ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
181 S2


__ADS_3

Like... like... like... dan rate bintang lima.


Terimakasih.


***


Cheval menyuapi camilan pada mulut Sindy, dengan senang hati Sindy membuka mulutnya. Ia terkejut saat Cheval menyuapi camilan yang banyak cabainya.


"Hah... hah..., pedas Aa. Air Aa." Sindy langsung meminum jus yang baru saja Mala hantarkan.


Sekali minum satu gelas jus langsung habis bahkan milik Cheval ia minum dan tinggal setengah saja porsinya. Cheval ngambek, niatnya mengerjai istri malah jusnya di minum juga, tau begini tidak mengerjai istrinya.


"Itu punya Aa loh sayang, kenapa di minum juga sih." Cheval merebut gelas yang di pegang Sindy.


"Salah sendiri menyuapi aku dengan banyak cabai di dalamnya, Aa pikir mulut dan perutku ini tidak merasakan efek samping," Sindy tidak peduli suaminya mulai kesal.


"Rasain, makanya jadi suami jangan jail. Kena karma instan kan jadinya, rasain jus kesukaan Aa aku minum."


Daysi yang melihat tingkah anak-anaknya seperti ini heran, apa tidak ada jeda untuk mereka tidak saling usil satu sama lain.


"Tapi jus ku, ganti sayang. Aku juga haus." Cheval menyentuh lehernya.


"Aku buatkan khusus untuk Aa deh kalau begitu, sebagai tanda pertanggung jawaban," Sindy bergegas ke dapur.


Cheval bukannya duduk diam menanti, ia justru menggikuti sang ke dapur.


"Aa kenapa sih mengikutiku, aku tidak sejahil Aa dan aku tidak akan menyakiti Aa." Ucap Sindy yang membuat jantung Cheval tertancap ribuan paku sekaligus.


Kenapa seperti ini lagi kejadiannya, setiap mengerjai sang istri, dirinya tidak marah justru dia berlapang dada. Ingatan Cheval kembali ke masa lalunya lagi dan lagi, betapa besar rasa bersalahnya pada Sindy.


"Kenapa diam Aa, apa ada masalah?" bersikap biasa-biasa saja.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Buatkan jus melon ya!" sambil duduk manis di kursi dekat dengan Sindy.

__ADS_1


Sindy tersenyum saja sambil melanjutkan kegiatannya.


"Kamu memang bidadariku sayang, meski sifat dan perilaku kamu terlihat dingin dari luar tapi kamu hangat dari dalam. Maafkan Aa Sindy, aku akan berusaha memberikan seluruh cinta dan sayangku untukmu, untuk menebus semua rasa bersalahku karena merebut kebahagiaan kamu."


Cheval segera menetralkan raut wajahnya sebelum Sindy sadar jika dirinya sedang gelisah dan bersalah.


"Nih Aa, coba Aa rasakan enak tidak dan satu lagi jangan berbohong jika tidak enak." Sindy dengan percaya dirinya memberikan jus pada suaminya.


Cheval yang baru saja mencoba menghentikan minumnya, ia masih mengecap rasa apa yang ia rasakan di lidahnya tersebut.


"Emm rasanya tidak enak," Cheval berbohong.


"Hah... tidak enak, yang benar Aa. Sini aku buang Aa jusnya dan buat yang baru lagi." Hendak mengambil gelas namun langsung di minum habis oleh Cheval.


"Sudah habis, nih. Jangan lupa di cuci," senyum tergambar jelas di wajahnya.


"Katanya tidak enak, kenapa di habiskan. Kalau Aa sakit perut bagaimana?" dengan hawatir langsung menyentuh dahi Cheval.


"Iya tidak enak, jika tidak di habiskan karena jus buatan kamu sangat enak!" mencubit gemas hidung Sindy.


"Sayang."


"Ada apa Aa," mendongakkan kepalanya.


"Ayo kita ke kamar, Aa mau istirahat." Menggenggam tangan Sindy.


Bunga-bunga cinta tumbuh segar dan bermekaran, rasanya aroma tersebut sampai tercium dari jarak ratusan meter. Seperti ini kehidupan cinta tanpa adanya pihak ketiga yang di undang dan di bukakan pintu, terasa damai dan sejahtera. Meski ada perdebatan kecil soal pendapat.


