Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Hujan dan Ular Phyton


__ADS_3

Sakitnya Riana membawa dampak yang sangat besar untuk kekompakan dua laki-laki yang berbeda generasi. Aksa maupun Gavin selalu menemani Riana dan memenuhi apa yang diinginkan oleh ratu di dalam hidup mereka.


Seperti hari ini, Aksa harus pergi ke kantor dan di menugaskan Gavin untuk menjaga ibunya.


"Ingat, jangan buat Mommy capek. Mommy belum sembuh betul."


Balita tampan itu mengangguk mengerti. Dia mengarahkan dua ibu jarinya kepada sang ayah.


"Jangan kecapek-an dulu, ya. Mainnya di kamar Empin aja." Aksa mengecup kening Riana setelah dia memberi kalimat tersebut.


"Iya. Daddy juga jangan sampai telat makan."


"Iya, Sayang." Aksa mengusap lembut rambut Riana.


"Tenan Daddy. Ada atu yan atan dadain Mommy. Malahin Mommy talo Mommy natal."


(Tenang Daddy. Ada aku yang akan jagain Mommy. Marahin Mommy kalo Mommy nakal)


Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut sang putra. "Sekarang, antar Daddy ke depan."


Riana hanya bisa tersenyum melihat dua laki-laki yang menjadi pelindungnya. Mereka berdua saling bahu-membahu menjaga Riana. Kini, Riana membayangkan jika putranya sudah dewasa nanti. Pasti dia akan menjadi pelindung untuk adik-adiknya kelak. Ditambah rupanya yang sangat menawan, pasti membuat para wanita jatuh cinta kepada sosok putranya itu.


"My, tenapa benon?"


Kehadiran Gavin membuat Riana tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum dan memeluk tubuh Gavin dengan sangat erat.


"Jangan cepat tumbuh besar ya, Nak."


Gavin mendongak ke arah sang ibu. Dahinya mengkerut dengan kedua alis menukik tajam.


"Atu inin tepat betal, My. Bial bisa dadain Mommy dan adit-adit."


(Aku ingin cepat besar, My. Biar bisa jagain Mommy dan adik-adik)


Riana tersenyum dengan tangan yang sudah mengusap lembut rambut Gavin.


"Menjadi dewasa itu tidak mudah, Nak. Tetaplah jadi putra kecil Mommy." Batinnyalah berkata.


Pada hakikatnya, sedewasa apapun anaknya tetaplah anak kecil di mata kedua orang tuanya.


Hari ini Gavin menjadi anak yang sangat baik. Kemarin dia anteng karena ada sang ayah yang terus mengajaknya bermain. Hari ini walaupun ditinggal ayahnya kerja, dia tetap anteng dan mau bermain di dalam kamar.


Semua mainan dia keluarkan, Riana hanya bisa mengawasinya saja. "Setelah selesai bermain, letakkan kembali mainannya ke tempatnya."


"Ote." Gavin menjawab tanpa menoleh kepada sang ibu.


Ponsel Riana bergetar. Bibirnya terangkat ketika sang suami menghubungi disela kesibukannya.


"Mau makan siang apa? Nanti Abang bawain. Sekalian kita makan siang bareng."


Hal kecil, tetapi mampu membuat Riana bahagia.


"Apa aja, Bang. Ri, ingin yang berkuah."


Aksa tersenyum dan dia pun menanyakan keberadaan Gavin. Riana memindahkan kamera, kini kamera belakang ponselnya yang tengah menyorot Gavin. Ada rasa bangga di hati Aksa melihat putranya yang tengah bermain sendiri.


"Anak pintar."


Sesuai dengan ucapan Aksa, makan siang hari ini dia memilih untuk pulang. Padahal para pelayan di rumah besar Gio sudah memasak makanan untuk Riana juga Gavin. Namun, Aksa datang dengan jinjingan di tangannya.


Dia menyuruh para pelayan untuk memindahkan makanan yang dia bawa. Kemudian, menyuruhnya membawa ke kamar Gavin. Di mana Riana dan putranya berada.


Mendengar suara pintu terbuka, balita tampan itu bersorak gembira ketika melihat kehadiran sang ayah. Dia berdiri dan berlari ke arah ayahnya.


"Nakal gak?" Gavin menggeleng dengan sangat cepat.


"Benar?" Gavin pun mengangguk.


Aksa tersenyum dan mencium gemas pipi putranya. "Setelah Mommy sembuh, kita pergi ke toko mainan dan pilih mainan apa yang Empin suka."


