ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
232. Terang bulan


__ADS_3

Kediaman Malik.


Hari ini sangat ramai, banyak anak yatim piatu berdatangan begitu juga dengan janda atau duda serta orang musafir atau orang yang dalam perjalanan jauh. Semua orang boleh masuk, lagian banyak persediaan makanan ada seribu porsi lebih nasi kotak. Bahkan warga sekitar yang melintas juga turut serta meramaikan acara buka bersama di kediaman Malik.


Syukur Alhamdulliah mereka ucapkan atas kelancaran acara buka bersama hari kedua berpuasa di bulan suci Ramadhan ini. Indahnya berbagi kepada orang lain sangat melegakan hati dan pikiran dalam diri.


"Aku kira kalian tadi tidak akan datang, sangat di sayangkan jika tidak datang." Sindy memeluk Momo.


Suara langkah kaki mendekati Momo dan Sindy, mereka berdua langsung menatap sumber suara itu dan ternyata Dhela Randa datang ke acara ini. Ya tadi pagi Daysi menghubungi Dhela untuk datang, saat ini Dhela datang dengan seseorang yang tak lain yaitu Emillia. Ko bisa dengan Emillia, bukannya Emil dekat dengan Nadia. Banyak tanda tanya di benak Sindy dan Momo.


"Jangan salah sangka dulu, Mbak Nadia ada di toilet." Dhela berucap seolah-olah ingatannya sudah pulih 100 persen dari sebelumnya.


Mereka berdua tambah terkejut dengan ucapan Dhela.


"Ingatan kamu???" Sindy menunjuk wajah Dhela.


"Sudah pulih, aku ingat semua dari kecelakaan kedua orang tua aku!" jawab Dhela tersenyum.


Sindy dan Momo langsung memeluk Dhela dengan penuh suka cita. Tidak ada dendam di antara mereka, lantaran mereka sejak kecil sebenarnya berteman meski sering bertengkar kecil. Maklum saja dulu masih anak-anak dan sekarang sudah dewasa.


"Sabar ya Dhela." Ucap Momo dan Sindy bersamaan.


"Iya, terimakasih atas bantuannya juga" Dhela bersyukur pernah bertemu orang-orang baik ini, jika tidak pasti ia tidak akan menjadi orang yang lebih baik lagi.


Mereka saling berpelukan seperti benar-benar sahabat sejati. Nadia yang baru datang sangat terharu melihat ini, padahal Nadia tidak terlalu akrab dengan mereka. Hari ini Nadia sedikit terpaksa datang, jika bukan Emillia yang meminta untuk menemani Dhela ia tidak mau.


"Seharusnya aku tidak berhubungan dengan Emil, selain tidak setara. Aku dan dia tidak mungkin sama-sama, terlihat jelas aku seperti pelakor. Andai dulu aku tidak mengenal Emil dan aku terbawa perasaan, karena paras bule dan tampannya." Nadia membatin dan menyadarkan diri jika dirinya tidak pantas dengan orang-orang yang ada di sini.


Mereka semua orang berada sedangkan dirinya sekarang hanya membantu jualan nasi di depan rumah.


"Nadia, ayo." Ajak Emil menggenggam tangan Nadia kemudian ia tarik, ia tidak enak hati atas perilaku baik Emil padanya.


Emil laki-laki baik semenjak dekat dengan Nadia, seolah-olah ada magnet yang secara otomatis menariknya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

__ADS_1


"Maaf, aku lupa jika ini bulan suci." Emil bisa-bisanya lupa dengan bulan yang penuh berkah.


"Iya, tidak apa-apa. Semua butuh proses," Nadia tersenyum.


Sudah beberapa bulan ini Emil belajar menjadi seorang Muslim, ia ingin menikah dengan wanita muslim yang ada di Indonesia. Ia terlalu jatuh cinta dengan Negara Indonesia dan ingin menjadi warga Indonesia. Tentu saja ia sudah datang di salah satu Pesantren yang ada di Indonesia untuk masuk ke dalam Agama Islam. Nadia mendukung keputusan Emil semoga ini menjadi jalannya menjadi seorang Mualaf dan tau arahan, untuk hidup di dunia yang lebih baik lagi dan tentunya untuk membimbing ke SurgaNya Allah.


