengan Kakaknya membuat Dilan selalu tidak dapat menampik pesonanya, cantik dan lucu pikirnya.


Di Rumah Sakit Jiwa.


Alam membawa bunga sedap malam kesukaan istrinya Yeni dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah. bahkan semenjak Yeni masuk ke tempat itu Alam tidak pernah sekalipun terbersit di benak nya untuk berhianat mencari wanita yang normal dan tidak sedang dalam gangguan jiwa, tapi jika bukan karena dirinya tidak mungkin Yeni menderita sampai detik ini.


Diri ini yang salah tidak bisa menjaga putri semata wayangnya.


"Pergi ... pergi ... hu ... hu ... dimana putriku yang hilang, kamu harus menggantinya kamu yang membuat dia hilang, pergi ... sana ... pergi kamu penjahat." Yeni kehilangan kendali lagi saat melihat suaminya.


Dengan terpaksa Alam pergi meninggalkan istri tercintanya.


"Maaf Ma, maafkan Papa yang ceroboh ini. Sampai-sampai kamu kehilangan putri kecil kita andai waktu itu aku tidak meninggalkan Lana .." Alam menahan air matanya yang akan tumpah.


Hampir setiap hari Alam berada di tempat persimpangan dimana iya kehilangan putrinya, saat itu Alam menolong seorang laki-laki yang kecelakaan tapi ia terlupa jika dirinya membawa putrinya berkerja saat itu sebagai suka relawan saat ia senggang di kantornya.


Tapi justru musibah menimpa putrinya yang hilang tiba-tiba, berhari-hari Alam mencari putrinya namun tidak ada hasil dan berakibat gangguan mental pada istrinya, dan yang lebih parahnya sang ibu mertua sampai meninggal dunia gara-gara cucu satu-satunya hilang dan tidak di ketemukan, padahal sudah di cari selama 2 bulan lebih.


"Lana jika itu benar-benar kamu nak. Maukah kamu menerima Papa dan Mama kamu yang seperti ini?" Alam menatap langit seraya memohon agar Sang Maha Pencipta mempertemukannya kembali, meski nanti resiko yang ia dapat hanya kebencian dari sang putri.


Alam sengaja memasukkan istrinya di dekat Rumah Sakit tempat Lana hilang, supaya ia bisa mengawasi sang istri dan juga putrinya. Siapa tau putrinya ada di area tersebut.


Di dalam mobil.


Princess menatap jalan, sebenarnya ia sudah lelah setelah bertemu dengan Pak Alam tadi dan juga harus mampir ke rumah papanya. Akan tetapi Dilan ngotot pengen ke suatu tempat yang membuat kaki Princess tambah besar seperti gajah bengkak.


"Aku lelah, jika kamu mau pergi lagi jangan mengajakku Ilan." Protesnya tanpa menatap Dilan Malik.


"Pasti akan mengajakmu lagi, lagian kenapa sih kak begitu cepat lelah, jangan bilang kamu lagi dapet ya?" goda Dilan yang langsung mendapatkan pukulan terpanas di lengannya.


Plak


Dilan mengeluh kesakitan namun tidak di pedulikan oleh Princess yang terlanjur kesal sampai ke akar-akar rambut. Bisa-bisa tumbuh uban dadakan jika terus-terusan di buat kesal oleh dirinya.


"Sudahlah Ilan, jika kamu tidak menjalankan kemudinya aku pesan taxi nih." Menunjukkan ponselnya, saat akan memesan taxi ponselnya kehabisan daya dan langsung mati seketika.


"Em ... sepertinya kamu harus menurut deh sama aku, yakin nih mau pulang sendirian? ini sudah larut malam loh. Gak baik untuk wanita pulang sendiri." Dilan membisikkan kalimat terakhirnya tepat di telinga Princess.


"Terpaksa," menatap arah luar jendela kaca mobil.


Dilan membanting pintu mobil dengan sangat keras, rasanya ingin menenggelamkan Dilan di lumpur Lapindo biar sekalian tuntas kekesalannya pada saudara laki-laki ter laknatnya itu.


"Kenapa? Apa aku bersikap aneh kak Princess manisku, sedari tadi kamu menatapku seperti ingin menerkam ku?" Dilan masih fokus mengemudi.


"Tidak!" jawab cuek Princess sambil melipat kedua tangannya di depan perut.


