
Jogja.
Di sebuah rumah, tiga penghuni rumah tengah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan yang akan mereka bawa.
"Kamu bilang apa ke Riana?" tanya Chintya.
"Mau ke luar Kota."
"Good son," puji Fikri.
Ketika Jum'at sore, Arka menghubungi Riana via sambungan telepon.
"Ri, tolong gantikan aku manggung, ya. Aku mau ke luar Kota."
"Kenapa dadakan?"
Arka menjelaskan semuanya. Awalnya Riana menolak. Karena bujukan dari Arka, akhirnya Riana menyetujuinya.
"Kamu serius 'kan, Ka?" tanya Chintya.
"Sangat serius, Mah."
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Meminta restu kepada calon mertuamu," kelakar Fikri.
Jam satu siang, Aksa dan Riana keluar dari kamar dengan tangan yang bertaut. Rambut Aksa pun nampak basah dan wajahnya nampak bahagia sekali.
Jangan berburuk sangka, mereka tidak melakukan apapun. Apalagi melakukan hal yang dilarang oleh agama. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan saling berpelukan. No, kissing. Meskipun, Aksa ingin sekali menciumnya.
"Hati-hati."
Dua kata yang membuat Aksa enggan pergi sekarang ini. Namun, pesawat pribadi telah menunggunya. Aksa memeluk tubuh Riana dan mengecup keningnya.
"Abang hanya sebentar. Abang akan kembali lagi ke sini. Percaya ya sama Abang." Riana mendongak ke arah Aksa dengan sorot mata sedih.
"Don't cry, Sayang." Aksa mencium kelopak mata Riana bergantian.
"Jakarta-Singapura hanya dua sampai tiga jam. Jika, kamu tidak mau jauh. Abang bisa bolak-balik supaya hati kamu tenang." Dengan cepat Riana menggeleng.
"Ri, gak mau buat Abang lelah," jawabnya yang kini menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aksa.
"Abang lebih tidak ingin melihat kamu sedih." Tidak ada jawaban dari Riana. Hanya kedua tangannya yang memeluk erat tubuh Aksa.
Enggan rasanya Aksa meninggalkan Riana. Hatinya sungguh tidak tenang. Meskipun, Riana bersama keluarganya.
"Abang boleh pergi gak?" Pertanyaan yang membuat Riana menatap Aksa tidak rela.
Kecupan hangat nan dalam Aksa berikan di kening Riana.
"Kalo kamu gak ngijinin, Abang gak akan pergi. Abang akan bilang sama Daddy."
Riana menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab. "Pergi aja. Jangan lupa untuk kembali lagi."
Ucapan biasa, tapi memiliki makna luar biasa bagi Aksa.
__ADS_1
"Pasti, Sayang. Abang pasti kembali." Untuk kesekian kalinya Aksa mengecup kening Riana. Dia harus memendam geloranya hingga waktu bahagia mereka tiba.
Aksa terlebih dahulu mengantarkan Riana ke rumah sakit. Sang calon ayah mertua sudah bawel menanyakan perihal Riana. Tibanya di ruang perawatan Echa, semua orang mencoba menggoda Aksa dan Riana. Aksa hanya tersenyum tipis, sedangkan Riana sudah berwajah merah.
"Ku tunggu dudamu. Riana said," goda Arya.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Arya. Berbeda dengan Riana yang menatap penuh permusuhan ke arah Arya.
"Nasib lu malang banget sih, Ri. Orang mah rebut hati perjaka bukan duda. Ck, ck, ck." Lagi-lagi Arya menggoda Riana.
"Mom, Abang pergi, ya. Daddy sudah menunggu." Ayanda mengangguk pelan dan menerima pelukan dari sang putra.
"Dek, jaga Mommy," pinta Aksa pada Aska.
Aksa menghampiri ranjang pesakitan Echa. Memeluknya sebentar lalu berpamitan.
"Apa Daddy perlu tahu akan hal ini?" Echa pun menggeleng. "Kakak tidak ingin membuat Papa kepikiran." Aksa pun mengerti.
"Jaga Kakakku, Bang. Lindungi juga para keponakanku."
Sekarang, Aksa menghampiri Riana yang duduk di samping sang ayah. Tangannya mengusap lembut kepala Riana.
"Aku pergi dulu, ya." Sebuah kecupan di kening Riana membuat semua orang berteriak. Apalagi, Aksa berani melakukan itu persis di depan ayah yang terbilang garang dari wanita itu.
"Amazing!" seru Arya.
"Lu lelaki sejati," tunjuknya pada Aksa.
"Meleleh hati Eneng, Abang," balas Beeya dengan gaya dibuat manja.
"Titisan si Andra emang top," puji Arya.
"Kamu jangan senang dulu," imbuh Rion kepada Riana setelah Aksa pergi.
"Dia masih suami orang. Ingat itu, Riana." Seketika wajah Riana berubah. Kepalanya menunduk dalam.
"Ayah ...."