Mata Gavin berbinar mendengarnya. Dia menatap lekat sang ayah. "Benelan?" Aksa pun mengangguk.


"Mommy, boleh?" Kini, Gavin bertanya kepada Riana dan dijawab anggukan.


Rasa gembira pun sudah tak tertahankan. Gavin bersorak sangat gembira.


"Yeay! Beli Ainan."


Aksa dan Riana hanya tertawa. Tangan Aksa sudah berada di kening Riana. Suhu tubuhnya sudah normal.


"Perutnya masih sakit?" Riana menggeleng.


Makanan yang Aksa beli pun sudah siap. Gavin terlihat antusias melihat makanan yang tersedia.


Soto bening kesukaan sang putra dan soto tangkar kesukaan sang istri. Apalagi ditemani kerupuk khas Palembang yang terasa sekali ikannya membuat Gavin semakin riang gembira.


"Mommy suapin, ya." Gavin menggeleng.


"Atu dah betal."


Aksa pun tertawa dan kini dia yang menyuapi Riana. Awalnya Riana menolak, tetapi Aksa tetap memaksa. Hingga akhirnya Riana diperlakukan manis oleh suaminya.


"Daddy, mau teluput."


Aksa membukakan kerupuk kesukaan Gavin dan anak itu benar-benar sangat lahap.


"Pelan-pelan, Nak."


Gavin hanya mengangguk dan terus menyiapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Udah, Bang."

__ADS_1


Aksa tidak akan memaksa. Namanya orang sakit, pasti serba tidak enak.


"Sekarang Abang yang makan." Kini, gantian Riana yang menyuapi suaminya. Aksa pun tersenyum dan mengusap lembut pipi sang istri.


"Botah!"


(Bocah!)


Aksa dan Riana pun tertawa mendengar cibiran yang keluar dari mulut Gavin untuk sang ayah. Namun, itu tidak membuat peperangan terjadi karena Gavin tengah asyik memakan kerupuk favoritnya.


Gavin sebenarnya bosan berada di dalam kamar terus. Namun, perintah sang ayah tak bisa terbantahkan. Apalagi ayahnya sudah menjanjikan sesuatu.


"Kita main hujan-hujanan sambil bermain basket."


Main hujan adalah permainan yang tidak boleh Gavin lakukan. Itu adalah permainan yang sangat dilarang oleh kedua orang tuanya. Mereka hanya tidak ingin melihat putra mereka demam akibat kehujanan. Namun, kali ini Aksa malah menjanjikan itu kepada Gavin dan membuat Gavin senang bukan main.


"Mau main di luar?" tanya sang ibu kepada putranya yang sudah terlihat bosan. "Ayo! Mommy akan temani Empin."


Gavin ingin menjawab ayo, tetapi dia sudah terikat janji dengan ayahnya. Jika, dilanggar beli mainan pun tidak jadi.


Kepala Gavin mampu menggeleng, tetapi hatinya mengangguk. Namun, isi hati Gavin tidak ada yang tahu karena yang Riana lihat kepala Gavin menggeleng.


Sudah waktunya mandi sore seperti biasa Gavin akan mandi sendiri sambil bernyanyi pomen. Lagu ciptaannya sendiri.


"Sikat gigi, Mpin."


"Iya, My."


Terkadang Riana merasa bersalah ketika melihat putranya tumbuh dewasa sebelum waktunya. Di usianya yang masih harus diurus olehnya ini malah sebaliknya. Bukan Riana yang memaksa, tetapi Gavinlah yang menginginkan semuanya.


"Walaupun Abang terlahir dari orang tua berada. Mommy dan Daddy tidak pernah memanjakan Abang ataupun Aska. Malah, kami dituntut mandiri sedari kecil."


Kalimat itulah yang membuat Riana mengangguk mengerti kenapa Gavin memiliki sifat sedikit keras kepala ingin mandiri. Aksa tidak pernah menuntut, dia hanya akan mengarahkan putranya. Kebetulan putranya memiliki pola pikir sama seperti Daddy-nya. Alhasil, keinginan Gavin untuk mandiri didukung penuh oleh Aksa. Di dalam situasi seperti ini, Riana juga tidak boleh memanjakan Gavin. Dia harus ikut andil dalam pola asuh yang Aksa terapkan. Pola asuh yang tidak menyiksa Gavin, malah membuat Gavin senang.


Mandiri sejak dini akan membuat seseorang lebih kuat dalam menghadapi masalah yang nantinya akan menerpa. Tidak akan kaget ketika orang disekelilingnya menjauh karena dia sudah terbiasa sendiri. Jika, penerapan pola asuh itu benar dilakukan maka anak itu pun akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan.