"Oh ...." Hanya oh saja yang bisa di ucapkan Dilan, ia mulai gelisah dengan sikap Princess padanya. Apa benar Princess sudah tidak mengharapkan kehadirannya lagi baiklah akan mundur pelan-pelan.


Baik jika ini keinginannya, maka Dilan sudah memutuskan pergi dan membuang perasaan suka dan pedulinya pada kakaknya secara perlahan-lahan.


Keesokan harinya.


Princess menatap kesana kemari, tumben Dilan tidak ada di rumah apa dia sudah berangkat lebih dahulu.


Princess sedih mendadak, biasanya Dilan jika berangkat lebih dulu pasti berbicara dulu padanya tapi hari ini.


'Aku seperti kehilangan dia, semoga saja tidak. Lagian jika dia tidak menyukaiku bukannya aku di suruh pulang ke rumah Mama, tapi ... masih tetap disini aku.' Princess berjalan menuju garasi untuk mengenakan motor tapi tidak ada satupun kendaraan di garasi.

__ADS_1


"Kemana semua kendaraan yang ada?" melihat kesana kemari tapi tetap saja kosong tanpa isi sama sekali.


Princess mengepalkan tangannya.


Di Hotel Royal Malik


Princess datang terlambat dan yang lebih parahnya ia terlambat lebih dari 1 jam lamanya, entah mengapa hari ini ada kecelakaan dan ia terjebak macet di taxi sedangkan ia mau memesan ojek ternyata kuotanya habis juga, terpaksa ia berdiam diri di dalam taxi dan mengakibatkan ia terlambat.


"Princess, kamu di panggil Pak Bos dan di suruh langsung ke ruangannya." Kata Tudou pada Princess.


"Iya, terimakasih sekretaris Tudou," Princess berjalan memasuki ruangan tersebut.


"Kak..., ini surat pemecatan kamu. Selama ini kamu selalu datang terlambat ke kantor dan data absen kamu sudah banyak yang melanggar karena terlambat." Dilan berucap selayaknya bos pada bawahannya.


"Em ... iya," Princess kecewa dan marah jadi satu tapi ia tidak dapat memberontak dan mengeluh, Princess tau diri dan sadar sejak lama jika dirinya seharusnya mendapatkan ini dari awal.


Dilan memberikan amplop sebagai gaji terakhir Princess di kantor ini.


"Terimakasih Bapak Dilan atas kompensasinya, saya permisi." Princess menunduk hormat dan beranjak pergi dari ruangan Dilan usai mengemasi beberapa barang-barangnya yang ada di ruangan Dilan, kemudian ia menuju ruangan sesungguhnya yang ada di luar ruangan kerja Dilan.


Saat di luar kantor, Princess menatap gedung pencakar langit. Helaan nafas terdengar sangat berat.


'Mulai hari ini aku harus beradaptasi dan menerima kenyataan, seharusnya dari dulu aku hidup dalam sengsara dan bukan kemewahan. Ah ... sudahlah, lebih baik aku cek ada berapa uang di ATM ku.'


Princess berjalan tidak jauh dari kantor menuju tempat ia mengecek saldo tabungannya. Princess sedikit tersenyum dengan nominal yang ada, untung saja saat gajian ia selalu hemat pengeluaran, bahkan saat pergi Dilan lah yang selalu mengeluarkan uang.


Uang dari papa juga selalu rutin setiap bulan bahkan belum tersentuh semenjak ia berkerja, sangat banyak bahkan untuk membuka toko atau mall bisa, belum lagi pemberian dari Grandma dan Grandpa juga selalu rutin. Rasanya di kelilingi orang-orang berada dan di kelas ekonomi tinggi jadi minder deh.


Kkrruukk


"Lapar." Sambil mengusap perutnya.


Lian yang kebetulan ada di rumah makan sederhana terkejut pagi-pagi seperti ini kenapa Princess ada di tempat ini, apa dia tidak berkerja. Mungkin libur pikir Lian.


"PRINCESS." Sapa laki-laki cantik saat Princess memesan nasi pecel.


"Eh ... kamu, Lian. Ada apa memanggilku?" Princess menampilkan senyum manisnya terpalsunya.


"Tidak ada apa-apa sih! oh ya tumben jam segini tidak kerja? sedang cuti ya." Lian duduk di depan Princess.