"Ayah hanya ingin Riana sadar diri. Siapa dia dan siapa Aksa," potong Rion. Semua orang terdiam begitu juga Ayanda.
"Apa Mas meragukan cinta putraku?" sergah Ayanda.
"Aku hanya ragu, Aksa bisa lepas dari istrinya. Bukankah istrinya tengah mengandung?" Bibir Ayanda tercekat mendengar ucapan dari Rion.
"Jika, itu anaknya. Ziva tidak akan pernah melepaskan Aksa. Sebaliknya juga, jika itu bukan anak Aksa dia tetap tidak bisa menceraikan Ziva karena Ziva masih dalam kondisi hamil. Harus menunggu bayi itu lahir terlebih dahulu."
"Pilihan ada di kamu. Lepaskan dan lupakan. Atau bertahan dengan segala kesakitan." Rion beranjak dari duduknya keluar meninggalkan semuanya.
Ayanda segera memeluk tubuh Riana. Ucapan Rion menandakan bahwa dia tidak setuju dengan hubungan Aksa dan Riana. Sepedasnya mulut Rion, dia tidak akan pernah berkata hal yang menyakitkan kepada anak-anaknya.
Bukan hanya Ayanda yang iba. Semua orang pun merasa iba kepada Riana. Pilihan yang pastinya sangat sulit. Sama-sama sakit.
Rion bersandar di dinding rumah sakit, tepatnya di depan kamar perawatan Echa. Hatinya sakit mengucapkan hal seperti itu. Namun, dia ingin Riana mengerti akan status Aksa. Dia hanya tidak ingin Riana sakit hati kembali.
__ADS_1
Maafkan Ayah, Ri.
Ponsel Rion berdering. Dahinya mengkerut ketika melihat nama Fikri yang memanggil.
"Halo."
"Kirim alamat lengkap rumah lu. Gua dan istri gua mau mampir sebentar ke rumah lu. Mumpung gua lagi di Jakarta."
"Gua lagi di rumah sakit. Lagi nemenin anak gua pertama yang baru aja keguguran."
"Ya Allah. Gua turut berduka."
"Ya, thank you."
"Kalau gitu gua sama istri ke rumah sakit aja deh, sekalian jenguk anak lu. Kirimin rumah sakit apa sama kamar perawatannya. Nanti malam gua ke sana."
"Ya."
Singapura.
Jam tiga sore Aksa tiba di sana. Disambut oleh sang Daddy yang terlihat lebih kurus. Padahal baru tiga hari mereka tidak bertemu.
"Daddy istirahat saja. Biar Abang yang beresin semuanya," imbuh Aksa.
Gio mengangguk setuju. Aksa diminta datang karena kondisi kesehatan Gio yang menurun. Dokter menyarankan Gio untuk beristirahat. Namun, pekerjaannya yang padat dan masalah yang belum selesai membuat Gio harus ekstra bekerja dan meninggalkan keluarga. Menjenguk ayahnya pun dia belum bisa. Gio masih menyangka bahwa Genta masih terbaring lemah di rumah sakit.
Tanpa ampun dan berbaik hati, Aksa memecat semua orang yang menurutnya tidak becus. Termasuk orang-orang kepercayaan ayahnya yang berkhianat.
Hanya butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan masalah. Sekarang saatnya dia bernegosiasi dengan para penanam saham. Semuanya tidak berjalan mulus, malah sangat alot. Namun, dengan kecerdasan Aksa dalam meyakinkan para kolega, akhirnya mereka semua menyetujuinya dan perusahaan bisa dikatakan stabil kembali. Hanya saja, Aksa perlu waktu satu sampai dua hari ke depan untuk mengecek perkembangan. Agar tidak ada kecurangan kembali.
Orang yang kita percaya terkadang dia lah yang akan menghancurkan.
Kalimat keramat di dunia bisnis. Sudah bukan hal yang aneh jika menemui kejadian seperti itu.
Jam enam tiga puluh petang Aksa baru beristirahat. Menemui ayahnya yang sedang beristirahat di apartment khusus milik sang ayah.
"Semuanya sudah beres, Dad. Daddy tidak perlu khawatir lagi." Gio pun tersenyum ke arah Aksa dan mengusap lembut pundak sang putra.
Anak yang sangat tertutup, kini menjelma menjadi anak yang genius dan bisa diandalkan.
"Makasih, Nak. Makasih sudah membantu Daddy. Maaf, Daddy belum bisa membantu kamu keluar dari per ...."
"Jangan Daddy pikirkan. Masalah Abang biarlah menjadi masalah Abang. Doakan saja Abang supaya Abang bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat," potong Aksa seraya tersenyum.
Aksa dan Gio sibuk berbincang tentang perusahaan. Ponsel Aksa berdering menandakan ada pesan yang masuk.
Pulang sekarang atau Riana diembat orang.
...****************...
Sisipkan komen, biar aku khilaf.😁
Doakan biar lulus kontrak dan dapat level tinggi biar up lebih dari 1 bab per hari.
__ADS_1