Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Suami Idaman


__ADS_3

Aksa memandang Riana dengan rasa bersalah. Dia mendekat dan memeluk tubuh istrinya. Air mata sudah menganak di pelupuk matanya.


"Maafkan Abang," lirihnya.


Riana sedikit terkejut mendengar suara bergetar dari Aksa. Dia mengendurkan pelukan Aksa dan terlihat mata Aksa sudah berkaca-kaca.


"Abang kenapa? Kok nangis?" Aksa tidak menjawab dan hanya memandang Riana dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Tangan Riana sudah menangkup wajah Aksa. Dia tersenyum dan mengecup singkat bibir sang suami.


"Ri, mengerti. Wajar Abang melakukan ini semua. Ri, gak apa-apa kok, Bang. Nanti juga sembuh. Abang jangan khawatir, ya."


Ucapan sangat tulus yang keluar dari mulut Riana. Dia benar-benar baru melihat Aksa yang sangat ketakutan.


Sebelum pergi, Jenita mengingatkan bahwa Aksa tetap memaksa dan nekat, akan terjadi kerobekan pada bagian kewanitaan istrinya dan akan berakibat fatal. Ada rasa takut yang melanda Aksa. Dia menyesali perbuatannya dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak pernah mengulanginya lagi.


Dari lubuk hati Riana paling dalam dia merasa sangat bersyukur karena Aksa benar-benar mencintainya dengan tulus. Riana memeluk hangat tubuh sang suami.


"Kamu gak boleh banyak gerak, ya. Kamu harus banyak istirahat," ujar Aksa.


Riana malah nyaman berbaring di pundak sang suami. Tangannya pun melingkar di pinggang Aksa. Sesekali Aksa mengecup ujung kepala Riana.


"Abang mau punya anak berapa?" Riana memecah keheningan.


Aksa yang sedang bergelut dengan pikirannya menoleh ke arah Riana. Lengkungan senyum terukir di wajah Aksa.


"Sekuat kamu aja," jawabnya asal.


Riana merengut kesal dan mampu membuat Aksa tertawa. Dia ciumi setiap inchi wajah Riana agar istrinya tidak merajuk kembali. Benar saja, Riana sudah tertawa geli.


Hari-hari yang seharusnya dilewati dengan berbagai macam gaya kini hanya harus terbaring saja. Namun, itu tidak membuat Aksa bosan karena dia memiliki dua buah mainan yang kapan saja bisa dia mainkan.


Ketika sore tiba, Aksa membantu Riana untuk membersihkan tubuhnya. Dia benar-benar tidak membolehkan Riana bergerak. Dia juga yang memakaikan salep di bagian bawah Riana.


"Sakit?"


"Hanya perih," jawab Riana.


Aksa hanya memakaikan Riana baju tidur model blouse tanpa memakai chelana dalam. Dia tidak ingin luka itu terkena gesekan kain penghalang benda berharga istrinya.


Menjadi suami siaga, itulah Aksa. Di hari kedua Aksa tetap tidak mengijinkan istrinya untuk bergerak barang sedikit pun. Padahal, Riana merasa sudah baikan dan area bawahnya pun sudah tidak perih lagi. Namun, kekeras kepalaan Aksa tidak membuat Riana menang.


Siang ini, Riana ingin makan makanan pedas dan minuman yang segar. Aksa memesan semua yang diminta Riana melalui aplikasi online.


"Abang ke bawah, ya. Ambil makanannya." Riana mengangguk pelan.


Setelah Aksa pergi, tak lama ponselnya berdering.


"Iya, Ayah." Rionlah yang menghubunginya.


"Kamu kapan pulang dari hotel?"


"Nanti ya, Ayah. Masih menikmati masa-masa pengantin baru," kelakar Riana.


Di ambang pintu Aksa mematung mendengar ucapan sang istri yang tak menyadari kehadirannya.


Padahal Riana sedang sakit karena ulahnya, tetapi dia malah beralasan yang sebaliknya. Setelah sambungan telepon dengan ayahnya selesai, Riana menukikkan kedua alisnya ketika melihat Aksa berdiri di depan pintu.


"Kenapa Abang berdiri di depan pintu?" tanya Riana.


Melihat Riana yang hendak turun dari tempat tidur, Aksa segera menghampirinya. Dia mencegah Riana untuk turun. Semua pesanan sang istri dia letakkan di atas nakas. Dia malah duduk di lantai, bersimpuh di hadapan Riana yang sudah duduk di tepian tempat tidur.