Sudah tampan, sudah wangi dan kini Gavin sudah mengajak ibunya untuk keluar kamar dengan alasan ingin menunggu ayahnya pulang.


"My, telpon Daddy."


Permintaan sang putra segera Riana kabulkan. Melakukan sambungan video kepada sang suami. Kini, wajah Gavinlah yang terpampang di layar ponsel.


"Ada apa jagoan?"


"Tapan Puyang?"


Aksa pun tertawa dan kini Aksa menunjukkan orang-orang yang ada disekelilingnya.


"Pipo ... Om Emon."


Remon berdecak kesal dengan panggilan Gavin kepadanya sedangkan Gio tertawa keras mendengar ucapan cucu tercintanya.


"Daddy harus berbicara dulu sama Pipo sebentar. Baru Daddy pulang."


Setelah sambungan video itu berakhir, Gavin memberikan ponselnya kepada sang ibu. Dia meraih remote televisi dan duduk di atas sofa dengan wajah yang ditekuk.


"Kenapa sih?" tanya Riana.


"Daddy lama pulangna."


Riana tersenyum dan mengusap lembut rambut sang putra. "Daddy 'kan kerja. Daddy cari uang buat beli mainan Empin. Katanya mau beli mainan banyak-banyak."


Mendengar kata mainan wajah Gavin berbinar. Wajah sendunya berubah menjadi ceria.


Bel pintu terdengar, seorang pelayan membukakan pintu dan ternyata Arya dan Rion yang datang.


"Gavin ada?" tanya Rion.


"Ada, Pak. Di ruang keluarga."


Rion dan Arya melangkah menuju ruang keluarga berada. Mereka tersenyum ketika melihat balita tampan itu tengah duduk manis bersama ibunya.


"Tengil!"


Nama yang diberikan oleh Arya untuk Gavin. Balita tampan itu menatap jengah ke arah Arya yang kini mendekat kepadanya.


Rion segera duduk di samping sang cucu dan menciumnya gemas. "Kangen deh sama Empin."


"Talo tanen bawain matanan."


(Kalo kangen bawain makanan)


Arya pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari cucu Rion Juanda tersebut. Sungguh sadis sekali mulut balita itu.


"Engkong kamu itu pelit, tengil," ujar Arya.


"Payah!"


Riana dan Arya tertawa sangat keras mendengar ucapan dari Gavin sedangkan Rion merengut kesal.


"Enton tuh dak tepelti Pipo," keluhnya.


Hal yang paling menyebalkan itu dibanding-bandingkan dengan Giondra. Sama halnya dengan si triplets yang selalu membandingkan dirinya dengan Addhitama.


"Engkong pulang nih," ancamnya.


"Puyang mah Puyang ada."


Jawaban polos dari seorang Gavin Agha Wiguna. Matanya pun masih tertuju pada layar kaca yang besar di depannya yang tengah menayangkan film kartun Tayo.


"Hei! Tayo. Hei! Tayo."

__ADS_1


Kepala Gavin ikut bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan lagu yang dia dengar. Riana hanya tersenyum dan Rion merasa diabaikan.


"Lu mah engkong yang gak dianggap," ejek Arya.


Rion menatap kesal ke arah Arya yang tak hentinya menertawakannya. Arya adalah definisi orang yang senang di atas penderitaan orang lain.


"Sabar ya, Kong." Arya mengusap lembut pundak Rion. "Makanya sekali-kali itu beliin cucu mainan mahal. Bawain makanan enak. Biar diaku sama cucu-cucu lu."


Riana hanya menggelengkan kepala ketika mendengar candaan dari dua orang yang sudah bersahabat sangat lama itu.


"Ayah mau minum apa?"


"Gak usah, Ri. Ayah masih tahu jalan menuju dapur Gio."


Riana pun tertawa. Terkadang ayahnya menjelma menjadi manusia tak tahu diri jika sudah menyangkut makanan di rumah besannya itu. Sudah kebiasaan dari dulu dan sulit untuk dihilangkan.


Suara derap langkah kaki terdengar. Gavin yang masih fokus ke depan layar kaca kini berteriak gembira.


"Daddy!"


Dia turun dari sofa dan berlari menuju ayahnya. Rion hanya bisa menggelengkan kepala.


"Sedekat itu Empin sama bapaknya?"


