
Rumah Sakit Dr. Ahmad.
Daysi berjalan di koridor Rumah Sakit dan memegang erat lengan Ksatria saat ini, ada rasa was-was dan takut saat memasuki ruangan pengambilan tes kesuburan yang telah jadi hari ini.
Setelah mengantri sesuai urutan antrian kini giliran Ksatria dan Daysi yang di panggil dan masuk kedalam ruangan. Daysi begitu takut dengan ucapan Dokter saat membuka aplop berisi hasil tes kesuburan. Dokter menjelaskan jika kandungan Daysi tidak ada masalah apa pun begitu juga milik Ksatria Malik bahkan keduannya di nyatakan sehat dan bisa memiliki keturunan sendiri.
"Tapi Dok kenapa sampai sekarang kami belum memilikinya juga?" tanya Ksatria was-was.
"Setiap orang memiliki badan yang berbeda-beda, banyak berdoa ya pak saran saya," jawab Dokter dengan tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi ya Dok, terimakasih." Ksatria tersenyum dan berpamitan begitu juga dengan Daysi.
Saat berada di dalam mobil. Daysi menggigit ujung kukunya rasanya binggung harus senang atau sedih saat ini. Ksatria yang tau kegelisahaan Daysi langsung menggengam erat tangan Daysi untuk meyakinkannya dan berpikiran positif kedepannya.
"Tapi Sat, jika sampai aku benar-benar tidak bisa memberikanmu keturunan bagaimana, aku takut dan sedih dengan keadaanku saat ini Sat." Menatap wajah Ksatria yang fokus mengendarai mobilnya.
"Daysi jangan seperti ini, kita berdoa Kepada Sang Maha Pencipta oke. Aku yakin kita akan di berikan keturunan meski bukan saat ini," Ksatria menatap sekilas wajah Daysi.
"Iya." Daysi mengeluarkan ponselnya dan melihat notifikasi yang masuk dari ponselnya, baru saja ia tersenyum kini ia murung lagi setelah mendapatkan pesan dari Hugo.
"Siapa yang mengirim pesan?" Ksatria menghentikan mobilnya karena sudah sampai ke kediaman Malik.
"Hugo, dia memberi pesan jika hari ini acara tujuh bulanan istrinya!" jawab sedih Daysi.
"Kamu mau datang." Membuka seat belt.
Daysi menganggukan kepalannya, "iya aku mau datang, bagaimana pun ia teman lamaku." Sambil tersenyum untuk menutupi kesedihan hatinnya.
Hugo yang menikah belum ada satu tahun sudah akan menjadi orang tua sementara dirinya yang hampir dua tahun belum memiliki keturunan. Rasannya sangat pahit menghadapi kenyataan ini meskipun tidak ada penyakit atau apa pun yang menghambat kesuburannya saat ini. Tetapi jika mendengar orang lain akan segera menjadi orang tua rasa iri ada di dalam hati terdalam Daysi, bagaimana pun ia seorang wanita ingin sekali memberikan hadiah terbaik namun apa daya kelelemahan wanita tidak dapat memberikan momongan kepada sang suami dan keluarga.
"Kamu memikirkan apa Daysi," sambil merangkul pinggang Daysi dengan erat.
__ADS_1
"Ehh... tidak, tidak memikirkan apa-apa cuma nanti kesana bawa apa ya enaknya?" mengalihkan kegundahan hatinya.
"Ya, yang wajar-wajar saja di bawa ke sana!" Ksatria masih merangkul Daysi.
Daysi terus menampilkan senyum termanisnya yang mengembang di sudut bibirnya dengan wajah sedikit bersemu merah karena Ksatria memeluknya seperti ini dan Ksatria sedikit mengerakkan tangannya kesana kemari.
"Sat..., apa yang kamu lakukan." Menatap tajam Ksatria.
Ksatria langsung mengalihkan topik. "Apaan, aku tidak kenapa-kenapa bahkan aku tidak melakukan sesuatu memangnya apa yang kamu rasakan?" membisikkannya tepat di telinga, "kamu lagi pengen ya," goda Ksatria di selingi tawa renyah.
"Siapa yang ingin, aku lagi malas," jawab ketus Daysi berlalu pergi. Ksatria yang di tinggal Daysi begitu saja langsung berlari mengejar sang istri.
Hari ini Ksatria membawa pulang semua orang yang ada di kontrakan, bahkan Sacha pun ada di kediaman ini. Sacha saat ini sedang berada di gasebo begitu juga dengan Ksatria Malik.
"Ayo main golf, bisa tidak aku tantang kamu hari ini." Ksatria menyodorkan tongkat stik golf pada Sacha.