"Kenapa kamu tidak bilang yang sesungguhnya kepada Ayah?" tanya Aksa heran, dia sudah menggenggam tangan Riana.

__ADS_1


Dia tahu istrinya ini sangat dekat dengan sang ayah. Apapun tidak bisa dia rahasiakan dari ayahnya. Namun, untuk masalah seperti ini malah sebaliknya. Riana tersenyum dan menatap wajah Aksa dengan penuh cinta.


"Kita sudah berkeluarga, Ri harus menutupi kejelekan Abang begitu juga Abang yang harus menutupi kejelekan Ri. Ketika ada masalah, kita selesaikan secara bersama dan tidak boleh orang tua kita tahu. Kecuali, masalahnya sangat berat barulah meminta bantuan kepada orang tua kita," terang Riana.


Aksa mengerti dengan perkataan Riana. Kejadian ini Riana anggap sebagai masalah antara Riana dan Aksa. Dia juga menganggap ini adalah keburukan Aksa. Jadi, dia tidak perlu mengadu kepada sang ayah ataupun siapapun. Toh, semuanya sudah terselesaikan.


Sungguh beruntungnya Aksa memiliki istri Riana. Dia mengecup punggung tangan Riana dengan penuh cinta. Kepalanya dia baringkan di paha sang istri dengan tangan yang mengusap lembut perut sang istri.


"Cepat tumbuh di sana ya, Nak."


Riana tersenyum mendengar ucapan Aksa. Dia mengusap lembut rambut Aksa.


"Abang ingin cepat punya anak?" tanya Riana.


Aksa mengangguk dan duduk di samping Riana. Tangannya tak henti mengusap lembut perut rata Riana.


"Biar ada yang nemenin kamu, Sayang. Pasti kamu kesepian kalau Abang kerja." Riana tidak bisa berkata-kata, dia benar-benar tak menyangka dengan jalan pikiran Aksa.


"Apa Abang udah siap? Abang 'kan masih kuliah S2?"


Aksa malah memeluk erat tubuh Riana. Dia kecup ujung kepala Riana.


"Kenapa tidak siap, Sayang? Anak itu rezeki dari Tuhan. Abang tidak ingin menundanya, dan Abang ingin rumah kita ramai seperti rumah Kak Echa."


Bahagianya Riana, padahal dia sendiri sedikit takut jika Aksa akan berniat menunda memiliki momongan. Apalagi Aksa masih kuliah dan harus mengembangkan perusahaan miliknya di Melbourne.


"Kamu siap 'kan untuk melahirkan anak-anak kita?" Riana mengangguk.


Hari terakhir di hotel Riana memaksa Aksa untuk makan di luar. Kondisinya sungguh sangat baik, lagi pula dia merasa bosan berada di dalam kamar hotel tidak melakukan hal apapun.


"Kamu masih harus bed rest," tegas Aksa.


Riana malah merangkulkan tangannya di leher Aksa dan mengecup bibir Aksa dengan lembut. Ini adalah jurus jitu agar Aksa menyetujuinya. Apalagi, Aksa belum diperbolehkan berbuka puasa.


"Abang," keluh Riana.


"Terlalu tebal, Sayang."


Riana mendengkus kesal, padahal dia hanya memakai bedak tipis-tipis saja. Akhirnya, Riana hanya memakai bedak tabur dan lipstik berwarna nude dengan alis yang diukir sedikit.


"Nah, gitu dong. Abang suka wanita berpenampilan yang natural." Aksa mengulurkan tangannya dan disambut oleh Riana.


Baru saja sampai lobi, langkah mereka terhenti ketika melihat Ziva bersama dua orang polisi.


"Maaf, Pak. Tahanan ini memaksa ingin bertemu dengan Anda, dan jika tidak dituruti dia akan nekat bunuh diri," ujar salah seorang polisi.


Tangan Aksa semakin erat menggenggam tangan Riana. Dia tidak ingin Riana kabur dari dirinya. Aksa menatap ke arah Riana, meminta persetujuan. Namun, tidak ada jawaban.


"Saya tidak bisa," tolak Aksa.


Tak Aksa dan Riana sangka, Ziva bersujud di depan kaki Aksa. Malah memegang kaki suami dari Riana tersebut.


"Bawa pergi dia dari hadapan saya," tukas Aksa.


Sedari tadi Riana masih saja diam. Aksa mulai menarik tangan Riana agar memeluk tubuhnya.


"Hanya kamu dan kamu selamanya."


Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana. Tak dia pedulikan Ziva dan dua orang polisi yang ada di hadapannya.


