Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pemenang dan Pecundang


__ADS_3

"Dok, di usia kandungan berapa bulan bisa melakukan tes DNA?"


Kejutan lagi yang Ziva terima. Matanya membola tidak percaya.


"Ke-kenapa kamu ingin tes DNA? Ini anak kamu, Aksara," ucap Ziva.


"Apa ada larangannya seorang calon ayah melakukan tes DNA terhadap calon buah hatinya?" tanya balik Aksa.


Mulut Ziva tercekat mendengar pertanyaan Aksa. Dia bingung harus menjawab apa. Apalagi yang sedang dia hadapi masalah tes DNA.


Ya Tuhan, bagaimana ini?


Setelah dokter menjelaskan kapan waktunya bisa dilakukan tes DNA dan bagaimana prosedurnya. Aksa mempercayakam semuanya kepada dokter Arif. Dari pembuatan jadwal hingga yang lainnya. Setelah itu mereka berdua memilih untuk kembali ke rumah. Tibanya di sana sudah ada Rakha yang tengah duduk di depan teras.


"Jaga anak itu." Rakha tersentak ketika mendengar Aksa mengucapkan kalimat itu. Namun, ada kejanggalan yang diterima telinganya.


Jaga anak itu. Harusnya 'kan, jaga anakku.


Bingung, itulah yang dirasakan oleh Rakha. Apalagi dia melihat wajah Ziva yang terlihat sangat kebingungan. Seperti orang yang sedang menanggung beban sendirian. Ingin Rakha mendekat, tetapi masih ada Aksa di sana yang sibuk dengan ponselnya.


"Ayo, kita berangkat." Rakha hanya mengangguk menuruti perintah Aksa.


Suara notif pesan terdengar. Aska sang pemilik ponsel pun segera membukanya. Hanya senyum tipis yang terukir di bibirnya.


"Hahaha, sudah kuduga," gumamnya.


"Aku tidak semudah itu kamu kelabuhi Juminten dan Sarbo'ah. Akan segera kita mulai permainan ini. Siapa yang akan menjadi pemenang? Siapa pula yang akan menjadi pecundang?" Seringai licik muncul di wajah Aska.


Aksa masih harus bersabar menunggu waktu dua bulan lagi untuk melakukan tes DNA. Hanya dengan cara itu dia bisa mematahkan surat wasiat itu. Apalagi, sekarang Christo sudah meninggal. Semakin sulit untuknya menang. Sedangkan kakeknya masih juga belum sadar. Dia sudah tidak bersabar dia hanya ingin kebenaran. Memaksa kepada sang Daddy pun dia tidak bisa. Daddy-nya sedang menanggung beban yang sangat berat untuk saat ini. Apalagi sang adik sudah memberitahukan penyakit yang sedang diderita sang Daddy.


Semenjak pulang dari rumah sakit. Aksa enggan sekali pulang ke rumahnya. Setiap malam Aksa memilih untuk tidur di apartemen milih Fahri dan Fahrani daripada harus tidur di rumah. Sudah lebih dari dua minggu Aksa seperti ini.


Malam menjelang pagi, suara bel terdengar. Fahri yang sedang nyenyak tidur pun harus terbangun. Sebelumnya dia melihat jam yang menempel di dinding.


"Siapa yang bertamu jam dua pagi begini?" gerutunya.


Sebelum keluar, dia mengecek cctv yang dia pasang. Matanya membola ketika dia melihat seorang wanita berdiri di depan pintu unit apartment miliknya. Ada juga seorang pria yang Fahri kenali.


Dia berjalan ke arah pintu kamar sambil berdecak kesal. Setelah pintu dia buka, Ziva segera memberondong Fahri dengan segala pertanyaan.

__ADS_1


"Tidak ada. Pak Aksa sedang berada di Malang," jawab Fahri seraya menguap.


"Jangan bohong, kamu!" tuding Ziva.


"Saya melihat, setiap malam Pak Aksa datang ke sini." Rakha lah yang kini sudah berbicara. Mengatakan apa yang sering dia lihat.


Fahri tersenyum tipis melihat kedua anak manusia bodoh bin toolool ini.


"Lalu, kenapa kalian bisa datang berdua seperti ini? Setahu saya, sopir Pak Aksa tidak tinggal di rumahnya."


Peluru panas Fahri tembakan, dua orang di depannya pun kelabakan.


"Ta-tadi ... aku menyuruh Rakha untuk menemaniku mencari Aksa," kilah Ziva.


"Kenapa mencarinya di jam sekarang? Kenapa tidak mencari dari masih sore?"


Timah panas Fahri layangkan lagi. Dia sedang menguji kepintaran dua makhluk ini.


