Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Dipecat


__ADS_3

Mata Riana melebar ketika melihat sosok pria yang tengah menatapnya dengan tajam. Duduk di kursi kebesaran seorang direktur utama.


"Aku gak salah lihat 'kan?"


Riana masih mematung diambang pintu. Dia masih benar-benar terkejut. Setelah berlari-larian kini dia mendapat kejutan yang hampir membuat jantungnya terlepas.


"Ngapain kamu berdiri di situ?" sergah sang direktur utama.


"Ma-maaf, Pak," ucap Riana terbata-bata.


"Ri, duduk sini." Randi sudah menggeser tubuhnya agar Riana duduk di sebelahnya. Namun, Riana menatap ke arah direktur utama yang masih menatapnya tajam dan dingin.


"Kamu sekretaris saya. Apa kamu tidak melihat ada kursi kosong di sebelah saya?" Riana mengangguk pelan dan lebih menuruti perintah dari atasannya. Bukan hanya sekedar atasan tapi ....


Rapat kembali di mulai. Lagi-lagi direktur utama membentak setiap karyawan yang tidak benar dalam menyelesaikan laporan. Denisa dan Randi terkena bentakan yang sangat menusuk ulu hati. Direktur utama seperti sedang mengeluarkan seluruh unek-unek di hatinya.


Riana tidak terlalu fokus kepada rapat yang tengah berlangsung. Dia masih memikirkan perihal direktur utama di sampingnya. Dia mulai menyambungkan satu per satu puzzle yang dia miliki. Dia pun melihat ke arah Ari dan juga Rani.


"Jadi ...."


Rapat pun diakhiri. Wajah murka direktur utama sangat terlihat jelas. Dia bangkit dari duduknya.


"Saya tunggu kamu di ruangan saya," ujarnya ke arah Riana. Direktur utama itu pun berlalu begitu saja.


"Siap-siap keluar dari perusahaan ini," ejek Denisa dengan seringainya.


Langkah direktur utama terhenti ketika pintu sudah dibukakan oleh Ari. Dia membalikkan tubuhnya dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Kamu!" tunjuk sang direktur utama ke arah Denisa.


"Saya tunggu kamu di ruangan saya satu jam lagi. Jika, laporan kamu masih kacau balau. Silahkan angkat kaki dari perusahaan ini."


Wajah Denisa sudah mulai pias. Riana enggan berlama-lama di ruang rapat. Namun, langkahnya terhenti karena panggilan Randi.


"Kamu kenapa terlambat?" tanya Randi.


"Aku ke ...."


"Apa kamu tuli? Saya menyuruh kamu untuk ke ruangan saya. Bukan malah mengobrol di situ," bentak direktur utama yang ternyata sedari tadi belum masuk ke ruangannya.


"Aku permisi, Ran."


Riana bergegas masuk ke dalam ruangan direktur utama yang sangat dingin dan mencekam. Tatapan tajam dia dapatkan dari pria yang sangat dia kenali.


Sebelumya ....


Seorang pria muda, tampan dan berkharisma berjalan beriringan dengan Ari dan juga Rani. Aura ketampanannya mampu membuat para karyawan wanita yang melihatnya terpesona.


"Masih muda, tapi sudah jadi direktur utama. Keren, ya," bisik salah seorang karyawan wanita.


"Perkenalkan, di samping saya ini adalah direktur utama WAG Grup, Ghassan Aksara Wiguna," papar Ari.


Ruangan rapat mendadak hening karena tatapan mereka tertuju pada sosok pria tampan yang tengah berdiri di hadapan mereka.


"Beliau memang baru kali ini mengunjungi perusahaan karena beliau sedang sibuk dengan pendidikan S2-nya di Melbourne. Namun, beliau selalu memantau kinerja para karyawan di sini. Termasuk saya dan juga Pak Fahri," lanjut Rani.

__ADS_1


Aksa mengangkat tangannya menandakan bahwa cukup untuk perkenalannya.


Kembali ke ruangan direktur yang berisi Riana dan juga Aksa.


"Kenapa datang terlambat?" Pertanyaan yang masih terdengar dingin dan datar.


"Bukankah Abang sudah tahu jawabannya," jawab Riana malas.


Brak!


Aksa menggebrak meja di depannya dan membuat Riana terkejut.


"Di sini saya atasan kamu! Jawab yang sopan," sentaknya.


Dada Riana berdegup sangat cepat ketika mendengar bentakan dari seseorang yang selalu memperlakukannya dengan sangat lembut. Matanya sudah nanar, tetapi sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Riana menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab kembali pertanyaan dari Aksa.


"Sa-saya bangun kesiangan. Lalu, ojek yang saya tumpangi pun mengalami pecah ban dan karena macet, saya berjalan kaki dari ujung jalan sana hingga ke kantor." Bibirnya menjelaskan dengan suara yang bergetar.


"Kamu boleh keluar."


Riana hanya mengangguk hormat dan meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang sudah menetes. Dia mendudukkan dirinya dan menunduk dalam.


