ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
52 Sakit gigi membawa berkah


__ADS_3

Kediaman Malik.


Ksatria yang baru saja kembali dari hotel kini memasuki area taman dan mencari suara tawa Daysi dan juga Aurellia. Senyum Ksatria mengembang begitu lebar melihat persahabatan yang sempat putus kurang lebih 7 tahun lalu itu.


"Eehheemmm..., apa aku tidak di sambut setelah pulang berkerja?" sambil menatap wajah cantik Daysi.


Daysi langsung mengulurkan tangannya, "di sambut ko, kata siapa ngak di sambut." Daysi cengegesan begitu juga dengan Aurellia.


Setelah lama berbincang-bincang Ksatria masuk kedalam rumah begitu juga dengan yang lainnya.


"Bagaimana harimu, apakah menyenangkan?" melepas dasi yang bertengger di lehernya.


Daysi membuka almari yang ada di salah satu ruangan kamar Ksatria. " Seperti biasa Aak semakin aktif dan menggemaskan, rasanya menyenangkan memiliki bayi sepertinya!" ucap Daysi santai dan itu membuat Ksatria berharap lebih.


Ksatria mendekat. "Bagaimana setelah kamu selesai datang bulan kita melakukannya, bukannya itu masa yang subur untuk kita memiliki bayi sendiri?" ucapan Ksatria berhasil membuat wajah Daysi memerah.


"Itu..., nanti saja setelah aku selesai datang bulan lalu kita bicarakan nanti. Aku tidak ingin milikku di rengut paksa!" Daysi menutupi wajahnya dengan kaos milik Ksatria.


Ksatria membuka tangang Daysi yang berada di wajahnya sambil menutupi dengan kaos. "Aku tidak akan mengambilnya dengan paksa, aku jamin. Asalkan kamu mau melakukannya tulus dalam hati, aku mau tanya kira-kira kapan selesai datang bulanmu?"


"Eemm... 4 hari lagi!" memberikan kaos pada Ksatria.


"Nanti jika sudah benar-benar bersih bilang ke aku." Ksatria masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


"Haduhh... bagaimana ini, ia menagihnya nanti aku harus bagaimana, senang atau sedih atau mungkin kedua-duanya." Raut wajah Daysi sangat cemas dan berjalan kesana kemari sambil menggigit ujung kukunya.


10 menit berlalu.

__ADS_1


Ksatria yang sudah mengenakan pakaian casualnya kini berjalan mendekati Daysi yang gelisah.


Ksatria menepuk pundak Daysi. "Mikirin apa, apa gara-gara permintaanku tadi?" mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Daysi menganggukkan kepala.


Ksatria mengacak-acak rambut Daysi. "Jangan takut dan hawatir oke...," memberi kecupan di pipi Daysi.


"Iya," Daysi menetralkan senam jantungnya kali ini, apalagi dengan sikap romantis Ksatria yang tinggkatnya mulai naik.


"Bagus, istri seorang Ksatria Malik tidak boleh takut dengan apa pun. Jika takut bagaimana menghadapi dunia yang sesungguhnya. Ayo makan malam aku sudah lapar." Menarik lembut tangan Daysi dan menggengamnya. Daysi menatap mata hitam milik Ksatria.


Aurellia bersorak gembira dalam hati, kakaknya yang play boy semakin luluh dengan pesona Daysi yang tidak akan pernah tergantikan. Saat melihat sepasang suami istri ini bersama-sama dengan mesra.


Saat makan malam tanpa ada percakapan sama sekali, karena memang kebiasaan dari dulu. Kini Ksatria yang tidak menyukai warna putih kini perlahan-lahan mulai bisa menerima semenjaj kehadiran cinta di hatinya untuk Daysi. Sungguh sangat beruntung sekali Daysi.


Aurel tersenyum melihat kakanya sudah mau memakan nasi berwarna putih pucat tersebut. "Semoga Daysi bisa membuat kakak menjadi orang yang lebih baik lagi. Semoga pernikahanya langgeng sampai maut memisahkannya," doa Aurellia dalam hati.


Setelah makan malam Ksatria menyenderkan tubuhnya di kursi yang berada di gasebo. Sambil menatap langit yang cerah secerah hatinya saat ini. Daysi menghampiri Ksatria yang tersenyum sambil menatap langit.


