
Melbourne.
Gio tengah berbincang serius dengan sang ayah perihal kinerja Aska. Genta menerangkan secara detail tentang perubahan Aska yang semakin hari semakin membaik. Jiwa kepemimpinannya sudah sangat terlihat. Dia mampu mempelajari apa yang diterangkan dan diarahkan oleh Genta dengan cepat.
"Ayah, apa Ayah tahu perihal kisah cintanya?" Pertanyaan Gio sudah melenceng dari topik utama. Genga hanya tertawa mendengar pertanyaan dari sang putra.
"Apa yang tidak Ayah ketahui tentang ketiga cucu Ayah?" balas tanya Genta. Gio hanya menghela napas kasar. Sudah dia duga sang ayah pasti memata-matai ketiga anak-anaknya.
"Kisah cinta Aska sama seperti kisah cinta kamu," ujar Genta. Gio hanya mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh sang ayah.
"Gi, khawatir ... Aska akan seperti abangnya," imbuh Gio dengan raut wajah yang tidak bisa berbohong.
"Aska lebih kuat mentalnya dibandingkan kedua kakaknya. Ayah yakin, serapuh-rapuhnya dia, dia akan bisa bangkit. Walaupun sulit."
Hembusan napas kasar pun keluar dari mulut Gio lagi. Perihal mental, Gio pun mengakui jika Aska lebih kuat. Tetap saja, sebagai orang tua ada ketakutan di hati kecilnya. Dia takut jika Aska akan memiliki trauma tak kasat mata seperti Aksa juga Echa.
"Ayah malah berniat untuk menjodohkan Aska." Gio menatap jengah ke arah sang ayah dan tatapan itu mampu membuat Genta tertawa. "Katanya playboy, tapi sudah hampir dua bulan di sini belum bisa mendekati wanita. Padahal, wanita di perusahaan tempatnya bekerja adalah wanita yang sempura. Cantik-cantik dan pintar-pintar," terang Genta.
"Terlalu sempurna juga gak baik, Yah. Menikah itu untuk menyempurnakan," tukas Gio. Genta pun tertawa. "Melihat Aska seperti melihat kamu ketika muda, mencintai milik orang lain," kekeh Genta.
"Yang penting dia jodoh terakhir, Gi," balas Gio tak mau kalah.
Genta mengangguk dan menepuk pundak sang putra. "Apa yang Ayah yakini, pasti akan menjadi kebahagiaan untuk kalian."
Dahi Gio mengkerut mendengar ucapan sang ayah. Dia benar-benar tidak mengerti. Gio mencoba bertanya dengan sorot matanya.
Genta menyandarkan punggungnya di sofa. Dia menarik napas panjang sebelum berbicara. Ingatannya berputar ke waktu lampau, lebih dari empat puluh tahun yang lalu.
"Ketika kamu membawa Ayanda ke rumah besar ... Ayah langsung jatuh cinta kepadanya. Hati kecil Ayah mengatakan bahwa dialah jodoh kamu," ujarnya. "Ternyata keyakinan hati Ayah itu benar. Kamu mendapatkan Ayanda, wanita yang sudah kamu cintai lebih dari sepuluh tahun dengan susah payah dan jungkir balik. Tersakiti lagi, berjuang lagi hingga pada akhirnya semesta memang menyatukan cinta kalian." Gio pun tersenyum. Ingatannya pun kembali kepada masa itu.
"Radit," lanjut Genta. Gio masih menatap sang ayah. "Pertama kali Ayah lihat anak bungsu dari Addhitama itu Ayah yakin dia akan menjadi orang besar. Anak yang sukses dan semua itu terbukti. Ketika dia dekat dengan cucu Ayah pun, Ayah sangat yakin bahwa dia mampu membahagiakan cucu Ayah. Alhamdulillah terbukti, walaupun ...." Genta menjeda ucapannya.
"Walaupun apa, Yah?" Ada rasa curiga di hati Gio karena sang ayah tidak biasanya menjeda ucapannya seperti itu.
"Pasti ada kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangga mereka." Genta tidak menjelaskan secara terang-terangan kepada Gio karena dia tahu jika putranya tahu kerikil apa yang pernah Echa hadapi pasti Gio akan murka. Bukan hanya Gio, Rion pun pasti akan marah besar dan akan memecat Radit menjadi menantu mereka.