Acara berbuka puasa di awali dengan ceramah salah satu Ustaz besar di kota ini.


Malam hari pukul 08.30 WIB.


"Dhela aku hantar pulang ya." Emil menawari Dhela, Nadia yang tidak jauh dari tempat kejadian langsung memalingkan wajahnya. Ia tidak mau terlalu terbawa perasaan sekarang.


"Tidak usah Emil, kamu pulang saja dengan Mbak Nadia," sambil tersenyum dan melambaikan tangan kemudian ia masuk ke dalam taxi.


Nadia terdiam.


Sedangkan Emil menemui Nadia.


"Aku hantarkan pulang ya." Menawari Nadia. Nadia mengangguk mengiyakan saja dari pada naik taxi dan membuang-buang uang.


"Bagaimana kabarmu?" Emillia masih fokus menyetir.


"Seperti yang kamu lihat, baik!" Nadia enggan berbicara banyak.


Rasa hawatir di sebut pelakor dan doyan berondong kian menggema di telinga dan pikirannya.


Sesampainya di rumah Emillia masuk dan menatap kesana kemari, seperti ada yang hilang.


"Cari apa?" Nadia tersenyum memberikan air putih, karena adanya air putih saja.


"Ibu kamu dimana!" melihat kesana kemari.


"Ibu lagi di pesantren jika bulan puasa." Nadia duduk sangat jauh dari Emil.

__ADS_1


Emillia hanya bertanya-tanya dalam benaknya, kenapa jauh sekali duduknya.


"Kenapa dudukmu jauh sekali dariku?" Emillia mencoba mendekat tapi oleh Nadia di hentikan dengan tangannya yang menyetop langkah Emil.


"Jangan mendekati aku lagi Emil, pulanglah aku mau istirahat!" tolak Nadia tanpa menatap wajah Emil.


Ada rasa kecewa mendapat tolakan dari Nadia, kemudian ia sadar jika dirinya bukan suami yang bisa mendekati dirinya semaunya sendiri.


"Baik, aku pulang dulu kalau begitu. Hati-hati di rumah, oh... ya ini kamu coba pakai ya." Memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah.


Nadia menerima tanpa ada penolakan. Setelah kepergian Emillia barulah Nadia membuka kotak itu, isinya sebuah cincin yang sama persis sewaktu Emillia menunjukkan untuk calon istrinya nanti.


"Apa dia sudah punya calon istri." Raut wajah Nadia berubah suram.


Kediaman Erdana Khan.


Lais bermanja-manja di paha Momo sambil menciumi perut Momo, Momo merasa kegelian dengan tingkah suami super manjanya. Ya semenjak kejadian itu Lais menjadi lebih baik dari sebelumnya, juga tidak mengecewakan lagi. Semoga ini berlangsung lama dan selamanya.


"Mas aku lapar." Momo memelas seperti kucing kecil yang mencari induknya.


"Sebentar aku buatin sayang, mau makan apa?" Lais siap siaga.


"Terang bulan yang penuh keju dan susu, tapi belinya di depan Indomare* mas!" jawabnya manja.


Lais menelan saliva nya dengan kasar, tempat yang jarang ia jamah kini harus ia lakukan. Di tambah lagi lumayan jauh dari rumah.


"Yakin terang bulan itu, di rumah aja ya kamu sayang." Lais mencoba tenang dan tidak panik.


"Aku mau ikut mas, mau milih topingnya sendiri," memanyunkan bibir.


"Baiklah sayang, demi kamu dan calon anak kita." Lais menggenggam erat jari jemarinya.


Lala sebagai pengasuh Princess menjaga dan merawat si kecil yang menggemaskan ini selama si bos dan bu bos pergi.

__ADS_1


"Apa Princess sudah tidur mas?" Momo hawatir.


"Sudah sayang, ayo kita berangkat!" Menuju garasi mobil.


__ADS_2