
"Dia hilang Om saat berumur empat tahun dan istriku berada di Rumah Sakit sejak kami kehilangan Lana putri kecil kami." Alam memperlihatkan foto putri kecilnya pada Ksatria Malik.
Jadi Ksatria Malik juga belum tau Lana yang di angkat oleh putrinya Momo anaknya Sacha Mahendra adik iparnya dan Aurellia adik kandung Ksatria dan Daysi, dari mana sebab wajah Lana saat umur 2 tahun dan 4 tahun tidak sama alias beda.
"Kenapa Om merasa tidak asing dengan gadis ini. Astaga ... bukannya ini Lana, iya ini Lana putri yang di rawat kalian sejak kecil saat sendirian di tepi jalan dan sedang meminta-minta waktu itu." Ksatria bergegas dari tempat tidur dan menuju almari yang berisi pakaian Lana saat bayi dulu, seharusnya Lais yang menyimpannya tidak kumuh dan sengaja ia simpan dan tidak di cuci takut suatu hari orang tua yang sesungguhnya mencarinya.
Ksatria Malik memberikan pakaian lusuh yang di pakai oleh Princess kecil waktu itu, pakaian ini. Alam terperangah dengan apa yang ia lihat dan hampir tidak percaya jika Princess yang ia temui bukan putrinya yang hilang sebab dari pakaian saja berbeda tidak sama, putrinya kecil hilang saat umurnya 4 tahunan sedangkan ini jelas-jelas pakaian anak bayi.
"Jadi, dia buka bukan putriku yang hilang selama dua puluh tahun lamanya. Tidak apa-apa, saya yang terlalu berharap lebih sebab mereka berdua ada kemiripan dengan istriku juga, Om apa saya boleh pergi mengunjungi Princess? saya begitu rindu dengan putri kecil saya yang hilang, hanya melihat Princess bisa mengobati kerinduan saya selama ini." Mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
Lidah Ksatria sangatlah keluh dan ia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi, sedangkan Princess sudah pergi dari kota ini entah kemana perginya dan yang lebih parah lagi cucunya yang bernama Dilan penyebab kekacauan sekarang. Momo yang sudah memberitahukan berita buruknya itu, kaget dan shock dengan cerita yang Momo ceritakan. Membuat malu dan membuat aib saja bisanya anak tidak tau malu itu.
"Jadi, Princess adalah bukan putrinya istrimu yang bernama Yeni?" Daysi mendekat i suaminya itu yang sedang bersandar di tempat tidur.
Alam mengangguk begitu juga dengan Ksatria.
Daysi masih saja menampilkan wajah cantiknya, usia tidak bisa di rubah tapi kesehatan bisa di rubah bukan dengan cara pola makan dan gaya hidup harus di kontrol dengan baik dan benar, lagian ia masih ingin mendampingi suami dan anak-anak serta cucu-cucu tersayangnya.
Di ruang tamu.
Alam terus saja bertanya bagaimana kelakuan Princess saat masih kecil, apakah ia bandel dan melakukan hal-hal yang merepotkan.
Suara tawa Alam begitu lepas tanpa ada beban, tapi kemudian setelah lelah ia menanyakan dimana Princess dan ingin segera bertemu dengannya hari ini.
Terpaksa Daysi sedikit berbohong demi kebaikan.
"Em ... itu, Princess sedang berada di Luar Kota. Jika nanti ada waktu pasti menelpon kami, sebab terakhir kali kami di hubungi katanya sinyal di sana sulit di jangkau, sebab berada di pedesaan dan jauh dari kota." Daysi hanya berani menumpuk kebohongan.
Bahkan suami saja juga ikut-ikutan berbohong juga agar Alam, Daysi tidak pandai berbohong seperti biasanya tapi kali ini kebohongannya sangat terlihat nyata dan aman-aman saja, Alam begitu mengagumi Princess tapi justru putra angkatnya yang bernama Dilan telah lancang menodai Princess dan membuat Princess pergi jauh bahkan belum di temukan keberadaannya sekarang, apa sudah makan atau belum dan bagaimana kesehatannya.