"Riana ... kamu tahu awalnya Ayah ragu akan anak itu." Gio mengangguk. "Setelah dia kehilangan ibunya dan dididik oleh Rion juga Echa, semakin hari sikapnya semakin baik sekali. Ayah semakin suka dan meyakini bahwa dialah jodoh Aksara. Walaupun perjalan cinta mereka tidak semudah yang dibayangkan, tetapi mereka mampu bersatu dan sekarang tengah menanti buah cinta mereka." Senyum pun merekah di wajah senja Genta.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Genta. Dia menatap lurus ke depan.
"Ayah sebenarnya sudah lelah, Gi. Ayah ingin istirahat dengan tenang. Ayah ingin berkumpul bersama ibumu, adikmu juga om-mu."
Deg.
Jantung Gio seperti berhenti berdetak mendengar apa yang dikatakan oleh sang ayah. Kini, dia menatap wajah sang ayah yang dipenuhi garis-garis keriput.
"Sayangnya ... tugas Ayah belum selesai. Ayah ingin melihat cucu bungsu Ayah menikah dengan wanita yang pantas untuknya. Wanita yang akan membuatnya bahagia hingga akhir hayat. Ayah ingin melihat cucu Ayah bahagia seperti kembarannya."
Suara Genta terdengar sangat lirih. Gio menggenggam tangan sang ayah dan menciumnya penuh cinta. Padahal bagi Gio pun sedih. Dia sadari usia ayahnya sudah sangat senja. Kapanpun dan di manapun dia harus siap kehilangan ayahnya jika Tuhan menghendaki ayahnya pergi.
"Ayah pasti panjang umur."
Hanya kalimat itu yang mampu Gio katakan dan mampu membuat Genta tersenyum.
"Semoga doamu dijabah oleh Allah."
.
Di kamar besar Echa, dia tengah berbaring di atas tempat tidur sambil menonton drama yang direkomendasikan oleh karyawannya.
__ADS_1
"Layangan sobek," gumamnya. Echa duduk bersila seraya memangku bantal menyaksikan drama tersebut.
Adegan demi adegan dia tonton dengan serius hingga muncul senyum tipis nan teriris. "Laki-laki terlalu sempurna itu memiliki sisi lain yang lebih sadis," gumamnya lagi.
Echa yang tengah serius menonton terkejut karena sebuah kecupan hangat di pipinya.
"Nonton apa sih?" tanya Radit sambil melepas dasi di lehernya.
"Lagi gabut aja. Makanya nonton drama ini," jawab Echa yang masih menatap ke layar televisi besar.
"Aku mandi dulu, ya. Nanti aku akan temani kegabutan kamu," ucap Radit seraya tersenyum dan sebelum ke kamar mandi dia mencium kening sang istri terlebih dahulu.
Hanya hembusan napas kasar lagi dan lagi yang keluar dari mulut Echa. Apalagi melihat adegan panas yang mengingatkannya akan ucapan wanita yang hampir menjadi perusak rumah tangganya.
"Kissing, hot kissing, French kissing."
Echa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mencoba untuk tidak teringat lagi akan ucapan itu karena semuanya memang tidak terjadi di antara suami dan juga perempuan iti. Dia memilih untuk memejamkan mata dan mengatur napasnya. Drama itu mampu membuat hatinya bergejolak. Bukan berlebihan, tetapi dia pernah berada di posisi itu.
Radit yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya melihat sang istri yang tengah bersandar di kepala ranjang dengan mata terpejam sedangkan televisi besar itu masih menyala.
Kecupan di bibir Echa membuat Echa membuka mata. Radit sudah tersenyum ke arahnya dan kini sudah berada di sampingnya.
"Kenapa? Capek?" Echa menggeleng. Ada raut kesedihan yang dia lihat di wajah cantik sang istri.
"Lalu? Kenapa?" tanya Radit.
Echa menunjuk ke arah televisi besar dan Radit mengikuti jari Echa. Drama itu tengah menayangkan adegan penuh air mata. Di mana sang istri tengah berada di rumah sakit dan suami tengah asyik berselingkuh.
"Aku seperti merasa diingatkan kembali," lirih Echa. Radit segera memeluk tubuh istrinya. Dia mengecup puncak kepala Echa dan terus mengucapkan kata maaf. Apalagi Echa sudah menitikan air mata.