"Ya iyalah, lu gak liat mukanya aja plek ketiplek gitu. Emaknya aja yang oneng, motong rambut si tengil kayak mangkok kang bubur."


Riana malah tertawa mendengar ucapan dari Arya. "Itu model anak-anak Korea, Pa," belanya.


"Gede dikit anak lu dipakein lip tint, eyeliner, BB cushion sama alis kayak oppa-oppa K-Pop."


Riana tidak bisa menahan tawa mendengar Omelan dari Arya. "Gak gitu juga kali, Pa."


Rion benar-benar diabaikan oleh cucu laki-lakinya. Gavin malah asyik bermain dengan ayahnya.


"Empin, biar Daddy mandi dulu, ya." Teriakan sang ibu membuat Gavin berdecak kesal. Namun, dia juga mengiyakan.


Menunggu ayahnya selesai mandi, Gavin mendengar suara gemercik air. Dia berlari ke arah pintu kaca halaman samping, dan ternyata turun hujan.


"Yeay! Hudan."


Gavin berteriak girang sekali dan berlari ke arah kakek dan wawanya.


"Ayo, tita udan-udanan."


(Ayo, kita ujan-ujanan)


Mata Riana melebar menandakan dia tidak setuju. Namun, Gavin tak merasa takut karena ayahnya sudah berjanji mengajaknya hujan-hujanan.


"Tata Daddy, talo atu dadi anat bait, atu boyeh udan-udanan."


Riana menggelengkan kepala mendengar ucapan dari putranya. Terdengar suara langkah kaki menuju mereka, dan mata Riana menatap tajam ke arah Aksa yang baru saja datang.


"Gak apa-apa, sesekali hujan-hujanan biar kuat."


Mendengar ucapan dari sang ayah Gavin semakin bersemangat. Dia melompat-lompat bahagia dan segera menarik tangan Aksa.


"Ayo, Dad."


Betapa riangnya Gavin bermain air hujan di lapangan basket. Dia terus berteriak ke arah ayahnya sambil membawa bola.


"Biarkan anak kamu menyatu dengan alam. Laki-laki itu ditakdirkan untuk tidak mengenal hujan juga terik matahari." Sang ayah memberi petuah.


"Papa lihat sih, Aksa memberikan edukasi sambil bermain. Itu adalah ide yang sangat brilian. Jarang ada orang tua yang seperti itu." Rion setuju akan hal itu.


Riana hanya bisa melihat mereka dari dalam rumah. Ketika Gavin sudah merasa kedinginan dia segera mengambilkan handuk untuk putranya, juga dia memberi handuk untuk suaminya.


"Mandi bareng sama Daddy, mau?"


"Mau!"


Malam pun datang, setelah makan malam kedua pria paruh baya kurang kerjaan sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Kini, Riana dan Aksa tengah berada di dalam kamar Gavin. Riana memberikan obat demam kepada sang putra untuk berjaga-jaga.


Setelah Gavin terlelap, kedua orang tua itu masuk ke dalam kamar mereka.


"Makasih, ya." Riana mendongakkan kepala ke arah sang suami yang tengah memeluknya.


"Untuk apa?"


"Seharian ini bantuin Ri jagain Empin." Aksa membalasnya hanya dengan senyuman.


"Bantuan Abang gak gratis loh, Yang." Dahi Riana mengkerut mendengar ucapan dari Aksa.


Aksa meraih tangan Riana dan memasukkan ke dalam celana pendek yang dia kenakan. Hangat dan keras, Riana menatap ke arah Aksa yang sudah memejamkan mata menikmati sentuhan lembut tangan Riana.


"Ri, masih merah, Bang."


Mata Aksa terbuka, matanya sudah sayu. Kemudian, dia menyentuh bibir Riana. Sontak mata Riana melotot.


"Please, Sayang. Sungguh gak tahan."


Terpaksa Riana melakukan apa yang diminta oleh Aksara. Baru saja kepala ular besar itu diusap lembut, Aksa sudah mengerang keenakan.


"Lanjut, Yang."


Riana mulai menurunkan penutup ular besar itu, dan menyembul si ular phyton tersebut. Tinggi menjulang dan urat-uratnya terlihat sangat jelas. Rintihan suaminya membuat Riana tidak tega. Akhirnya, dia mulai mendekatkan mulutnya ke arah ular phyton itu. Baru saja kepalanya masuk, suara pintu penghubung terbuka. Tak sengaja Riana menggigit kepala ular phyton hingga si empunya menjerit kesakitan.


"Aw!"


"Daddy, Daddy tenapa?"


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2