Dilan mencari keberadaan Princess dan ingin meminta maaf, namun tanpa sengaja ia bertemu seseorang yang teramat ia kenali yaitu Princess apa benar itu dia tapi .. tapi .. di sini ada yang aneh kenapa dan kenapa Princess berpakaian minim sekali bahkan bergelayut manja di lengan laki-laki tanpa tau malu apa ini kelakuannya yang ia tutup-tutupi untuk kesenangannya saja, apa ini pekerjaan barunya, sampai-sampai di pecat saja masih hidup santai dan nyaman.
"Dasar wanita hina, pantas jika kamu tidak aku pertahankan. Ternyata semakin kesini otak dan pikiranku terbuka ke kamu, seharusnya kamu tidak di cintai orang dan tidak pantas mendapatkan perhatian orang lain." Dilan mengepalkan tangannya.
Tanpa basa basi Dilan langsung saja keluar dari mobil dan langsung menghajar laki-laki yang berada di dekat wanita tersebut. Ia terkejut saat mendapatkan serangan tiba-tiba begitu bahkan ia tidak sempat menghindar dan alhasil wajahnya sedikit memar dan terluka.
Bugh
Bugh
Bugh
"Dasar laki-laki brengse* berani-beraninya jalan dengan kakak dan membuat kakak Princess berpaling dariku." Dilan memukul wajah dan perut pria tersebut.
"Kamu yang brengse*, pukul orang tanpa bertanya dulu. Siapa Princess, bahkan aku tidak mengenal nama panggilan itu?" geram pria tersebut sambil menunjuk-nunjuk wajah Dilan dengan tatapan murka sebab tanpa adanya api tiba-tiba orang yang tidak di kenal menghajarnya secara langsung bahkan tanpa ampun.
"Kakak Princess itu wanita yang ada di samping kamu, apa kamu puas merebut dia dariku dan menyebabkan ia berpaling dan memilih kamu!" saling menunjuk dan mencengkeram kerah baju.
Seketika 2 insan ini terdiam, siapa Princess dan seperti apa Princess wajahnya sampai-sampai orang ini main pukul begitu saja.
__ADS_1
"Maaf Tuan, tapi saya bukan Princess seperti yang anda sebutkan barusan. Perkenalkan nama saya Bunga dan ini teman terbaikku setiap malam, Dion." Dengan senyum menggoda.
Dilan memundurkan badannya, memang benar ini bukan Princess sekilas mereka sama namun ada yang berbeda yaitu sudut senyum di bibirnya. Princess tidak ada lesung Pipit di samping bibirnya, sedangkan wanita ini ada satu di bagian kanan bibirnya.
Jadi? selama ini dirinya salah faham pada kak Princess. Lantas kenapa Princess mengiyakan itu, apa ini trik tarik ulur darinya tapi kenapa jika ini triknya. Kenapa ia pergi setelah kejadian cinta di pagi setengah siang waktu itu, kenapa. Sekarang hanya ada penyesalan di hati dan diri Dulan, ia bersimpuh di tepi jalan dan menyesali atas perbuatannya pada sang kakak.
"Maaf saya salah orang, sekali lagi saya minta maaf." Dilan beranjak pergi namun di tarik oleh Bunga.
"Temani saya nanti malam, baru kamu bisa pergi. Jika tidak, maka kamu tidak dapat perminta maafan dari kami berdua," masih saja mengeluarkan rayuan maut andalannya.
"Baik." Dilan mengiyakan saja, ia tidak mau jadi orang pengecut lagi.
Malam hari.
Bunga tersenyum penuh kemenangan saat menatap Dilan yang begitu menggoda malam ini, bahkan Dion saja kalah saing sekarang. Ada mangsa yang begitu indah kenapa tidak mencicipi nya sedikit saja sebagai cicilan dulu.
"Kamu mau apa?" Dilan memberontak saat Bunga mendekatinya.