"Aku tahu bagaimana sakitnya berada di posisi perempuan itu," ucap Echa dengan sangat pelan.
"Kamu terlalu sempurna untuk aku hingga aku tidak bisa melengkapi ketidak sempurnaan kamu."
Sakit sekali hati Radit mendengarnya. Dia akui dia salah. Dia hampir saja terjerumus ke dalam kubangan penyesalan yang tidak akan ada ujungnya. Terbukti, hampir satu tahun berlalu istrinya masih belum bisa melupakan kejadian itu. Masih belum bisa memaafkannya sepenuh hati. Dia harus terima itu.
Istrinya akan menjadi orang yang berbeda jika di kamar dan ketika berdua dengannya. Dingin dan sikap manjanya seakan menghilang. Istrinya akan menjadi makhluk yang pendiam jika Radit tak memancingnya.
Hebatnya Echa mampu menempatkan perasaannya di depan keluarganya. Ketiga anaknya sudah tahu, tetapi mereka bertiga seakan menutup mulut mereka dan berpura-pura tidak tahu. Sama halnya dengan Echa yang tidak akan membongkar aib suaminya kepada siapapun termasuk kepada keluarganya. Cukup keluarga Radit saja yang tahu karena jika keluarga Echa mengetahuinya sudah pasti tidak akan ada maaf untuk sikap bodoh Radit tersebut.
Hancurnya rumah tangga kedua orang tuanya membawa trauma untuknya dan dia hampir mengalami apa yang dialami oleh ibunya. Untungnya, Radit bukan jelmaan buaya darat sepenuhnya. Dia masih memiliki akal sehat yang membentenginya. Masih ada orang yang mau mengingatkan akan kesalahannya dan masih ada wanita yang mau menutupi aibnya sekalipun hatinya terluka parah.
Kecupan hangat Radit berikan di kening sang istri ketika dia sudah terlelap. Rasa bersalah semakin hari semakin menghantui hati Radit. Harus dengan cara apa dia meminta maaf. Segala cara sudah dia coba dan Echa pun mengatakan bahwa dia memaafkan suaminya. Pada nyatanya itu hanya maaf di bibir saja dan hatinya masih belum bisa memaafkan kesalahan Raditya Addhitama.
Cacian dan makian dari kedua kakak Radit pun datang. Umpatan kasar terlontar dari dua pria yang Radit sebuah Kakak dan Abang. Mereka terus memarahi Radit dan menunjuk-nunjuk wajah Radit.
"Lu pria bodoh!"
"Lu benar-benar gila!"
Kalimat-kalimat itulah yang Radit ingat sampai sekarang.
Sebagai seorang ayah, Rion merasakan ada hal yang berbeda dari putri pertamanya. Bukan hanya Rion, Ayanda pun pernah bercerita hal yang sama kepadanya. Namun, Echa selalu mengatakan baik-baik saja dan tak terjadi apa-apa.
Sekarang, ayah tiga anak ini sedang menemani Iyan di ruang keluarga.
"Apa Ayah boleh bertanya?" Iyan yang tengah fokus pada layar televisi besar menoleh. Kemudian, mengangguk.
"Kamu tahu ... Kak Echa kenapa?"
__ADS_1
Seketika Iyan terdiam. Hatinya sakit jika harus mengingat apa yang tengah kakak pertamanya rasakan.
"Emangnya kenapa?"
Anak-anak Rion pandai sekali menyimpan semuanya. Iyan sudah berjanji kepada sang kakak untuk tidak menceritakan apa yang pernah dia alami. Cukup menjadi rahasia Iyan, Radit dan juga Echa saja.
"Ayah merasa ada hal yang berubah dari kak Echa."
Bibir Iyan ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya kepada sang ayah. Namun, dia tidak ingin melihat air mata sang kakak menetes lagi. Terlalu sakit dan perih ketika air mata membasahi wajah sang kakak.
"Mungkin perasaan Ayah aja kali," balas Iyan. "Jangan menerka-nerka terus. Ayah harusnya mendoakan kebahagiaan anak-anak Ayah supaya kami ini senantiasa diberikan kebahagiaan."
Rion tersenyum mendengar ucapan sang putra. Dia memeluk tubuh Iyan yang kini sudah beranjak remaja.