Princess menggeleng.


"Oh." Lian pun juga melanjutkan sarapan paginya.


"Apa kamu tidak kerja juga, kenapa bisa ada di tempat ini?" Princess belum tau jika warung sederhana ini salah satu hasil kerja kerasnya.


Lian tersenyum.


"Tidak, aku sedang mengawasi karyawanmu berkerja!" Lian tertawa renyah.


"Bullshit." Princess tidak percaya jika Lian pria cantik ini punya karyawan, kalau salon Princess percaya tapi jika itu bidang lain dia tidak percaya.


"Beneran, warung ini milikku," Lian menunjuk nama warung ini.


Princess terbengong seketika.


Princess menggelengkan kepalanya seraya tidak langsung percaya.


"Jika benar milikmu, selain nama itu apa buktinya?" tanya Princess sambil mengulurkan tangannya untuk meminta bukti kebenaran.


"Ini, lihatlah!" Lian memberikan kartu nama seperti miliki orang yang berpengaruh di kota ini.


"Oh ...." Princess mengembalikan kartu itu setelah ia membacanya.


Ia sedari tadi menatap ponselnya, tidak ada lagi pesan masuk seperti biasanya dan juga panggilan masuk. Biasanya Dilan akan mengirimkan pesan singkat entah itu tanya tempat atau basa basi lainnya.


"Kenapa terus menatap ponsel, apa kamu menanti kekasihmu mengirimkan pesan atau mantan kamu?" pertanyaan Lian benar adanya, ya dia sedang menanti itu tapi sepertinya tidak akan ada lagi pesan atau pertanyaan darinya.


'Ini keputusanku tidak menerima perasaannya tapi seharusnya aku juga menerima konsekuensinya dan seperti ini rasanya. Benar-benar seperti cinta monyet salah usia.' Princess memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas berwarna coklat.


Dilan yang berada di kantor menyuruh Tudou untuk mencarikan asisten baru dan ia meminta asistennya seorang perempuan dan tidak mau laki-laki.


"Tudou carikan aku asisten perempuan yang baik saat berkerja dan harus rajin." Perintahnya dengan tegas.


"Siap pak bos," Tudou segera memberikan pengumuman jika di butuhkan seorang asisten khusus untuk perempuan.


Syarat nanti saat sudah ikut tes dalam berkerja di perusahaan ini dan juga performanya.

__ADS_1


Princess yang berada di rumah setelah pulang menatap layar ponselnya, ia memang masuk ke dalam grub kantor.


"Secepat itu cari pengganti, hem ... sepertinya aku sudah di geser dan di buang ke tempat sampah. Ya maklum saja aku di buang ke tempat sampah, kan aku bukan siapa-siapanya lagi." Princess meletakkan ponselnya, rasa kantuk menyelimuti matanya pada akhirnya ia tertidur di jam 10.35 WIB.


Jam segini Dilan belum kembali ke rumahnya, hari telah berganti setiap hari Princess dan Dilan tidak pernah bertemu lagi meski ia satu rumah dengan Dilan.


"Huft ... sepertinya aku harus mengemas barang-barangku hari ini." Princess memasukkan satu persatu pakaian di dalam koper.


Dilan yang kebetulan lewat kamar Princess sedikit mengintip apa yang di kerjakan Princess belakangan ini.


"Mau kemana?" pertanyaan dingin terlontar kepada Kakaknya.


"Mau pindah dari sini Dilan, bukannya aku tidak ada kepentingan lagi. Aku mau pulang saja Dilan!" jawab Princess tanpa menatap sorot mata yang sudah tajam dan menusuk bola mata.


Cekalan di pergelangan tangan Princess terasa erat dan sakit.


"Lepas ... Dilan, sakit tangan aku." Ia mengeluh sakit di pergelangan tangannya.


"Jangan harap kamu bisa pergi dari rumah ini," Dilan secara kasar menghempaskan tangan Princess sampai tangan Princess menatap pintu kayu almari.


Bugh


"Aw ...." lirihnya menahan sakit di tangannya.


Dilan pergi begitu saja.


"Apakah nasib anak perempuan seperti ini, jika tidak menyukai kenapa harus di beri tekanan kenapa tidak langsung mengusir saja, kenapa harus di siksa dulu?" pertanyaan demi pertanyaan berkeliling di pikiran Princess.


