Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Harus Melakukan.


__ADS_3

"Jaga bicara Anda!"


Suara seseorang yang baru saja datang menggema di dalam kafe. Wajahnya sudah nampak murka sekali. Semua orang menatapnya dan tubuh Jingga menegang seketika. Matanya sudah berkaca-kaca melihat wajah pria yang sudah menahan amarahnya. Dadanya terlihat turun naik dengan cepat.


Pria itu semakin murka ketika melihat sudut bibir Jingga yang mengeluarkan darah dan wajahnya sudah basah.


"Sebelum kalian melaporkan karyawan saya ke polisi. Saya akan melaporkan kalian terlebih dahulu atas pasal penganiayaan!" tegasnya.


"Cih! Anak bau kencur sok-sokan main hukum," cibir ibunda Fajar.


Jingga masih tak bersuara. Dia masih menatap pria yang baru saja datang. Apa yang dikatakan oleh Riana benar adanya. Orang yang dia cemaskan ternyata baik-baik saja. Sang Bu'de dengan kasarnya menarik tangan Jingga dan terdengar rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Jingga.


"Hentikan langkah Anda!" seru pria itu.


Tidak ada rasa takut dari ibu berambut maroon itu. Dia malah menantang pria itu. Dihempaskan tangan Jingga dengan kasar.


"Siapa kamu! Dia keponakan saya. Saya berhak atas dia!" sergahnya.


Pria itu pun tertawa, tidak ada rasa takut sedikit pun yang dirasakan oleh pria tersebut.


"Jangan pernah ikut campur dalam urusan saya dengan Jingga! Dia tanggung jawab saya," tekan wanita itu.


"Baiklah, Anda juga harus mempertanggung jawabkan perlakuan Anda tadi terhadap keponakan Anda di kantor polisi," ujarnya. Kini, pria itu menatap ke arah Ken dan Ken menjawab dengan sebuah anggukan.


Ken keluar dari kafe dan ketika pintu terbuka sudah banyak polisi di luar. Mata dua wanita itu melebar. Mereka berdua benar-benar terkejut.


"Amankan mereka, Pak," titah Ken.


Kedua wanita tak jelas juntrungannya itu dibawa oleh para polisi. Mereka meronta-ronta dan tidak terima dengan apa yang dilakukan pria yang sok menjadi pahlawan itu. Cacian dan makian terlontar dari mulut ibu-ibu tidak ada adab tersebut.


Setelah kepergian dua ibu-ibu tak beradab, Ken dan Juno mendekat. "Lu udah boleh keluar?" tanya Juno.


"Gua udah ijin. Sekarang buka lagi kafenya. Gua akan bawa dia ke rumah sakit," ucapnya sambil melirik ke arah Jingga yang sudah menahan air matanya.


"Gua harus melakukan visum dan menyerahkan bukti itu kepada pihak yang berwajib. Sudah kewajiban gua untuk melindungi para karyawan gua," terangnya dengan mata yang masih menatap ke arah Jingga.


Dari lubuk hati Aska yang paling dalam, dia ingin sekali memeluk tubuh Jingga dan menenangkannya. Namun, dia hanya bisa menatap Jingga dengan sorot mata tanpa ekspresi.


"Kamu!" panggil Aska kepada Jingga.


"Ikut saya ke rumah sakit," lanjutnya lagi.


Sungguh perih sekali hati Jinketika Aska tidak mau memanggil namanya. Jingga mengikuti langkah Aska dengan kepala yang menunduk seraya mengusap air matanya. Aska duduk di kursi penumpang depan dan Jingga duduk di belakang. Terlihat jelas hidung Jingga yang memerah karena tangis. Matanya pun sembab dan dia hanya menatap ke arah jendela luar.

__ADS_1


Maafkan aku, Bang.


Hati Jingga terasa sangat amat sakit ketika Aska memanggilnya tadi.


Mungkin kamu sudah lupa dengan namaku.


Tidak ada obrolan sama sekali di min tersebut. Hanya ada sebuah lagu yang menemani perjalanan mereka menuju rumah sakit.


🎶


Mengapa Tuhan pertemukan


Kita yang tak mungkin menyatu


Aku yang tlah terikat janji


Engkau pun begitu


Ku tahu kau bukan untukku


Mustahil ku hidup denganmu


Satu hal yang harus kau tau


Ku mencintaimu


Ku mencintaimu


Tibanya di rumah sakit, Aska turun terlebih dahulu dan dia meninggalkan Jingga di belakang. Ini bukan kemauannya, tetapi Aska harus melakukan ini. Langkah Jingga terhenti ketika melihat Aska terlihat akrab dengan dokter cantik yang usianya di bawah dirinya. Aska mengehentikan obrolannya ketika dia melihat Jingga yang tak melanjutkan langkahnya.