"Aduh pak bos, apa anda lupa jika saya baru saja kembali dari Rumah Sakit, tidak lupakan." Sambil menujukkan perut kanannya yang terkena tusuk beberapa hari yang lalu.
"Asataga saya lupa, ya sudah kalau begitu terpaksa main sama body guard deh," Ksatria langsung memanggil satu body guardnya.
"Yess... masuk lagi, memang ya kalau orang sudah perfect dimana-mana apa pun bisa di lakukan." Sambil mengepalkan tangannya bertanda ia menang lagi.
Sore hari.
Daysi hanya menggelengkan kepalannya saat melihat Ksatria masih asik main golf padahal para body guardnya kualahan menghadapi Ksatria Malik.
"Sat..., apa kamu tidak ada niatan untuk istirahat?" Daysi membawa nampan berisi minuman botol.
"Hey Daysi, sebentar lagi oke. Nanggung soalnya!" sambil tersenyum. Daysi hanya menggelengkan kepalannya saja.
Sekitar lima belas menit Ksatria menyudahi permainannya dan duduk di samping Daysi. Semua bawahan Ksatria berpamitan pergi dari lapangan golf. Daysi menyeka keringat Ksatria yang membanjiri wajah tampannya.
__ADS_1
"Romantisnya istriku," Ksatria tiba-tiba melontarkan ucapan yang sangat tidak mungkin di ucapkan oleh seorang Ksatria Malik.
"Baru sadar ya, kemana kamu dari kemarin-kemarin tidak mengucapkan perkataan yang teramat mustahil dari bibirmu ini." Sambil menujuk bibir Ksatria yang lembut.
Daysi mengusap bibir Ksatria beberapa kali dan itu membuat Ksatria tidak nyaman, entah mengapa saat Daysi menyentuh anggota tubuhnya selalu ada desiran sengatan listrik dalam tubuhnya, Ksatria langsung meraih tengkuk Daysi dan memberikan sentuhan luar bisa di bibir mungil Daysi, Daysi yang mendapatkan serangan dadakan hanya gelagapan di tempat karena Ksatria menghisapnya sangat kuat seperti menghisap air es yang berada di kantong plastik dengan tali kuat yang mengikatnya.
Daysi mengigit bibir bawah Ksatria sampai berdarah, "maaf Sat," sambil tersenyum tanpa dosa.
"Issh... kamu ini seperti kepiting saja ketika ada musuh langsung mencapitnya, sakit nih. Tanggung jawab dan obati luka ini," Ksatria sedikit marah sambil memegang bibirnya.
Daysi tersenyum dan mengecup singkat bibir Ksatria, "maaf..., eemm rasa darah." Berlari pergi tanpa mengobati bibir Ksatria yang berdarah.
"Awas ya aku balas nanti malam tanpa ampun," Ksatria segera pergi dari lapangan golf dan masuk kedalam rumah.
Setelah membersihkan diri Ksatria menuju ruang makan karena perut berbunyi tanpa henti sedari tadi dan meminta segera di isi sebanyak mungkin. Ksatria tersenyum saat ada camilan kesukaannya yang telah lama ia rindukan.
"Waahh ada risoles sore ini, apa kamu yang membuatnya?" Ksatria menatap Daysi dengan senyum merekahnya.
"Iya, tetapi aku tidak memberikan cabai lagi, gunakan saos ini biar tidak sakit perut lagi gara-gara cabai." Memberikan botol kecil berisi saos siap pakai.
"Terimakasih, istriku sangat pengertian deh," mengambil risoles dan mulain menuangkan saos di atas risoles dengan lahap Ksatria memakan 5 risoles dalam sekejab.
Daysi hanya menggelengkan kepalannya melihat sang suami makan dengan lahap dan gembira, rasa bahagia menyelimuti hati Daysi setidaknya pekerjaanya sebagai istri tidak sia-sia. Ksatria yang sadar di tatap penuh cinta oleh Daysi langsung menyuapi Daysi.
"Buka mulutmu, ayo buka."
Daysi dengan malu-malu membuka mulutnya dan menggigit risoles pemberian Ksatria, Aurellia dan Sacha yang berada di meja yang sama seperti makhluk tak kasat mata saja saat ini.
"Eehhemm... lihat kondisi dong ada orang ini," deheman Sacha berhasil membuat kedua makhluk yang saling romantisan berjarak.
"Menganggu, sana cepat halalkan adikku biar bisa kayak gini," ledek Ksatria pada Sacha.
__ADS_1
"Nanti saja kalau waktunya sudah pas." Sambil mengangkat jempolnya.
Meja makan hanya di selingi tawa oleh Ksatria dan Sacha saja sementara Daysi dan Aurellia hanya menatap dua laki-laki yang saling melempar candaan.