"Yan, kamu adalah anak laki-laki satu-satunya. Kamu harus bisa menjadi pelindung untuk kedua kakakmu, ya. Juga pelindung keponak-keponakanmu." Nasihat yang Rion ucapkan membuat hati Iyan teriris. Namun, untuk menutupi kesedihannya dia pun hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan.
.
Tontonan Riana pun sama seperti sang kakak. Dia tengah menonton serial drama Layangan Sobek.
"Itu ya, kalau Abang kayak si Mas Keris udah Ri tinggalin," omel Riana ke arah televisi. Aksa yang tengah fokus pada layar laptopnya pun menoleh.
"Berlagak manis, tapi aslinya najis!" Aksa terperangah dengan Omelan Riana yang tidak seperti biasanya.
"Kenapa bawa-bawa Abang?" tanya Aksa kepada sang istri dengan tatapan serius.
"Laki-laki itu sama aja, jelmaan buaya darat. Manis doang di depan, di belakang mah bejat." Mulut Riana terus bersungut-sungut tanpa menoleh ke arah sang suami.
"Gila gak tuh! Istrinya si Keran lagi di rumah sakit suaminya malah senang-senang sama si Lidah Buaya."
Aksa yang tak mengerti sekaligus pusing dengan Omelan sang istri segera mengambil alih remote televisi dan mematikannya.
"Loh ...."
Aksa sudah menatap tajam Riana ketika sang istri menoleh kepadanya. "Tonton tayangan yang penuh dengan tuntunan. Bukan mengajarkan kecurigaan yang tak beralasan."
Telak sekali ucapan dari Aksara. Tatapannya pun sangat tajam.
"Itu juga 'kan diangkat dari kisah nyata, Bang." Riana masih bisa membalas ucapan suaminya.
"Ketika kisah nyata diangkat menjadi sebuah film ataupun serial drama lainnya, pasti ada penambahan adegan agar lebih menjual. Tidak terpaku pada kisah nyata sesungguhnya. Itulah taktik marketing," terang Aksa.
"Kamu boleh nonton drama, tapi drama yang dapat menghibur. Lebih bagus lagi drama yang memberikan tuntunan kepada penontonnya. Bukan malah menimbulkan rasa was-was yang berlebihan dan pada akhirnya menimbulkan keributan," lanjut Aksa lagi. "Tidak semua pria bejat, tapi jika pria yang baik dicurigai terus menerus oleh pasangannya ... tidak menutup kemungkinan pria itu malah menjadi pria breng sek. Kenapa? Baik saja masih dicurigai, mending melakukan hal dicurigai sekalian."
Riana hanya terdiam. Apa yang dikatakan oleh suaminya benar adanya. Pelakon drama sering membuat penontonnya lupa bahwa itu hanya akting belakang, kepura-puraan semata. Akan tetapi, malah diresapi oleh para penontonnya dan dibawa ke dalam rumah tangga.
"Jangan samakan rumah tangga kita dengan rumah tangga yang memiliki kisah nyata tersebut karena pondasi rumah tangga kita berbeda, kekuatan cinta kita berbeda, dan perjuangan cinta kita juga berbeda."
"Ambil sisi positif dari drama tersebut dan buang sisi negatifnya. Cukup jadi tontonan jangan jadikan tuntunan. Boleh terbawa emosi, tetapi lihat situasi."
Riana segera memeluk tubuh suaminya. Dia pun membenamkan wajahnya di dada Aksa. "Maaf," ucap Riana.
"Abang hanya tidak ingin kamu stres, Sayang. Kamu ini sedang hamil besar. Itu akan mengganggu persalinan kamu nantinya." Aksa benar-benar sangat mengayomi Riana. Tutur bahasanya yang lembut, tapi tegas membuat Riana merasa nyaman sekaligus segan dan tak bisa membantah.
"Sekarang kamu tidur dan cukup nonton drama tersebut. Ujung-ujungnya Abang juga yang pusing karena kecurigaan kamu nantinya. Kepercayaan yang kamu berikan kepada Abang, tidak akan pernah Abang salah gunakan karena mendapatkan kamu saja sangat sulit. Abang bukan orang bodoh yang akan melepaskan genggaman tangan kamu begitu saja karena Abang tahu, sesuatu yang sudah dilepas tidak akan pernah bisa dimiliki lagi. Sekalipun bisa, hatinya tidak akan sepenuhnya bisa kembali."
...****************...
Komen atuh ....
__ADS_1