Hari ini hari paling gila yang pernah ia lewati dalam semasa hidupnya, bagaimana tidak ia baru saja melihat adegan percintaan yang panas antara Bunga dan juga Dion partnernya, mereka bahkan tidak malu di lihat orang lain, benar-benar urat malunya sudah putus di tambah lagi tangan nakal di keduanya yang tidak berhenti memberi rangsangan sentuhan.
'Benar-benar melihat film hot secara live, gila-gila pasti aku sekarang ini tidak tinggal di Negara ini pasti aku berada di Luar Negri yang bebas sek*' Dilan menggelengkan kepalanya.
"Menyentuh kamu," jari telunjuknya meraih dagu Dilan dan menatap secara intens laki-laki menawan ini.
"Jijik." Memalingkan wajahnya.
Bunga tersenyum.
Tangan dan kaki Dilan di ikat pada sofa bahkan ia mau memberontak saja tidak bisa sebab selain di ikat dengan tali ia juga di beri lak ban yang kuat di tangan dan kakinya.
Ia tersenyum tanpa malu saat menatap benda di balik itu, ia perlahan membukanya namun belum sempat menikmati rasanya Dion yang geram langsung menarik Bunga dan memberikan lagi ciuman luar bisa padanya. Dilan bernafas lega adegan yang seharusnya tidak terjadi seharusnya memang tidak terjadi.
"Hampir saja, kecolongan." Dilan bisa bernafas kali ini.
1 Minggu telah berlalu.
Kesalahpahaman belum usai dan mereda.
Dilan menatap kesana kemari tapi tidak mendapati siapa-siapa dia lupa jika di tempat ini hanya dirinya sendiri, tempat kos yang biasa-biasa saja bahkan untuk makan dan minum semua harus membeli sendiri. Kamar mandi ada tapi ya seadanya sebab tempat yang ia sewa sangat sederhana demi kuliahnya dan juga kehidupan beberapa waktu yang akan datang sambil mencari pekerjaan yang layak.
Memang layak dirinya mendapatkan ini lagian bukannya seharusnya dari dulu di buang tanpa di pungut jika saat dewasa hanya membawa masalah dan beban hidup saja.
Princess berjalan kaki menelusuri trotoar tapi entah dari mana ada motor besar menyerempet dirinya, apa dia gila? inikan trotoar tempat orang berjalan kaki bukan tempatnya sepeda motor sebesar itu melintas, sepertinya buta matanya itu.
"WOY ... berhenti kamu." Berteriak sambil menunjuk-nunjuk laki-laki itu, sang lelaki sebenarnya merasa jika dirinya menyerempet orang.
Ia berhenti begitu juga sekretaris laki-lakinya.
"Bagaimana bos, apa harus di ringkus pakai uang biar dia diam bos?" pertanyaan Danny langsung di anggukki oleh Romeo.
__ADS_1
"Baca dengan teliti semua dari nomor satu sampai dua puluh, poin-poin yang tertulis di situ semua sudah jelas sekali. Tanpa ada yang di tutup-tutupi." Romeo melempar berkas tersebut ke atas meja agar Princess tau posisinya sekarang, ia sebal sekali ketika Princess menolaknya mentah-mentah seperti daging haram saja.
"Harus begitu saya baca, ingat ya pak saya ini cuma artis kecil di Industri besar milik bapak ini, tidak mungkin kan saya harus bermain di skenario karya bapak?" Princess masih saja menolak skenario Romeo, entahlah apa penyebabnya yang jelas Princess tidak seperti gadis pada umunya.
'Ee ... he ... he ... kamu pikir aku dapat kami bohongi lagi, tidak ya. Lagian di kehidupanku yang mendatang ini aku tidak mau kamu bodohi lagi Romeo gak jadian sama Jumi, enak aja aku kamu bunuh gara-gara selir mu yang bajinga* itu.'
Princess menatap malas laki-laki yang ada di depannya, yang naf$unya sama seperti dia yang bajinga* itu. Seorang adik yang tidak bisa di anggap adik, lebih tepatnya penjahat area ************. Princess tidak tau sekarang keadaan Dilan adiknya, ia lebih memilih untuk hidup bahagia tanpa adanya masalah meski ia tau jika mamanya Momo dan papa Lais serta keluarga besar Malik dan Mahendra mencari keberadaan dirinya sekarang, tapi Princess masih butuh waktu sendiri yang sangat lama.