"Saya tadi tidak bisa. Ada hal yang penting yang harus saya lakukan." Rakha mencoba meyakinkan Fahri.


"Hal penting?" Fahri menjeda ucapannya dan menatap ke arah Ziva.


"Jaga ucapan kamu. Jangan lancang kamu!¹" bentak Ziva.


Fahri hanya tersenyum tipis. Menatap nyalang ke arah dua orang yang berada di depannya. Dengan sangat tidak sopan, Fahri menutup pintu unit apartment miliknya. Tidak dia pedulikan teriakan wanita di luaran sana.


"Sungguh sangat menyebalkan istrimu, Aksa," geram Fahri.


Sedangkan malam ini Aksa harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Sang mommy menghubungi Aksa karena Ziva datang tengah malam dan berbicara tidak sopan kepada Ayanda. Seperti mencari kesempatan dalam kesempitan. Ziva tahu Gio sedang ada tugas di luar Kota.


"Abang di kantor, Mom. Setalah pekerjaan Abang selesai Abang akan pulang ke rumah Mommy."


Aksa mengerang kesal melihat tingkah laku Ziva. Dua Minggu ini Aksa bersikap baik kepada Ziva. Apapun yang Ziva inginkan selalu dia turuti. Meskipun, Rakha lah yang akan membelikannya dan menyerahkan apa saja kepada Ziva. Jika, bukan karena sandiwara yang sedang dia mainkan. Aksa tidak akan pernah sudi bersikap manis kepada Ziva.


Pagi ini, Remon menugaskan Aksa untuk pergi ke perusahaan yang berada di Yogyakarta. Sungguh hati Aksa bahagia mendengarnya. Apalagi hari ini hari Jum'at. Sabtu dan Minggu bisa dia gunakan untuk menemui Riana. Baru kali ini Aksa terlihat sangat bersemangat dan berbinar setelah pernikahannya.


"Senang banget kayaknya, Bang," ujar Ayanda yang baru menuangkan susu cokelat di gelas milik Aksa.


"Abang harus terbang ke Jogja, Mom."

__ADS_1


"Pantes," sahut Aska. Hanya senyum penuh kebahagiaan yang Aksa tunjukkan.


"Dek, jag Mommy, ya." Aska mengangguk patuh.


Adek rindu senyum itu, Bang.


Sebagai kembarannya, Aska dapat merasakan bagaimana hancurnya hati Aksa. Apalagi sikap Aksa yang berubah drastis membuat Aska harus bertindak cepat.


"Mah, Echa ingin salad buah." Semua mata menatap ke arah suara. Echa sedang berjalan ke ruang makan dengan wajah pucat.


"Kakak kenapa?" Aksa dan Aska bertanya dengan sangat kompak.


"Belum sembuh juga?" tanya Ayanda kepada sang putri. Echa hanya menggeleng dan memeluk tubuh Ayanda.


"Anak-anak kamu mana?" Tidak ada si triplets di belakang Echa.


"Mereka sudah dibawa oleh Papih. Mau diajak jalan-jalan katanya setelah pulang sekolah," jelasnya.


Ingin rasanya Aksa memeluk tubuh Echa seperti sang Mommy dan juga adiknya. Namun, dia sedikit ragu. Kakaknya masih menyimpan marah kepadanya. Aksa paling takut jika sang kakak sudah marah.


"Bang, kamu gak mau peluk Kakak? Kamu gak kasihan sama Kakak?" Ucapan Echa mampu membuat mata Aksa berkaca-kaca. Dengan cepat Aksa memeluk tubuh Echa.


"Maafkan Abang, Kak." Echa hanya tersenyum dan mengusap lembut punggung sang adik.


"Maafin Kakak juga, ya. Padahal bukan hanya Riana yang tersakiti. Kamu juga tersakiti," lirih Echa.


Ayanda dan Aska hanya dapat mengulas senyum di wajahnya. Mereka berdua sangat bahagia melihat Echa sudah berdamai dengan kemarahan dan kekecewaannya.


"Kakak mau oleh-oleh apa? Abang ada pekerjaan ke Jogja hari ini."


"Bawa Riana pulang, Bang. Kakak rindu dengannya."


Hati Aksa melompat kegirangan mendengar jawaban dari Echa. Sungguh di luar dugaannya. Echa seperti memberikan lampu hijau kepada Aksa.


"Akan Abang bawa Riana pulang bersama Abang, Kak."


...****************...


Ayo dong komen biar aku semangat. Semangat ku lagi menurun nih🤧

__ADS_1


Makanya up-nya ngaret


__ADS_2