ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Santai saja


__ADS_3

Cheval merasa sedih saat genggamannya tangan pada Sindy di lepas begitu saja.


"Bagus deh." Sindy hendak berdiri namun wanita yang mengaku punya calon suami yang tampannya katanya hampir sama dengan Cheval menyindir.


"Ck, wanita seperti kamu pasti bisanya hanya sembunyi di balik suami doang, gak bisa usaha," sindir Sonya.


Sindy hendak membalas tapi ia menahan amarah itu.


"Maaf ya mbak, jika mbak sudah mau pulang silahkan. Pintu ruangan ini pasti mbak tau kan?" menunjuk sebuah bibir pintu yang memang sudah terbuka.


Wanita yang bernama Sonya itu malah tidak pergi justru menggeser tempat duduknya jadi lebih dekat dengan Cheval, dalam batin Sindy ingin memusnahkan wanita ganjen ini.


Kasihan sekali calonnya jika tau wanita impiannya ternyata semenjijikkan ini, bahkan kotoran saja masih bagus dan ada harganya beda dengan wanita sok kecakepan, sudah badannya gak bisa di prediksi bisa di sentuh dengan nikmat atau tidak.


"Sayang." Cheval menenagkan sang istri, ia tidak mau hotel yang jadi kena imbasnya dari perdebatan.


Sonya tertawa nyaring sekali.


"Sudahlah, aku mau pulang dan mengurus keperluanku sendiri. Jangan lupa, aku tidak mau saat acara tiba nanti acaraku gagal." Sambil mengibaskan rambutnya beranjak pergi.


Sindy mendengus kesal dengan sikap perempuan tadi, kenapa etikanya minus sekali. Apa dia menggoda calon tunangannya seperti ini juga di pepet terus menerus sampai dapat tujuannya.


"Aa." Memukul pundak Cheval untuk menyadarkan suaminya yang sedari tadi menatap kepergian wanita tadi.


"Iya, sayang. Ada apa?" tersenyum manis.

__ADS_1


Sindy ingin sekali pulang tapi jika dirinya pulang pasti banyak perempuan-perempuan yang menggoda suaminya jadi tidak rela untuk pulang.


"Gak ada apa-apa Aa!" Sindy memilih duduk di samping Cheval.


Cheval menarik tengkuk Sindy dan memberikan ciuman pada bibir manyunnya. Sindy mendengus kesal dengan perlakuan Cheval yang selalu mendadak seperti ini, untung Cheval tidak pernah punya teman wanita jadi aman-aman saja.


Jika mengingat nama pelakor ia jadi teringat kisah cinta Momo dan Lais, hampir saja pernikahannya kandas padahal baru saja membina rumah tangga. Tapi waktu itu sebenarnya Lais juga tidak salah membantu Aura tapi bantuannya terlalu berlebihan sampai membuat orang lain salah paham padanya.


Sindy teringat Dilan yang di rawat oleh Mama dan Papa, apa Dilan sudah minum susu atau jangan-jangan Papa terlupa pada Dilan dan lebih asik dengan stik golfnya.


"Kenapa melamun?" Cheval melambaikan tangannya di depan wajah Sindy.


"Enggak Aa, cuma membayangkan Dilan yang berada di rumah!" jawab Sindy tersenyum pada suaminya.


"Sudah kangen dengan dia? ayo pulang kalau begitu." Ajakan Cheval di anguki Sindy.


Kediaman Malik.


"Cup ... cup ... cup ... anak pintar dan tampan, kenapa nangis nak." Ksatria mengendong Dilan sambil mengayunkan tubuh kecilnya agar Dilan berhenti menangis dan agar ia nyaman serta tenang.


Tangisan Dilan terdengar dari dalam rumah padahal sekarang posisi Dilan berada di taman.


Daysi memberikan susu formula pada Dilan, dengan cepat bayi kecil yang ternyata kehausan itu diam.


"Dia lapar ternyata, maaf ya nak papa kurang peka." Tersenyum pada Daysi.

__ADS_1


"Bayi memang dari dulu seperti ini, kalau gak lapar ya popoknya basah pasti rewel minta di ganti. Coba Papa cek dulu popoknya," Daysi menyarankan untuk mengecek popoknya.


Ada rasa sesuatu gitu saat di suruh mengecek bagian popok, horor jika b** tapi semoga saja tidak ya. Ksatria pelan-pelan menurunkan bada. kecil Dilan ke kereta dorong dan mulai mengecek popok dan ternyata benar ia minta di ganti popoknya sekarang.


"Ma ... tolong gantiin popoknya ya." Sambil cengengesan.


Daysi menghela nafas.


"Papa kebiasaan deh, kenapa Papa gak coba lagi gantiin popoknya," Daysi segera mengganti popok Dilan dengan yang baru.


Bayi kecil itu sudah tidak nyaman di tandai dengan ia sering bergerak terus dan hendak menangis. Dilan anak yang pintar, bahkan ia tidak sering menangis sejak di tinggal ibu kandungnya, mungkin ia tau masih banyak orang yang memberikan dirinya cinta dan kasih sayang yang sangat melimpah dan tulus.


Sindy dan Cheval yang baru datang menahan tawa saat melihat papa Ksatria begitu tidak menyukai posisinya sekarang, apa lagi sedang membantu mengambil popok bekas area x dengan tissue basah yang berwarna.


"Dilan." Sindy menyentuh pipi Dilan yang gembul, Sindy bingung dengan garis wajah Dilan kenapa tidak mirip dengan Aura.


Lais dan Momo berada di rumah sakit sekarang karena si kembar hari ini jadwal imunisasi, memang sengaja tidak ikut imunisasi di sekitar desa setempat sebab saat jadwal itu si kembar sakit.


"Sindy, tolong bantu papa ya. Please ... tiba-tiba papa ingat harus beli bola golf siang ini keburu tokonya tutup," alasan yang tidak masuk akal.


Bola golf di lapangan dan gudang peralatan bukannya masih banyak.


"Pa, bukannya masih banyak ya stoknya. Kalau kecebur kolam biasanya juga di ambil orang-orang lalu papa beri tips." Sindy blak-blakan.


Ksatria cemberut.

__ADS_1


Semua tertawa melihat tingkah Ksatria yang ngambek lagi, lucu sekali umur sudah tua dsn banyak cucu masih saja seperti anak bujang.


__ADS_2