Ini bukan akhir cerita tapi ini awal yang baru, dimana semua berawal dari nol tanpa memiliki apa-apa, tapi bahagia sudah cukup bukan. Ini yang dirinya inginkan sejak dulu, ia pikir hidup kaya dan berkecukupan merasa bahagia dan senang tapi nyatanya tidak untuk Princess, ia tertekan dalam hidupnya.
"Princess." Panggil seorang laki-laki yang baru saja menjeratnya.
Lebih tepatnya menjerat di jadikan pendamping hidup, tapi Princess ragu di tambah lagi belum kenal luar dalam orang itu dari segi materi si luar biasa bahkan Dilan secuil saja tidak ada, tapi kalau sikap .. dingin sekali, apa semua laki-laki seperti Romeo dinginnya kebangetan.
"Iya, ada apa?" lemah lembut tapi terpaksa ia lakukan, masih butuh makan dan hidup untuk sementara sambil menunggu pekerjaan barunya.
padahal baru juga duduk sudah di panggil sambil tersenyum-senyum lagi, apa dirinya terjerat dengan orang yang salah? apa dia kehilangan kewarasannya..
"Ini makanlah dulu" sambil duduk di sampingnya dan mulai menyiapkan makanan pada Princess.
Princess menatapnya, ia tidak langsung membuka mulutnya justru merapatnya mulutnya.
"Ayo makan, jangan malu-malu. Aku ingin loh menyuapi kamu dari tangan aku langsung." Romeo bersikukuh seromantis mungkin.
Mungkin sedikit aneh dan asing tapi demi Princess ia akan lakukan apapun itu. Romeo orang yang baik tapi posesif dan akan melakukan apa saja demi apapun yang ia ingin capai dalam hidupnya, bahkan memiliki Princess yang baru ia temui.
"Ada racunnya?" Princess menatap sendok dan menggeser sendok itu ke lain arah.
Romeo tersenyum.
"Tidak ada, aku bukan psikopat handal!" Romeo tetap menyodorkan sendok yang berisi makanan satu suapan.
"Gak percaya." Acuh.
Romeo geregetan sekali.
"Saya buktikan jika ini tidak beracun," mengunyah dan menelannya.
Princess masih menunggu reaksi dari makanan yang dimakan Romeo, benar-benar tidak ada racun sama sekali. Bagus deh jika di sambut dengan baik di rumah ini, mewah dan besar rumahnya. Halaman luas sama persis seperti rumah Grandpa dan Grandma dan juga rumah Kakek Mahendra dan nenek Aurellia, meski belum melihat beliau tapi Princess yakin mereka orang-orang baik yang meninggalkan dunia dengan cara baik, dan juga pasangan sehidup semati.
"Sini, aku akan makan sendiri saja. Lagi pula tangan aku masih sehat walafiat tanpa kekurangan sedikitpun, kecuali kuku aku yang tadinya sedikit panjang kini habis. Entah siapa yang memotongnya dan tidak ada ucapan apa-apa untuk meminta maaf sebab memotong kuku tidak ada izinnya bahkan ganti ruginya saja tidak ada sama sekali." Menyindir lagi.
Romeo bukannya marah malah ia tersenyum sambil menyentuh pipi Princess yang lembut.
"Jangan pegang-pegang, gak jadi makan,"
"Iya ... iya ..., aku tau sadar diri kali. Tapi aku suka kamu bisa tersenyum lagi Princess, aku akan obati luka kamu dan menerima kamu sebaik mungkin ya." Jelasnya tersenyum manis.
Princess mengangguk dan langsung memeluk Romeo.
__ADS_1
Akhir yang bahagia meski ia harus lepas dari keluarga yang sudah membesarkan dirinya, memang seperti orang tidak tau terimakasih tapi ini yang harus ia lakukan untuk melupakan semua nya tanpa terkecuali.