Dilan sangat kesal, dengan terpaksa ia mengunci kamar Princess dan menyuruh beberapa orang berjaga di kediamannya ini, Dilan menjadi orang yang berbeda iya sensitif sekali bahkan overprotektif pada Princess, bukannya ini sama dengan menyiksa batin luar dalam.


Princess hendak keluar dari jendela namun ternyata jendela sudah di jaga ketat dari bawah sana, terus harus bagaimana lagi. Princess tidak tahan jika harus di penjara di kamarnya, apalagi ia hari ini berencana mencari pekerjaan baru usai di pecat dari hotel Royal Malik.


"Sialan Dilan ini, main kurung orang begitu saja. Dia pikir aku robot yang gak butuh cari uang untuk makan?" Princess terpaksa menelpon Dilan.


Suara getaran ponsel terdengar di samping Dilan mengemudi, lalu ia mengangkatnya.


"Dilan kamu gila, aku lapar." Bentaknya langsung memekik telinga Dilan.


"Ups sorry kakak," Dilan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Princess meratapi hidup yang sebentar lagi berakhir dengan kelaparan.


Princess menatap kesana kemari lalu ia menuju lemari pendingin dan membukanya, ia terkejut bukan main tidak ada satupun makanan yang ada di dalam tempat itu yang ada hanya es batu yang ada di bagian freezer itupun hanya beberapa kotak kecil saja.


"Masa iya makan es batu? kan gak lucu sarapan es batu, sudahlah dari pada lapar lagian yang ada cuma ini. Tau begini kemarin sore aku belanja, percuma keluar lama tidak beli apa-apa." Ada rasa kecewa kenapa ia tidak bersedia payung sebelum hujan, tau begini jadinya.


Princess yang sudah kelaparan terpaksa mengambil es batu tersebut dan mulai memakannya, ada rasa ngilu di giginya namun apa boleh buat perut tidak dapat di pungkiri sudah sangat lapar.


"Huft ... setidaknya terisi sedikit air." Princess mencari sesuatu di dalam tasnya mungkin saja ada permen atau madu kemasan yang ia beli.


Setelah mencari benar ada beberapa madu dalam kemasan yang biasa ia gunakan saat pergi berkerja, Princess meminum 2 sachet madu tersebut. Ada sedikit lega saat ia tidak sengaja menemukan penjepit rambut yang bisa membobol pintu kamarnya.


Belum juga Princess membobol pintu kamar terbuka, terlihat mbok Atun membawa nampan berisi makanan.


"Mbok??!!" Princess tersenyum haru ingin rasanya ia menangis namun ia tahan.


"Non, ini makanannya. Maafkan Tuan ya non, karena mengurung Non Princess di kamar." Atun merasa sangat iba.


Princess menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa Mbok, Mbok apa saya boleh keluar?" Princess bertanya namun ia merasa jika Dilan tidak mengizinkannya keluar.


"Tadi Tuan berpesan jika Non Princess di larang pergi jika bukan perintah Tuan!" jawaban Atun membuat Princess kecewa sekali dengan Dilan.


Jika Dilan sudah bertekad seperti ini pasti kedepannya akan lebih parah lagi.


Dilan kembali ke rumah dalam keadaan marah, entah apa yang membuat ia marah mendadak pagi-pagi.


"Mana kakak?" tanya Dilan dengan penuh emosi sekali.


Princess yang tidak tau apa-apa jadi sasaran empuk Dilan Malik. Dengan alasan tidak jelas Dilan bersikap kasar dan membuat Princess tidak mengenali siapa pria yang ada di depannya ini.


"Kamu ... gara-gara kamu semua kehidupanku kacau balau." Dilan membuka secara paksa pakaian Princess dengan beringas dan kasar.


"Dilan.., aku mohon hentikan Dilan. Aku takut Dilan," Princess berusaha memberontak namun sia-sia saja.


Rasanya sangat menyakitkan sekali dengan perlakuan kasar Dilan pada dirinya, Dilan yang lembut dan baik kini sudah berubah 180 derajat dan bukan Huang yang ia kenali lagi.

__ADS_1


"Ji--ka ... ini terjadi aku benar-benar membenci kamu Dilan, aku ... benci kamu. Kamu bukan Dilan yang aku kenal." Princess berusaha memberontak namun sia-sia saja.


__ADS_2