"Jika, di luar dia memang kekasihmu. Jika, di kantor dia adalah atasan kamu."


Mulai sekarang, Riana harus terbiasa dengan bentakan dan kemarahan direktur utama yang tak lain adalah kekasihnya.


"Kamu kenapa?" Riana segera menghapus air matanya ketika Randi bertanya.


Riana memilih pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Setelah itu, dia masuk ke pantry. Mencopot high heels-nya. Sedari tadi Riana merasakan telapak kakinya sakit.


"Pantas, berdarah," gumamnya.


Ketika menggunakan sandal jepit, ternyata ada jarum yang menancap di bawahnya. Otomatis yang runcingnya menembus ke atas sandal dan mengenai telapak kaki. Berhubung buru-buru, Riana tidak mempedulikannya. Pada akhirnya, kakinya harus terluka seperti ini.


Riana mencari kota P3K. Ketika tangannya hendak meraih P3K ada tangan seseorang yang terlebih dahulu mengambilnya. Riana mencium aroma parfum yang sangat tidak asing.


Ketika dia menoleh, seseorang tengah menatapnya penuh penyesalan. Tanpa basa-basi, pria itu menggendong tubuh Riana dan meletakkannya di kursi. Tangannya membersihkan luka di telapak kaki Riana dengan alkohol. Kemudian, dia tutup dengan plester.


Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Hanya keheningan yang tercipta.


"Maafkan Abang." Aksa menatap nektra cantik Riana dengan tatapan sendu.


"Jangan menangis lagi." Aksa mengecup kelopak mata Riana satu per satu.


Aksa tahu, ketika keluar dari ruangannya sang kekasih menangis. Dia juga mendengar bahwa Randi mulai mendekat ke arah Riana. Akan tetapi, Riana menghindarinya dengan pergi ke kamar mandi.


"Pak." Suara Ari memecah keheningan. Dia menyerahkan paper bag kepada Aksa.


"Sekarang kamu pakai, ya."


Isi paper bag itu adalah sepatu flat shoes. Aksa memakaikan sepatu itu ke kaki Riana.


"Sekarang kamu bisa kerja lagi," ucap Aksa yang sudah berdiri.

__ADS_1


Riana masih belum membuka suara, tetapi dia mencoba menuruti perintah atasannya tersebut. Aksa membantu Riana untuk bangun. Kemudian, dia membalikkan tubuhnya untuk meninggalakan pantry.


"Bang."


Langkah Aksa terhenti ketika Riana memanggilnya. Dia pun menoleh ke arah belakang.


"Apa semua ini rencana Abang?"


Pertanyaan yang sudah Aksa prediksi akan Riana lontarkan. Aksa membalikkan tubuhnya dan mendekat ke arah Riana. Dia mengusap lembut pipi putih sang kekasih.


"Nanti akan Abang jelaskan."


Aksa berlalu begitu saja membiarkan Riana bergelut dengan pikirannya sendiri. Riana sudah berada di balik layar laptopnya. Banyak karyawan yang mondar-mandir masuk ke ruangan direktur utama. Setelah keluar, wajah mereka nampak pias. Itu terjadi pada Denisa dan juga Randi.


"Riana, ke ruangan saya."


Begitulah perintah dari direktur utama melalui sambungan telepon kantor. Di ruangan direktur, ada Ari dan juga Rani. Namun, mereka memilih keluar dari ruangan ketika Riana datang.


Randi yang melihat dua atasannya keluar ruangan direktur utama mengerutkan dahinya. Apalagi dia melihat jika Riana tadi masuk ke ruangan itu.


Di dalam ruangan, Riana masih berdiri di hadapan Aksa membuat Aksa menarik tangan Riana hingga dia terjatuh ke pangkuan Aksa. Aksa pun mengunci tubuh Riana.


"Lepas!"


Aksa tidak mempedulikan seruan Riana. Dia semakin mengunci tubuh Riana.


"Abang gak akan pernah melepaskan kamu, Sayang." Riana pun mendengus kesal.


"Jelasin!"


Aksa menatap manik mata cantik itu dengan penuh cinta.


"Ini semua rencana Abang agar kamu bisa Abang pantau terus. Perusahaan ini adalah perusahaan gabungan milik almaruhum Kakek Winarya dan juga Kakek Genta yang diserahkan kepada Abang."


Riana benar-benar terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Aksa.


"Gaji besar pun ...." Aksa mengangguk.


"Sekarang cek ponsel kamu. Sudah Abang transfer uang pesangon untuk kamu."


"Pe-pe-sangon?" ulang Riana.


"Ya. Kamu DIPECAT!" Mata Riana melebar seketika.


"Kesalahan Ri apa?" tanyanya.


"Kamu dengar 'kan Abang paling tidak suka dengan karyawan yang datang tidak tepat waktu. Abang tidak pernah main-main dengan ucapan Abang." Riana pun tersentak mendengar ucapan Aksa.


"Tapi ...."


"Kemasi barang-barang kamu, dan ikut Abang ke Jakarta."


...****************...


Komen atuh biar akunya semangat ....

__ADS_1


__ADS_2