
Insha Allah hari ini up 3 bab. (Sesuai jam makan, ya)
Makanya Kencengin atuh komennya.
...****************...
Baru merasakan indahnya menjadi pengantin baru. Kini, mereka berdua harus dipisahkan kembali. Berat memang, tetapi itulah yang harus mereka lakukan. Mereka akan mendengarkan nasihat dari kakek mereka.
Tangan Riana terus melingkar di lengan Aksa sedari di Bandara. Sengaja Aksa memilih penerbangan komersil.
"Abang pasti sangat merindukan kamu, Sayang." Kecupan hangat Aksa berikan di puncak kepala Riana.
"Kalau bisa ... jangan dua Minggu sekali jengukinnya," pinta manja sang istri.
Aksa tertawa dan mengusap lembut rambut sang istri.
"Kalau seminggu sekali kebersamaan kita akan sebentar. Kalau dua Minggu sekali minimal kita bersama selama tiga hari. Di minggu pertama Abang tidak akan mengambil libur. Jadi, liburnya disatuin sama Minggu kedua."
Riana tersenyum dan mendongak ke arah Aksa. "Manis sekali suamiku." Aksa tersenyum manis mendengar ucapan istrinya kali ini. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Riana. "Kalau ini bukan pesawat, Abang akan mengerjai kamu, Sayang," bisiknya.
Wajah Riana berubah, sekarang dia merengut kesal. Di kepala Aksa hanya ada hal mesoem saja. Tangan Aksa melingkar di pinggang sang istri. Dia meletakkan kepalanya di bahu Riana.
"Jangan banyak ngambek, ya. Nanti Abang gak tenang kerjanya di sana."
Tidak ada jawaban dari Riana. Namun, dia memejamkan mata merasakan hembusan napas sang suami yang begitu dekat.
Tibanya di Bandara Soekarno-Hatta, mereka sudah dijemput oleh sopir dadakan. Siapa lagi kalau bukan Askara. Gayanya yang sangat stylist membuat mata para wanita tertuju padanya. Namun, Aska tetaplah Aska. Secantik apapun wanita di depannya, dia anggap seperti kambing yang dipakaikan bedak. Tidak ada menarik-nariknya.
"Silakan Tuan dan Nyonya."
Aska membuka pintu penumpang belakang untuk Abang dan Kakak iparnya. Setelah dua cucu Sultan itu duduk manis di kursi penumpang, Aska mulai memutari mobilnya dan masuk ke dalam kursi kemudi. Sebelumnya dia membenarkan spion depan.
"Peraturan selama perjalanan menuju rumah JANGAN BERMESRAAN DI DEPAN PERJAKA TULEN!"
Aksa dan Riana pun tertawa mendengar ucapan dari Aska. Sudah berapa kali adik dari Aksa ini memergoki kembarannya melakukan hal yang tidak-tidak di depan matanya. Sungguh menodai mata sucinya.
Untungnya dua penumpang itu menuruti perintah Aska. Jadi, Aska bisa nyaman berkendara malam ini. Sesekali Aska melihat ke arah spion depan. Dia melihat tangan Riana yang tak melepaskan tangannya dari pinggang sang suami. Aska mengerti bagaimana perasaan Riana. Begitu juga dengan sang Abang yang sedari tadi terus mengecup ujung kepala Riana.
"Padahal lu murid teladan ya, Bang. Masuk sekolah setiap hari. Sekolah tinggi, tetapi ujian lu gak ada habisnya. Malah gak lulus-lulus sampai sekarang."
"Bhang Sat!"
Aska tertawa puas meledek sang Abang yang tengah merana. Lengkungan senyum terukir di wajah sendu Riana.
Tibanya di rumah, mereka disambut hangat oleh semua keluarga mereka. Termasuk ketiga keponakan mereka yang sangat menggemaskan.
Riana memeluk tubuh ayahnya sangat erat. Melepaskan rindu dan juga pilu.
"Untuk kali ini gak apa-apa 'kan kalian berpisah dulu," ucap Rion. Riana hanya mengangguk dengan senyum yang penuh ketidak relaan.
"Ayah tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Kalau di Jakarta, banyak orang yang pasti akan jagain kamu," lanjut Rion.
__ADS_1
Tangan Riana memeluk tubuh ayahnya kembali. Ucapan sang ayah sangat menenangkan hatinya.
"Lebih baik makan malam dulu, yuk," ajak Ayanda.
Rumah besar milik Gio yang biasanya seperti kuburan China kini ramai bagai pasar malam. Tingkah laku si triplets yang selalu berebut makanan dan minuman. Jahilnya Aska dan juga Iyan, serta mesranya sepasang pengantin baru yang seolah ditubuhnya terdapat lem Korea.
Selesai makan malam, mereka berkumpul di halaman belakang. Di sana sudah ada chef yang sudah membakar aneka daging, sosis serta bakso seafood kesukaan si triplets.
Wajah sendu Riana berubah ketika melihat tingkah lucu dan tingkah jahil Aska terhadap ketiga keponakannya.
"Lucu ya, Bang." Kini Riana menyandarkan tubuhnya di pundak sang suami.
"Sebentar lagi juga ada yang hadir di keluarga kecil kita." Tangan Aksa sudah mengusap lembut perut Riana yang masih rata.
Riana menatap suaminya dan tersenyum manis ke arah Aksa.
"Setelah masa LDR-an selesai. Kita langsung ke dokter untuk program kehamilan, ya." Riana mengangguk menyetujui ucapan sang suami. Aksa mengecup kening Riana sangat dalam dan penuh cinta.
Dari kejauhan, Ayanda dan juga Gio tersenyum bahagia melihat putranya yang sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tinggal adik dari Aksara, Askara yang belum ada tanda-tanda akan menyusul sang Abang.
