
Setelah dari makam sang bunda, Riana dan Aksa bertolak ke Jogja.
"Komersil atau pribadi?" tanya Riana setelah keluar dari pemakaman.
"Pribadi."
Ada sesuatu yang aneh yang Riana rasakan. Wajah Aksa tidak seperti biasanya. Namun, dia belum berani menanyakan. Tangan Riana menggenggam tangan Aksa dengan sangat erat. Aksa menoleh ke arahnya dan tersenyum manis.
Riana meletakkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. Tangannya melingkar di pinggang Aksa.
"Kalau ada masalah, bilang sama Ri."
Tangan Aksa mengusap lembut kepala Riana. Dia pun mengecup ujung kepala Riana. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil.
Aksa dan Riana sudah berada di dalam pesawat. Duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertautan.
"Rencana kamu setelah lulus apa?" Aksa mulai membuka pembicaraan.
"Mau melamar kerja, Bang. Ri, ingin menggunakan ijazah Ri untuk menggapai cita-cita Ri," terangnya.
Aksa tersenyum dan membenarkan anak rambut Riana. "Setelah nikah, kamu mau 'kan ninggalin kerjaan kamu."
Riana tersentak mendengar ucapan Aksa, sedangkan pria di depannya ini sudah menatapnya dengan serius.
"Ri, akan ikutin kemauan suami Ri. Ridho suami itu yang utama."
Aksa menarik tangan Riana dan mendekapnya dengan senyum yang melengkung dengan sempurna. Melupakan apa yang tengah melanda pikirannya.
"Makin sayang deh sama kamu. Pengen cepat halalin kamu juga," selorohnya. Riana terkekeh dan menatap manik mata Aksa dengan penuh cinta.
Riana mengeluarkan ponselnya. Kemudian, memasangkan headset di telinga Aksa.
"Ini lagu favorit, Ri."
🎶
Diseluruh dunia ....
Hanya engkau yang paling ku cintai
Diseluruh dunia ....
Engkau yang mau aku miliki
__ADS_1
Diseluruh dunia ....
Engkau hati yang paling berharga
Tak bisa kubayangkan
Ku kehilanganmu
Sepanjang mendengarkan lagu tersebut, bibir Aksa tersungging dengan sempurna. Hatinya bahagia sekali. Cintanya benar-benar terbalaskan.
"Makasih sudah menerima Abang kembali." Riana pun tersenyum. "Tidak ada alasan bagi Ri untuk tidak menerima laki-laki yang Ri juga masih sangat mencintainya."
Mereka berdua melupakan satu hal, restu. Hati mereka memang tidak bisa dipisahkan, tetapi restu juga harus diutamakan.
Tibanya di Jogja, Riana mengatakan bahwa kakak dan keluarganya tidak tinggal di kosan. Mereka menyewa rumah yang cukup besar untuk tinggal di Jogja selama beberapa hari ke depan. Aksa mengantarnya ke rumah yang Riana maksud.
Sekarang mereka sudah ada di depan pintu. Riana menatap Aksa dengan sendu. Namun, genggaman erat tangan Aksa menandakan dia baik-baik saja.
Kedatangan mereka disambut dengan tatapan tajam oleh Rion. Riana meremas tangan Aksa, tetapi Aksa tersenyum penuh arti.
"Maaf, Ayah. Abang tadi harus rapat penting dulu. Baru bisa terbang ke sini," terangnya.
Tidak ada jawaban, Rion masih terdiam. Menatap lekat ke arah tangan yang saling menggenggam.
Suara dingin terdengar di telinga Riana dan juga Aksa. Mereka saling pandang, sejurus kemudian mereka mengangguk dan menuruti perintah sang ayah.
Mata Rion sangat sakit ketika melihat Aksa yang masih bergenggaman tangan.
"Bisa lepas gak genggaman tangannya? Kalian bukan lagi nyebrang jalan," ketus Rion.
"Tidak, Ayah. Abang akan terus menggenggam tangan wanita di samping Abang. Wanita yang selama ini Abang perjuangkan," tegasnya.
Decakan kesal keluar dari mulut Rion. Tatapannya semakin tajam.
Kakak ... Abang ... di mana kalian? Kenapa rumah ini seperti tempat uji nyali? Dingin dan menegangkan.
Riana membatin, apalagi sang ayah sedari tadi menatap Aksa dengan sangat nyalang.
"Kenapa kalian berdua sangat keras kepala?" Suara Rion mulai menggema.
"Ayah pun masih keras kepala, belum juga merestui hubungan kami." Mata Rion melantunkan mendengar jawaban dari Aksa.
"Jika, Ayah masih tidak merestui kalian ... apa yang akan kalian lakukan?" tantang Rion.
