Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Musuh Kecil


__ADS_3

Gavin Agha Wiguna menjadi makhluk yang paling ditakuti oleh para makhluk astral. Balita itu kini tengah keluar masuk halaman belakang, lalu ke dalam rumah lagi. Namun, makhluk yang dia cari tidak ada. Kebetulan Iyan baru saja masuk ke dalam rumah. Dia baru pulang sekolah.


"Om Yanyan. Liat antu botat dak? Tama antu mata topot."


Iyan tertawa mendengarnya, dia mengusap lembut rambut Gavin.


"Enggak lihat." Iyan berbohong. Dia kasihan kepada Dev dan juga si makhluk kerdil karena keponakannya ini pasti ingin bermain-main dengan mereka.


"Payah." Gavin merengut kesal dan membawa bola serta kacang hijau ke dapur.


"Loh kenapa dibawa lagi?" Echa sedang memotong puding yang sudah Mbak Ina buat.


"Dak ada teman. Meleka payah, meleka temen."


(Gak ada teman. Mereka payah, mereka Cemen)


Echa hanya tertawa, kemudian dia memberikan puding cokelat kesukaan Gavin.


"Mending kita makan dulu." Gavin pun bersorak gembira. Dia mengikuti langkah Echa menuju ruang keluarga.


"Bubu, Dedek mau," ujar Aleeya.


"Kalian sudah besar, bisa ambil sendiri di lemari pendingin."


Ketiga anaknya berlari sangat cepat hingga Echa menggelengkan kepalanya. Dia bahagia sekali karena Gavin memakan puding dengan sangat lahap.


"Bubu, talo atu puna adit. Atu mau tatih boneta betal buat adit atu."


(Bubu, kalau aku punya adik. Aku mau kasih boneka besar buat adik aku)


"Emang Empin yakin adik Empin bakalan cewek?" Gavin mengangguk dengan sangat percaya diri.


"Halus tewe. Tata Daddy ... atu atan dadi pelindung buat Mommy dan Adit."


Echa tersenyum dan mengusap lembut pipi gembul keponakannya itu. Anak di depannya itu memiliki keyakinan yang sangat tinggi. Di usia dini sudah terlihat jelas betapa tegas dan tangguhnya anak itu.

__ADS_1


Tak lama berselang, suara pintu terbuka terdengar. Langkah kaki dua orang terdengar nyaring. Gavin yang tengah kekenyangan masih fokus melihat ke layar televisi yang tengah menayangkan film kartun Ninja Hatori.


"Empin." Suara sang ibu memanggilnya. Matanya yang hendak terpejam pun kini terjaga kembali.


"My." Gavin tersenyum ke arah ibunya dan Riana segera menghampiri putra tampannya. Sedangkan Aksa menyerahkan bingkisan berupa donat kepada ketiga keponakannya.


"Banyak banget, Bang." Echa melihat ketiga anaknya yang sudah membuka bungkusan tersebut. Berisi dua lusin donat dan juga lima minuman favorit di kedai donat tersebut.


"Makasih, Uncle."


Aksa hanya tersenyum dan kini menghampiri putra kesayangannya. "Nakal gak?" Gavin menggeleng dengan cepat. Anak balita itu kini duduk di pangkuan sang ayah seraya mengalungkan tangannya di leher Aksara.


"Ain boya yuk." Aksa pun tertawa mendengar ucapan dari sang putra.


"Masih panas, tunggu sebentar lagi ya kalau udah teduh." Ucapan Aksa bagai kalimat yang tak terbantahkan untuk Gavin. Dia hanya bisa mengangguk.


Gavin nyaman tidur di pangkuan sang ibu sambil menonton film kartun kesukaannya. Itupun dilakukan oleh Aksa yang sudah berbaring di pangkuan istrinya sebelah kiri. Kedua tangan Riana mengusap lembut rambut dua kesayangannya ini. Tak Riana sangka kedua malaikat pelindungnya terlelap dengan damainya. Sama-sama memeluk pinggang Riana dan membenamkan wajah mereka di perut Riana.


"Astaga," ucap Echa ketika melihat Gavin dan juga Aksa sudah tertidur.


"Hasilnya gimana?"


Riana tersenyum dan menjawab, "Alhamdulillah." Echa pun ikut bahagia. Namun, dia terdiam untuk sesaat.


"Kamu gak akan kerepotan nantinya?" Riana menatap ke arah sang kakak dengan sangat serius. Kemudian. dia menggeleng.


"Jika, nanti Ri kewalahan, Abang mengijinkan untuk memakai nanny."


Echa ikut tersenyum mendengarnya. Tanpa diminta pun dia akan bersedia merawat Gavin jika Riana kewalahan. Gavin adalah anak yang baik dan tidak rewel.


Menjelang Maghrib, keluarga kecil itu pulang karena Gavin dan ayahnya sudah terjaga.


"Daddy, nanti temani ain bastet, ya." Gavin terlihat sangat riangn sambil menggenggam tangan kedua orang tuanya.


Benar saja, Gavin merealisasikan ucapannya dan Aksa mengikuti putra pertamanya itu. Sedangkan sang ibu sudah terkantuk-kantuk di kursi halaman belakang.

__ADS_1


"Mommy tidul ada." Gavin menghampiri Riana, begitu juga dengan Aksa.


"Iya, Mommy mending tidur. Daddy yang akan nemenin Empin main." Aksa mengusap lembut rambut Riana. Dia tidak ingin Riana kelelahan.


Riana tersenyum dan mengangguk. Dia mencium gemas pipi Gavin. Kemudian mencium sayang pipi sang suami dengan kaki yang berjinjit karena Aksa lebih tinggi darinya.


"Good night, My."


Cukup lama Aksa dan Gavin bermain, akhirnya Gavin mengeluh lelah. Aksa segera membawa tubuh putranya ke kamar mandi. Mengelap tubuh putranya yang bermandikan keringat.


"Langsung bobo, ya."


Gavin yang baru selesai dipakaikan piyama, malah menarik tangan ayahnya. Aksa mengerutkan dahi, tetapi dia tetap mengikuti ke mana langkah Gavin membawanya.


"Atu inin bobo tama talian."


Aksa malah tertawa mendengarnya. Dia segera menaikkan tubuh Gavin ke tempat tidur besar miliknya. Balita itu merangkak dan mencium pipi sang ibu hingga Riana terkejut dan membuka mata.


"Loh-"


"Mu bobo tama Mommy dan Daddy."


Riana tersenyum dan memeluk tubuh putranya yang sudah membaringkan tubuhnya di samping Riana.


"Daddy, ayo tini."


Aksa pun tersenyum dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Gavin dan memeluk tubuh putranya itu.


"Padahal Daddy ingin tidur berdua bersama Mommy. Membuat adik untuk kamu. Adik Daddy sudah siap tempur tapi harus mengalah karena musuh kecil, yaitu kamu."


Jeritan hati seorang Aksara.


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2