Tibanya di tempat romantis, Riana masih terdiam. Kedatangan Ziva membuat mood-nya sangat berantakan.


"Sayang, udah dong marahnya." Aksa sudah meraih tangan Riana.

__ADS_1


"Ri, gak suka sama ...."


Aksa beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh sang istri. Aksa merasa ada hal yang berbeda pada Riana. Hari ini terlihat lebih melow.


"Gak usah bahas dia. Gak penting," sambung Aksa.


Keesokan harinya Riana kembali ke rumah sang ayah. Itu atas kesepakatan mereka. Dua hari di tempat sang ayah dan dua hari di tempat sang Daddy.


Mereka berdua disambut hangat oleh si triplets yang baru saja pulang sekolah. Pelukan hangat mereka berikan untuk Riana.


"Tinggal di sini terus, ya," pinta Aleena. Riana hanya tersenyum dan mengusap lembut kepala Aleena.


"Aunty akan ikut ke mana Uncle pergi," jawabnya.


"Uncle, jangan bawa Aunty pergi." Permintaan si kembar tiga tersebut membuat Aksa tertawa.


Aksa dan Riana sangat menikmati waktu bersama si triplets yang sangat jarang mereka temui.


Malam pun tiba, semua orang sudah masuk ke dalam kamar. Tersisa dua pasangan suami-istri di ruang keluarga. Mereka seakan tengah beradu kemesraan.


"Bandit, tutorial dapat anak kembar tiga gimana sih?" Pertanyaan yang membuat mata Riana membelalak, begitu juga dengan Echa.


Radit malah tertawa mendengar pertanyaan dari adik iparnya ini.


"Siapa tahu ada cara tertentu atau gaya tertentu." Lagi-lagi Radit tertawa, Riana hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Aksa.


"Punya anak kembar tergantung


genetik. Lu terlahir kembar, kesempatan lu untuk memiliki anak kembar itu sangat besar," terangnya.


"Alangkah lebih baiknya, kamu konsultasi ke dokter kandungan. Cek semua kondisi kamu dan Riana, jika kalian memang sudah ingin melakukan program kehamilan," tambah Echa.


"Emang gak mau ditunda dulu?" tanya Radit kepada Riana.


"Abangnya gak mau katanya," jawab Riana.


"Kenapa?" tanya Radit lagi.


"Apa gunanya menunda kehamilan? Ketika finansial sudah memadai, kenapa ragu? Mumpung masih muda," terang Aksa.


"Kamu 'kan masih kuliah, harus mengembangkan perusahaan kamu juga. Apa itu tidak akan berpengaruh kepada kamu nantinya?" Aksa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan dari Echa.


"Abang malah ingin ketika Abang lulus S2 sudah ada bayi yang Abang gendong ketika foto wisuda. Ketika perusahan maju, berarti waktu sibuk semakin berkurang dan Abang bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain bersama anak Abang." Riana tersenyum ke arah sang suami dan memeluk pinggang Aksa.


Echa tersenyum bahagia mendengarnya. Adiknya benar-benar suami idaman. Dia selalu berdoa agar rumah tangga kedua adiknya selalu dikarunia kebahagiaan.


Setelah berbincang, mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Melihat Riana memakai piyama dengan celana pendek membuat napsu itu hadir kembali. Seolah tahu dia sudah diperbolehkan untuk berbuka puasa.


Pelukan dari belakang dengan tangan yang sudah nakal membuat Riana tersenyum senang. Riana membiarkannya saja. Biarlah suaminya melakukan sesuka hatinya. Memuaskan dahaganya yang tertahan selama tiga hari ini.


Dia membaringkan tubuh Riana. Menyusuri kancing piyama Riana satu per satu. Dia tersenyum bahagia ketika jejak yang dia tinggalkan masih ada di sana. Tangannya sudah mulai membebaskan benda keramat yang sangat nikmat. Namun, matanya memicing ketika ada bercak darah di kain penutup berbentu segitiga.


"Sayang, kamu datang bulan?"


Mendengar ucapan Aksa, Riana mendudukkan dirinya. Dia mengambil kain penutup tersebut. Ketika melihat ke arah seprei pun ada bercak darah tersebut.


"Maaf," lirih Riana.


Tubuh Aksa terkulai lemas. Adiknya yang sudah berdiri harus berpuasa lagi. Kali ini, cukup lama bisa satu mingguan.


...****************...


Nungguin gak?

__ADS_1


Komen atuh lah ...


__ADS_2