"Iya lebih indah tetapi tidak bisa diraih hanya dalam angan-angan saja, tetapi berbeda denganmu. Kamu bintang kehidupanku yang selalu menghiasi hatiku yang gelap dengan cahaya indahmu!" menatap sekilas wajah Daysi yang ikut menikmati malam ini.


Tak terasa jam menujukkan pukul 10.00 malam. Rasa kantuk mulai merayap di mata Daysi tetapi tidak untuk Ksatria, karena suasana hati yang gembira membuatnya tidak merasakan kantuk lagi. Ia sadar jika Daysi terlelap di sampingnya.


Ksatria mengangkat tubuh Daysi dan mengendongnya. Sesekali Ksatria mencium mata Daysi. Daysi hanya mengerjap-gerjapkan matanya karena mersa ada sesuatu yang geli di bulu matanya namun tidak membuatnya terbangun dari tidurnya.


Ksatria meletakkan tubuh Daysi di ranjang kamarnya dan melepas sendal yang menempel di pergelangan kakinya. Ksatria mencium lembut dahi Daysi dengan lama sampai ada bekasnya dengan segera ia usap lembut dahi Daysi yang basah karena ulahnya sebelum Daysi terusik dan marah-marah lagi.


Ksatria mencuci wajah dan mengosok giginya sambil mengecek apa giginya ada yang bermasalah. Karena sedari tadi giginya sakit seperti terkena benda tajam dalam gusinya dan benar saja giginya berlubang.

__ADS_1


"Pantas saja pipiku bengkak, jika bengkak ini membesar pasti Daysi hawatir. Lebih baik besok aku ke Dokter gigi dan memeriksakannya." Ksatria menganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


Ksatria sebenarnya ingin mengantikan pakaian yang di kenakan Daysi namun ia takut jika di katai mesum lagi oleh Daysi, bukan takut karena kata-kata mesum sebenarnya karena hal lain yaitu takutnya Daysi marah dengan kejadian kemarin.


Pagi hari.


Ksatria memegang pipinya yang sakit karena gigi berlubangnya. Daysi yang sadar dengan sikap Ksatria yang menderita sambil memegangi pipi sebelah kanannya.


"Kamu sakit gigi, kita ke Dokter gigi ya. Kamu mandi dulu dan siap-siap. Aku mau menyuruh mang Slamet untuk memanaskan mobil, aku kembali harus sudah siap, oke. Jangan membantah ya." Daysi mengusap pipi kanan Ksatria.


Ksatria ingin sekali tersenyum lebar namun karena gusinya sudah bengkak membuatnya sulit tersenyum. Tetapi setidaknya Daysi tambah perhatian dengannya.


"Senangnya hatiku, ternyata sakitku membawa berkah. Ee... hhee... hhee.... Aww sakit." Mengelus pipi dengan hati-hati.


Setelah mandi Ksatria turun dari lantai atas katena Daysi tidak kunjung masuk kamar. Ria yang tidak sengaja berpapasan dengan bossnya langsung menundukkan kepala sambil mengucapkan salam. Ksatria hanya mengangguk tanpa menjawab.


Daysi yang melihat Ksatria masuk garasi mobil langsung membuka pintu mobil diiringi dengan senyum terbaiknya.


Saat di perjalanan Ksatria hanya diam tanpa bicara apapun karena baru kali ini sakit gigi dan langsung bengkak.


Dokter Gigi.


Ksatria sedikit membaringkan tubuhnya di tempat memeriksa gigi dan membuka mulutnya. Setelah di periksa Ksatria di beri obat peresa sakit gigi jika tidak bengkak boleh kembali lagi untuk memperbaiki giginya yang masih sedikit berlubang dan masih bisa di tambal.


Ksatria hanya menganggukan kepala sementara Daysi menjawab iya, setelah menebus obat di apotek Daysi dan Ksatria pulang ke rumah.


Di kamar utama.

__ADS_1


Kamar tidur yang setiap hari di gunakan Ksatria, Daysi dengan telaten memberikan bubur untuk Ksatria sebelum meminum obat sakit gigi. Ksatria merasa kantuk dan memejamkan matanya karena efek meminum obat barusan.


"Cepat sembuh, sayang." Daysi mencium pipi Ksatria yang sakit dan meninggalkan Ksatria untuk istirahat agar ia tidak merasakan sakit gigi lagi.


__ADS_2