"Tolong kamu periksa perempuan itu," pinta Aska sambil menunjuk ke arah Jingga. Dokter Melati pun mengangguk dan menjalankan perintah dari Aska.


Dia menghampiri Jingga dan membawa Jingga ke ruang pemeriksaan. Aska menyandarkan tubuhnya di dinding dan bayang wajah Jingga yang menangis menempel di kepalanya.


"Maafkan aku," lirihnya.


Aska segera mengambil ponselnya dan dia menghubungi seseorang.


"Langsung bawa ke pihak kepolisian aja," jawab seseorang dari bikin sambungan telepon.


"Nanti gua suruh Christian bawa bukti yang udah di tangan gua."


Aska menghembuskan napas kasar mendengar jawaban dari abangnya tersebut. Ada sedikit kelegaan yang dia rasakan.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Jingga belum keluar juga dari ruang pemeriksaan. Hati Aska ketar-ketir, sesungguhnya dia sangat mencemaskan Jingga. Selang sepuluh menit dia melihat Jingga menuju ke arahnya. Hatinya mulai tenang. Dokter Melati tersenyum manis ke arah Aska membuat hati Jingga sakit teriris.


"Tuan Aska, tunggu lima belas sampai tiga puluh menit untuk hasilnya keluar," ujar dokter Melati dengan sangat lembut.


"Iya, Dok, terima kasih."


Sedari tadi Jingga hanya diam dengan hati yang terasa sesak. Dia memilih untuk duduk lebih jauh dari Aska. Dia tidak ingin mencuri dengar pembicaraan Aska dan juga dokter Melati. Mereka terlihat sangat serasi. Ketika dokter Melati pergi, Aska ikut pergi. Meninggalkan Jingga seorang diri. Jingga hanya dapat tersenyum perih.


Jangan terlalu berharap Jingga. Kasta kamu saja sudah berbeda.


Jingga memejamkan matanya sejenak. Terbesit bayangan bundanya yang selalu mengajaknya bercerita. Senyum manis bundanya menari-nari dalam ingatannya.


"Bunda ... ketika aku sudah sukses, aku akan ajak Bunda keliling dunia. Kita melihat Menara Eiffel bermain salju."


Itulah ucapan Jingga kecil ketika tengah bermain bersama sang bunda. Jingga yang cerewet dan ibunya yang selalu bersikap lembut kepadanya.


Bunda ... aku rindu Bunda. Aku butuh peluk hangat Bunda. Aku lelah dengan rasa sakit di tubuhku. Aku lelah dengan luka di batinku. Hari ini ... tubuhku sakit lagi, Bunda. Tulang ekorku memar ... tapi aku janji ... aku tidak akan banyak mengeluh. Aku masih sanggup dan kuat menerima semua ini. Aku 'kan anak hebat, Bunda.


Tes.


Bulir bening menetes di ujung matanya. Suara hati dari seorang anak yang tak pernah mendapatkan kebahagiaan.


"Minumlah!"


Suara seseorang membuatnya membuka mata. Jingga segera menyeka ujung matanya yang basah.


"Makasih."


Suara Jingga nampak bergetar, menandakan dia habis menangis dalam. Jingga meminum air mineral yang Aska berikan. Dia tidak ingin menatap Aska. Hanya kesedihan yang nantinya akan dia dapatkan. Dia akan mengubur khayalannya bersama Aska karena masih banyak wanita yang cocok dengan Aska di luaran sana.


Dua puluh menit berlalu, hasil pemeriksaan keluar. Aska mengurus administrasi dan juga menebus resep yang tadi diberikan dokter Melati. Jingga sekuat tenaga mencoba untuk bangun. Tulang ekornya semakin terasa sakit. Aska yang baru saja pergi menghentikan langkah kakinya. Dia berlari menuju Jingga dan segera membantunya. Jingga sedikit terkejut.


"Aku ambilin kursi roda, ya." Jingga menggeleng. "Akan lebih sakit," jawabnya.


Tanpa aba, Aska menggendong tubuh Jingga. Dia membawa tubuh kurus Jingga ke lantai atas di mana kamar perawatannya berada.


"M-mau ke mana?"


"Aku akan rawat kamu."


...****************...


Aduh ...

__ADS_1


Aku baper.


__ADS_2