__ADS_1
Riana semakin ketakutan, ucapan ayahnya sangat serius.
"Dari awal perjuangan Abang ... jika Abang ingin bermain menggunakan cara kotor, Abang bisa saja mengajak kawin lari Riana. Ayah tahu 'kan bagaimana kelurga Wiguna. Apapun bisa kami retas. Abang juga bisa melakukan itu, menjauhkan Riana dari Ayah dan akan menghilangkan jejak Riana agar Ayah tidak pernah bisa menemuinya. Namun, Abang tidak ingin seperti itu. Abang ingin ... meminang Riana dengan cara spesial yang tidak akan pernah bisa Riana lupakan seumur hidupnya. Makanya ... sampai detik ini, Abang masih berjuang untuk mendapatkan restu Ayah. Orang yang sangat Riana sayangi dan hormati. Berarti, Abang juga harus menyayangi dan menghormati Ayah, bukan?" Rion bergeming.
"Abang juga bukan pria bodoh yang akan meminang Riana ketika status Abang belum jelas. Sampai sekarang, Abang masih belum mau mempublikasikan hubungan Abang dengan Riana kepada semua orang. Abang juga menjaga hati Riana dan juga keluarganya. Pasti semua orang akan berasumsi bahwa Riana memang selingkuhan Abang. Perebut suami orang, pada nyatanya tidak seperti itu. Kami lah yang menjadi korban dari keserakahan wanita yang tak tahu malu itu," ungkap Aksa.
"Untuk sekarang ... Ayah mau merestui atau tidak, Abang tidak akan pernah melepaskan Riana lagi. Abang yakin, perjuangan Abang ini tidak akan mengkhianati hasil akhir. Abang juga tidak ingin jadi pecundang, pulang dengan sebuah kekalahan."
Aksa memang pria yang memiliki ketegasan tinggi. Dididik untuk tidak cepat menyerah, juga selalu menerapkan bahwa apa yang dia inginkan harus tercapai. Begitu juga dengan perjuangannya meraih cinta Riana. Lebih mudah menaklukkan seribu rekan bisnis dari pada hati Rion.
Keadaan berubah hening, tidak ada yang berbicara satu pun. Namun, Aksa masih menatap Rion dengan tatapan tak terbaca.
"Ayah ...."
Suara Riana membuat Aksa menoleh. Dia sudah menegakkan kepala memandang wajah ayahnya dengan sorot sendu.
"Coba ungkapkan kepada Ri, apa yang membuat Ayah masih tidak merestui hubungan Ri dengan Abang? Abang sudah melayangkan gugatan cerai kepada istrinya, dan anak yang dikandung Ziva sudah meninggal karena keguguran. Itulah alasan Abang membawa Ri ke Jakarta. Abang menalak Ziva di depan mata Ri. Menyuruh pengacaranya juga pun di depan Ri. Apa Ayah masih meragukan cinta Abang untuk Ri?"
"Ri, hanya meminta restu dari Ayah untuk hubungan Ri dengan Abang. Ri sangat mencintai Abang, Ayah. Jangan paksa kami berpisah lagi," lirihnya.
Hanya keseriusan yang Rion lihat dari dua anak manusia yang ada di hadapannya ini. Aksa bukanlah orang lain di mata Rion. Dia sudah tahu baik-buruknya Aksa. Sudah menganggap Aksa anaknya sendiri.
Dia juga melihat Aksa sangat serius dengan hatinya. Benar kata Aksa, keluarga Wiguna bisa saja melakukan apapun untuk mendapatkan Riana. Memisahkannya dengan Riana sangatlah mudah. Akan tetapi, Aksa tidak melakukan itu. Rela dicaci maki, ditolak berkali-kali oleh Rion karena keras kepalanya mencintai Riana.
Hembusan napas kasar terdengar menakutkan. Wajah Rion masih tetap sama, datar dan menyeramkan.
"Ayah merestui hubungan kalian."
Kalimat yang membuat Aksa dan Riana teroerangah. Menatap Rion penuh kebingungan.
"Tidak ada alasan untuk tidak merestui hubungan kalian 'kan." Senyuman terukir indah di wajah Rion. Riana berhambur memeluk tubuh ayahnya.
"Makasih, Ayah." Tetesan air mata kebahagiaan mengalir di wajah cantik Riana.
"Apa kamu tidak ingin berterima kasih kepada Ayah?"
Aksa tersenyum dan dia pun memeluk tubuh Rion. "Makasih banyak, Ayah. Abang janji, akan selalu membahagiakan Riana."
Hati Aksa sangat bahagia dan lega. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya.
...****************...
80 komen up lagi ....
__ADS_1