Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tidak Selamat


__ADS_3

Hari itu juga Aska sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk terbang ke Jogja. Dia harus mengikuti ke mana Jingga melangkah karena Aska tidak bisa memantaunya secara dekat.


Sore hari Aska mendapat kabar dari sanksi buahnya bahwa Jingga tinggal di kontrakan sempit dan kumuh. Hati Aska teriris ketika melihat tempat tinggal Jingga sebenarnya.


"Pantau terus."


Malam tiba, Jingga sampai rumah.ah dengan langkah terseok-seok. Di Sepenjang perjalanan dia menangis menahan sakit fisik serta sakit hatinya ketika mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya. Ketika Jingga hendak membuka pintu, motor berhenti di depan rumahnya.


"Sekarang juga kamu berhenti bekerja di WAG grup."


Tidak ada angin tidak ada hujan, Fajar berbicara seperti itu. Jingga hanya mengangguk, dia akan menuruti semua perintah Fajar. Semua kegiatan Jingga selalu Aska pantau. Hatinya sangat sakit dan dia ingin pergi ke sana menemui sang pujaan hati. Namun, dua harus menahannya. Dia menyuruh anak buahnya terus melapor kepadanya.


Rahang Aska mengeras ketika dia mendapat laporan kembali bahwa Jingga mendapat perlakuan kasar lagi


"Akan ku cari kau sampai ke lubang semut!" geramnya.


Permaisuri yang dijaga Aska tidak merepotkannya. Jadi, dia baja memantau Jingga dari jauh. Sudah tidak pernah Aska melihat senyum Jingga. Hanya raut wajah murung yang Jingga tunjukkan. Apalagi, sekarang Jingga menjadi pelayan kafe.


"Kami itu bidadari, jika diperlakukan. oleh orang yang tepat," ucap Aska.


Lamunannya buyar ketika pelayan mengatakan bahwa ada tamu di luar. Aska memicingkan matanya ketika melihat Chintya datang ke rumahmya.


"Ada perlu apa?" tanya Aska.


"Ma-maaf ... saya hanya ingin bertemu dengan Riana," jawabnya.


Aska menatap tajam ke arah Chintya. Wajah sendunya tidak dibuat-buat, tetapu dia tidak yakin. Untuk lebih meyakinkan dia menghubungi seseorang yang bertugas mengawasi Arkana.


"Kritis!" Jawaban dari orang suruhannya.


"Arka ingin bertemu Riana sebelum dia pergi untuk selamanya," ujar Chintya.


Aaka melipat kedua tangannya dan menatap serius ke arah Chintya.


"Apa Anda yakin anak Anda akan mati?" Sangat pedas sekli ucapan Aska. Chintya hanya bisa menunduk dalam sambil menitikkan air mata.


Sehari sebelumnya ....


Arka yang baru saja mengkonsumsi obat tiba-tiba kejang. Dia segera dibawa ke rumah sakit dan masuk ke ruang ICU. Chintya yang diberi kabar segera bergegas ke rumah sakit. Dia menangis ketika melihat Arka tersenyum ke arahnya. Wajah hya sangat pucat pasi. Matanya sudah sayu.

__ADS_1


"Ma-mah ...."


Suara Arka sudah sangat dalam. Tangan lemah Arka ingin menyentuh wajah Chintya untuk menghapus air mata yang membasahi wajah Chintya. Mamahnya meraihnya dan meletakkan tangan Aska di wajahnya.


"Ja-ngan ...me-na-ngis." Senyum masih mengembang di wajah Arka sedangkan Chintya sudah menangis keras.


"Kamu pasti sehat, Nak. Kamu pasti sembuh." Derai air mata membasahi tangan Arka.


Arka menggeleng dan masih menyunggingkan senyum.


"A-ku ... ca-pek. I-ngin pu-lang."


Tangis Chintya pecah, dia memeluk tubuh Arka yang sangat lemah. Arka yang gagah kini hanya tinggal tulang saja.


"I-ngin ber-te-mu Ri-a-na."


Setelah mengatakan itu Arka tidak sadarkan diri. Chintya menangis meraung-raung. Dokter menyatakan Arka kritis.


Ketika Chintya berkonsultasi dengan dokter,dim dokter hanya menyerahkan kepada keajaiban Tuhan. Kondisi Arka semakin melemah dan tidak ada tanda-tanda menuju kesembuhan.