Malam semakin larut, Aksa memilih membawa Riana ke kamar mereka. Tak lupa dia mengunci pintu karena dia ingin bermesraan dengan sang istri sebelum dia pergi ke Melbourne esok pagi.
"Bang, baju apa saja yang akan Abang bawa?" tanya Riana setelah Aksa keluar dari kamar mandi.
Aksa mendekat ke arah sang istri yang akan menurunkan koper di atas lemari. Namun, Aksa larang.
"Semua baju Abang ada di sana, Sayang. Abang cukup membawa tubuh Abang saja," ujarnya.
"Baju yang kamu gunakan malam ini akan Abang bawa. Ketika Abang rindu kamu, Abang bisa mencium aroma tubuh kamu."
Riana memeluk tubuh suaminya yang hanya mengenakan handuk. Bagai terkena sengatan listrik, tubuh Aksa mulai memanas dan dia segera menggendong tubuh istrinya ke atas tempat tidur.
"Siapa tahu, benih malam ini tumbuh di perut kamu," ucap Aksa. Lalu, dia mengecup kening Riana.
Sebelum Aksa menggarap ladang basah, dia terlebih dahulu dia mengecup perut Riana dengan lembut.
"Semoga kamu tumbuh di dalam sini ya, Nak."
Setelah itu mereka mengarungi samudera kenikmatan tiada tara. Alunan nada yang membuat bulu kuduk meremang terdengar sangat merdu. Seolah mereka tengah meluapkan semuanya karena besok dan sepuluh hari ke depan mereka akan berpisah.
Tengah malam barulah perjalanan mengarungi samudera yang memabukkan selesai. Aksa mengecup kening istrinya sangat dalam karena Riana sudah terlelap dengan damainya. Dia juga membersihkan susu kental manis yang sudah berceceran di tubuh bagian bawah Riana.
Aksa segera memakai pakaiannya. Dia meninggalakan Riana menuju kamar sang adik. Aksa tahu, adiknya belum tidur. Tangan Aksa sudah menekan gagang pintu. Dia melihat Aska tengah fokus pada layar laptopnya.
"Udahan mendesahh rianya?" sergah Aska, tanpa menatap ke arah Abangnya yang baru saja masuk ke dalam kamar Aska.
"Emang kedengaran?" tanya Aksa, sambil mendudukkan diri di sofa.
Aska terkekeh dan menatap ke arah abangnya yang sudah menyandarkan tubuhnya di kepala sofa.
"Gak akan kedengaran lah. Semua kamar utama di rumah ini menggunakan peredam suara," terangnya.
__ADS_1
Aksa tidak menjawab, dia hanya mengurut pangkal hidungnya.
"Lu kerja yang benar di sana, Bang. Selesaikan pendidikan lu juga di sana. Kalau bisa persingkat masa study lu di sana."
Aksa menatap ke arah Aska dengan tatapan sendu. Namun, senyum tulus Aska tunjukkan.
"Selama lu di Melbourne, gua akan jaga Riana. Gua gak akan ke luar Kota ataupun touring. Gua juga gak mau Riana kenapa-kenapa."
Bibir Aksa terangkat dengan sempurna mendengar ucapan Aska.
"Makasih, Dek."
Aska menghampiri Aksa dan duduk di sampingnya. Tangannya menepuk pelan pundak sang kakak.
"Abang masih ingat 'kan, kita sudah berjanji akan menjaga satu sama lain."
Pagi harinya, Riana yang merasakan tubuhnya masih lemas memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur. Dia turun dari tempat tidur tanpa menggunakan kain sehelai benang pun. Aksa yang merasa ada pergerakan, segera turun dari tempat tidur dan menggendong tubuh Riana untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Udah Bang, turunin aja di sini," pinta Riana.
Aksa tidak mendengarkannya, dia malah mengisi bath up dengan air hangat yang diberi aroma terapi. Mereka mandi berdua. Apa yang mereka lakukan? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
Semua orang sudah menunggu pengantin baru di ruang makan. Selang lima belas menit, mereka berdua turun dengan rambut yang masih basah. Gio dan Ayanda saling menatap. Aska hanya mendengkus kesal.
"Mentang-mentang mau pisah. Berapa ronde semalam?" ucap Aska.
"Hush!" sergah Ayanda.
Aksa dan Riana tidak mengindahkan ucapan Aska. Mereka duduk berdampingan. Riana mengambilkan sarapan untuk sang suami. Tidak dengan dirinya yang memang tidak bisa makan berat.
"Mom, nanti jangan paksa Riana untuk sarapan, ya. Dia tidak bisa sarapan pagi-pagi," imbuh Aksa. Ayanda mengangguk mengerti.
Setelah sarapan selesai, Aksa sudah dijemput oleh orang suruhan Genta. Mereka semua mengantarkan Aksa sampai ke depan pintu rumah. Namun, mata mereka melebar dengan sempurna ketika melihat seorang wanita sudah berdiri di depan rumah.
"Pagi semuanya," sapanya.
Aksa melebarkan matanya dan Riana mengeratkan lingkaran tangannya di lengan sang suami. Gio dan Ayanda saling tatap, sedangkan Aska menatap perempuan itu dengan sangat datar.
"Jangan tegang begitu mukanya," kelakarnya.
Bukannya tertawa mereka malah menatap tajam ke arah perempuan sok akrab itu. Kemudian, dia menatap tangan Riana yang berada di lengan Aksa.
"Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggu rumah tangga kamu."
Ada kelegaan di hati Riana dan juga kedua orang tua Aksa. Namun, dia juga tidak boleh percaya begitu saja.
"Aku ke sini mencari Askara." Mata Aska seketika melebar.
...****************...
Yang punya koin boleh lempar ke sini 😂
__ADS_1