Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Gendut


__ADS_3

"A-abang ... Abang kenapa?"


Wajah panik Riana terlihat sangat jelas. Setelah selesai diperiksa, suaminya tersenyum ke arah Riana.


"Abang tidak apa-apa, Sayang. Jangan khawatir, ya."


Aksa terlihat sangat pucat. Dia dapat melihat wajah khawatir istrinya.


"Abang ...."


"Abang hanya kelelahan, Sayang," potongnya.


Aksa terus meyakinkan Riana. dia tidak ingin istrinya kepikiran. Aksa melirik ke arah Peter. Menandakan dia harus mematikan sambungan videonya. Kini Peter yang ada di hadapan layar. Dia mengatakan bahwa Aksa masih ada rapat penting lagi dan harus pergi sekarang. Padahal, Aksa tidak ingin melihat wajah cemas istrinya karena dia tidak tega.


"Nanti Abang video call kamu ya, Sayang. Setelah rapatnya selesai." Riana mengangguk dengan wajah cemas yang belum hilang.


"Love you."


"Love you, too," balas Riana. Tak dia hiraukan kedua mertuanya ada di sampingnya.


Aksa mual kembali dan masuk ke dalam kamar mandi. Badannya sudah sangat lemah tak berdaya.


"Sebenarnya ada apa dengan Tuan Aksara?" tanya Peter.


"Semuanya normal," jawab dokter.


"Lalu?" desak Peter.


"Saya hanya menduga, jika ...."


Bruk!


Tubuh Aksa ambruk, dokter dan juga Peter segera membawa tubuh Aksara ke ranjang pesakitan.


"Tuan Aksara harus diinfus," ucap dokter.


"Lakukan yang terbaik untuknya," pinta Peter.


Di Indonesia, Riana benar-benar tidak tenang memikirkan sang suami. Dia terus menunggu suaminya menghubunginya. Namun, suaminya tak kunjung melakukan video call.


"Aku yang harus menghubunginya," gumamnya.


Nihil, sambungan telepon atau video Riana tidak dijawab sama sekali oleh Aksa.


"Abang, kamu baik-baik saja 'kan. Tolong angkat telepon Ri," lirihnya dengan suara yang bergetar. Air matanya tak terasa menetes.


Riana terus menunggu Aksa menghubunginya. Dia masih duduk di pinggir tempat tidur sambil menggenggam ponsel. Jam dinding terus berputar. Mata Riana masih menatap fokus pada layar ponselnya. Tak ada rasa kantuk yang menghampiri. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam.


Lelah menunggu, Riana mulai membaringkan tubuhnya dengan posisi miring mengarah kepada ponsel miliknya yang memperlihatkan foto pernikahan mereka berdua.


Perlahan mata Riana terpejam dengan posisi meringkuk. Ayanda menekan kenop pintu dengan pelan. Hatinya teriris ketika melihat sang menantu tertidur dengan posisi seperti itu.

__ADS_1


Ayanda mengambil gambar Riana dan mengirimkan gambar tersebut kepada Aksa. Ponsel Aksa berdenting. Dia segera meraih ponselnya, dilihatnya pesan dari sang mommy. Mata Aksa nanar melihat istrinya tidur dalam posisi seperti itu.


"Maafkan Abang, Sayang."


Inilah yang tidak dia inginkan. Melihat Riana sedih ketika dia tidak ada di sampingnya. Malah, dialah orangnya yang membuat Riana cemas.


"Kenapa aku harus sakit?" erangnya kesal.


Setelah kena air infusan tubuhnya terasa lebih bertenaga. Meskipun, rasa mual itu masih ada.


"Peter, saya mau besok infusan ini cabut dari tangan saya. Mintalah vitamin yang paling bagus untuk menjaga stamina saya." Peter mengangguk mengerti.


Keesokan paginya, Riana terbangun dan segera mengecek ponselnya. Sudah ada pesan dari sang suami.


"Jangan cemas, Sayang. Abang tidak apa-apa."😘


Sebuah pesan yang dikirimkan oleh Aksa. Hati Riana benar-benar lega. Dia mencoba untuk melakukan sambungan video kepada Aksa.


Wajah ceria Aksa tunjukkan. Dia tersenyum ke arah sang istri. Riana hanya menatap ke arah Aksa. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Malah air mata yang menetes begitu saja.


"Sayang, jangan menangis," ucap Aksa.


"Abang buat Ri cemas dan khawatir," sahutnya.


"Maafkan Abang, Sayang."


Rasa bersalah bersarang di hati Aksara. Apalagi wajah istrinya yang sudah sembab.