"Berdua saja ya, Bu. Semoga mukjizat Tuhan bisa menyembuhkan Arka." Chintya hanya mengangguk.


Setiap hari Chintya selalu mengajak bicara Arka yang sudah dipasang selang di mulut. Jika,


"Nak, kenapa kamu menyembunyikan sakitmu ini? Andai kamu bicara jujur sama Mamah dan Papah, pasti tidak.akansperah ini," keluh Chintya.


"Nak, bangun. Mamah sendiri di rumah. Mamah kesepian, Mamah ingin kamu ada di samping Mamah. Menemani Mamah." Bulir bening tak terasa mengalir deras.


"Tuhan, ambillah nyawaku. Jangan ambil nyawaku. Jangan ambil nyawa putraku. Aku rela, Tuhan."


Beginilah bentuk pengorbanan seorang ibu. Akan merelakan apapun demi sang anak. Termasuk nyawanya sendiri. Dokter terus saja memeriksa keadaan Arka. Dokter manyarankan untuk melepas semua alat medis. Namun, Chintya menolak. Dia ingin anaknya pergi Frangky sendirinya bukan dipaksa untuk pergi.


Mau tidak mau dokter harus mengikuti semua kemauan keluarga Arka. Chintya sudah menghubungi Riana, tetapi Riana tidak pernah menjawabnya. Jalan satu-satunya hanya ini. Pergi ke rumah Riana.


Chintya datang ke rumah Rion, tetapi di sana tidak ada siapa-siapa. Mbak Ina menunjukkan rumah mertua Riana dan akhirnya Chintya datang ke rumah Giondra.


"Saya mohon, Tuan. Sebentar saja temui Arka di rumah sakit. Sebelum dia pergi dia hanya ingin dijenguk oleh Riana."


Aska menghela napas kasar. Dia menimbang-nimbang semuanya. Pada akhirnya, dia mengangguk kecil.

__ADS_1


"Kalau Riana tidak mau, jangan gan dipaksa." Chintya pun mengangguk setuju.


Aska menunjukkan kamar Riana. Dia mengetuk pintu kamar. Riana sudah mengetahui kedatangan Chintya.


"Ri, gak mau," tolaknya.


"Untuk terakhir kali kamu juga gak mau? Dia hanya ingin bertemu kamu sebelum dia pergi."


Sebenarnya Riana tidak sekejam itu. Akan tetapi, dia takut kepada suaminya.


"Abang gak akan marah. Lu kan jalannya sama gua. Cepat ganti.baju hangat. mempersulit kematiannya," tukas Aska.


Akhirnya Riana mengangguk dan berganti pakaian. Berbeda dengan Aska yang hanya pergi dengan celana pendek. Hati Riana berdegup sangat cepat karena dia takut suaminya murka. Tibanya di sana, Mereka menuju tempat di mana Arka dirawat. Langkah Riana terhenti ketika melihat banyak alat yang terpasang di tubuh Arka. Begitu juga dengan selang yang ada di mulutnya.


"Ayo, Ri."


Langkah kaki Riana susah untuk digerakkan. Aska meraih tangan Riana dan segera membawa Riana menuju Arka. Hati Riana sangat sakit melihatnya apalagi Chintya.


"Arka, Riana sudah datang, Nak. Tolong bangun, Sayang."


Riana tak kuasa menahan air matanya. Bulir bening pun menetes di pelupuk mata Riana.


"Arka, aku datang. Sembuh ya ...."


Tit .....


Suara monitor berbunyi, Aska segera menekan tombol emergency. Chintya sudah menangis keras.


"Bangun Arka! Bangun!" pekik Chintya.


Dokter dan perawat berdatangan. Mereka bertiga disuruh menunggu di luar. Chintya terus menangis keras. Wajah Riana sudah puas dengan tangan yang terus dia genggam. Aska hanya bisa merangkul pundak Riana agar tenang.


Lima belas menit kemudian, dokter keluar dengan raut wajah yang berbeda. Chintya sgerra menghampirinya dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata.


"Bagaimana anak saya, Dok?" tanyanya.


Dokter menghela napas kasar. Dia menatap ke arah Chintya. Tangannya menyentuh pundak Chintya.


"Anak Ibu ... tidak selamat."

__ADS_1


Bruk!


Tubuh Riana terjatuh ke lantai.


__ADS_2