Ksatria yang masih di buat pusing dengan teror yang terjadi dini hari di kediamannya. Budi yang di rumah sakit nyawanya selamat tetapi dia masih kritis di sana, dengan penjagaan yang ketat. Takut jika terjadi apa-apa pada Budi, lantaran Budi satpam setia di keluarga Malik.


"Besok jangan lupa, beri sembako dan santunan untuk keluarga pak Budi. Ingat jangan lupa bilang jika Budi baik-baik saja keadaanya, saya tidak mau jika keluarganya tau pak Budi hampir saja tidak tertolong. Jika mereka sampai tau saya akan kesulitan mencari satpam seperti dia, lantaran dia satpam setia dan baik. Jadi jangan sampai tau keluarganya, saya tidak mau dia di suruh keluarganya untuk pulang." Ksatria menutup telponnya, usai menyuruh beberapa orang untuk memberikan santunan pada keluarga Budi.


"Pa, ini minumnya Papa minum dulu." Daysi memberikan secangkir teh yang gulanya sudah bebas dari kalori penyebab diabetes.

__ADS_1


"Terimakasih Ma," meminumnya sambil menatap langit yang tidak ada satu pun bintang yang bersinar.


"Papa tidak ingin masuk dan beristirahat, Papa terlihat lelah pasti gara-gara kejadian tadi pagi ya?" memijat pundak Ksatria.


"Tidak Ma, aku hanya memikirkan bagaimana jika kita pindah dari rumah ini Ma. Sudah banyak kejadian semenjak aku masih muda dulu!" jawabnya meminum habis teh tersebut.


Daysi mengiyakan saja.


"Apa Mama setuju kita pindah?" tanyanya lagi saat masuk ke dalam kamar.


"Kemana pun suamiku pergi dan mengajakku aku siap Pa, meski itu harus hidup di dalam kesusahan aku tetap siap. Kita bersama-sama sudah lama Pa dan aku tidak akan pernah meragukan keputusan suamiku ini!" jawab Daysi membuka selimut.


Pelukan hangat menjalar di perut Daysi, suami romantisnya mulai bermanja-manja di perutnya.


Pagi hari.


Universitas Kebangsaan.


Sindy berjalan beriringan dengan Momo, hari ini mereka berangkat bersama-sama sedangkan Cheval juga masuk untuk mengajar hari ini. Meski ada bekas pukulan di wajah tampannya, pesonanya tidak pudar dan berkurang justru bertambah mempesona.


Mahasiswi fans Cheval tetap saja mengagumi dan memberikan hadiah ini itu, Cheval bingung harus menerimanya atau tidak. Jika di terima untuk apa, tetapi jika tidak pasti mereka kecewa. Bukan bermaksud memberi harapan kepada mereka, ini adalah bentuk menghargai usaha orang lain.


Sindy yang melihat sang suami kebingungan langsung menghampiri dan menerima hadiah-hadiah tersebut.


"Momo bantu aku." Dengan sigap Sindy menerima hadiah tersebut.


Cheval menelan saliva nya dengan kesulitan. Haduh istrinya bereaksi pagi-pagi seperti ini.


"Aku terima ya hadiahnya, lagian kan kita adik Aa Cheval. Tidak apa-apa kan?" dengan senyum tercantiknya.


Momo yang melihat ada guratan cemburu di mata Sindy ingin sekali tertawa, tapi tidak jadi. Hadiah-hadiah itu lebih menggoda dan menggiurkan dari pada menertawakan kecemburuan Sindy pada Cheval. Usai menerima hadiah Sindy meninggalkan Cheval yang masih menatap ke pergian nya. Momo yang membawa hadiah-hadiah tersebut bingung harus di apakan.


"Aa, hadiah ini bagaimana?" Momo masih memeluk hadiahnya.

__ADS_1


"Buat kamu, terserah mau di bakar atau apapun. Jangan lupa, mereka tidak boleh tau kado-kado itu kamu apakan!" mengejar Sindy yang sudah berjalan jauh.


__ADS_2