"Udah ya, jangan nangis. Abang gak tenang kalau kamu sedih begitu," lanjutnya lagi.


"Iya, Sayang." Aksa menyunggingkan senyum ke arah sang istri.


Jika, melihat wajah Riana rasa mualnya perlahan menghilang.


"Jaga diri kamu baik-baik ya, Sayang. Tunggu Abang sembilan hari lagi." Riana mengangguk cepat.


Sambung video pun berakhir. Meskipun sudah diberi obat yang paling bagus, rasa mual itu masih ada. Meskipun, tidak separah kemarin.


"Kita lanjutkan rapat lagi."


Inilah Aksa, demi segera pulang dan menemui istrinya. Dia rela menahan rasa mual serta sakitnya. Dia ingin semuanya cepat selesai.


Ketika makan siang tiba. Aksa sama sekali tidak bisa mencium aroma masakan apapun. Dia hanya mengkonsumsi roti tawar dengan selai rasa buah-buahan yang masam. Padahal, seumur-umur dia tidak pernah suka dengan selai buah-buahan. Air putih pun tidak bisa dia telan. Dia hanya bisa mengkonsumsi jus jeruk.


Berbeda dengan Riana, sudah beberapa hari ini dia sangat senang sekali makan. Apapun yang ada di televisi membuatnya ingin. Dia langsung memesannya atau meminta Ayanda untuk membuatkannya.


"Mom, Ri ingin bakso. Makan bakso di luar yuk," ajak Riana. Riana tahu bahwa dirinya tak diijinkan keluar oleh sang suami jika sendirian.


"Mommy buatkan saja, ya." Riana pun menggeleng.


"Ri, ingin makan bakso di tempat langganan Ri," pintanya.

__ADS_1


Ayanda tersenyum dan mengangguk kecil. "Tunggu si triplets dulu ya. Baru kita berangkat." Riana pun setuju.


Selama menunggu si triplets, mulut Riana tak henti mengunyah. Namun, sengaja Ayanda memberi Riana buah potong dengan sambal rujak yang tidak terlalu pedas. Ayanda memperhatikan ada yang berubah dari bentuk tubuh Riana.


"Riana, payu dara kamu terasa sakit enggak?" tanya Ayanda.


"Iya, Mom. Kalau mau datang bulan suka seperti ini," ujarnya.


Sudah tiga hari ini Riana berkata 'kalau mau' berarti tamu bulannya belum datang. Namun, Ayanda tidak mau gegabah. Meskipun, dia merasa mual-mualnya Aksa ada hubungannya dengan Riana.


"Mimo!"


Ketiga anak Echa sudah pulang sekolah. Mereka berlari menuju sang nenek yang sudah merentangkan tangan. Mereka memeluk tubuh Ayanda.


"Aunty gak dipeluk?" tanya Riana.


"Enggak!" jawab mereka bertiga. Ayanda tertawa, sepertinya si triplets memiliki dendam kepada Riana.


"Ya udah ... Padahal aunty mau makan bakso di tempat langganan bakso Bubu kalian. Berarti kalian gak usah ikut. Aunty dan juga Mimo saja," ujarnya.


"Ikut!" seru mereka bertiga. Mereka segera memeluk tubuh Riana.


"Ganti baju dulu, ya. Baru kita berangkat," ujar Ayanda.


Setelah semuanya siap, mata Aleesa memicing ke arah bentuk tubuh sang Tante. Namun, Aleesa masih diam dan masih memperhatikan.


Tiba sudah mereka di kedai bakso. Riana memesan apa yang dia inginkan begitu juga dengan ketiga keponakan dan juga mertuanya.


"Aunty, Dedek minumnya dua," imbuh Aleeya.


"Kakak Sa juga. "


"Kakak Na juga."


Riana menggeleng melihat tingkah lucu ketiga keponakannya ini. Jika, satu A yang lainnya pasti ikut.


"Kamu kenapa lihatin Aunty begitu?" tanya Riana kepada Aleesa.


Aleesa menunjuk sumber asi Riana dengan sedotan. Riana menatap ke aset berharganya.


"Kenapa?" tanya Riana.


"Makin besar," jawab Aleesa.


Riana mendengkus kesal mendengar ucapan Aleesa. Kini, Aleesa menatap ke arah perut Riana. Dipenglihatannya ada sebuah makhluk yang sangat kecil di sana.


"Kenapa sekarang lihatin perut Aunty?" tanya Riana lagi.


"Gendut!" jawab Aleesa.


...****************...

__ADS_1


Up ke-3


Komen dong ...


__ADS_2